
Bab ini ditulis oleh Castortwelvy
Harus dengan cara apalagi Mey menjelaskan pada tatapan dingin semua orang di sekolah jika dirinya tak bersalah? Kunci jawaban itu tak pernah dia ambil dari ruang guru dan tanpa tahu bagaimana itu bisa terjadi, bukti itu ada di dalam tasnya.
Merasa lelah, Mey nyaris menyerah membela diri. Guru-guru mulai menganggap jika Mey memang sudah seperti itu sejak dulu. Mencari perhatian dari guru seakan-akan menjadi murid paling cerdas dengan cara licik.
Jika saja bukan karena Nita yang selalu berada di sampingnya, dia sudah gila.
Mey berjalan tertunduk di koridor kelas satu audio video. Gosip tentang kunci jawaban itu menyebar secepat embusan angin di tengah lapangan. Bisik-bisik dari mulut mereka menyeruak masuk ke gendang telinganya tanpa permisi. Berada di antara orang yang membicarakannya, membuat Mey seperti sedang ada di penjara.
Dia menoleh pada dua anak gadis yang sedang membicarakannya. Tatapan Mey nanar. Entah bagaimana, bibirnya terasa seperti kebas mendadak, untuk melontarkan pembelaan atas dirinya saja terasa berat.
Lemas.
"Aku ...." Kalimatnya berhenti di ujung lidah, mengambang. Mey mengepalkan kedua tangannya. Sesak.
Beruntung, sebelum ocehan dan hinaan pada Mey terlontar lebih banyak, seorang gadis berambut sebahu merangkulnya dari belakang. Dia melempar senyum manisnya ke wajah Mey yang murung.
"Ayo ke kelas, aku belum ngerjain PR. Nyontek, ya? Hehe." Nita menunjukkan deret gigi putih bersihnya sembari membopong Meysa menjauh dari bisik-bisik menikam hati. Saat itu juga, Meysa merasa jika hatinya menghangat oleh aliran aneh yang menjalar dari luar tubuhnya.
Hari demi hari berlalu sangat lambat, menyisakan kesesakkan mendalam bagi Mey yang kian dibuat merasa bersalah. Mereka yang dahulu memuja dan menganggap Mey panutan, kini berbalik membencinya. Hanya Nita satu-satunya orang yang bersedia membuka tangan dan merangkulnya dalam keasingan.
Naila menjadi gadis yang dipuja-puja akan kecantikannya setelah membantu bu Patmi mencaritahu siapa pelakunya.
Otak Mey selama beberapa hari ini tak mampu berpikir apa pun. Tak ada Reza, tak ada Ardian atau bahkan ekskul yang selama ini dia tinggalkan.
Mey benar-benar tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri.
"Aku enggak mau sekolah," jawab Mey dalam telepon ketika Nita meneleponnya jam istirahat. Gadis itu khawatir karena sahabatnya tak masuk sekolah terus.
"Ish, Meeey, jangan gitu dong. Ayo semangat!" Nita menggerutu kesal. Bahkan dari jarak sejauh ini, Meysa bisa tahu jika Nita tengah mengunyah keripik pedas yang selalu dibawanya dalam tas.
"Gak, ah. Aku enggak mau sekolah. Aku tutup, ya teleponnya." Mey menjauhkan ponsel pipihnya dari telinga, menatap nama U-Nita di layar. Namun sebelum sambungan benar-benar terputus, gadis di balik telepon berteriak kencang.
"Gak mau. Aku enggak suka, ya kalau kamu murung kayak gini, Mey. Ah, gak kasian apa sama aku yang terus diliatin sama si nenek lampir itu?" Nita berdecak sebal.
"Nita, please, aku cuma butuh waktu buat sendiri dulu."
"Tapi sampai kapan? Sampai kapan, Mey?"
"Sampai aku ngerasa lebih baik."
"Terus kamu pikir dengan enggak masuk sekolah dan menjauh kayak gini, semua akan jadi lebih baik?" tanya Nita sebal. Bukan asal bicara, tapi memang seperti itu kenyataanya.
