Someone In There

Someone In There
25. Klise Memori


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Di hari libur, Mey menghabiskan waktunya membereskan rumah, terutama kamar tidurnya. Banyak buku-buku yang berserakan di atas nakas bekas membaca semalam.


Buku bersampul biru muda yang seringkali dibawanya saat kajian eskul sastra mengingatkannya pada Ardian yang selalu memberikannya coretan merah atau tulisan di bawah karyanya.


Bibir tipisnya melengkung ke atas membentuk senyuman saat mengingat teguran hangat dari sosok panutannya itu.


Ketika Mey hendak membuka laci, kedua netranya menangkap keberadaan boneka gurita pemberian Reza yang diletakkannya di ujung meja belajar. Sekelebat permasalahan dengan lelaki itu berputar bagai sebuah film.


"Kak Reza," ucap Mey lirih, mengambil boneka gurita itu lalu menatap bola mata hitamnya yang menggemaskan. "apa aku terlalu berlebihan?"


Sejujurnya, sejak semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Makanya, Mey lebih memilih untuk membaca beberapa buku sampai tertidur. Dia kepikiran terus soal Reza yang disalahkan sepenuhnya atas masalah perihal Seha. Padahal jika dipikirkan kembali, Reza tak bersalah. Dia hanya salah satu petunjuk yang membuatnya tahu siapa sebenarnya sosok lelaki dalam mimpinya itu.


Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Mey memutuskan untuk datang ke rumah Reza menemuinya, sekaligus menanyakan tentang Seha lebih dalam.


Mey cepat mempersiapkan dirinya, tak perlu repot berdandan selayaknya wanita pada umumnya. Dia hanya mengoleskan polesan bedak tipis serta lipbalm pada bibir tipisnya yang dirasanya kering.


Cepat gadis itu mengikat rambut panjangnya dan menyampirkan tas selempang di pundak kanannya. Setelahnya, dia menghubungi ojek online menuju ke alamat rumah Reza.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Meysa sampai di lokasi. Rumah besar nan megah kini sudah ada di hadapannya.


Tak harus memencet tombol bel, karena nyatanya Reza tengah menikmati indahnya langit di atas ayunan di halaman rumahnya yang mengayun pelan.


Lelaki itu belum menyadari kehadiran sosok Mey yang tengah mematung tak jauh darinya. Gadis itu tersenyum samar menelisik paras Reza yang sangat mirip Seha.


Merasa diperhatikan, Reza menoleh tepat pada posisi Mey berdiri. Dia terperangah mendapati kehadiran gadis itu secara tiba-tiba.


"Mey?"


Mey mengangguk. Perlahan dia menghampiri Reza seraya menyunggingkan bibir tipisnya ke atas.


"Mey?" sapa Reza lagi.


"Kak, aku enggak bisa gini terus sama Kakak."


Reza menghela napas seraya tersenyum. "Gue tahu, Mey."


"Aku sadar Kakak enggak bersalah," ucap Mey.


Reza hanya tersenyum samar. Tak mau memperpanjang masalah, lelaki itu mempersilakan Mey masuk ke rumahnya. Namun, gadis itu menolaknya dengan halus.


"Makasih, Kak. Aku cuman pengin ngobrol sebentar kok. Boleh?" tanyanya, alisnya terangkat sebelah.


"Boleh dong," jawab Reza, senyumannya begitu merekah. "Yaudah kalau gitu sini kita duduk aja di sini."


Reza menarik lengan Mey ke arah kursi taman yang terbuat dari kayu dekat ayunan. Keduanya terduduk saling berdampingan, sepasang netranya saling memandang, menenggelamkan ribuan perkataan yang sempat terbayang dalam benaknya masing-masing.


"Mau gue buatin minum?" tanya Reza.


Mey menggeleng. "Jangan, Kak. Enggak usah."


Reza kembali mengangguk pelan, kini kedua matanya menatap fokus ke arah Mey yang tengah menunduk dalam.


Selang beberapa menit keduanya saling diam. Tak mencoba untuk memulai percakapan. Sepoi angin menerpa kulit epidermis keduanya terasa menyejukkan sampai bagian lapisan terdalam.


"Siapa Seha, Kak?" tanya Mey.


"Seha?" tanya Reza mengulang, meyakinkan pertanyaan gadis di sampingnya.


