
Ponsel Tiffany berbunyi. Ia sedang berdandan di depan kaca sedangkan Gerard sedang mandi. Mereka bersiap berangkat ke kantor.
"Iya ada apa?" jawab Tiffany melalui ponsel itu.
"Bu, apa mau saya jemput?" tanya Rika.
"Tidak Rik, saya berangkat dengan Gerard saja"
Uuu, romantisnya dua orang yang baru menikah ini. Aku kapan ya dilamar. Bikin iri saja huft.
"Baiklah Bu. Bu, banyak media yang menghubungi saya untuk meliput ibu. Apa saya setujui?"
"Ah iya, saya hampir lupa tentang itu. Iya setujui saja. Dan tolong mereka jangan memenuhi pintu gedung ya. Saya tak mau mereka meliput malah terlihat seperti orang berdemo"
"Baik Bu, apa boleh pakai ruangan kosong dilantai 2 Bu?"
"Iya silahkan. Lakukan saja apa yang terbaik"
"Baik Bu, terimakasih"
"Iya Rika"
Telepon pun ditutup.
Gerard yang baru selesai mandi langsung terbirit-birit ke ruang ganti karena takut atasannya teriak lagi melihatnya baru selesai mandi.
Haduh, aku pakai apa hari ini. Tak mungkin baju OB ku. Konyol sekali. Dia juga pasti malu melihat suaminya saat diwawancarai sedang memakai baju seperti ini. Huft.
TOK TOK TOK
Gerard membuka sedikit pintu ruangan itu.
"Ada apa Bu?"
"Kau pakai kemeja dan jas yang disitu hari ini. Pakailah yang berwarna gelap"
"Baik Bu"
"Hei, kemarin kau memanggil namaku saja, sekarang malah kembali seperti itu!"
"Eh iya, maaf Fany"
Gerard kembali menutup pintu. Ia melihat isi lemari disitu.
Ah gila, semuanya bahkan tampak seperti warna hitam. Yang terang hanya abu dan putih. Kupakai ini saja kalau begitu.
Gerard mengambil jas warna dongker gelap, celana yang serasi dengan warna jasnya dan kemeja warna biru muda. Semua sudah disediakan disitu.
Saat keluar, ia melihat Tiffany yang memakai atasan warna dongker agak terang dengan rimpel di leher dan bagian tangan. Roknya berwarna hitam selutut dengan stocking hitam pula. Ia membiarkan rambutnya terurai tanpa terikat, hanya saja ditata agar kesamping. Tiffany sedang berdiri menyiapkan tasnya di samping ranjang.
Waah, aura nya sungguh berbeda dari saat ia memakai baju tidur. Aku jadi lupa ini aura sebenarnya. Aura galak.
Gerard berdiri disitu diam hanya menatap Tiffany dari belakang.
Tiffany menyadari keberadaannya.
"Sedang apa kau disitu?"
"Tidak, aku tak tau harus apa sekarang"
"Kenapa diam saja, tanya dong" kata Tiffany sambil merapikan ranjangnya.
"Maaf" kata Gerard sambil menunduk. Tiffany membalikkan badan ke arah Gerard.
"Ya sudah sana! Ambil kunci mobil dari pak Mukhlis. Kau nanti yang bawa mobilnya" kesal Tiffany sambil mendorong Gerard keluar dari kamar.
Gerard menahan badannya dan membalikkan badan ke arah Tiffany. Wajah Tiffany tertabrak dada Gerard tidak sengaja.
"Aduh" Tiffany sambil memegang hidungnya.
"Maaf Bu" kata Gerard panik.
"Maaf,maaf! Ibu lagi! Sudah sana cepat!"
"Tapi Bu saya belum yakin bisa bawa mobil"
"Sudah nanti saja kau yakinkan dirimu sendiri dalam hati. Sana!"
"Ba-baik bu"
Gerard keluar dari kamar itu.
Jantung Tiffany berdegup kencang setelah melihat Gerard yang bernampilan sangat rapi.
"Hah, bisa gila aku seperti ini! Tidak, tidak. Jangan gila dulu Tiffany! Masih ada perusahaan yang menunggumu menjadi pemilik sahnya! Jangan salah tingkah terus Tiffany bodoh!" katanya memejamkan mata sambil menampar-nampar pipinya.
Gerard mencari pak Mukhlis dibawah. Ia segera ke garasi setelah mendapatkan kunci dari pak Mukhlis. Disana ada tiga buah mobil, warna merah, hitam dan putih. Modelnya pun berbeda-beda. Dia menggunakan mobil yang kemarin dipakainya untuk latihan mengendarai.
Gerard Antonio, yakinkan dirimu. Kau pasti bisa.
