
Pagi sekitar jam 6 pagi, Tiffany sudah beranjak dari tempat tidurnya. Bunyi alarm nya menyadarkannya untuk segera bangun dari kasurnya yang tersayang. Ia membuka gorden kamarnya lebar-lebar.
Karena silaunya matahari pagi yang masuk, Gerard mendengus dan menutupi wajahnya dengan tangan. Ia perlahan tersadar dari alam mimpinya. Dilihatnya wanita yang ia nikahi kemarin sedang merapikan tempat tidur.
Rajin sekali dia bangun jam segini. Huft, aku saja masih lelah.
Gumam Gerard dalam hati dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Hei pria malas, bangun!"
Tiffany berdiri didekat tempat tidurnya setelah merapikannya sambil berkacak pinggang.
Ku mohon untuk membiarkan ku tidur lima menit lagi. Lima menit saja kumohon bu.
Gerard membelakangi sinar matahari yang masuk sambil pura-pura tak mendengar Gerard.
Beraninya dia tak mendengarku.
Gumam Tiffany.
"Hei, Gerry!"
Dia memanggil namaku, hihihi manisnya.
Gerard tersenyum. Ia langsung mengubah posisinya lalu duduk di sofa tidurnya meregangkan badannya seolah-olah ia benaran masih tidur daritadi.
"Aku kebawah duluan"
"Baiklah Bu" dengan senyumnya yang hangat.
Tiffany pun meninggalkannya seorang diri di kamar. Saat ia lihat jendela, ia sangat terpukau dengan rumah Tiffany. Ada sebuah tempat yang dimana ada kolam renangnya.
Memang orang kaya beda dengan rakyat jelata sepertiku.
Ia sangat ingin mencoba kolam renang itu, namun begitu malu untuk izin terlebih dahulu pada atasannya. Ia memutuskan untuk berbalik badan, dan masuk kedalam kamar mandi. Ia menggosok gigi, mencuci muka dan lain-lain. Setelah itu ia menyusul keluar menuruni tangga.
Disaat yang sama, Rita pun keluar dari kamarnya sendiri. Ia melihat Gerard yang juga ingin turun kebawah.
"Gerard!"
Gerard pun membalikkan badan dan menyahut pada Ibu Tiri atasannya itu.
"Ah, iya Bu"
"Aku sudah bilang apa kemarin, panggil aku Rita"
"Saya segan Bu hehe"
Rita memeluk tangan sebelah kiri Gerard.
"Haha, tidak perlu begitu. Ayo sarapan"
Ajak Rita.
Dibawah, Tiffany sedang duduk di meja ART memperhatikan bibinya memasak. Di dapur Tiffany, terdapat meja makan khusus untuk para ART. Tiffany suka kesitu untuk mengobrol dengan para ART nya.
"Bi, masak apa?"
"Ini semur kesukaan nona untuk makan malam nanti. Sarapan nona sudah saya siapkan di meja makan nona"
"Hehe, baiklah bi. Oh ya Rida, apa ada keperluan dapur yang kurang?"
"Ada non, tapi tidak banyak" jawab Rida.
"Baiklah, nanti minta saja uang belanja pada bibi. Bi, nanti minta saja uang belanja padaku ya"
"Baik non"
"Aku sarapan dulu. Kalian jangan lupa sarapan. Widi! Ingat! Makan nanti maagh kamu kambuh!"
"Ayo Widi!" kata Rida sambil tertawa melihat temannya ditegur.
"Eh, i-iya nona. Saya tak akan lupa" jawab Widi dengan menyengir.
"Baguslah kalau begitu"
Tiffany pun meninggalkan dapur itu.
Saat ke ruang makan, ia melihat di depannya Gerard dan Ibu tirinya sudah mendahuluinya di ruang makan. Rita sibuk menggoda Gerard sambil menggoda Gerard. Gerard diam saja menatap piringnya yang masih kosong daritadi.
"Ayo makan sayang" kata Rita menyiapkan makanan dipiring Gerard.
"Haha, tidak Bu. Saya menunggu Fany saja"
"Ah, dia pasti sedang mengobrol dengan ART. Dia akan lama Gerry"
CUP
"Pagi sayang"
Gerard sedikit terkejut. Wajahnya memerah. Ia lalu senyum ke Fany lalu menunduk. Tiffany senyum lalu duduk ditempatnya dan melihat sinis ke arah Rita. Rita menatap Tiffany tanda tak senang.
Keadaan menjadi hening seketika.
