
Pagi-pagi Tiffany mau bekerja, ia menjumpai ibunya tidur didepan pintu rumah. Ada botol alkohol ditangannya.
"Hei nak, mau kerja?" Kata ibunya melantur.
Tiffany acuh dengannya. Ia meninggalkan ibu tirinya disitu. Biar saja bibi yang peduli dengannya pikir Tiffany. Di gerbang, Rika sudah menunggu atasannya tersebut. Ia berdiri di depan mobil. Ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Tiffany.
Aku benar-benar harus menikah untuk menyingkirkan wanita ini.
"Pagi Bu"
"Saya tau cara membuka pintu mobil"
"Hehehe iya Bu, saya juga tau kok"
"Kamu ini"
Rika menyengir. Dia keseringan menyengir didepan atasannya itu. Tiffany sendiri kadang terhibur melihat Rika yang sering cengengesan ditegur.
Selama diperjalanan, suasana mobil hening. Lalu, Tiffany bertanya.
"Apa saya ada jadwal meeting hari ini?"
"Tidak ada Bu"
Tiffany benar-benar kaget.
"Benarkah?"
"Benar Bu"
"Jika kamu salah bagaimana?"
"Hehe, saya yakin Bu. Soalnya hari ibu di jadwal yang paling luang ya hari ini"
Tiffany benar-benar senang mendengarnya.
"Baiklah, hari ini beritahu semua karyawan untuk pulang jam 4. Ah tidak, jam 3. Kecuali memang masih ada urusan di kantor"
Rika pun ikut terkejut mendengar atasannya itu. Ia sangat antusias.
"Ah ibu! Benarkah! Terimakasih banyak Bu!"
Ah senangnya. Dia atasan sih, mau apa aja juga bisa.
"Iya, saya ingin semua istirahat untuk besok" kata Tiffany tegas.
"Baik Bu! Saya akan sampaikan nanti!" Rika sangat bersemangat.
Sampai di perusahaan, semua karyawan diberitahu oleh Rika melalu bawahan Rika. Semuanya tampak bersemangat menyelesaikan tugas kantornya masing-masing.
Sebenarnya ini terasa seperti sekolahan hahaha. Ayah, kau pasti akan tertawa bila ada disini melihat karyawanmu.
---
"Hei Ger, hari ini kita pulang lebih cepat" kata salah satu teman Gerard, Anton.
"Ah, benarkah"
Sial, aku harus pulang lebih awal dan meladeni wanita-wanita itu.
"Iya, tadi Kyle yang memberitahuku"
"Aku juga" sahut Ryan
"Kalian bersemangat sekali pulang" sahut Kyle.
"Hehe, iya Kyle. Kami lelah"
"Aku juga, ingin bermain dengan pacarku"
Mereka berunding disitu, namun Gerard hanya memperhatikan saja sambil senyum.
---
Tiffany turun dari ruangannya. Dia ingin menyapa para karyawannya dan melihat-lihat suasana kantor karyawannya.
"Siang, Bu" sapa karyawannya.
"Atasan kita sangat cantik ya hari ini"
"Iya, aku ingin menjadikannya istriku"
"Hahaha, jangan mimpi kau!"
Segerombolan pria berbisik-bisik melihat Tiffany yang anggun memakai pakaian formalnya.
Tiffany selalu memakai pakaian bernuansa gelap di kantor. Memang warna kesukaannya Hitam, namun ia juga menyukai pink muda. Alasan dia memakai warna gelap agar terlihat tegas dan tidak lemah.
Lalu, tiba-tiba Tiffany melihat Gerard sedang membersihkan kaca jendela gedung. Tiffany sekejap tanpa sadar berpikir tentang pernikahan lalu mendatangi Gerard dengan cepat.
"Siang bu" sapa Gerard.
"Nanti pulang, temui saya"
Gerard agak terkejut. Ia takut melakukan suatu kesalahan.
"Baik Bu" kata Gerard dengan senyum tipis.
Tiffany langsung pergi dari tempat Gerard membersihkan kaca. Ia pergi dengan buru-buru kembali ke kantornya.
Oh tuhan, apa yang telah kulakukan.
Dalam hatinya.
---
Waktu pulang tiba. Gerard sangat gugup mau bertemu dengan Tiffany karena takut dipecat.
"Kyle, apa kau pernah dipanggil oleh Ibu?"
"Ibu mana?"
"Ibu Tiffany"
"Oh, tidak. Aku hanya pernah berbicara pada sekretaris pribadinya"
"Ah, Rika"
"Iya dia, emang ada apa?"
"Tidak Kyle. Aku hanya penasaran"
"Haha, anak muda, kau terlalu banyak berpikir"
Kyle tertawa memukul pundak Gerard.
Setelah beberes. Gerard segera menemui di ruangan Tiffany.
TOK TOK TOK
"Iya masuk" kata Tiffany
Tiffany membiarkan Gerard duduk dulu di sofanya.
Haduh, mana dia lebih muda dariku setahun. Apa dia mau ya.
"Hm Gerard, apa kau mau bekerja sesuatu untukku. Aku akan menaikkan gajimu 3 kali lipat"
Gerard sedikit terkejut mendengarnya. Padahal menjadi OB saja, gajinya sudah lumayan besar. Apalagi dikali tiga.
Tapi Gerard takut atasannya ini menyuruh berbuat kejahatan. Jadi dia lanjut bertanya.
"Apa itu Bu?"
Tiffany agak gugup menjawabnya.
"Mau kah kau menjadi suamiku?"
Gerard terkejut. Sangking terkejutnya ia melongo membuka mulutnya.
Apa!