
Pesta sudah selesai sampai jam 12. Setelah para tamu pulang, Tiffany langsung ke kamar meninggalkan Gerard. Ia membuka semua pakaiannya dibantu oleh penata rias yang ia sewa seharian. Setelah melepasnya, ia membayar penata rias itu dua kali lipat dari harga yang disebutkan.
"Tapi ini sangat banyak nona"
"Tak apa, simpan sebagai hasil kerja kerasmu. Terimakasih ya"
"Saya yang berterimakasih nona!"
Penata rias itu pun pulang dan meninggalkan rumah besar itu.
"Aku lelah sekali ya ampun! Aku harus mandi! Aku ingin tidur! Hah!"
Beda dengan si pemilik rumah, si pengantin pria masih sibuk membantu ART yang membersihkan lantai bawah bekas pesta tadi. Alasan Tiffany tidak ingin menyewa gedung sangat simpel. Dia ingin pernikahannya dilihat oleh orang tuanya walaupun orang tuanya sudah tidak ada dan walaupun hanya nikah kontrak. Dia ingin orang tuanya melihat senyum bahagia setiap orang saat pernikahannya.
Gerard masih sibuk membantu ART disitu. Bajunya sudah ia lepas daritadi dan diletaknya di meja dapur. Sekarang ia hanya memakai kaos putih untuk dalamannya tadi dan masih memakai celana pernikahannya.
"Tuan, istirahatlah. Kami yang akan membereskan ini. Tuan sudah banyak membantu" kata Pak Mukhlis
"Tidak, ini masih banyak. Kalian lebih lelah daripadaku"
"Tapi tuan.."
"Tak masalah kok" ucap Gerard dengan senyum.
Tuan baru kita baik sekali. Persis seperti Tuan besar dulu.. Berbahagialah Tuan Muda.
Tiffany sudah selesai membersihkan dirinya. Ia turun ke bawah untuk melihat keadaan. Baru saja keluar dari kamar, ia langsung melihat ke arah Gerard.
Rajin sekali dia. Aku terus memuja tubuh kekarnya dari kemarin. Lihat lengannya ya ampun.
Ia bergumam sembari menuruni tangga. Lalu ia lihat ibu tirinya menyampari Gerard.
"Sayang, apa kau tak lelah?"
"Haha, tidak Bu" jawab Gerard dengan ramah.
"Jangan panggil aku ibu sayang, panggil aku Rita" sambil memegang bahu kekar Gerard.
Hah, wanita tua ****** itu lagi. Kapan sih dia berubah. Tak ada pria lain, suamiku malah yang diganggunya.
Geram Tiffany melihat ibu tirinya berulah.
Tiffany segera turun dengan cepat. Ia lalu menarik lengan Gerard yang masih memegang plastik berisi sampah.
"Sayang, ayo istirahat"
Gerard terkejut sekaligus gemas dengan apa yang dipakai Tiffany. Baju tidur lengan pendek, celana panjang dan sandal kamar serba pink.
"Ta-Tapi aku masih ingin membantu mereka Fany"
"Tak apa tuan, kerjaan kami sudah selesai kok. Tinggal membuangnya ke tempat sampah. Terimakasih Tuan" kata salah satu ART lainnya.
"Ehm, i-iya baiklah" lengan Gerard langsung digandeng oleh Tiffany.
"Lepaskan itu" bisik Tiffany padanya menepuk tangan Gerard yang masih memegang plastik sampah.
Rita melihat dengan sinis ke arah Tiffany. Tiffany acuh dan tetap mengajak Gerard ke atas.
"Ingat ya, aku tak sengaja memanggilmu sayang tadi" kata Tiffany malu mengalihkan wajahnya dari Gerard.
"Hahaha, baiklah" jawab Gerard sambil senyum.
Saat mereka sampai di kamar, Tiffany langsung berbaring pada tempat tidurnya. Gerard masih berdiri di kamar itu sambil mengedarkan pandangannya. Kamar tidur dengan kasur yang sangat besar dan warna dindingnya yang serba abu putih.
"Fany, aku ingin membersihkan diri"
"Kamar mandi nya disitu, ruang ganti pakaian disebelahnya" kata Tiffany yang sedang berbaring mengotak atik ponselnya.