Mey menelan ludah, menelan fakta itu bulat-bulat, merasa jika kerongkongannya tersumbat bebatuan. Ada rasa aneh menjalar di tubuhnya ketika merenungkan kata-kata Nita barusan.
Benar, mau sampai kapan?
Secepat pemikiran itu datang, secepat itu pula dia menggeleng untuk menolak.
"Tahu, ah, kamu mah bikin aku kepikiran aja! Udah, yaaa. Aku mau tidur." Meysa menutup telepon sepihak, tidak peduli pada Nita yang pasti sedang memakinya habis-habisan atau memelototi setiap anak yang lewat ke depannya.
Ponselnya dilempar asal, kemudian merentangkan kedua tangan sembari menjatuhkan tubuhnya di kasur busa super empuk. Tubuhnya memantul, bergoyang, dan memelan.
Di saat-saat seperti ini, Mey malah terpikirkan soal lelaki yang muncul di mimpinya. Reza. Sesaat dia terpejam setelah dadanya penuh oleh oksigen. Sambil merunut kembali kejadian yang sudah-sudah, napasnya habis terkikis.
Apa yang akan terjadi seandainya dia tetap masuk ke SMA tempat Hellen sekarang bersekolah? Akankah kejadian ini tetap ada? Atau Mey tidak akan pernah menjadi seperti ini? Pertanyaan itu sukses membuatnya menggeleng. Tak tahu apa jawabannya.
Apa yang harus Mey lakukan sekarang?
Otaknya berputar pada Reza, ekskul, mimpi dan semua masalah. Namun sampai beberapa menit berlalu dan suara ketukan di luar kamarnya terdengar, Mey masih belum menemukan jawabannya.
"Mey, kamu belum makan dari pagi. Mama bawain kamu nasi, makan dulu, ya?" tanya suara wanita di belakang pintu kamar Mey. Gadis itu tak menjawab, hanya menatap sendu pada kayu mahoni yang dicat putih polos di ujung pandangan.
Tiga ketukan terdengar tanpa jawaban. Tak lama, wanita itu menyerah dan bilang jika makanannya akan ditaruh di meja makan, jika Mey berubah pikiran tinggal langsung memakannya.
Bahkan sampai langkah wanita itu hilang di lorong kamar, Mey tidak menjawab sepatah kata pun.
**
Nyaris saja Mey menanyakan apa yang sedang dilakukan lelaki tampan dalam mimpinya, saat tiba-tiba ketukan di pintu kamar dan panggilan namanya menarik Mey keluar dari alam mimpi begitu saja.
Kedua matanya memelotot.
"Hufht ... mimpi lagi."
Sekaan pelan di pelipisnya melenyapkan keringat dingin, dibarengin embus napas lembut dan teratur. Mey menelan ludahnya, kemudian bangkit.
"Ada apa, Ma?" tanya Mey tanpa membuka pintu, berdiri beberapa langkah dari ambang pintu.
Wanita itu menyebutkan ada lelaki yang datang untuk menjenguk, dan saat itulah Mey terbelalak lalu membukakan pintu.
Rasa kantuk itu hilang secepat datangnya keterkejutan. Mey buru-buru menuruni anak tangga, berputar di antara railing sambil masih mencoba mengamati lelaki yang dimaksud.
"Hai, Mey." Lelaki itu mengangkat satu tangannya setinggi dada, menyapa dengan senyuman. Mey terkejut bukan main, sampai-sampai mulutnya menganga!
"Kak Ardian, ngapain Kakak di---"
Gadis itu sama sekali tidak sadar akan baju tidur bergambar panda yang menempel di tubuhnya. Fokusnya tertuju pada satu objek di depan matanya. Ardian.
"Katanya kamu udah beberapa hari enggak masuk sekolah, dan jangan lupa, kamu bolos ekskul sastra nyaris seminggu." Ardian menyeringai.
Bukan, bukan hanya tentang kedatangan Ardian saja yang membuatnya membatu, tapi juga soal bagaimana dia bisa ada di depan matanya sekarang!
"Eh, itu ...." Tangannya refleks menggaruk kepala tak gatal, sambil berusaha untuk tersenyum, walau terkesan hambar dan canggung.
