Him

Him
Mimpi Gerard


'Gerard sayang... Jangan ikut


Ibu janji tidak akan lama.


Ayah juga akan menyiapkan liburan yang menyenangkan.


Kami berdua akan pulang cepat, jadi kamu bersabar ya. Sebentar saja kami akan pulang'


DUAR! Suara mobil meledak.


'*Paman berjanji akan merawatmu'. Kata seorang pria tua tegap dibelakangnya.


'Hah, kau menggoda Gerry'


'Puaskan aku Gerard!'


'Kau sudah gila! Penuhi aku Gerard!'


'Gerard, lagi! lagi!'


Perempuan-perempuan itu mengerumuni tubuh Gerard*.


"ARGH!" Gerard mengerang.


"Hah, hah" ia tersentak bangun dari mimpinya. Air keringat bercucuran. Ia memegang kepalanya sambil meremas rambutnya sendiri.


"Syukurlah. Mimpi sialan" Ia langsung melepas kaosnya dan melemparnya kebawah.


Lampu tiba-tiba menyala.


"Kau kenapa?" tanya Tiffany yang ikut terbangun karena suara Gerard tadi.


Gerard sedikit syok. Napasnya masih tak beraturan. Keadaanya duduk tepat menghadap Tiffany dari seberang tempat ia tidur.


Lalu, ia menerjap-nerjapkan matanya dan perlahan mengalihkan pandangannya dari Tiffany. Masih berusaha untuk mengatur napasnya.


"Hei, aku tanya kau kenapa" Tiffany turun dari tempat tidurnya. Ia turun berjalan menghampiri Gerard yang masih terduduk.


"Tarik napas, buang.. Tarik lagi, buang lagi. Jangan buru-buru, pelan saja" Kata Tiffany lembut. Ia mengusap punggung Gerard sambil jongkok sedikit untuk melihat wajah Gerard.


Gerard mencoba mengikuti Tiffany. Lalu perlahan ia menatap Tiffany. Ia tersenyum tipis.


"Aku baik-baik saja Fany"


"Apanya yang baik, kau seperti kerasukan tau! Kau bahkan memekik, kupikir kau kerasukan! Diluar sana hujan tapi suaramu masih terdengar. Dan kemana kaosmu!"


"Hehe, maaf Fany"


"Masih bisa kau tertawa. Sekarang jelaskan apa yang terjadi!"


Gerard terdiam. Ia menunduk melihat lututnya.


"Hei, kusuruh kau untuk menjelaskan! Bukan terdiam seperti patung"


"Kamu tidur saja Fany. Tadi itu hanya mimpi buruk. Sepertinya aku melantur. Maaf ya aku menganggu tidurmu"


"Ceritakan mimpimu"


Gerard masih diam. Tiffany tiba-tiba memegang tangan Gerard.


"Begini, walaupun sepertinya kita memiliki privasi masing-masing anggap saja kita ini teman satu kamar. Walaupun ada kontrak serta syarat-syarat yang harus kau patuhi, itu hanya berjaga-jaga agar kau tak kelewatan dalam berhubungan denganku"


Gerard masih juga diam.


"Hei, apa kau tak sudi berteman denganku?"


"Bu-bukan begitu..."


"Jadi apa kita berteman?"


Gerard masih juga diam. Tiffany mulai tak sabar menanggapinya. Namun emosi sedikit ia tahan.


"Kau dengar tidak?" lanjutnya


"Ba-Baiklah"


"Baiklah, sekarang cerita. Ada apa dengan mimpimu?"


Gerard melihat kesebelah kirinya. Ia melihat kearah jendela.


"Aku hanya bermimpi tentang orang tuaku. Lalu ada api yang membakar semua seolah-olah mereka memang harus pergi. Dan pamanku yang memang harus menggantikan mereka"


"Bukankah itu memang takdir? Bahkan kamu sudah merasakannya kan"


"Iya, aku merasakannya. Entah mengapa sampai sekarang hatiku masih hampa Fany. Orang tua ku meninggalkanku, pamanku yang begitu keji. Aku dendam dengan semua yang terjadi" Gerard melihat ke arah Tiffany.


