Someone In There

Someone In There
6. Kedua Kalinya.


Bab ini ditulis oleh Castortwelvy


Jika ditanya siapa orang dengan wawasan gosip paling luas? Maka jawabannya adalah Nita. Dia akan dengan senang hati merekam obrolan senior, bahkan rela tak berkata sepatah pun hanya untuk menyerap semua informasi yang didengarnya.


Tak heran, hanya dalam waktu kurang dari sebulan dia sudah tahu semua gosip-gosip seniornya. Nita akan menyampaikannya pada Mey dan secara tidak langsung jadi koran berjalan milik Adheeva Afsheen Meysa.


Pernah suatu waktu dia mendengar soal senior popular di Adipura yang katanya punya fansclub sendiri di sekolah itu. Nita jadi ikut gibahin si senior.


Dari sanalah Nita semakin sering mencari semua informasi tentang senior yang dimaksud oleh Meysa, termasuk cogans yang jadi ambisi utamanya.


Selain mengikuti ekstrakulikuler fotografi, Nita juga masuk ke penyiaran radio sekolah. Mey bilang, kemampuan bicaranya yang cepat menjadi modal utama bagi Nita berada di ekskul itu. Mungkin dari sana pula informasi mengalir deras ke telinganya.


Hari ini, dia sedang menggosok lensa kameranya di ruang ekskul. Kedua matanya sedikit menyipit dengan sorot mata lemah. Sambil mengusap lensa, bibirnya yang tipis terus komat-kamit. Kesal.


Jelas dia tak senang ketika ruang ekskulnya sudah sepi. Nita ingat hari ini ada kunjungan ke sekolah sebelah untuk sesi pemotretan. Namun Nita terlambat datang dan tak sempat mengabari ketua ekskulnya.


Beginilah sekarang, dia hanya merengut sebal sambil merutuki ketuanya yang tidak setia kawan. Meninggalkannya.


Nita duduk di sebelah meja panjang sewarna hitam, menaruh lapnya di dekat kaki, meletakkan DSLR di dekat kakinya saat mendengar langkah seseorang. Wajah murung dan mata sayu itu seketika hilang saat mendapati sahabatnya tersenyum di ambang pintu.


Mey berdiri dengan dua piring kertas di tangannya.


"Aaaaah, Meysa-kuuu." Nita bergegas berdiri, berlari dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi. Nita berhamburan memeluk Meysa karena senang.


"Huhu, Meey aku kesel bett sama si ketua Sialan." Nita masih memeluk Mey, dagunya tertanam mulus di pundak Mey sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.


"Idih, idih, kenapa kali ini anak. Hey," ucap Mey, mencoba melepaskan pelukan Nita yang super erat, hampir membuat Meysa sesak napas dan mundur dua langkah.


"Sebel. Aku enggak diajak pemotretan."


"Ini awas pisang cokelatnya tumpah, Nita!" Mey menahan piring kertas abu-abu di tangannya dengan jempol dan telunjuk.


"Hehe. Sini aku bantuin." Nita meraih satu piring, dan berjalan ke arah samping ruang ekskul. Di sana ada meja dan kursi yang persis seperti di kantin.


Mey menggeleng. Meski sedikit kesal karena ulah sahabatnya, dia tetap menguntit di belakang. Mey ikut duduk di bangku kayu warna hijau tua yang sudah dibersihkan oleh Nita, kemudian menaruh piring kertasnya di meja kayu.


"Hehe, tumben kamu ke sini, Mey." Nita melahap pisang cokelat pertamanya dalam satu kali suapan.


"Perasaanku enggak enak tadi pas di kantin, aku ngerasa ada malaikat ngebisikin sesuatu. Enggak tahu malaikat baik apa buruk. Haha. Tapi yang jelas aku pengin ke sini, eh tahunya kamu lagi badmood." Mey menusukkan garpu plastik warna merah bermata dua itu ke salah satu pisang cokelat, mengangkatnya setinggi dada dan menilik cairan kental bercucuran.


"Good feeling. Ikatan batin. Ah, makin sayang." Nita mengedipkan matanya beberapa kali.


