
Hari ini, Tiffany masih memutuskan untuk bekerja dari rumah saja. Dia terlalu malas untuk pergi ke kantor.
Sedangkan Gerard, baru sehari dalam rumah saja dia sudah merasa penat. Walaupun itu rumah baru baginya, tetapi ia ingin sekali mengobrol dengan Kyle dan teman-temannya.
"Fany"
"Apa sih"
"Berapa hari lagi kamu bekerja dirumah?"
Tiffany duduk tegak menghadap Gerard. Tatapannya sangat tajam. Gerard merinding melihatnya.
Habis aku.
"Kau itu! Sudah enak tinggal disini juga! Kenapa permintaanmu banyak sekali sih! Aku harus fokus tau! Kalau kau mau keluar ya keluar saja sendiri kenapa heboh sekali!"
Gerard menunduk lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Tiffany yang emosi langsung kembali ke laptopnya. Keheningan diantara mereka tercipta.
"Baiklah, aku keluar sebentar"
"Hm" masih fokus pada laptopnya.
Gerard beranjak dari kamar itu. Tujuannya adalah ke kolam belakang. Ia ingin sekali berolahraga dalam air itu. Suasananya juga terlihat tenang dari kamar Tiffany.
Ia membeberkan dirinya kedalam air tenang itu. Cuaca yang tak begitu terik juga menambah semangatnya untuk berenang. Widi datang menghampiri Gerard. Ia sebenarnya sangat malu karena melihat tubuh tuannya yang menyegarkan mata.
"Tuan, a-apa anda mau minum?"
"Bolehkah?" Gerard berhenti dari aktivitasnya.
Widi tersenyum menunduk.
"Tentu tuan, anda tuan rumahnya"
"Hehehe, baiklah aku mau"
"Anda mau minum apa tuan?"
"Ehm, aku tak tau mau minum apa. Bisakah yang dingin?"
"Baik tuan" Widi segera beranjak dari tempatnya.
Gerard kembali berenang. Saat ia di dalam air, ia menenangkan diri dengan bersandar dan memejamkan mata. Masih diingatnya betapa mengerikannya dia bersama pamannya. Bekerja untuk melayani wanita kaya penuh nafsu. Bahkan dibayangkannya saat partner nya menciumnya dan menyentuh dadanya.
Perasaan marah, sedih dan kesal. Lalu ia membayangkan saat Tiffany menciumnya. Nona muda itu terlihat sangat rapuh saat menangis di dekatnya. Lalu dibukanya matanya.
Aku beruntung disini Fany. Terimakasih atas semuanya. Aku berutang padamu. Terimakasih sekali. Aku mencintaimu. Apakah kamu mau menerima lelaki kurang ajar penuh najis seperti ku ini?
Gerard menghela napas panjang lalu kembali berenang.
"Tuan, ini minumannya"
Gerard langsung menyadari ada yang memanggilnya. Dia sudah agak terbiasa dengan panggilan 'tuan' padanya.
"Baiklah, terimakasih"
"Sama-sana tuan"
Gerard naik ke atas meninggalkan kolam. Ia ingin beristirahat dahulu sebentar.
Widi masih tak beranjak dari situ.
Gerard meminum minumannya.
Widi jaga pandanganmu! Itu tuanmu! Suami dari pemilik rumah disini! Kau gila!
"Hei, apakah ada yang salah?" kata Gerard pada Widi yang masih berdiri disitu.
"Maaf tuan, kalau begitu saya ke dapur dulu"
Widi buru-buru meninggalkan tuan mudanya.
"Tunggu dulu. Siapa namamu?"
Widi berbalik menghadap Gerard.
"Widi tuan"
"Ehm, bisakah kita berbicara sebentar?"
Haduh, aku mana tahan berbicara hanya berdua disana. Mana dadanya terlihat sangat berotot. Lihatlah semua tubuhnya!!!
"Bisakah?"
Widi tersentak dari lamunannya.
"Baik tuan"
Mereka berdua duduk dikursi pinggir kolam.
"Bisakah kamu bicara tentang Fany?"
"Maksudnya tuan?"
"Bagaimana ya. Aku hanya ingin tau tentang dirinya. Aku takut ada tingkahku yang tak ia suka"
"Hm, maaf tuan. Saya takut jatuhnya malah menceritakan keburukannya"
"Tidak, aku hanya ingin tau bagaimana ia selama dirumah? Apakah pernah membawa laki-laki kerumah?"
"Nona orang yang baik tuan. Selalu menyapa kami dirumah. Sejauh ini, hanya tuan laki-lai yang pernah datang bersamaan dengan nona"
"Hm,begitukah?"
"Iya tuan"
"Tunggu, apa pernah ada laki-laki yang ingin menemui Fany?"
"Pernah tuan, tapi nona selalu menolak kedatangan mereka dengan alasan dia seorang lesbian"
"Hah?! Serius dia lesbian?"
"Tidak tuan, tapi nona pernah meminta saya untuk mengusir mereka dengan alasan seperti itu"
"Apa mereka percaya?"
"Rata-rata percaya tuan karena memang nona tak pernah mengajak seorang laki-laki masuk"
"Hahahaha, keren juga"
"Iya tuan" kata Widi dengan tersenyum.
"Ekhem"
Widi dan Gerard langsung menoleh ke belakang.
"Apa kalian puas membahas tentangku?"
Widi langsung berdiri.
"Ma-maaf Nona! saya lantang"
"Tidak apa-apa. Pasti ada sebab kau kesini siapa lagi kalau bukan karena orang yang sangat kepo" kata Tiffany tersenyum pada Widi, lalu melotot pada Gerard.