Mey mengangguk pelan. "Siapa Seha?" Gadis berambut panjang itu kembali mengulang pertanyaannya.


"Dia kembaran gue, Mey. Emang belum jelas jawaban gue kemarin?" tanya Reza.


"Di mana dia, Kak?"


"Mey! Gue udah kasih tahu lo semuanya kemarin, kan?" ucap Reza.


"Aku masih penasaran, Kak. Aku cuman pengin mastiin semuanya. Aku ngerasa ini mimpi. Tolong jawab, Kak!" Kedua tangan Mey ditangkupkan di atas dada. "Di mana dia, Kak?"


"Mey! Dia udah enggak ada! Dia enggak ada di sini. Seha udah meninggal, Mey!"


Tak terasa cairan bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya, kini meluruh membasahi kedua pipinya.


"Meninggal? Apa penyebabnya" tanya Mey lagi.


Terlebih dahulu Reza menghela napasnya perlahan, lalu pandangannya terfokuskan pada Mey lagi.


"Kecelakaan. Seha mengalami kecelakaan sepulang sekolah. Saat itu, gue lagi eskul sastra. Makanya, gue enggak tahu kalau Seha kecelakaan. Sepulang eskul, gue disuguhkan dengan pemandangan yang gak mengenakan. Bendera kuning," ucap Reza tersendat, dia kembali menghela napasnya perlahan.


"Bendera kuning mengitari rumah, beberapa karangan bunga terpampang di depan halaman, nama Seha tersemat di sana. Saat itu, kedua lutut gue lemes banget. Apalagi saat kedua mata gue lihat langsung jenazah Seha di dalam rumah. Gue bener-bener kehilangan sosok Seha," ucapnya, dia menengadah menatap langit biru mencoba tuk menahan bendungan air mata yang mendesak keluar.


Mey tak berani menimpali pertanyaan apa pun lagi. Dia paham dengan perasaan Reza, karena yang diketahuinya saudara kembar itu tak bisa dipisahkan. Sedangkan Seha dan Reza? Keduanya tidak akan bisa dipersatukan kembali.


"Gue bener-bener terpukul saat itu. Bahkan saat di pemakaman pun, gue yang paling parah nangis, enggak berhenti. Gue kehilangan Seha."


"Pemakaman? Di mana tempat pemakamannya, Kak?" tanya Meysa akhirnya.


"Kenapa? Lo mau ke sana?" tanya Reza, cepat Mey mengangguk.


🌿🌿🌿


Tebaran kelopak bunga merah putih telah menggunung di atas pasir merah. Nama sosok lelaki yang sempat Mey bicarakan sedari tadi dengan Reza kini tersemat di atas batu nisan beserta tanggal lahir dan tanggal wafatnya.


Kedua mata Mey terasa panas, sampai genangan air matanya kembali meluruh menghapus polesan bedak tipisnya. Dia meraba batu nisan di hadapannya seraya mengatakan, "Apa kabar, Kak?"


Meskipun Mey tahu jika kelakuannya bodoh, pertanyaannya tak akan ada jawaban, tapi gadis itu hanya sekadar melepas kerinduan pada sosok lelaki yang hanya datang dalam mimpinya.


"Kak ... aku Mey. Gadis bodoh yang cari Kakak lewat petunjuk dalam mimpi. Aku memang bodoh. Ya, memang," ucap Mey lirih.


Reza menepuk-nepuk bahu Mey mencoba untuk menenangkannya. Padahal hatinya rapuh tak kuat melihat sosok gadis yang cintainya lebih perhatian pada orang lain.


"Kak ... aku benar-benar ingin ketemu Kakak."


Mey menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa tak kuat lagi dengan kenyataan yang membuat mentalnya belum siap menerima.


Reza diam. Dia memperhatikan Mey yang tengah terisak.


"Udah, ya? Jangan nangis lagi." Reza membantu sang gadis untuk kembali berdiri.


"Aku udah enggak tahan lagi," ucap Mey lirih. Reza menarik tubuh kurus sang gadis ke dalam dekapannya, sesekali mengelus-elus punggungnya.


Mey tergugu menangis, isak tangisnya pecah begitu saja. Reza mengusap rambut panjangnya pelan.


"Kita pulang aja, yuk!" ajak Reza.


Gadis itu mengangguk lemah. Keduanya pun beranjak meninggalkan pemakaman Seha.


