Him

Him
Yang Canggung


"GERARD BANGUN KITA TELAAATTTT!!!" Tiffany memukulkan bantal ke wajah Gerard lalu mengambil pakaian Gerard dari ruang ganti.


Gerard masih tidur. Dia sangat susah dibangunkan setiap pagi.


"Ah anak ini. GERARD BANGUN!!!"


Gerard terkejut dengan suara teriakan Tiffany. Ia langsung bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menunduk dan menggosok-gosokkan matanya.


"Hei, cepat bangun! Kita telat wahai manusia! Pakaian sanah!"


Tiffany melemparkan pakaian kepada Gerard, Gerard dengan refleks menangkapnya.


"Untuk apa ini?"


"Untuk dijual. Ya untuk apalagi, ya bekerjalah!"


"Ah iya iya, apa aku harus mandi?"


"Sudah tidak usah!!"


Gerard bangkit berdiri masih dengan wajah lebam akibat tidur. Lalu ia membalikkan wajahnya. Ia menyeringai jahil.


"Jadi kamu juga tidak mandi ya?"


"Bukan urusanmu!"


"Hahaha, iya deh iya. Galak sekali kamu, padahal baru tadi malam.."


"SUDAH MASUK SANAH!"


"Huft, iyadeh iya"


Kenapa disini hanya aku yang merasa salah tingkah sih!


Gumam Tiffany dalam hati.


Gerard pun masuk keruang ganti untuk berganti pakaian.


Ah Tiffany Putri Rinjani!!!! Apa yang sudah kau lakukan! Padahal kau yang membuat semua persyaratan itu untuknya! Huft dasar bodoh!


Ponsel Tiffany berdering, ia segera mengangkatnya.


"Halo Bu, apa saya akan jemput hari ini?"


"Iya, saya membutuhkanmu hari ini kenapa daritadi tidak telepon?"


"Saya sudah menelpon ibu. Tapi tidak ada jawaban Bu"


Tiffany langsung mengecek panggilan masuk ke ponselnya. Wajahnya jadi sedikit malu.


"Ba-baiklah, jemput saya ya!"


"Baik Bu"


Telepon dimatikan. Gerard keluar dari ruang gantinya.


"Kau sudah siap?" tanya Tiffany agak canggung.


"Iya sudah"


"Ya sudah ayo!"


Tiffany buru-buru mendahului Gerard. Gerard hanya menghela napas.


Baru tadi malam kami bersikap layaknya pasangan. Huft, sepertinya tadi malam benar-benar hanya kecelakaan karena alkohol


"Apa yang kau lamunkan! Cepat!"


"I-Iya Bu, Iya"


Mereka buru-buru menuruni tangga.


---


Sesampainya di tempat bekerja , Rika membukakan pintu untuk atasannya itu beserta suaminya. Mereka buru-buru masuk kedalam.


"Rika, apa semua sudah hadir di dalam?"


"Sudah Bu, mereka semua sudah memberi kabar pada resepsionis"


"Baguslah kalau begitu. Saya mau semua media yang meliput dibagian belakang saja. Lalu tolong pada para wartawan agar menjaga ketertibannya selama pengesahan"


"Baik Bu, apa ibu mau pintu depan ruangan dijaga?"


"Sebaiknya begitu"


"Baik Bu"


Mereka berbincang serius sambil terus berjalan.


Aku bagai keledai disini. Bodoh tapi ikut-ikut saja. Menyebalkan.


---


"Lihat anak kurang ajar itu. Ternyata dia sudah sukses tanpa mengingat jasa pamannya. Dasar anak tak dididik!"


Lou melihat Gerard sedang berdiri bersanding dengan Tiffany di salah satu stasiun TV.


PRANG!


"Sudahlah Lou, tak ada gunanya kau mengamuk seperti itu. Lihat wajahnya itu. Dia sangat bahagia dibanding malam bercinta denganku" kata seorang wanita berpakaian dress ketat dan pendek yang sedang merokok.


Ia adalah salah satu wanita pengguna jasa Gerard waktu itu. Ia senang bermain kerumah Lou untuk memuaskan nafsunya walau dengan Lou.