Kecanggungan itu nyatanya menguar di udara. Ardian terdiam, tak lama kemudian mulai tertawa, seakan-akan baru saja menyaksikan komedian terkenal tampil di tv.
Mey mengernyit tak paham, melangkah ke salah satu sofa merah maroon bintik-bintik hitam, sebelum akhirnya duduk setelah menerima tawaran dua gelas air dari mamanya.
"Kenapa, Kak?" Mey akhirnya bertanya.
"Kamu ... haha ... haha. Kamu bangun tidur, ya?" Tawanya lolos begitu saja, menyelinap di antara rambut acak-acakan Mey.
Seketika saja tubuhnya terasa membeku sedingin es. Mey merengut, menjambak rambutnya sendiri sambil memelotot ketika sadar jika penampilannya berantakan.
Gawat!
"Aah!" Mey buru-buru berdiri dan melarikan diri ke kamar.
Nyaris setengah jam Ardian menunggu Mey kembali ke ruang tamu menemuinya.
Ardian menaruh keranjang buah dan dua bungkus roti tawar yang dibawanya untuk oleh-oleh di atas meja. Mey menggerutu kesal karena menganggap jika Ardian sedang membawakan orang sakit makanan sehat.
"Maaf, Kak." Tangan kirinya bergerak secara otomatis, menggaruk pelipisnya sambil terkekeh-kekeh, merasa malu sendiri dengan tingkah sebelumnya. Ardian hanya tersenyum dan mengangguk.
"Makasih udah dateng, Kak dan ...." Mey merogoh saku celananya sebelum duduk, mengeluarkan sapu tangan merah yang dia gunakan sebagai masker saat membersihkan ruang ekskul hari itu.
"Oh, makasih kembali kalau gitu," jawab Ardian.
Akhirnya mereka pun duduk berhadapan. Kecanggungan merembes di langit-langit, menetes perlahan pada rambut masing-masing, membuat mereka saling diam cukup lama. Setelah obrolan tentang bagaimana Ardian bisa datang ke rumahnya, tak ada lagi yang harus mereka bicarakan.
"Ehm, jadi kenapa---" Ardian tak sempat merobek dinding kecanggungan itu karena terpotong jawaban Meysa.
"Aku tahu kalau Kakak udah denger soal kunci jawaban itu." Mey menyambar, menggigit bibir bawahnya sedikit lebih keras, sampai bibirnya memutih. Tangannya liar bertautan di atas paha.
"Ya, aku denger. Tapi kami enggak percaya soal itu." Ardia mengangguk.
"Kami?" tanya Mey mendongak.
"Aku, Ayana dan anak ekskul," jelasnya kemudian.
"Makasih. Tapi aku masih enggak ngerasa lebih baik dari sebelumnya."
"Kalau omongan udah gak mempan dan gak mungkin didenger, kenapa enggak coba dengan tindakan?" tanya Ardian. Mengutarakan hal itu tanpa basa-basi, seolah sudah berniat membicarakannya sejak lama.
"Aku enggak paham." Mey menggeleng, manik hitamnya lolos dari cengkraman mata Ardian, menatap ke arah tumpukan kue lapis yang habis setengah karena Ardian mencubitnya perlahan.
"Kamu bicarakan sama Bu Patmi dan bilang kalau kamu siap mengulang ujiannya, tanpa mencontek."
Kue lapis tinggal setengah itu seakan kehilangan karismanya untuk terus Mey pandangi, karena sosok yang ada di depannya telah berhasil membuat dirinya terbelalak. Mey menggeleng takjub. Sama sekali tak pernah terpikirkan soal itu.
"Tapi---"
"Lakukan atau enggak sama sekali, Mey. Apa yang lebih kamu pilih? Omongan orang-orang yang terus anggap kamu mencuri, atau kembali berperang?" Manik cokelatnya kini terkunci pada manik hitam Mey, berputar dalam ruang lingkup yang jelas, keseriusan.