"Seha itu teman terbaik yang paling dicari oleh banyak orang," ucap Reza disela perjalanan mereka. Lelaki itu berjalan di atas jalanan berumput begitu juga Mey.


"Pasti teman dekatnya beruntung pernah kenal sama Kak Seha, ya?" tanya Mey.


Reza tersenyum. "Pasti. Kalau ngomongin tentang teman, gue jadi keinget sama temen misterius dia."


"Temen misterius?" Mey mengkerutkan dahinya bingung.


"Iya. Seha punya temen misterius di masa kecilnya," jawab Reza.


"Aku jadi penasaran, Kak. Dia beruntung, ya punya temen seperti Kak Seha." Mey tersenyum kala bayang-bayang sosok Seha sekelebat hadir dalam benaknya.


"Kalau ngomongin soal Seha, gue jadi keinget tentang dia, Mey." Reza menengadahkan kepalanya ke atas langit, mencoba menahan genangan air mata yang sedari tadi mendesak keluar.


Reza mengangguk seraya menatap Mey dan tersenyum.


"Dia punya tempat favorit yang membuatnya selalu semangat. Setiap piknik kami sekeluarga selalu berkunjung ke sana," ucap Reza sembari mengingat-ingat kenangan indah berkumpul bersama.


"Tempat favorit? Di mana tempat itu, Kak?" tanya Mey penasaran. Gadis itu jadi kepo tingkat akut jika menyangkut perihal Seha.


"Perkebunan apel. Dia suka apel, Mey. Seha juga suka sama pemandangan di sana," lanjut Reza lagi. "Lo mau ke sana?"


"Mau, Kak," jawab Mey antusias.


"Oke. Tempatnya enggak terlalu jauh kok," ucapnya. "Kita naik motor, ya."


Reza pun cepat menyalakan motornya, sedangkan Mey naik ke atas motor Reza. Tangan sang gadis masih tetap seperti dulu, berpegangan pada besi di belakang jok. Setelahnya, lelaki itu pun melajukan kendaraan beroda dua.


Hanya butuh dua puluh menit, kedua pasangan itu sampai di tempat tujuan. Benar kata Reza, kebun apel yang sering dikunjungi keluarganya tidak begitu jauh dan sangat strategis.


"Yuk, Mey," ajak Reza.


Mey mengikuti langkah Reza, sesekali dia melirik ke kanan dan kiri banyak beraneka macam pepohonan yang menjulang, membuat gadis itu begitu takjub.


"Kita ke sana." Reza menunjuk ke arah depan mereka. "Di sanalah tempat favorit Seha."


Keduanya pun kembali menyusuri jalanan berumput hijau. Kebun favorit Seha memang sangat luas, juga indah. Tak heran jika Seha menyukai tempat ini.


Langkah Reza terhenti di depan pohon tinggi menjulang, dekat dengan batang pohon mati. Banyak buah merah menggantung di atasnya. Mey menengadah ke atasnya dan mendapati banyak Apel yang membuat kepalanya terasa pening.


Sosok bayangan Seha membayang dalam benaknya. Berulangkali Mey menggelengkan kepalanya pelan, entah cuplikan apa yang membuat air matanya meluruh begitu saja.


"Ini tempat favorit Seha, Mey. Dia selalu datang ke sini menemui teman misteriusnya waktu kecil."


🌡🌡🌡


Sosok anak lelaki menertawakan gadis kecil yang tengah memberengut kesal. Entah apa yang membuatnya marah pada anak pemuda yang sedang melahap buah apel.


"Kak Seha pelit," ucapnya seraya memalingkan wajahnya ke arah pohon apel di sampingnya.


"Katanya kamu enggak suka," jawabnya lagi.


"Tapi sekarang aku jadi suka apel."


"Kok gitu?" tanya Seha lagi.


"Karena Kakak," jawabnya seraya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Kok karena aku sih, Mey?" tanyanya lagi heran.


"Aku kan sahabat Kakak. Ya, pasti aku suka semua kesukaan Kakak," jawabnya terus terang.


"Yaudah deh. Sini aku suapin."


Setengah apel sisa Seha disantap dengan lahap oleh gadis itu. Keduanya sama-sama menikmati kebersamaannya. Saling menatap, saling tertawa, dan saling menjaga.


Cuplikan dua anak kecil beranjak remaja kembali berputar dalam benak Mey. Isak tangis gadis itu pecah tiba-tiba membuat Reza sontak terkejut.