"Maaf nona, saya permisi dulu"
Widi meninggalkan mereka berdua.
"Puas membahas tentangku?"
Gerard hanya diam. Ia lalu berbaring di kursi santai itu.
Tiffany emosi lalu mendekat pada Gerard. Ia berdiri tegap didekat Gerard menutupi wajah Gerard dari cahaya.
"Kau tuli atau bagaimana?!"
"Aku dengar" Gerard langsung duduk tegap.
"Lalu?!"
"Aku takut jawaban ku selanjutnya salah lagu bagimu"
"Kau itu laki-laki atau apa sih! Takut ini itu"
"Kan salah lagi"
"Menyebalkan!"
Tiffany menghentakkan langkahnya menuju kursi panjang satunya. Ia langsung berbaring.
"Fany"
"Apa"
"Kerjaanmu sudah selesai?"
"Jawab saja"
"Ya sudahlah!"
Gerard tersenyum senang.
"Kenapa kau senang?"
"Tak ada. Akhirnya ada teman bermain"
"Kau pikir umur kita berapa untuk bermain. Seperti bocah saja"
"Aku kan memang bocah. Umurku aja lebih muda darimu"
"Enyenyenye. Diam kau dasar menyebalkan. Apa yang kau banggakan dari beda setahun"
"Sudah berapa kali kamu bilang aku menyebalkan Fany"
"Terserah aku dong!"
"Jangan marah-marah terus, nanti kamu tampak sangat tua"
Tiffany bangkit dari baringnya. Gerard yang merasa bahaya juga reflek untuk berdiri.
"KAU KENAPA SIH MENYEBALKAN SEKALI! TAK BISAKAH KAU DIAM SEDIKIT SAJA AGAR AKU TENANG!!!"
"Aku kan hanya menasihati. Kamu sih marah terus"
"Awas kau ya!"
Tiffany mengejar Gerard. Gerard lalu melompat ke kolam.
"Wlek, ayo kejar aku" ejekny
"KAU!" Tiffany langsung ikut melompat ke kolam.
"Uuu manisnya nona dengan tuan" kata teman Widi yang juga ART disitu.
"Haha, iya" jawab Widi.
"Nona muda pantas mendapatkan kebahagiaan dari apa yang pernah dialaminya dulu" lanjut bibi. Yang lainnya setuju dengan kata bibi. Mereka tidak tau bahwa sepasang suami istri itu sedang berkelahi.
Mereka masih kejar-kejaran dalam kolam.
Saat Gerard berusaha keluar dari kolam. Tiffany meringis kesakitan. Gerard menoleh dan langsung menghampirinya lagi kedalam kolam.
"Kau tak apa?" Mereka saling menatap singkat.
Tiffany menarik rambut Gerard.
"Kena kau!"
"A-a-a. Sa-sakit Fany. Lepaskan. Arggghh" Gerard meringis kesakitan rambutnya ditarik oleh Tiffany.
"Ucapkan maaf"
"Aku tak salah"
"Ucapkan Maaf!!!!"
"Tidak!"
"Baiklah itu yang kau mau!"
Tiffany lanjut mencubit hidung Gerard yang mancung.
"Fa-Fany aku tak bisa napas!"
"Minta maaf!"
"Baiklah, baik"
Tiffany melonggarkan cubitannya.
"Aku memaafkanmu" lanjut Gerard.
"KAU ARRRGGGHHH!!"
Tiffany mencubit dan menarik rambut Gerard habis-habisan.
Akhirnya Gerard bisa menangkap tangan Tiffany. Ia mendekat ke wajah Tiffany.
"Baiklah, Fany. Aku minta maaf"
Wajah Tiffany memerah.
"Lepaskan aku"
"Dimaafkan?"
"Iya! lepaskan tanganku!"
Gerard melepaskan tangan Tiffany lalu tersenyum manis.
"Baguslah, terimakasih"
*Kau itu kenapa sih dari kemarin sangat menyebalkan!!! Gerard Antonio bodoh!
Untung aku tak menciumnya. Gerard bodoh! Tahan sedikit nafsumu*!
---
"Hey Gerard"
"Kenapa Fany?"
Tiffany bingung mau mulai darimana.
"Tidak jadi"
"Apa kamu mau bertanya apa yang diceritakan Widi?"
"Tidak juga"
"Jadi?"
"Aku.. hanya ingin tau bagaimana dirimu di masa lalu"
Jantung Gerard serasa berhenti.
Apa aku harus menjawab sejujur-jujurnya? Aku tak mungkin menjawabnya!
"Apa yang ingin kau ketahui?"
"Orang tua mu"
"Orang tua ku meninggal karena kecelakaan saat aku berusia 9 tahun. Lalu aku tinggal bersama pamanku. Sudah"
"Kau bekerja apa selama bersama pamanmu?"
"Tukang bersih-bersih" jawab Gerard cepat.
"Oh, begitu"
"Iya begitu"
"Ya sudah. Aku mau tidur"
"Selamat tidur Tiffany"
Lampu kamar sudah dimatikan. Tiffany masih melihat langit-langit kamar.
"Gerard"
"Iya Fany"
"Aku benci orang bohong. Itu sebabnya aku benci orang tuaku walaupun aku sekaligus menyayangi mereka"
DEG
"Apa alasanmu membenci mereka?"
"Mereka meninggalkan ku padahal berjanji bersamaku"
Gerard terdiam. Lalu ia menjawab.
"Aku juga begitu Fany. Tapi tidak ada alasan membenci orang tua"
"Setiap orang beda-beda. Ya sudahlah tidur saja"
Tiffany menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Mereka tidur dengan lelap.