Untuk beberapa saat Mey merasa jika oksigen di sekelilingnya habis terbakar api semangat di tubuh Ardian, membuatnya sesak napas. Namun saat senyum manis di bibir merah Ardian kembali muncul, Mey merasa jadi lebih baik lagi.
"Aku ... aku akan coba, Kak. Aku mau berjuang lagi."
"Nah, gitu dong. Sekarang, daripada kamu suntuk seharian di kamar, mending ikut aku, yuk?" tanya Ardian, membuat Mey kembali terbelalak.
"Aku ... aku izin dulu sama Mama."
**
"Aku enggak akan pasangin helm ini ke kamu, ya?" ucap Ardian, menyodorkan helm warna kuning yang di bagian atasnya ada dua kacamata bulat hitam. Mey tertawa keras.
Entah karena udaranya sedang panas atau hanya perasaan Ardian saja, dirinya merasa jika pipinya mendidih.
"Iyalah, lagian kita enggak pacaran. Hehe." Mey meraih helmnya dan memasangnya cepat.
Belum. Bukan enggak, batin Ardian.
Mereka memelesat menyisir kemacetan Bandung di bawah naungan kapas-kapas putih yang terus melayang ke arah barat. Meysa sesekali merentangkan kedua tangannya sambil memejam. Segar.
Rasa suntuk, sesak dan mumet di kepalanya seakan-akan terkikis perlahan oleh udara segar dan sejuknya pepohonan di samping jalanan. Dari arah pusat kota, motor scoopy kuning itu memasuki jalanan yang sedikit lengang. Mengambil rute ke arah Bandung bagian atas, Lembang.
Selama perjalanan, mata Mey dimanjakan dengan rumah-rumah khas Belanda di bibir jalan yang masih dilestarikan. Ketika dia bertanya akan ke mana, Ardian hanya menjawab mendatangi tempat penuh kesejukan.
Nyaris satu jam, akhirnya mereka sampai di Taman Hutan Raya. Mey takjub dengan hijaunya pepohonan menjulang tinggi ke angkasa. Sepanjang jalan masuk, bangunan dari batang pohon mengisi tanah-tanah yang dipijaki.
"Ih, indah banget. Rasanya kayak semua masalah ilang gitu aja." Mey berlari meninggalkan Ardian di belakang, merentangkan tangan sambil menatapi pucuk pohon di ketinggian.
Mereka diberi satu gelang bertuliskan Taman Hutan Raya dari bilah kayu vernis, kemudian Ardian bantu memasangkannya di tangan Mey.
Kebersamaan itu tak Ardian sia-siakan. Dia benar-benar memanjakannya.
Ardian mengajak Mey berkeliling di Goa Belanda, menjelaskan apa pun yang dia ketahui, menolak pemandu wisata hanya agar membuat Mey terkesan dengan pengetahuannya.
"Mey, coba deh kamu berdiri di sana," tunjuk Ardian pada bongkahan batu yang menyembul di tepi tebing tanah. Meysa mengangguk, mendekati batu itu sambil terus mengunyah kacang.
"Aku cantik enggak?" tanya Mey tersenyum, mengangkat satu tangannya di kepala, sementara tangan lainnya memegang bungkus kacang sambil bergaya seperti seekor monyet.
"Mey senyum," pinta Ardian saat gadis itu didekati lima ekor monyet yang turun dari tebing dengan hati-hati. Mey menjerit ketika salah satu monyet menyentuh tangannya.
Ardian tertawa lepas dan sukses mengabadikan momen itu dengan kameranya.
"Untung aku bawa kamera dulu tadi," kata Ardian, terkekeh-kekeh sementara Mey berlari ke arah saung, dikejar kawanan monyet yang berusaha mengambil sebungkus kacang di tangannya.
"Kak Ardian nyebeliiiin!" Mey melempar bungkus kacang ke Ardian dan tetap berlari menjauh. Kini, tinggal Ardian harus berhadapan dengan monyet-monyet lapar.
Mey merajuk, bahkan selama mereka berjalan ke museum pohon, Mey sama sekali tidak mengajak Ardian bicara.
"Iya, iya, maaf. Haha. Aku traktir makan deh abis ini."
