
Gerard sedang latihan mengendarai mobil bersama pak Mukhlis. Ia menggunakan mobil Tiffany seperti yang Tiffany izinkan tadi malam. Ia sudah agak mahir mengendarainya karena sudah khursus mengendarai mobil 3 hari yang lalu.
Sedangkan Tiffany, ia sedang berolahraga di ruang gym miliknya. Ia rajin berolahraga sore untuk tetap menjaga bentuk tubuhnya. Maka dari itu badannya sangat seksi. Bahkan ia pernah berpikir untuk tidak memiliki anak agar tubuhnya tetap terjaga.
"Bagus tuan, anda sudah bisa mengendarai mobil"
"Hahaha, iya pak saya bisa"
"Maaf tuan, sudah jam 5. Apa sebaiknya kita pulang sekarang?"
"Yah, padahal saya ingin coba sedikit lagi"
"Haha, baiklah tuan"
Mereka pun melanjutkan latihan Gerard.
"Nona, apa anda ingin makan malam hari ini?"
kata Rida, ART Tiffany. Tiffany pun berhenti sejenak dari kegiatannya.
"Ah, tidak dulu. Tapi siapkan untuk makan malam kalian sendiri ya"
"Baik nona. Tuan muda ada keinginan untuk hidangan nanti malam nona?"
"Kurasa tidak Rida. Dia suka makan apapun itu"
"Baiklah nona" Rida keluar dari ruangan lalu menutup pintu. Tiffany menghentikan kegiatannya. Ia ingin istirahat dulu. Sudah cukup untuk olahraga nya hari ini.
Saat ia keluar dari ruangan gym, ia menemukan Gerard yang baru pulang dari latihan mobilnya. Ia terlihat senang atas apa yang barusan dilakukannya. Gerard menyadari adanya Tiffany disitu.
"Fany"
"Kenapa?"
"Kunci mobilnya sama Pak Mukhlis ya"
"Iya, memang seharusnya sama dia"
"Oh begitu ya. Kupikir harusnya sama kamu"
Tiba-tiba Rita berjalan dari arah pintu rumah. Rita melihat ke arah Tiffany dan Gerard. Tiffany menyadarinya dan langsung mencari cara agar mereka terlihat romantis.
"Tidak sayang, ayo mandi" kata Tiffany sambil mengelus rambut Gerard. Wajah Gerard merona seketika. Ia langsung tersenyum malu menatap Tiffany.
Mereka pun naik ke atas menuju kamar mereka.
Saat masuk, pintu dikunci rapat-rapat oleh Tiffany. Gerard yang tak tau apa-apa hanya diam berdiri di tempat.
"Hey, bisakah kau menghindari wanita tua bernama Rita itu?" bisik Tiffany dengan nada suara yang agak meninggi.
"Rita? Oh ibumu"
"Dia bukan ibuku!"
Gerard jadi bingung kenapa Tiffany mengatakan demikian.
"Dia wanita yang ayah nikahi selain ibuku! Seorang ******!"
"Ba-baiklah"
"Dan tunjukan sedikit romantisme mu ketika didepannya! Kalau terlihat sedikit saja bahwa kau kaku, kita akan habis!"
Gerard diam sejenak. Lalu ia bertanya pada Tiffany.
"Ehm, Fany"
Tiffany yang selesai tadi kesal, sekarang duduk ditepi ranjangnya.
"Apa?"
"Boleh aku bertanya?"
"Apa itu"
"Sebenarnya tujuan kita melakukan pernikahan kontrak apa?"
Tiffany menghela napas, memejamkan mata lalu membuka kembali matanya. Ia barusan berpikir bagaimana cara menjelaskan dengan singkat dan jelas pada pria didepannya.
"Jadi begini, ayahku mewasiatkan bahwa perusahaanya akan diwarisi padaku setelah aku menikah. Jadi dari kemarin itu aku bukan atasan disitu. Hanya pengontrol cara kerja kalian saja"
"Lalu?"
