
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Pada awalnya, pemandangan hijau dan suara-suara jangkrik memang terdengar menakjubkan. Namun semua mulai terasa mengerikan saat Meysa kecil sadar jika dirinya tersesat dan jauh dari ayah dan ibunya.
Meysa kecil tidak tahu arah jalan pulang, yang dia tahu dirinya terus melangkah menyusuri pepohonan dan sampai di suatu tempat dikelilingi pohon apel.
Perkebunan apel!
Sisi kanan dan kirinya tidak ada siapa pun, kecuali bulatan-bulatan merah menggoda. Apel-apel segar yang tumbuh pada cabang-cabang pohon itu tak membuat Meysa cukup tenang ketika dirinya masih merasa jika kedua orangtuanya semakin jauh darinya.
"Papa? Mama? Di mana kalian?" teriak Mey. Gadis berumur sebelas tahun itu terus memanggil-manggil kedua orangtuanya.
Meysa mengelilingi kebun apel yang luas, memaksa kaki-kakinya untuk terus berjalan sampai dia tak mampu lagi mencari. Dia merintih kesakitan saat kedua kakinya terasa melepuh akibat terlalu dipaksakan.
Meysa kecil sesenggukan. Setelah lelah mencari, dia hanya bisa menangis. Mengabaikan suara-suara jangkring dari dalam hutan.
"Mama, Mey pengin pulang," rintihnya. Kedua kaki ditekuk, dipeluk dengan erat.
Kedua telinga Mey bergerak saat sesuatu terdengar dari arah belakang pohon apel yang cukup tinggi. Sesuatu seperti ranting pohon yang patah terinjak seseorang, dan ketika kedua matanya yang basah dikerjapkan beberapa kali, dia mendapati satu anak lelaki berdiri di sana.
Anak itu tersenyum kepada Mey.
"Hei, tolong aku!" teriak Mey setengah berharap jika suaranya tak parau. Anak itu bangkit dari posisi jongkoknya, kemudian berlari sekuat tenaga, berusaha mencapai anak lelaki yang berdiri di samping pohon apel sembari masih memamerkan senyumannya.
"Hei, hei hentikan!" kata lelaki itu sembari menahan wajah Meysa dengan tangan kanannya saat gadis kecil itu mencoba memeluknya karena merasa bersyukur.
"Terima kasih karena kamu menyelamatkanku," kata Meysa, belum menyerah dan masih mencoba untuk memeluk si anak lelaki.
Sama kerasnya dengan Meysa, anak itu makin kuat mendorong wajah Meysa mundur. Tak lama kemudian, dia menarik tangannya dan menggeser tubuhnya sedikit ke sebelah kiri. Membiarkan Meysa kecil terhuyung ke depan dan terjerembab jatuh di tanah.
"Aw," ucap Meysa setengah merintih. "Kamu jahat," tambahnya.
Anak lelaki itu mengedikkan bahu pelan. Dia tersenyum makin lebar saat melihat Meysa merengut tak suka, lantas mulai berjongkok di depan Meysa sambil masih menunjukkan senyum andalan yang tadi sempat membuat Meysa tersentak.
"Kamu nyasar, ya?" tanya lelaki itu, terkekeh-kekeh. Matanya sipit. Kacamata kotak sudah terpatri rapi di batang hidungnya.
Wajah Mey rasanya panas dan mulai memerah karena pertanyaan itu. Meski dia sama sekali tidak berniat untuk menyangkalnya.
"Kamu ... enggak apa-apa?" tambah anak lelaki itu, mengulurkan tangan kepada Meysa yang kembali terlungkup di tanah. Gadis itu mulai berdiri dengan bantuan uluran tangan tadi.
"Kamu kok ada di sini? Kamu beneran nyasar, ya?" tanya lelaki itu lagi. Meysa tidak menyangka jika anak di hadapannya akan sebawel dan serba ingin tahu seperti itu. Kepo.
