Him

Him
Pesta Peresmian Jabatan


Gerard sedang duduk di sofa tidurnya sambil meratapi jendela di sampingnya. Ia melamun melihat rumah bagian belakang Tiffany yang super mewah.


Beberapa menit kemudian Tiffany keluar dari ruang ganti. Ia memakai gaun dengan bahu dan punggung terbuka berwarna hitam. gaun tersebut membentuk lekuk tubuhnya. Ia sangat seksi memakainya. Gerard yang daritadi sudah siap memakai jasnya terpaku dengan keindahan tubuh wanita didepannya.


Tiffany lalu duduk didepan cermin riasnya. Ia merias wajahnya sebagus mungkin. Gerard hanya menatapi dari belakangnya.


Lihat tubuh itu. Argh aku ingin meniduri nya.


"Berhenti melamun. Apa kau sudah siap?" Tanya Tiffany sambil merias wajahnya tanpa melihat Gerard. Gerard tersadar dari lamunannya.


"Iya, sudah. Aku hanya tak bisa memakai ini"


Tiffany selesai dengan urusannya lalu bangkit dan berjalan ke arah Gerard.


"Apa yang tak kau bisa?"


"Ini" sambil memegang dasinya.


"Hah kau ini! Belajar mengendarai mobil cepat, hanya memasang dasi saja susah!"


"Maaf Fany, lain kali aku akan belajar lagi"


"Terserah" Tiffany mengambil dasinya lalu memasangkan nya pada leher Gerard. Lalu ia merapikannya. Tanpa disadari ia menyentuh dada Gerard.


Iya sentuh saja terus, sentuh sesuka hatimu Nona manis. Sentuh semua.


"Sudah selesai, sana ambil kunci dari pak Mukhlis!"


"Iya, baiklah sebentar"


Huft aku sedang menikmati sentuhanmu tau! Kenapa kau terus marah-marah padaku sih!


Gumam Gerard sambil menutup pintu kamar.


Rita tiba-tiba keluar dari kamarnya.


"Sayang"


Gerard menoleh.


"Iya Bu?"


"Kamu mau kemana tampan sekali kamu"


Kata Rita sambil menopang wajah Gerard.


"Mau ke pesta Peresmian Kepemilikan Fany Bu"


"Ha? Apa? Kenapa aku tak diundang?"


Gerard diam saja tak tau harus jawab apa.


Tiffany yang mendengar dari dalam kamar langsung keluar menemui mereka.


Dasar ****** tak tau diri. Urus saja kepentinganmu!


Tiffany meraih tangan Gerard lalu menggandengnya. Ia bersikap manja pada Gerard.


"Sayang ayo buruan nanti kita ketinggalan"


Gerard menunduk melihat Tiffany dan membalas dengan menyengir.


"Apa-apaan ini. Aku tak diundang" marah Rita.


"Memang kau siapa?" jawab Tiffany sinis.


Mereka berdua meninggalkan wanita tua itu.


Urgh, menyebalkan sekali anak tak tau diri itu!


Gumam Rita kembali ke kamarnya dengan membanting pintunya.


---


"Dengan ini, Rinjani Corps sudah dipegang oleh tangan anak dari Leo Rinjani, Tiffany Putri Rinjani!"


Semua menepuk tangan masing-masing meriahkan suasana. Tiffany tersenyum bahagia mendapati sekarang perusahaan ayahnya ada ditangannya. Bahkan ibu tirinya sudah tidak dapat menganggu gugat. Walaupun masih pestanya, besok adalah pengumuman resmi melalui media massa.


Rika ada di pesta itu. Ia mengikuti atasannya itu kemanapun Tiffany pergi. Pesta formal ini bisa dibilang meriah karena banyak sekali orang-orang penting yang menghadirinya. Pesta terus berjalan sampai malam agak larut .


"Selamat atas jabatan baru nya Bu Fany. Semoga sukses selalu" Kata seorang pejabat yang datang ke pesta itu.


"Terimakasih pak" mereka saling berjabat tangan.


Malam sudah semakin larut. Pesta juga sudah sepi karena sudah berakhir.


Namun Tiffany terlalu bahagia seperti larutnya malam. Ia meminum banyak sekali alkohol disitu ditemani oleh Gerard di bar. Rika juga ada disitu.


"Maaf Bu, seharusnya ibu menyudahi minum-minumnya"


"Apa? Menyudahi? Aku bahkan belum memulainya" kata Tiffany sambil mabuk.


Rika hanya terdiam disitu.


"Bantu aku" kata Rika berbisik pada Gerard.


"Aku harus apa?" balas Gerard dengan berbisik pula.


"Apa yang kalian bicarakan" Tanya Tiffany menyadari dua orang di dekatnya berbisik.


"Ti-tidak Bu"


Gerard bangkit dari duduknya dan mulai mengajak istrinya itu pulang.


"Fany, ayo pulang besok juga kau harus kerja"


Tiffany melihat ke arah Gerard.