"Aku bahkan merindukan kenikmatan yang ia berikan dibanding mu Lou"


"Kalau gitu kejar saja dia! Kenapa kau tak berhenti datang kemari!"


Wanita itu mendekat kepada Lou dan menyiumi leher Lou.


"Hei sayangku yang bodoh, aku juga tak akan mau bercinta denganmu kalau Gerard ada disini" Ia terus menyiumi leher hingga wajah Lou.


Lou segera bangkit dari sofanya menjauhi wanita yang sedang menciuminya tadi.


"Apa yang kau lakukan?"


"Pasti anak itu meninggalkan sesuatu"


Lou mengecek kamar yang dulu ditempati Gerard. Ada beberapa kertas remuk dilemarinya. Di ceknya ternyata bukan apa-apa. Wanita tadi mengikuti Lou dari belakang.


Saat melihat kartu nama, wanita itu langsung mengambilnya dari lantai.


"Apa yang kau ambil?"


"Tak ada"


"Berikan padaku"


Lou mengepalkan tangannya. Si wanita itu sadar dalam bahaya lalu berlari. Namun gagal, Lou bisa mengejarnya.


"Tidak, lepaskan aku!"


"Berikan padaku!" Lou menjambak rambut panjangnya yang bergelombang dan melipat tangan wanita itu kebelakang.


"Biarkan dia bahagia Lou!"


"Kau yang bilang merindukannya kan! Berikan atau kusakiti kau!"


Wanita itu sedikit melemas karena tenaganya tak sebanding dengan laki-laki yang sedang menjambaknya dari belakang. Kepalan tangan wanita yang berisi kartu nama yang agak remuk itu terbuka. Kartu nama itu berisi alamat Tiffany.


"Nah, ini dia!" Lou melepaskan wanita itu. Wanita itu menangis.


"Kau, jangan bertindak seolah-olah kau ibunya. Bertindaklah menjadi ******* sebagaimana mestinya!"


Wanita itu menangis kesakitan. Ia terduduk menyender di dinding.


Haha, tak akan butuh waktu lama habis kau Gerry!


---


Jam menunjukkan pukul 5 sore. Sudah waktunya para karyawan Rinjani Corps untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


Sebenarnya Tiffany maupun Gerard masih merasa canggung setiap kali jalan berdua mengingat ciuman yang mereka lakukan tadi malam. Namun mereka memaksakan diri untuk berdekatan.


"Sore Pak, sore Bu" sapa para karyawan setiap kali Tiffany dan Gerard lewat.


"Huft, padahal kan aku yang lebih diatas dia. kenapa dia duluan yang disebut" gumam Tiffany pelan disamping Gerard. Gerard mendengar keluhan Tiffany tersebut. Langkah Gerard terhenti karena itu. Ia mendekat pada karyawan yang barusan menyapa merek berdua.


"Maaf teman-teman. Tapi istriku ini tidak suka kalau aku disebutkan duluan. Bisakah kalian mengubahnya?" pinta Gerard dengan senyum ramahnya.


"Baik, terimakasih"


"Sama-sama pak"


Gerard kembali berdiri disebelah Tiffany yang tdi juga ikut berhenti karena Gerard menghilang dari sampingnya.


"Apa yang kau lakukan?" kata Tiffany tanpa menatap Gerard.


"Hanya memberitahu mereka apa yang kamu tak sukai"


"Tumben kau cerdas"


"Aku memang cerdas Tiffany, kamu saja yang tak menyadarinya"


"Dih, terserah" Tiffany memanyunkan bibirnya lalu mempercepat langkahnya.


Uwu, imutnya dia


"Hei siput! lama sekali jalanmu!"


"Ah, iya iya aku datang"


Galak lagi deh. Dasar atasan galak!


Rika sudah menunggu mereka berdua diparkiran. Hari mulai gelap saat mereka beranjak dari tempat kerjanya.


---


"Argh, aku lelah sekali hari ini!" pekik Tiffany berbaring dalam kamarnya. Gerard baru selesai berpakaian senyaman mungkin untuk tidurnya.


Mereka berdua tak berbicara satu sama lain karena masih tercipta suasana canggung. Gerard duduk tegak di sofanya melihat Tiffany yang sedang berbaring di ranjangnya.


"Fany"


"Iya" jawab Tiffany singkat sambil menatap langit-langit kamarnya.