"Kamu siapa?" Meysa malah balik bertanya, mengibaskan debu-debu di rok merah mudanya. Dia baru sadar jika orang itu asing untuknya dan dia mulai risi karena itu. Meysa mundur, menjaga jarak.
Anak lelaki itu memakai kemeja pendek biru langit serta celana hitam selutut.
"Aku Seha," jawabnya ramah, memamerkan deret gigi putih rapi.
"Ehm, mencurigakan. Kamu hantu, ya?" tanya Mey penuh selidik. Namun Seha malah terkekeh-kekeh. Anak lelaki itu menggeleng, kemudian maju selangkah, memaksa Meysa ikut mundur.
"Jangan takut, aku bukan hantu. Aku masih bisa pegang kamu."
Mey merengut, menaikkan satu alis matanya. Sedetik kemudian menggeleng.
Meski awalnya Mey meragukannya, tapi setelah membuktikannya sendiri, dia jadi yakin jika anak itu memang benar manusia seperti dirinya.
Percakapan ringan pun dimulai. Meysa menjelaskan kenapa dirinya bisa berada di kebun apel seperti sekarang ini, dan dia juga menanyakan bagaimana Seha bisa ada di sana bersamanya sekarang.
"Keluargaku lagi piknik. Kebun apel ini enggak jauh dari rumahku. Aku suka sama suara-suara jangkring, serangga. Setiap sore aku ke sini, jadi---"
"Kamu ikutin suaranya dan ketemu aku di sini," sambar Meysa. Seha mengangguk. Gadis ini pintar, pikirnya.
"Jadi di mana keluargamu?" tanya Seha.
Meysa menggeleng.
"Kamu tahu jalan pulang?" tambahnya.
Gadis itu kembali menggeleng, tapi lebih kencang diikuti mata yang makin membentuk garis lurus. Sedikit kesal. Hidungnya kembang-kempis.
"Kamu---"
"Aku tersesat. Oke?"
"Oke. Mau aku anterin? Aku enggak bisa antar kamu sampai rumah, tapi aku tahu tempat yang pasti kedua orangtuamu juga ada di sana. Mau?"
Meysa terdiam, sedikit memikirkan tawarannya. Namun tak berselang satu menit, dia mulai mengangguk.
Mereka pun memutuskan untuk segera pulang karena sore sudah datang dan hutan dekat kebun apel itu akan segera gelap.
Sepanjang jalan, Seha banyak bertanya, walaupun Meysa tidak terlalu menanggapi. Sesekali gadis itu hanya mengangguk tanpa menjawabnya panjang-lebar.
Gadis itu berjalan di batang pohon mati, merentangkan kedua tangan sambil tertawa, sementara Seha berjalan di sampingnya, menapaki tanah penuh rerumputan hijau.
"Kamu sering ke sini, ya?" tanya Meysa pada akhirnya. Seha mengangguk. Tatapannya lurus pada cahaya di ujung pandang, di balik pepohonan apel.
"Aku suka banget apel. Ayah bilang, aku bisa makan apel sepuasku kalau kami sering piknik ke sini," jawab Seha di tengah-tengah keheningan ketika mereka menapaki jalan masing-masing. Meysa menurunkan kedua tangannya, berhenti di ujung batang, kemudian menoleh.
"Oh," jawabnya.
Seha lagi-lagi mengangguk. Dia kemudian menunjuk satu pohon apel yang ada di belakang Meysa. Pohon itu sangat lebat, dan buahnya penuh serta merah merona. Tanpa menunggu Meysa berbalik, dia sudah berlari melompati batang pohon.
"Kamu suka apel juga, kan?" tanya Seha, memetik satu buah yang warnanya tak terlalu merah. Meysa menggeleng.
Percakapan itu berlanjut setelah Seha mengantungi dua apel merah, dan satu apel hijau di tangannya. Dia kemudian menepati janjinya untuk membawa Meysa ke tempat di mana kedua orangtua Meysa berada.
"Kamu tinggal lurus ke sana," kata Seha, menunjuk pada gubuk tua di belakang kebun apel barisan kedua. "Pengunjung biasanya ada di sana," lanjutnya.