"Oh, ya, Nit, aku juga mau bahas ini sama kamu." Mey menaruh lagi pisang cokelatnya ke piring, melipat kedua tangan di meja. "Cogans yang waktu itu aku ceritain ke kamu, gimana menurut kamu? Kayaknya dia susah banget ditemuin di sini. Ke mana, ya kira-kira dia kalau istirahat?" tambahnya.


Nita berusaha menghabiskan pisang cokelat di mulutnya cepat-cepat, menepuk dadanya beberapa kali karena merasa seperti ada tumpukkan batu yang mengganjal di kerongkongannya.


"Ahh ... aahh. ****** aku." Nita terbatuk setelah pisang itu masuk ke ususnya. "Namanya Reza. Arsenio Arreza."


"Buat aku, sih lumayan ganteng, kalau aja sifatnya enggak dingin dan songong. Menurut informasi yang aku dapet, dia itu anak nakal, sering bolos, enggak pernah masuk pelajaran apa pun. Ekskulnya juga banyak alfanya. Enggak tahu, deh gimana dia bisa bertahan sampe sejauh ini di Adipura."


"Seburuk itu, ya?"


Nita mengedikkan bahu pelan. "Mungkin itu juga yang bikin dia susah banget ditemuin, Mey. Anehnya, yaa meski dia nakal dan bukan murid yang patut dicontoh, tapi fans-nya banyak banget."


"Fans?" Mey mendorong piring kertasnya ke arah Nita ketika gadis itu tersenyum nakal, dan tangannya sudah bergerak ke bibir piring seperti seekor kucing yang keras kepala meminta jatah walau si pemilik mengatakan 'tidak'.


"Penggemar khusus, penguntit sejati, atau apalah itu namanya." Nita mengangguk, berbinar karena piring berisi pisang cokelat itu menjadi miliknya.


"Iya, sih aku juga pernah ngobrol sebentar sama dia. Sikapnya dingin, kasar juga. Tapi anehnya, dia bersikap manis dan bikin aku nyaman di mimpi." Mey menaruh telunjuk dan jempol kanannya di bawah dagu, matanya ke kiri atas sambil berpikir keras.


"Itu cuma mimpi kellezz, Mey. Enggak usah dibawa serius, ah."


"Aku tahu. Aneh dong kalau dia tiba-tiba datang gitu aja, dan enggak salah kalau aku pengin tahu apa alasannya."


"Bolehlah," jawab Nita enteng.


"Kalau dia dingin gitu, apa yang harus aku lakukan, Nit?"


"Kejar dong. Bawa obor. Hehe."


"Aku ...." Mey membayangkan pertemuannya dengan Reza hari itu di UKS. Benar-benar kacau.


Tubuhnya seolah membeku, dan otaknya sama sekali tidak berjalan ketika kedua matanya bertatapan langsung dengan si pemuda. Mey seperti dikurung dalam ruangan beku tanpa jalan keluar.


"Aku gerogi kalau ketemu dia." Kecemasan itu menjalar di seluruh tubuh Mey.


"Idih lebay." Nita mengibaskan tangannya ke depan. Mey hanya merengut sebal.


"Ih."


"Aku kan mau bantuin kamu. Serahin aja soal informasi dia sama aku, Mey." Nita menangkupkan kedua tangannya di punggung tangan Mey dan menggenggamnya erat sembari mengalirkan semangat di antara atmosfer yang berputar di samping mereka.


Mey mengangguk paham, kemudian berdiri.


Jam pulang sudah lewat beberapa menit yang lalu, dan sekolah mulai sepi. Dia pun berniat untuk ke ruang ekskulnya setelah ingat punya janji dengan Ardian.


Nita menghabiskan pisang cokelatnya dan mengantar Mey ke arah perpustakaan karena ruang sastra tak jauh beberapa petak dari sana. Nita pun masih ada hal yang harus dikerjakan.


"Yaudah, Nit, masalah tentang Reza aku serahin sama kamu."


"Dimengerti, Bosku." Nita memberi hormat tegap pada Meysa, seolah dia adalah bawahan dari Inspektur Meysa.


***


"Masih ada orang?" kata Mey sembari mengetuk daun pintu yang terbuka. Ruangan sastra kosong. Menyisakan kertas-kertas berserakan di lantai.


"Halo?"


Mey melangkah masuk, menginjak bagian lantai yang tak tertutupi kertas, barangkali ada orang yang bertanggungjawab atas kekacauan ini.