"Kau membenci semua? Padahal kau bilang kemarin jangan membenci orang tua"


"Aku hanya membenci apa yang terjadi. Tidak membenci orangnya"


"Ya sudah... Jangan dipikirkan lagi. Kalau kau terus memikirkannya, seolah-olah kau merasa bersalah pada dirimu sendiri"


Haduh, apa kata-kataku tepat? Aku kan tak pandai memberi nasihat. Apa cocok dihatinya ya.


Gerard tersenyum sedikit lega dengan apa yang dikatakan Tiffany.


"Kamu benar"


"Hahaha aku memang selalu benar" jawab Tiffany bangga.


"Terimakasih Fany"


Gerard berniat untuk berbaring.


Tiffany memeluknya tiba-tiba. Gerard yang sudah setengah duduk jadi kembali tegap. Ia membalas pelukan Tiffany.


"Semuanya akan baik-baik saja"


Gerard yang terkejut mendengarnya tiba-tiba menangis. Isak tangisnya terdengar oleh Tiffany. Ia mengelus punggung Gerard.


Ini sisi lemahnya. Tak jauh beda denganku.


"Tak apa. Teruslah menangis"


Gerard menangis lebih lama.


---


Dia masih tertidur ya. Apa kusiram saja wajahnya dengan air seperti katanya kemarin?


Tiffany mendekat kearah Gerard. Mata Gerard tampak bengkak. Walaupun ia tidur, terlihat jelas karena matanya itu sedikit cekung.


Hah kasian sekali dia. Dia juga bahkan menemaniku sampai tertidur dilantai waktu itu. Ya sudahlah biarkan saja.


Tiffany meninggalkan kamar menuju ke dapur.


"Pagi non" sapa pelayan dirumah itu.


Tiffany tersenyum pada pelayan nya.


"Non, sarapan sudah saya siapkan dimeja ya"


"Iya Bu, terimakasih ya"


"Sama-sama non"


Tiffany meninggalkan dapur ke ruang makan. Ia menikmati sarapan buatan bibinya. Dua helai roti dan kopi menambah kenikmatan pagi harinya.


Terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat dari atas. Itu Gerard. Ia berlari kebawah menuju dapur.


"Bi, Fany dimana!"


"Pagi tuan. I-itu di ruang makan"


"Hah, baiklah terimakasih"


Ia langsung terburu-buru menuju ruang makan.


"Tiffany!"


"Hei, pagi-pagi sudah seperti dikejar setan"


"Aku telat lagi ya! Bisa gila aku kalau telat terus seperti ini! Arghh!!!"


Gerard lega dan langsung mengusap wajahnya.


"Kau belum cuci muka ya?"


"Tentu belum! Aku terburu-buru mencari kamu"


"Ululu, manisnya. Ya sudah sana cuci muka"


Gerard menatap makanan yang dihidangkan didepannya.


"Tapi aku sudah lapar"


Baru saja mau duduk, lengan atasnya langsung ditarik dan digandeng oleh Tiffany.


"Kau tak akan makan sebelum cuci muka. Mengerti sayang" katanya sambil tersenyum.


Aura apa ini. Menyeramkan.


"Hehe, baiklah baik"


Gerard ke toilet mencuci mukanya. Lalu segera kembali lagi ke ruang makan


"Fany"


"Hm"


"Kapan kita kembali ke kantor?"


"Apa yang mau kau kejar di kantor? Resepsionis?"


"Tidak, aku rindu Kyle dan yang lain. Aku ingin bertanya kabar mereka"


"Tapi kan kau punya HP"


"HP ku hanya punya kontak mu Fany"


"Begitu ya"


"Iya"


"Ya sudah, nanti pinjam saja HP ku. Ambil kontak Pak Kyle lalu kembalikan lagi padaku"


"Terimakasih"


"Hm"


Mereka melanjutkan makan mereka. Namun ada yang terbesit di pikiran Gerard membuatnya bertanya kembali.