Meysa mengangguk. Dia ingat tempat itu. Kedua matanya yang sempat basah itu kini mengerling karena senang. Gadis itu mengangguk lagi.
"Terima kasih, ya?" kata Mey. Dia berjalan meninggalkan Seha, kemudian melambai tanda perpisahan. Tak lama setelah Seha membalasnya, dia berbalik dan berlari lagi.
"Hey, tunggu!" teriak Seha. Meysa terpaksa menghentikan langkahnya. "Nama kamu siapa?"
"Meysa."
"Kita bisa ketemu lagi, kan? Aku akan tunggu kamu di tempat tadi. Datang, ya?"
"Dadah," kata Mey. Seha tersenyum. Membalas lambaian tangannya.
***
Satu hari, dua hari, Seha masih menunggu. Namun Meysa belum juga datang. Anak lelaki itu merasa kehilangan, walau pertemuan mereka hari itu tidak berlangsung lama.
Nyaris setiap hari dalam dua minggu ini, Seha datang ke tempat yang dijanjikan. Dia tetap menunggu dari pagi, siang sampai sore hari. Kedua orangtuanya pikir jika Seha menemukan sesuatu yang menarik di kebun apel, jadi mereka tidak pernah melarangnya.
Seha bahkan tidak mau bermain dengan Reza saking ingin bertemu lagi dengan Meysa.
Di tengah penantiannya, Seha mulai menulis buku diari. Anak berusia dua belas tahun itu mencatat awal pertemuannya dengan Meysa. Dia duduk di batang pohon yang jadi tempat mereka berjanji akan kembali bertemu.
Seha menuliskan bagaimana dia melewati hari-harinya dalam penantian panjang.
Saat dia sibuk menulis, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Dada anak itu seperti dihantam dengan benda tumpul kers-keras. Membuatnya terkejut dan menjatuhkan buku diarinya ke tanah.
Nyaris mengumpat, tapi urung saat dia tahu jika orang yang menepuknya adalah Meysa.
"Halo," sapa Mey. Gadis itu tersenyum manis. Rambut hitam yang saat itu dibiarkan tergerai ke bawah kini diikat dua, kanan-kiri. Menggemaskan.
Seha hampir saja meledak saking bahagianya.
"Meysa, kamu datang!" katanya. Dia meraih buku catatannya, kemudian memeluk Meysa tanpa canggung. Gadis itu hanya bisa menahan sesak karena pelukannya terlalu erat.
Buru-buru dia melepas pelukannya ketika sadar jika gadis di hadapannya kesulitan bernapas.
"Kamu ke mana aja?"
"Papa sama mamaku sibuk. Mereka enggak ada waktu buat main ke sini," jawab Meysa.
"Oh, pantas. Syukurlah."
"Buat?"
"Karena kamu datang sekarang."
Gadis itu memiringkan kepalanya ke kanan sembari tersenyum manis. Embusan angin menerbangkan dedaunan apel, menerpa rambut hitam kuncir duanya. Memaksa Seha menelan ludahnya dengan kasar saat dia menyaksikan kecantikan Meysa.
Dia menggeleng, kemudian mengajak Meysa bermain.
Mereka menyusuri hutan, melewati pepohonan yang rimbun. Semua itu hal yang baru bagi Meysa. Seha juga menjelaskan satu per satu nama dan kegunaan pohonnnya. Dia seperti pemandu wisata.
Mereka berlarian keliling kebun, tanpa sadar sampai di sebuah lapangan penuh ilalang yang terus bergoyang tertiup angin musim kemarau. Angin yang dingin di tengah panasnya udara siang hari.
Seha membuatkan Meysa gambar kucing di atas daun menggunakan duri pohon jeruk. Dia menyebutnya kucing keberuntungan dan Meysa menyukainya.
Setelah lelah bermain kucing-kucingan, mereka terlentang di lapangan penuh rumput, memandangi kawanan awan yang mengantung di langit biru. Macam-macam bentuk awan tertangkap oleh mereka, membuat keduanya terkekeh-kekeh senang.