"Ulululu, besok aku kerja ya sayang.. Kau juga kerja sayang. Tampannya dirimu malam ini. Sayang, sayang" kata Tiffany sambil tertawa.


Gerard jadi malu mendengarnya namun ia sadar itu pengaruh karena Tiffany sedang mabuk. Ponsel Rika berdering. Pacar nya Rika sudah atang menunggu untuk menjemput Rika. Rika menyuruhnya datang ketempat itu.


"Bantu aku Lucas, nanti saja mengejeknya"


"Apa yang perlu kubantu? Menggendongnya?"


Barulah terpikir oleh Gerard bahwa ia harus menggendong Tiffany masuk ke mobil.


"Nah, kau sudah membantu. Terimakasih"


"Hah?" kata Lucas sedikit bingung karena yang ia lakukan daritadi hanya ngomong.


"Baiklah kalian pulang saja. Terimakasih teman-teman"


"Sayang ayo pulang"


"Ah iya. Hati-hati ya" ucap Rika dengan sedikit khawatir.


Rika dan Lucas meninggalkan mereka disitu.


"Hei, berikan aku satu gelas lagi" pinta Tiffany pada pelayan bar disitu.


"Tidak pak, terimakasih semuanya" kata Gerard.


"Ba-baik tuan dan nona. Terimakasih sudah kesini"


"Hehe, iya pak" jawab Gerard menyengir.


"Hei apa-apaan aku masih mau min.."


Tiffany diangkat oleh Gerard secara tiba-tiba. Gerard menggendongnya. Tiffany yang didepan dada Gerard marah-marah memberontak.


"Lepaskan aku! Turunkan aku! Aku masih mau merayakan kemenanganku!"


"Tidak, tidak. Ini sudah malam. Aku dan kamu harus bekerja besok. Kamu akan ditunggu banyak wartawan untuk peresmian jabatan kamu Fany"


"Enyenyenye" ejek Tiffany sambil memutar bola mata.


Sampai di mobil Gerard meletakkan Tiffany dibagian belakang. Karena memang tidak biasanya mereka duduk berdua di bagian depan.


"Aku mau didepan!"


"Kalau kamu didepan, kamu tidak bisa tidur senyaman disini Fany"


"Kau sok perhatian! Siapa kau berani menolak perintahku!"


Gerard mulai kesal dengan apa yang dikatakan Tiffany.


"Baiklah, jika kamu tak mau mengikuti kataku. Terserah saja"


"Ya memang!"


Situasi berakhir Tiffany duduk didepan dan Gerard membawa mobil. Belum lagi mobil dihidupkan, Tiffany sudah bertingkah.


"Aku kedinginan"


Gerard mematikan AC mobil dan tak menjawab kata-kata Tiffany.


"Masih dingin"


Gerard mengecek semua jendela apakah tertutup dengan rapat.


"Berikan jas mu bodoh!"


Gerard melepaskan jas nya lalu diberikannya pada Tiffany. Ia tetap diam. Tiffany tiba-tiba mengambil kunci mobil yang sudah tersangkut.


"Sekarang apa maumu" tanya Gerard menghela napas.


"Ambil lah" jawab Tiffany sambil tertawa.


Tiffany menunggi-nunggikan tangannya agar Gerard tidak sampai. Namun dalam sekali percobaan saja Gerard sudah bisa ameraih kuncinya. Wajah Gerard sangat dekat dengan Tiffany.


"Jangan main-main nona imut. Ukuran kamu itu jauh lebih kecil dibanding aku"


Tiffany tiba-tiba memegang wajah Gerard lalu menciumnya.


Gerard kaget seketika. Ia membuka matanya lebar-lebar. Sedangkan Tiffany tampak menikmatinya.


Sudah berapa lama kemudian Tiffany melepaskan ciuman itu.


"Kau tau, itu ciuman pertamaku" kata Tiffany dengan tatapan sayu dan senyum.


Gerard mengatur napasnya karena sejak awal tadi ia tak bernapas sangking kagetnya.


Bibirnya manis sekali ah tidak aku ingin menciumnya lagi walaupun ciumannya tak selihai ******-jalan yang kutiduri selama ini.


Gerard kembali mendekat lalu mencium Tiffany kembali. Tiffany menerimanya dengan senang hati.


"Fany"


"Ehm" katanya sambil menyibak-nyibak rambut Gerard. Mereka belum melepaskan ciumannya.


"Kita harus pulang" kata Gerard sambil berbisik dan perlahan mundur.


Tiffany merangkul leher Gerard lalu menarik kembali wajahnya.


"Sebentar lagi, ehm" Mereka lanjut berciuman.


Setelah beberapa menit kemudian, Gerard sadar bahwa lawan ciumnya sudah tak bergerak lagi.


Padahal masih berciuman tapi ia sudah tertidur


Gerard menatap Tiffany sebentar.


Imutnya


Gumam Gerard dalam hati.


Mobil dinyalakan Mereka pun pulang kerumah dimalam yang sudah sangat larut itu.