"Fany"


"Apa"


"Memang kenapa dengan para resepsionis?"


"Mereka? kata Rika mereka suka melihatmu lewat depan mereka. Wanita menjijikan"


"Tidak menjijikan bagiku, aku merasa senang ada yang suka dengan ku"


"Apa-apaan itu. Terdengar seperti pemain!"


"Apa kamu tak suka mereka begitu?"


"Tentu! Aku risih mendengarnya! Toh aku menikah denganmu, harusnya mereka berhenti seperti itu dan tau diri. Untung mereka tak berani seperti itu di depanku kalau iya sudah kupecat mereka" jawab Tiffany sambil memasang raut wajah kesal.


"Kamu cemburu?"


"I.." Tiffany yang baru saja menyuap makanannya sendiri, jadi tak jadi.


"Tidak" lanjutnya dengan tatapan sinis.


"Ulululu manisnya" sahut Gerard memejamkan mata senang sambil terus melahap makanannya.


Tiffany membanting garpunya ke meja.


"Aku bilang tidak!"


"Tapi awalnya kamu bilang huruf I!"


"Aku bilang Ti"


"Tapi kamu mengulangnya dua kali"


"Emang apa yang salah!"


"Berarti kamu ragu dengan jawabanmu"


"Tidak!"


"Iya Fany"


"Kau!"


Gerard hanya memberi senyum menyebalkan.


Tiffany lalu bangkit dari kursinya.


Gerard secara otomatis ikut berdiri, mengambil semua sarapannya dan melahapnya.


"Habis kau kali ini!" kata Tiffany sambil menatap dengan senyum mengerikan.


Mati aku.


Gerard segera berlari. Rotinya masih berada di mulutnya. Sedangkan Tiffany mengejarnya cepat dari belakang.


Pemandangan seperti itu sebenarnya agak aneh dimata pelayan muda di rumah itu. Karena tuan muda mereka bisa-bisanya berani membuat sang pemilik kekuasaan dirumah itu murka. Sedangkan si bibi, merasa bahwa itu wajar karena itu cara mereka menikmati pernikahan mereka yang baru.


---


"Ehm, lagi sayang. Lagi. Masukkan semua. Kau membuatku gila!"


"Kau yang membuat ku gila sayang"


"Lagi sayang. Argh iya begitu"


"Aku sudah hampir gila dirumah tapi kau menambah kegilaanku. Argh.."


"Ada apa di rumahmu sayang? Kau sepertinya kelelahan"


"Anak tiriku. Dia baru saja menikah.."


Ia berhenti sejenak melakukan aktivitasnya.


"Kenapa berhenti! Lanjutkan!"


"Iya tapi kau lanjutkan ceritamu"


"Ia terus mengusirku jika aku membawa laki-laki lain. Padahal ia sendiri membawa seorang pria. Dan tiba-tiba menikah dengannya" cerita wanita itu.


"Siapa namanya?"


"Entahlah. Gerry? Gerard? Dia pria tampan. Tubuhnya kokoh. Aku yakin tenaganya dua kali lipat darimu"


Pria itu berhenti lagi.


"Lou! Lakukan lagi! Kenapa berhenti! Aku sudah mau sampai klimaksnya!"


Pria itu pun melanjutkannya lagi sesuai permintaan wanita bernama Rita.


"Ah, Ehm, iya sayang. Ah, ah, Arghhh!!!!"


tubuhnya terkulai lemas. Si pria berhenti sejenak.


Ternyata anak itu ada dirumah wanita ini ya.. kena kau Gerry. Wanita ini juga bisa kuperdaya.


"Sayang, ayo berkencan" goda Rita.


"Baiklah, kalau itu mau mu. Apakah kau punya kartu nama? Aku akan mendatangi rumahmu ketika kau perlu atau kalau aku ingin"


"Ini, tapi sebaiknya kau berhati-hati. Pilih waktu yang tepat. Anak tiriku itu tak punya adab pada pria asing. Mengerti?"


Lou mengangguk. Ia sangat senang akhirnya mendapatkan permainan yang diinginkan.