Ia mengendarai mobil tersebut dengan pelan-pelan dan hati-hati sampai ke depan halaman depan rumah tepat di depan teras rumah Tiffany. Lalu, ia turun dari mobil tersebut masuk ke dalam rumah ingin menemui Tiffany.
Saat ia melewati ruang makan, ternyata Tiffany sudah disitu. Lalu ia mendatangi Tiffany.
"Fany, sudah"
"Ya sudah, sarapan dulu nih. Bibi buat"
"Haha, tidak tuan. Nona sendiri tadi yang membuatnya. Katanya ia ingin belajar
Saya kembali ke dapur dulu ya tuan, nona"
Muka Tiffany lalu memerah. Gerard tersenyum pada Tiffany.
"Baik bi, terimakasih sayang" kata Tiffany.
Wajah Tiffany jadi merah padam.
Ah dia, mentang-mentang dibilang tunjukan romantismenya malah benar-benaran. Uh, aku malu sekali seperti ini, gila aku begini jadinya.
"Iya sayang" jawab Tiffany dengan senyum singkat pada Gerard lalu menunduk.
Pasangan ini manis sekali aaaaaaaa.
Gumam Widi dalam hati. Ia sedang mengintip dari dalam dapur.
Setelah makan, mereka pun segera berangkat ke kantor.
---
Gerard dan Tiffany datang dengan sangat menawan. Mereka menitipkan kunci mobil pada sekuriti gedung tersebut agar dipindahkan ke tempat parkir yang seharusnya. Para akuntan berdiri di tempatnya seraya mengucapkan selamat datang pada atasan mereka.
Rika juga berdiri di dekat akuntan itu. Setelah Tiffany berjalan, Rika mengejar dari belakang. Mereka berdua berjalan tanpa henti walaupun sedang berbicara pada satu sama lain kecuali Gerard. Gerard hanya mengikuti disamping seperti pengawal Tiffany.
"Bu, mereka sudah menunggu diatas"
"Baiklah"
Saat sudah diruangan, Tiffany dan Gerard dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Belum sempat duduk saja mereka sudah dipotret oleh para wartawan. Suasana disitu sangatlah ramai karena para wartawan
Rika mengambil mic untuk berbicara.
"Harap tenang semua. Hadirin sekalian bisa bertanya satu pertanyaan masing-masing jika sudah diperbolehkan bicara. Sebelum diminta, diharapkan semua tetap tenang. Baiklah, tanpa basa-basi, siapa yang ingin bertanya duluan"
Mereka semua serentak langsung mengangkat tangannya.
"Baik, silahkan anda" Rika menunjuk dengan sopan kepada wartawan yang ingin bertanya.
"Pagi Bu Tiffany. Saya ingin tau, apakah benar berita yang beredar bahwa Pak Gerard sebelumnya adalah seorang OB dari perusahaan ini sendiri? Terimakasih"
"Baiklah Bu, silahkan dijawab"
"Hahaha, kenapa latar belakang seseorang sungguh menarik bagi kalian. Baiklah, iya dulu dia seorang OB disini" jawab Tiffany dengan senyuman.
Para wartawan berbisik-bisik dengan apa yang didengar mereka barusan.
Kenapa dia berani mengatakan itu. Apa dia tak malu dengan itu? Atau karena memang itu yang sebenarnya? Huft, dia tak dapat ditebak.
Gumam dalam hati Gerard.
"Baiklah, apa ada pertanyaan lagi?"
"Saya" seorang wartawan menunjuk dirinya dengan angkat tangan.
"Baik anda"
Wartawan itu berdiri memegang mic nya.
"Untuk Pak Gerard, apakah anda sendiri dipaksa oleh Bu Tiffany untuk menikahinya? Apa ada motif tersembunyi dari pernikahan kalian?"
Gerard menyengir pada wartawan itu sedangkan ia tak tahu harus jawab apa.
Ah sudahlah lakukan saja.
Gerard memegang tangan Tiffany yang ada di atas meja. Ia tersenyum ke arah Tiffany. Sedangkan Tiffany agak kaget dengan apa yang dilakukan Gerard. Karena mengerti dengan keadaan, ia pun membalas senyuman Gerard itu dan memegang erat tangan Gerard.
"Tidak, aku menikahinya dan dia menikahi ku karena memang kami saling mencintai. Tak ada motif apapun. Lagipula, aku tak tau motif apa yang kalian maksud" kata Gerard bohong pada semua orang.
Wow, dia berbakat dalam berbicara. Tapi kenapa denganku kau terlihat lugu hei pria tampan.
"Baiklah.. Apa ada lagi yang mau bertanya?"
Wawancara tersebut berlangsung agak lama sampai Tiffany sendiri yang memberi isyarat pada Rika untuk mengakhiri semuanya.