Gatal rasanya ketika melihat benda-benda di sekitarnya tak tersusun pada tempatnya. Naluri itu mendorong Mey untuk memunguti satu per satu kertas, dimulai dari bawah mejanya yang berhadapan dengan meja Ardian, sampai ke bawah papan tulis di samping pintu masuk.


Ketika Mey memunguti sisa kertas, tangannya bersentuhan langsung dengan tangan besar dan terlihat kuat dari arah pintu masuk yang kebetulan akan meraih kertas terakhir di hadapannya. Mey terkejut bukan main, kemudian terjerembab ke belakang, pantatnya menyentuh lantai dengan keras dan kertas yang sudah dipungut kembali berserakan.


"Aduh," lirihnya.


"Hati-hati, Mey." Suara bariton mengejutkannya kembali. Cepat-cepat Mey menengadah dan mendapati Ardian sedang tersenyum mengulurkan tangan. "Ayo aku bantu," tawarnya dengan tangan kanan terarah padanya.


"Makasih," jawab Mey, menerima uluran tangan, berdiri dan menepuki pantatnya.


Kini fokus Mey tertuju pada kertas yang kembali berserakan di lantai.


"Ayana buru-buru, dia ada panggilan kalau kakaknya sakit dan dibawa ke RS. Mau kumpulin tugas di mejaku enggak sempet dan ... yaa, gitu," jelasnya tanpa diminta, seakan-akan tahu betul apa yang ingin Mey tanyakan tentang kondisi ruang sastra yang berantakan.


"Oh." Mey mengangguk. "Aku datang buat---"


"Ya, makasih udah datang, tapi tugasnya udah aku selesaikan." Ardian menahan napasnya yang terasa menggebu ketika melewati Mey yang berdiri tak jauh darinya. Dia menelan ludah saat kakinya berhasil menjauh dari Meysa.


Tadi saat istirahat, Mey diminta datang ke ruang sastra untuk membantunya memasang sesuatu. Namun sayang, Mey malah datang ke ruang fotografi lebih dulu sebelum melaksanakan apa yang diminta ketuanya.


"Maaf."


"Gak papa. Ini ...." Ardian menyerahkan kertas brosur, semacam bentuk promosi atau apalah yang diterima dengan cepat oleh Mey. "Lomba menulis, pihak sekolah udah approve dan mereka bilang kalau ada anggota sastra ikutan, biaya pendaftarannya didiskon 50%."


Ruangan itu masih berantakan, sebelum meminta penjelasan lain tentang lomba, Mey menyarankan untuk membereskan semua yang tak pada tempatnya.


Mey mengambil sapu dan pengki plastik di belakang pintu, mulai menyapukan debu dari ujung ruangan belakang sampai ke pintu masuk, sementara Ardian menghapus papan tulis dan menata ulang kertas-kertas.


Ke sana kemari Mey menyapu, sambil sesekali membahas soal novel 'For Oreo' yang waktu itu dipinjamkan padanya. Namun ketika Mey akan menyapu gundukan pasir di bawah meja, dia batuk-batuk dan sapu di pegangannya terlepas.


Suara lembut Mey menarik perhatian Ardian, menghentikan kegiatannya.


"Pake masker," sarannya, tapi Mey hanya menggeleng karena tidak membawanya.


Ardia menggeleng, turun dari kursi kayu yang diinjaknya, kemudian merogoh saku celana hitam bagian belakangnya. Tak lama, sebuah sapu tangan dari kain merah ditariknya lembut.


"Sini, kamu harus pake masker biar debunya enggak masuk ke hidung. Batuk-batuk gitu enggak baik buat pernapasan." Meysa mendekat, hanya menuruti apa yang Ardian perintahkan tanpa banyak membantah, karena dia pikir akan sulit menyapukan ruangan saat debu berlarian bebas di depan hidungnya.


Mey dan Ardian terpaut jarak dua puluh senti, berhadapan, bahkan Mey sampai bisa merasakan embus napas hangat dan segar dari hidung Ardian.


Pemuda itu gerogi sendiri, sampai-sampai sapu tangannya bergetar sebelum sampai di wajah Mey. Satu langkah terkikis ketika Ardian mendekat, menguarkan aroma parfum belagio hijau yang menggelitik hidung Mey. Menenangkan.