DEG DEG DEG


Ayolah jantung, bekerja sama lah! Jangan buat aku salah tingkah lagi.


Gumam Tiffany.


"A-aku minta maaf"


"Kenapa?"


"Aku melanggar persyaratan yang kau buat"


"Maksudnya?"


Aku kerjai sedikitlah hehehe. Lihat apa dia jujur atau tidak. Padahal aku juga yang salah karena memintanya duluan.


"Kemarin malam. Saat kamu mabuk"


"Iya?"


"A-aku menci-ci.."


"Cirit? Dasar jorok!"


"Cium! Aku menciummu"


Jantung Tiffany semakin berdegup kencang. Ia tak tau harus seperti apa. Pura-pura marah atau memaafkannya.


"Apa!"


"I-iya, aku melakukannya"


"Dasar tidak tau diri! Kau mau apa sih sekarang!" Tiffany mendramatisir keadaan. Ia segera bangkit dari baringnya lalu menepuk ranjang.


"Ihh, ta-tapi kamu duluan yang menarik wajahku seperti ini. Lalu berkata 'ini ciuman pertamaku'. Lalu saat aku mundur kamu menarikku lagi. Aku juga jadi terbawa suasana dan membalas ciumanmu. Setelah seperti itu, kamu akhirnya tertidur" Kata Gerard agak panik sambil memperagakan gerakan Tiffany kemarin.


Wajah Tiffany berubah jadi merah. Ia tak tau harus apa. Padahal dia yang berniat mengerjai Gerard.


"Ah, aku tak akan mau ke pesta bersama mu lagi!"


"Kenapa aku yang salah sih" kata Gerard memelas.


"Kau tak dapat dipercaya! Bisa-bisanya menciumku!"


"Tapi kan kamu duluan yang mencium ku Fany.. Aku hanya terbawa suasana lalu membalasmu"


"Terus kau berani menyalahkan ku?!"


Ah sudah kuduga.. pasti aku juga yang salah.


"Tidak.."


"Baguslah kalau kau sadar!"


Tiffany kembali berbaring lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Gerard bangkit dan berdiri. Ia mendekat ke ranjang Tiffany.


"Fany.."


"Apa"


"Kamu belum makan. Ayo kita makan dulu"


"Kenapa urusin aku sih, kalau kau lapar ya makan saja sana!"


"Baiklah, baik. Aku duluan ya"


"Hm"


"Ya Fany ya"


"Hei tuli! Aku bilang HM! Berarti iya!"


"Aku pikir kamu sedang berpikir"


"Sudah pergi sana!"


Gerard keluar dari kamar itu.


Asik juga mengerjai nya.


Sementara itu dikamar.


Padahal aku lho yang berniat mengerjainya. Kenapa dia bahkan lebih menyebalkan dariku sih! Bahkan aku yang dikerjainya!


Lalu Tiffany mengingat saat mereka pertama kali bertemu ditaman.


Hahahaha, sepertinya memang dari sananya dia sangat menyebalkan. Ia juga sangat ramah. Namun lebih banyak diamnya. Huhuhu, suamiku yang imut suamiku yang imut.


Gerard sedang makan di ruang makan. Rita datang menghampirinya.


"Sayang" kata Rita sambil menyentuh otot lengan atas Gerard.


Gerard melihat ibunya tak sendiri. Ia ditemani seorang pria yang asing baginya.


"Iya Bu?"


"Bolehkan teman laki-lakiku ikut makan bersama kita?"


"Saya tak punya hak melarang bu" kata Gerard sambil menyengir.


"Berhenti panggil aku ibu, lagian kau sudah menjadi kepala keluarga dirumah ini kan. Bahkan jabatanmu sudah tinggi di perusahaan terkenal dinegara ini. Kau bisa mengatur semua orang"


"Bukan hakku Bu" Gerard mempercepat makannya.


"Perkenalkan namanya Simon"


"Hey Gerry! Kau keponakan Lou bukan?"


"Kalian sudah saling mengenal?"


Gerard terkejut ternyata pria itu teman pamannya.


"Bu aku duluan"


"Baiklah sayang, selamat malam"


Gerard pergi buru-buru meninggalkan mereka.