"Udah sore, aku pulang, ya? Kedua orangtuaku pasti cariin aku." Meysa berdiri dari posisi terlentangnya, kemudian mengepakkan dedaunan yang ikut di baju dan rambutnya.
"Kita bisa ketemu lagi, kan?"
"Ehm." Meysa mengangguk senang. Dia juga sama seperti Seha, ingin kembali bertemu dan bermain seperti tadi, itu sangat menyenangkan.
"Kalau gitu, aku antar kamu, ya?"
"Oke."
***
Pertemuan demi pertemuan pun dilakukan. Dalam seminggu, mereka bisa bertemu dua sampai tiga kali.
Meysa tak pernah cerita soal Seha kepada kedua orangtuanya, dan Seha pun melakukan hal yang sama. Apa yang kedua orangtua mereka tahu adalah, anak-anaknya sedang menikmati alam dengan sesuatu yang membuat anak-anak mereka senang.
Sore itu, mereka berada di sungai di bawah perkebunan apel. Seha mengajak Meysa ke sana untuk menunjukkan jika dia bisa membuat perahu dari daun.
Keduanya istirahat di bawah pohon berdaun kuning. Bunganya berwarna oranye dan Meysa lupa bertanya tanaman apa itu.
"Mey, kita udah jadi sahabat, kan?" tanya Seha.
"Ehm?" jawab Mey, menoleh ke samping, ada Seha yang juga menatapnya.
"Kamu janji, kan kalau kita akan terus sahabatan, dan saling menjaga? Kita harus selalu bersama?" tanya Seha, menegaskan kembali apa yang tadi diucapkannya.
Embusan angin sore hari membawa hawa yang menenangkan. Mengelus pipi Meysa. Memaksa gadis itu terdiam dalam keterkejutannya. Meysa tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia tahu satu hal, jika dirinya dan Seha sudah jadi sahabat.
"Iya, kita sahabat dan aku janji kalau kita akan saling jaga. Iya, kan?"
Seha mengangguk.
Suatu hari, Seha mengajak Meysa kembali bertemu di tempat biasa. Di dekat kebun apel, di sebuah batang pohon mati dekat hutan.
Sore itu, Seha datang awal seperti biasanya. Dia menuliskan beberapa hal tentang Meysa dalam bukunya, dan dia juga sudah menyiapkan apa yang akan mereka lakukan saat bertemu nanti.
Jam terus bergerak, dan matahari mulai tergelincir di punggung pepohonan apel. Seha masih menunggu, dan Meysa masih belum juga datang.
Seha pikir, apa Meysa melupakan janji pertemuan mereka? Dia berusaha untuk sabar sebentar lagi. Seperti biasa, Meysa akan datang tiba-tiba saat dirinya sibuk menulis buku diari. Ya, tidak usah khawatir.
Anak itu melanjutkan menulisnya.
Namun sampai kebun apel itu semakin gelap, dan Seha sudah mendapatkan lima lembar catatan tentang Meysa, anak itu masih belum mendapati sahabatnya datang untuk mengajaknya bermain.
"Kamu enggak datang, ya?" katanya lirih, menutup buku diarinya, kemudian mengembuskan napas berat.
Suara jangkrik mulai terdengar dan Seha sudah harus kembali. Anggap saja Meysa tidak datang.
Dia pun memutuskan untuk kembali besok pagi.
Seha pulang, dan dia sama sekali tidak tahu jika Meysa dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan mobil saat dalam perjalanan.
Ayahnya meninggal di lokasi, dan Meysa mengalami hilang ingatan karena kepalanya membentur bagian keras mobil.
Seha rasanya sudah tidak perlu lagi menunggu, karena Meysa dan ibunya yang selamat, pindah ke luar kota untuk menjalani pengobatan Meysa setelah masa-masa berkabung atas kehilangan ayahnya.
Meysa pindah dan Seha masih menunggu sendirian.