"Ya maka dari itu aku menikah denganmu! Agar aku yang memegang perusahaan. Bukan wanita tua bodoh itu!"
Gerard berekspresi menunjukan bahwa ia sangat paham dengan maksud Tiffany.
"Baiklah, aku mengerti"
TOK TOK TOK
Suara bibi dari luar.
"Ya sudah, aku ingin mandi dulu. Kalau kau ingin makan, makan saja dulu" kata Tiffany berdiri sambil meninggalkan Gerard.
Oh begitu cerita sebenarnya. Haha, kupikir ia memilihku karena ibunya menjodohkannya. Ah, orang kaya memang beda masalahnya.
Gerard keluar dari kamar. Keadaan diluar kamar agak hening.
"Eh kaget!"
"Maaf tuan, saya masih disini karena belum ada jawaban. Saya kira tuan dan nona mau makan malam di balkon saja" kata Bibi yang berdiri didekat pintu.
"Ah, saya yang minta maaf bi. Tidak, Fany lagi mandi sekarang. Jadi saya makan malam sekarang saja ya bi"
KRUUK
"Hehe maaf Bi, saya benar-benar lapar" kata Gerard sambil cengengesan karena malu bunyi perutnya didengar orang.
"Tak apa tuan. Mari silahkan" jawab bibi sambil tersenyum.
Tuan muda baru dirumah itu pun menuruni tangga berjalan agak cepat menuju ruang makan.
Sedangkan bibi memanggil satu-persatu sang pemilik rumah keluar dari kamarnya masing-masing.
"Nyonya, makanannya sudah dihidangkan"
sambil mengetuk pintu.
Rita segera keluar dari kamarnya.
"Kenapa sih harus kesini segala. Terserah saya mau makan kapan"
"Ma-maaf nyonya"
"Huh, ya sudah sana. Oh ya, apa suami Tiffany sudah makan?"
"Sudah nyonya, tuan muda lagi dibawah sekarang"
"Haha, bagus. Terimakasih Bi"
Rita tertawa senang karena mangsa yang ia tunggu sudah di meja makan duluan.
Rita dan Gerard pun makan malam berdua di sore menjelang petang tanpa sepengetahuan Tiffany.
---
Malam sudah tiba. Tiffany menonton TV yang ada dikamarnya.
TOK TOK TOK
"Masuk"
Kata Tiffany dari dalam. Ia lalu mematikan TV dan mengambil ponselnya.
Gerard masuk ke dalam kamar.
"Ternyata kau"
Apa aku harus mengatakan bahwa aku makan malam dengan ibu tirinya di ruang makan tadi? Ah, pasti dia tak peduli.
Gerard memilih hanya tersenyum untuk membalas pernyataan Tiffany tadi.
"Apa kau makan dengan Rita?"
Ah, dia sudah tau juga ternyata
Gerard jalan menuju sofanya untuk diubah menjadi tempat tidur lalu duduk ditepinya.
"Iya, aku makan dengannya. Kamu kenapa tak turun kebawah?"
"Ya tak apa, agar kalian bisa lebih menikmati waktu berdua"
Tiffany meletak ponselnya lalu menyibakkan selimut untuk menutupi dirinya. Ia juga mematikan lampu untuk tidur padahal masih jam 7 malam.
Kenapa aku begini sih! Ah salah dia! Aku sudah bilang kalau Rita bukan ibuku. Pasti dia sengaja makan berdua agar tetap digoda wanita ****** itu. Aku juga kan padahal tak turun dari sini! huft menyebalkan.
Gumam Tiffany dalam dirinya sebal terhadap Gerard.
Gerard menjadi bingung. Dia merasa bersalah karena ia memilih rasa laparnya ketimbang atasannya yang akan menggajinya 3 kali lipat dari gaji sebelumnya perbulan.
"Maaf Fany" kata Gerard pelan. Ia lalu berbaring meratapi kesalahannya.
Sedangkan Tiffany sedikit tersenyum setelah mendengar permintaan maaf itu didalam selimutnya.
---