Rasanya seperti baru terlahir kembali ketika Mey sama sekali tidak memikirkan tentang masalahnya. Pemikiran soal Bu Patmi dan pencurian kunci jawaban itu seakan-akan menguap begitu saja.
"Kak, makasih."
Namun Ardian sama sekali tidak mendengar apa yang Meysa ucapkan.
Matahari mulai turun di cakrawala, menyelinap di antara awan-awan. Akan tetapi senja belum juga muncul dan itu artinya masih cukup waktu untuk menunjungi gramedia.
Meysa senang bukan main. Kepalanya membumbung tinggi, terbang bersama kapas-kapas putih di angkasa. Tak ada tempat paling menyenangkan untuknya selain toko buku.
"Aaahh ... ChocoNextar keluarin buku baru lagi." Mey menyambar buku yang lagi-lagi bersampul biru itu dan dalam sekejap berpindah tangan.
"Mau?" Ardian mengacungkan buku itu tinggi-tinggi setelah sukses merebutnya dari Mey, mengabaikan kerutan di kening si gadis sambil tertawa merayu.
"Mau lah."
"Aku beliin sebagai permintaan maaf karena kamu harus dikejar monyet tadi." Ardian menurunkan buku itu, meraih tangan kanan Mey dengan tangan kirinya kemudian meletakkannya di sana. "Nih, aku beliin buat kamu."
"Makasih. Kakak orang kedua yang baik di kehidupanku yang buruk akhir-akhir ini."
"Gak jadi yang pertama nih? Yah ...." Sebisa mungkin Ardian berpura-pura sedih dengan menekuk wajahnya.
"Enggak, karena yang pertama selalu dan akan selalu Yuanita, sahabatku." Mey memeluk buku itu, seolah jika sahabatnya ada di sana dan harus rela mendapat dekapan erat dari Mey karena bahagia.
"Si cewek cerewet itu, ya? Lagi-lagi aku harus kalah sama dia." Ardian terkekeh-kekeh, sementara Mey tersenyum.
Setelah membayar, mereka memutuskan untuk keluar gramedia. Selama di koridor, Mey terpikirkan soal mimpinya tentang sosok lelaki bernama Reza itu.
"Kak, ada yang mau aku tanyain," kata Mey.
"Tanyalah."
"Menurut Kakak, kalau seseorang muncul di mimpi lebih dari dua kali, itu apa artinya?"
Langkah kaki mereka diiringi keheningan untuk beberapa saat. Setelah pertanyaan itu, Ardian tak langsung menjawab, matanya menatap pada plafon lorong gramedia di antara pilar-pilar putih besar.
"Ah, kamu lagi riset buat bahan lomba cerpen, ya?"
"Eh, maksudnya?" Mey mendadak menatap Ardian, sama sekali tidak terpikirkan soal itu.
"Aku enggak terlalu tahu, sih kalau soal mimpi. Tapi katanya, kalau orang itu muncul di mimpi lebih dari dua kali, bisa aja ada hal yang belum diselesaikan atau ada hutang yang belum dibayar."
Mey mengernyit. Mendadak kepalanya dipenuhi pertanyaan tentang pernyataan barusan. Hutang apa dia sama Reza?
"Jangan bilang kalau cerpen itu berdasarkan kisah kamu sendiri?"
"Eh?"
"Kamu bilang pas bersihin ruang ekskul, kamu terinspirasi sama penulis For Oreo dan ingin menuliskan kisahmu sendiri."
Mey merasa pipinya memerah, panas. Buru-buru dia memalingkan wajah, tidak mau Ardian menerawang matanya dan mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Ehm ...." Mey sama sekali tidak tahu harus berkata apa.
"Ehm, beruntung dong cowok itu datang ke mimpimu."
"Kenapa?" tanya Mey.
"Enggak. Enggak papa," jawab Ardian, menatap jalanan yang kini mulai mendung. "Aku cemburu," lanjutnya pelan, nyaris berbisik di antara ingar-bingar kendaraan. Meysa terdiam sambil memegangi kantung keresek berisi buku terbarunya.
"Aku kangen dia." Mey bergumam. Ardian menoleh.
To be continue