"Oh iya, ambil handuk yang dikamar mandi. Warna handukku putih. Kau punya abu-abu" Lanjutnya.
Ia sepertinya suka sekali warna-warna seperti ini.
Gerard pun masuk ke kamar mandi. Ia kagum karena melihat kamar mandinya bahkan 2 kali lipat besarnya dari kamarnya dirumah pamannya. Lalu ia melihat jacuzzi dan beberapa sabun yang telah tersedia dalam botol yang berwarna putih. Ia tak paham cara menyetel keran airnya, ia memilih mandi dengan keran toilet duduk karena ia tau cara menggunakannya. Memang airnya dingin, tapi mau bagaimana lagi.
Ah ya sudahlah, apa boleh buat. Lagian ini juga terlihat canggih hahaha. Dasar aku yang kampungan.
Setelah mandi, ia keluar hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah saja. Dilihatnya Tiffany sedang sibuk mengotak atik ponsel.
"Fany"
"Hm"
"Pakaianku di kamar tamu semua"
"Apa?"
Tiffany lalu menolehkan pandangan pada Gerard.
Gerard pun ikut terkejut karena mendengar Tiffany berteriak kencang.
"Kenapa kau tak memakai baju!" lanjut Tiffany.
"Aku tak mempunyai pakaian disini Fany"
"Kenapa tak bilang!"
"Barusan kan aku bilang ke kamu"
"Kenapa tak daritadi!"
"Kamu kan yang menarikku langsung ke kamar"
Tiffany langsung bangkit dan mendorong Gerard keruang ganti.
"Kau berdiam dulu disana, akan kupanggil Bibi"
"Ta-Tapi"
Ia terus mendorong Gerard masuk ke ruangan sampai tertutup pintu itu. Tiffany pun langsung keluar mengambil sendiri barang-barang suaminya itu.
Ibu kenapa sih marah terus padaku. Walau ia tak mencintaiku, setidaknya jangan marah terus. Aku jadi takut melihatnya.
Gumam Gerard dalam hati.
"Buka pintunya!" kata Tiffany dari luar.
Gerard membuka pintunya lalu Tiffany mengulurkan plastik isi pakaian punya Gerard. Pintu ruangan itu lalu tertutup lagi.
Beberapa saat kemudian, Gerard keluar. Pria berambut coklat terang itu memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek jeans untuk tidur yang sudah agak lusuh. Tiffany memandangnya tak enak karena celananya.
"Kenapa memakai itu?"
"Ini yang kupunya Bu"
Tiffany bangkit lagi, lalu memberi celana tidur baru panjang berwarna hitam untuk Gerard.
"Pakai ini, beberapa pakaian sudah disediakan untukmu"
Gerard sangat senang.
"Terimakasih banyak Bu!"
"Berhenti panggil aku ibu! aku lebih tua darimu namun aku belum ibu-ibu!"
Gerard tertawa senang lalu kembali ke ruang ganti. Setelah memakainya, Gerard keluar lagi.
Pria ini memang tampan dari sananya. Sebenarnya tadi ia cocok hanya berpakaian simpel seperti itu. Namun ia lebih cocok bergaya anak zaman sekarang.
"Terimakasih Bu"
"Sekali lagi kau memanggilku ibu.."
"Eh iya, maaf Fany"
Fany meletakkan ponselnya. Ia mendudukkan dirinya di tempat tidurnya itu.
"Malam ini kau tidur disitu. Tarik saja tempat duduknya, bisa dijadikan tempat tidur"
Gerard segera mencobanya dan benar kata atasannya itu.
Wah keren!
Gerard langsung duduk ditepi tempat tidur barunya.
"Bagaimana khursus mobilmu kemarin?"
"Lumayan Fany, Aku masih agak ragu membedakan mana untuk jalan mana untuk berhenti"
"Kalau kau ingin mencoba lagi, besok kau bisa berlatih dengan mobilku"
"Baiklah Fany"
Fany lalu meletakkan ponselnya.
"Besok kita libur, lusa sudah pasti banyak media yang akan bertanya tentang kita. Jadi istirahatlah dengan benar"
"Iya Fany, terimakasih"
Tiffany lalu mematikan lampu kamarnya, dalam sekejap mereka berdua berlabuh di alamnya masing-masing.
---