"Sayang, nanti temani aku kebelakang ya. Aku ingin berjemur di dekat kolam renang. Kamu juga harus olahraga biar ototmu terjaga, ok."
Gerard sangat senang mendengarnya.
"Bolehkah? ah, tidak maksudku baiklah"
"Kau terlalu bersemangat, selesaikan dulu sarapanmu" sambil mengelus kepala Gerard dan tersenyum padanya.
"Iya Fany"
"Hei Gerard, panggil istrimu dengan romantisme dong. Kamu kaku sekali" kata Rita mentertawai mereka. Rita heran kenapa Gerard seperti tak berani lebih ganas pada Tiffany. Ia tersenyum miring karena yang dipikirkan dia itu kemungkinan benar.
Tiffany memutar kedua bola matanya.
"Dia tak genit sepertimu"
Rita lalu diam. Keadaan menjadi hening lagi. Gerard yang tak mengerti apa-apa juga hanya bisa diam.
Mereka berdua ini kenapa sih... padahal ibu dan anak.
Gumam Gerard dalam hati namun tetap melahap roti yang ada didepannya.
Selesai makan, Tiffany benar-benar pergi mengajaknya ke halaman belakang dan meninggalkan Rita dengan acuh. Gerard menjadi bayangan Tiffany setelah selesai sarapan. Ia terus mengikuti Tiffany kemanapun Tiffany berada. Kecuali kamar mandi.
"Jika kau mau berenang, berenang lah. Aku disini saja"
Huft, padahal tadi dia sangat manis setelah mencium pipiku. Kenapa sekarang terlihat ganas lagi.
Tiffany meninggalkan Gerard yang masih berdiri di depan kolam. Ia berbaring di kursi santai untuk berjemur.
Gerard sebenarnya agak ragu apakah ia benar-benar diperbolehkan berenang. Namun ia sangat ingin berenang. Selama ini yang membuat otot-ototnya terbentuk hanyalah work out dan olahraga berupa main futsal bersama pacarnya Rika.
Ah, tadi katanya boleh berarti aku boleh berenang.
Ia melepaskan pakaian tidurnya dan hanya mengenakan boxer. Lalu ia melompat kedalamnya. Cuaca sangat panas pada pagi itu. Widi datang dengan membawakan minuman segar untuk pasangan pengantin baru dirumah itu. Secara tak sengaja, Widi menatap Gerard. Gerard pun menatapnya dan tersenyum lalu kembali berenang.
Astaga, astaga, astaga! Senyum tuan sangat manis. Aku bisa gila melihat pria seksi sedang berenang. Sebaiknya aku pergi.
"No-nona. Ini minumannya. Saya ke dapur dulu"
"Ah iya, terimakasih Widi"
"Sama-sama nona"
Tiffany lanjut membaca majalahnya. Tak berapa lama kemudian, Gerard agak lelah karena sudah berapa putaran ia kelilingi sambil berenang. Dia pun naik dari kolam. Tiffany melihatnya refleks.
Gila, lihat roti sobek itu. Huft, suasana nya jadi semakin panas kalau melihatnya begitu.
Tiffany merasakan badannya panas dingin melihat tubuh setengah telanjang milik Gerard.
Gerard mendekat ke arah Tiffany untuk minum. Tiffany langsung memalingkan wajahnya. Ia senyum merona sambil melihat majalahnya, seolah olah tak ada yang terjadi. Padahal yang ia bayangkan sekarang adalah wajah Gerard saat tadi pagi ia cium pipinya.
Hahaha, aku harus sering-sering melakukannya wajahnya sangat tampan saat tertegun kaget. Lagian apa yang salah dengan itu? Kami sudah menikah. Aku membayarnya untuk ini.
Lalu Tiffany cepat-cepat menghilangkan pikirannya tadi.
Tidak, nanti kalau aku begitu terus dia juga ikutan begitu. Ah tidak tidak! Fokus saja pada rencana mu bodoh. Selangkah lebih dekat peresmian jabatan ku hahaha. Habis kau Rita.
Saat Tiffany melihat kesamping, Ia melihat Gerard berdiri sambil minum minuman yang disiapkan Widi tadi. Minumannya menetes-netes menandakan ia sangat kehausan.
Setelah minum, Tiffany tertangkap oleh Gerard karena sedang memperhatikannya.
"Kenapa Fany?"
"Ti-tidak"
Tiffany memalingkan wajahnya.
Haduh, lihat jakunnya itu saat minum, bahunya dan dadanya itu! Seperti iklan-iklan di TV saja! Kenapa aku ini memiliki selera yang aneh sih huft menyebalkan!
---
.