"Mey ... lo kenapa?" tanyanya cemas.


Mey menggeleng lemah. "Aku mau pulang, Kak."


"Yaudah, ayo kita pulang."


Langkah Mey tergesa saat keluar dari kawasan perkebunan apel itu. Kedua matanya merah, air matanya pun tak berhenti meluruh membasahi pipinya.


Setelah berada di luar kebun, langkah Mey terhenti dan memberanikan diri menatap Reza.


"Aku pulang sendiri aja, Kak."


"Kenapa? Lo kan datang bareng gue masa pulang sendiri?" ucap Reza.


Mey menggeleng. "Aku pengin sendiri dulu, Kak."


"Tapi, Mey---" Perkataan lelaki itu langsung disambar oleh sang gadis.


"Aku mohon! Aku pengin pulang sendiri!" ucap Mey tegas.


Reza pun mengangguk, mencoba mengalah karena tak mau membuat sang gadis kesal. Lelaki itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang sendirian.


Mey berjalan perlahan menyusuri jalanan aspal. Cuplikan tentang dirinya sewaktu kecil bersama sosok pemuda kecil bernama Seha membuatnya bertanya-tanya mengapa baru sekarang dia mengingat semua kenangan indah yang seharusnya tidak dilupakannya?


Gadis itu mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba untuk tetap tenang dan menghentikan tangisnya. Pandangannya kembali mengarah ke depan, tepat saat itu sosok Ardian tengah menatapnya dengan tatapan datar.


Ardian memutar balik langkahnya, menghindari Mey. Cepat, gadis berambut panjang itu memanggil namanya membuat sang lelaki menghentikan langkahnya.


Setengah berlari Mey menghampiri Ardian, mencekal lengannya yang awalnya akan kembali melangkah.


"Kak ... kenapa?" tanya Mey.


Ardian diam, tak merespons pertanyaan gadis pemilik bola mata hitam arang.


"Aku enggak bisa diginiin terus, Kak. Aku bingung. Kakak kenapa?" tanya Mey lagi bingung.


"Kita harus bicara, Mey," ucap Ardian akhirnya, nada suaranya datar seperti pandangannya.


"Kita bicara di sana, Kak." Mey menunjukkan kursi panjang dari kayu yang berada di sisi jalan. Ardian pun mengangguk.


Keduanya terduduk bersamaan di kursi panjang yang Mey tuduhkan. Dua insan itu saling terdiam, merangkai pertanyaan yang belum sempat ditanyakannya.


"Kak ... kenapa?" tanya Mey lagi. Pertanyaan masih tetap sama seperti sebelumnya. Gadis itu memang tengah gundah dengan sikap Ardian yang berubah 180Β° padanya.


"Entahlah, Mey."


"Aku punya salah apa sama Kakak?" tanya Mey lagi.


Ardian menggeleng lemah. "Kamu enggak pernah bikin kesalahan apa pun kok. Hanya saja, aku yang salah menempatkannya. Entah waktunya tidak tepat atau waktunya yang belum tepat."


"Maksud Kakak?" tanya Mey tak mengerti.


"Aku suka sama kamu, Mey." Ardian memberanikan diri menatap wajah Mey yang terperangah karena jawabannya.


"Mungkin ... aku terlalu lancang. Jujur saja, aku mencintai kamu, Mey."


"Kak?" Mey bingung harus berkata apa.


"Aku harap kamu mengerti perasaan aku, Mey." Ardian menatapnya saksama membuat gadis itu merasa risih, lalu menundukkan kepalanya dalam.


"Kamu mau kan jadi sosok yang istimewa lebih dari seorang adik?" tanya Ardian.


Mey dikagetkan lagi dengan pertanyaannya yang membuatnya berusaha meneguk salivanya. Tenggorokannya terasa tercekat, kedua lututnya pun terasa lemas begitu saja.


"Aku butuh kepastian, Mey. Kamu mau, kan?" tanya Ardian kesekian kalinya.


"Aku butuh waktu, Kak untuk menjawab pertanyaan Kakak." Mey tersenyum mencoba untuk membuat Ardian tak kecewa dengan jawabannya.


"Oke. Aku tunggu, Mey." Dia pun membalas senyuman sang gadis yang tak kalah merekah.


Mey hanya mengangguk pelan.


"Aku harap, jawabannya sesuai dengan harapan aku, Mey."