Satu menit rasanya selamanya ketika lelaki itu memasangkan sapu tangan di hidung dan bibir Mey. Tatapan manik hitam arang Mey seakan membekukan pergerakan. Ardian mematung sambil masih menatap Mey lekat-lekat.


Dadanya dipukul berkali-kali oleh jantung yang terus meronta ingin keluar.


"Udah, Kak? Debunya masih banyak tuh." Mey berkata di balik maskernya. Ardian hanya mengangguk canggung sambil mundur beberapa langkah.


"U-udah. Udah." Dari sekian banyak oksigen yang berputar di ruangan itu, tak ada secuil pun yang masuk ke paru-parunya, membuat dia seperti kehilangan kemampuan bernapas.


"Jadi Kakak mau ikut lomba juga?" tanyanya beberapa saat kemudian. Mereka kembali pada tugas masing-masing.


"Aku pengin ikutan, sih. Tapi banyak deadline yang udah ngetuk pintuku. Enggak sanggup."


"Oh, sayang banget."


"Iya, Sayang," balas Ardian dengan ungkapan sapaan.


Ngaler-ngidul membahas tentang cerpen dan semua persyaratan sampai-sampai tidak terasa jika ruangan itu sudah kembali bersih dan rapi. Debu berlarian masuk ke tempat yang seharusnya, kertas-kertas tumpang-tindih dengan apik dan papan tulis kembali putih tanpa noda.


Mereka terkapar di lantai, terengah-engah. Ardian menempelkan punggungnya di dinding dan kakinya selonjoran ke depan. Begitu juga dengan Mey yang duduk di sampingnya.


Mereka tertawa bersama ketika mengingat saat Ardian terjatuh dari kursinya.


"Haha. Cape juga ternyata." Satu-dua bulir peluh lolos dari sekaan tangannya. Mey hanya tertawa melihat wajah merah Ardian karena kelelahan.


"Aku udah mutusin buat ikut lombanya, Kak. Aku bener-bener terinspirasi sama penulis ChocoNextar itu. Buku For Oreo-nya bikin aku pengin menuangkan kisah hidupku sendiri."


"Oh gitu?" Ardian tampak tersenyum, matanya berbinar menanggapi. Dengan anggukan mantap Mey menjawabnya.


"Naskah tentang apa buat lomba?"


"Aku udah nemu idenya. Tentang cewek berambisi cari sosok lelaki yang selalu datang ke mimpinya buat menjadikan surga dalam mimpinya kenyataan." Mey mengepalkan tangannya kuat-kuat, diacungkan setinggi dada. Namun, malah ditertawakan oleh Ardian, dan menganggap jika Mey itu aneh, lucu dan juga ... cantik.


Ya, dia cantik, sekali.


***


Guru-guru sedang melakukan rapat di aula lantai dua. Semua murid diberi tugas menyalin buku paket dan akan dikumpulkan.


Mey sebagai anak paling menonjol di kelas disuruh untuk mengambil buku rangkuman yang sudah disiapkan guru bahasa Indonesia di ruang guru. Meski malas, dia pun tetap mengiakan.


Saat Nita mengajukan diri untuk menemaninya, Mey menolak dan bilang kalau dia akan menyelesaikannya dengan cepat.


"Dih, sok cantik banget, sih." Naila memutar bola mata malas. Seberapa benci pun Naila padanya, Mey tidak pernah benar-benar menganggap tatapan dingin penuh kebencian itu sinyal permusuhan. Dia membalasnya dengan senyum manis.


Bersamaan dengan hilangnya Meysa di mulut pintu, sorak-sorai murid menghujani Naila karena dianggap cemburu pada Meysa yang terlihat lebih cantik dan cerdas. Gadis berambut pirang gelombang itu mencebik dan menyangkal jika dirinya demikian.


"Apasii, gejelas! Dahlah, gue mau ke wc aja. Ribet lo pada!" Naila pergi meninggalkan kelas.


Sebelum ke ruang guru, Mey menyempatkan diri ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Namun ketika akan masuk kamar mandi, suasana di dalam terlihat gelap mencekam. Refleks dia menekan sakelar lampu, tapi tak ada reaksi apa pun.


"Mati listrik?" gumamnya, kemudian urung untuk mencuci tangan. Dia pun bergegas ke ruang guru.


Deret meja kayu kokoh beralaskan kaca hitam menyambutnya dari kegelapan ruangan. Mey berdiri di ambang pintu sambil melihat ruangannya sepi dan menakutkan. Jendela ditutup oleh gorden beledu. Untuk bisa mengambil buku tugas, dia harus masuk lebih dalam karena mejanya berada di urutan paling belakang.


Mendadak saja tubuhnya merinding. Namun dia segera menyingkirkan rasa takut itu dan mulai mengendap-endap memasuki kegelapan. Sambil meraba gulita, Mey mengidentifikasi barang-barang yang ada di depannya, takut kalau-kalau kakinya menendang ujung meja, dan itu akan sangat menyakitkan.


Ingatannya berputar ketika guru itu mengatakan jika bukunya ada di atas meja. Tepat setelah menghitung dan berasumsi, akhirnya dia berada di meja itu untuk mengambil bukunya. Mey pun bergegas keluar secepat datangnya.


"Huft ... dapet juga." Mey tersenyum memandangi bukunya sambil terus berjalan. Ketika dia akan melewati ambang pintu, pundaknya ditabrak oleh seseorang.


"Aw ...."


"Makanya kalau jalan pake mata!" cecar Naila, mendorong Mey menjauh, mengenyahkan dari jalannya.


Secepat datangnya, dia pun pergi meninggalkan ruang guru. Sama sekali tidak terpikirkan apa yang akan Naila lakukan di sana.


Ketika dia akan menaiki anak tangga, matanya tertuju pada seorang pemuda sedang berdiri di depan perpustakaan, kedua tangannya terlipat di dada sambil menengadah menatap langit. Bahkan dari jarak sejauh itu, Mey bisa mengenali jika sosok itu adalah Reza.


Tanpa memedulikan murid-murid yang menunggunya, Mey pun segera mendekati Reza, berlari mengitari lapangan.


Mey terengah-engah di depan Reza ketika sampai. Kedua tangannya menyentuh lutut, membungkuk. Mey kehabisan napas.


Reza berdiri tak mengucap sepatah kata pun. Alis matanya bertautan. Sambil melipat kedua tangan, dia menunggu apa yang akan diucapkan gadis itu.


Tentu Reza mengenalinya. Dia adalah gadis yang ditemuinya beberapa waktu lalu di ruang UKS.


"Hai, Kak ... huh ... huh ... haaah." Mey menelan ludahnya kuat-kuat. Menghabiskan rasa sesak dan gerogi yang menggerogoti tubuhnya dalam sekali tarikan napas. Tidak peduli jika wajahnya saat menarik oksigen itu terlihat mengerikan dengan rambut acak-acakan bau matahari.


Reza mengernyit.


"Lo lagi."


"Aku Meysa. Hai." Bibirnya tertarik lebar-lebar, menunjukkan deret gigi putih.


"Oh. Terus?" jawab Reza.


"Ada yang ingin aku tanyakan." Mey menarik napas panjang, menahannya cukup lama sambil mempertimbangkan kalimat apa yang harus dia utarakan untuk lelaki dingin di depannya ini.


Mey sudah berusaha melahap rasa gerogi dan malunya sendiri untuk menyapa dan mengucapkan semua yang ada di otaknya.


"Gue gak peduli apa pun yang mau lo tanyain. Sana lo, ganggu gue aja," katanya menusuk.


Ada yang salah, batin Mey. Tentu saja, karena lelaki ini bersikap tidak seperti yang seharusnya. Maksud gadis itu, benar-benar berbeda dengan apa yang ada di dalam mimpi dan ingatannya.


Mana perilaku manis dan sikap romantisnya?


"Lo pergi atau gue yang pergi?" Reza berdecak sebal, siap memutar tubuhnya meninggalkan Meysa. Namun gadis itu kembali berteriak jika dirinya ingin menyampaikan sesuatu.


"Aku ingin bicara sama Kakak. Kenapa Kakak---"


"Batu banget, sih dibilangin. Dasar cewek aneh," ucapnya, menoleh sekilas pada manik hitam Mey yang bergetar, kemudian pergi meninggalkannya sendirian di depan perpustakaan.


To be continue