Someone In There

Someone In There
13. Terungkap


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


"Naila!" panggil Bu Patmi pada salah satu gadis yang tengah terduduk di atas meja kelasnya sembari mengoleskan gincu. Sesekali jari telunjuknya membenarkan ronanya agar tidak belepotan.


Orang yang merasa namanya dipanggil menoleh, tanpa mengindahkan tatapan marah dari raut wajah wanita paruh baya itu.


"Ada perlu apa, Bu?" tanyanya, kepalanya menengadah angkuh, dan bibir bergincu cherry blossoms tersungging ke atas, menciptakan senyuman tipis.


"Ikut ke ruangan saya!" ucapnya tegas. Kedua manik matanya menatap tajam pada putri atasannya.


"Ke ruangan Ibu?" tanya Naila mengulangi ucapan sang guru. "Ada apa?"


"Ada yang perlu saya bicarakan sama kamu, Naila!"


Naila menaikkan sebelah alisnya.


Tanpa bertanya lagi, Naila pun mengikuti Bu Patmi dari belakang.


Pandangannya liar saat berjalan menuju kantor. Beberapa murid dan guru berlalu-lalang, berjalan mengarah pada ruangannya masing-masing.


Tak sengaja sepasang netranya menangkap sosok lelaki yang tengah berjalan, kedua tangannya sibuk membawa dua bola basket, Reza.


Ingin memanggil namanya, tapi niatnya diurungkan karena Bu Patmi menyadarkannya.


"Naila, ayo masuk!"


Naila menggerutu dalam hatinya, menyumpahi wanita paruh baya itu agar cepat pensiun.


Gadis itu melongok ke dalam ruangan. Di dalamnya semua guru tengah berkumpul, ketika menyadari kehadiran putri dari kepala sekolah mereka serempak membuka laptop.


"Duduk!"


Sebenarnya, tak perlu dipersilakan pun gadis itu sudah mendaratkan pantatnya di kursi pojok dekat lemari penyimpanan buku-buku pelajaran.


"Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak boleh masuk jam pelajaran saya lagi!" Suaranya lantang, mampu menyita pasang mata.


Kedua mata Naila terbelalak, dahinya berkerut tak mengerti dengan ucapan yang disampaikan Bu Patmi. Dia tidak menyadari kesalahan apa yang membuat wanita berkacamata itu marah terhadapnya.


"M-maksud Ibu apa?" tanya Naila, kedua matanya menyipit memandangi wajah sang guru yang memerah karena amarah.


"Kamu, kan yang ambil kunci jawaban itu? Dan kamu juga yang fitnah Mey ambil kunci jawaban itu?" Bu Patmi memutar bola matanya malas, sesekali jemarinya memijat pelipisnya pening.


"Saya?" tanya Naila balik, tangan kanannya menunjuk dirinya sendiri tepat di atas dada.


"Siapa lagi kalau bukan kamu biang keladinya!" sergah Bu Patmi. Amarahnya memuncak, bertepatan saat itu pria berjas hitam memasuki ruangan dan tampak terkejut dengan kehadiran putrinya.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Kebetulan sekali Bapak datang. Bukannya saya tidak hormat kepada putri Bapak. Namun saya sangat kecewa terhadap kelakuan Naila yang tidak bisa saya maafkan," ucap Bu Patmi, menatap Naila yang tengah tertunduk. "Naila melakukan kesalahan besar yang membuat saya kecewa!"


"Tidak mungkin anak saya melakukan kesalahan!" sergahnya tegas.


"Jelas-jelas anak Bapak membuat kesalahan! Saya punya buktinya!"


Naila mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap ayahnya yang tengah menatapnya tajam.


"Kesalahan apa yang telah putri saya lakukan?" tanyanya, kedua matanya tak terlepas dari putri kesayangannya.


Bu Patmi pun memutar rekaman dari HP-nya. Suara Naila sangat jelas terdengar tengah membicarakan perihal perbuatannya yang dilimpahkan kepada Mey sebagai pelaku pencuri jawaban.


Wajah Naila memerah, sangat terkejut saat mendengar suaranya sendiri. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, tapi gadis itu bersikeras menahan bendungan air mata agar tidak lolos sampai di permukaan pipinya.


"Dari mana informasi itu, Bu?" tanya Naila. Tubuhnya gemetar, jantungnya berdetak lebih kencang tak keruan.


"Soal informasi ini tidak penting! Yang lebih penting sekarang adalah kamu pelakunya dan harus menjalankan hukuman!" sergah Bu Patmi.


"Anda tidak seharusnya menghakimi putri saya seperti itu!" Ayah Naila tetap saja membela.


"Maaf, Pak! Untuk kali ini saya tidak bisa mematuhi keinginan Bapak. Saya terlalu kecewa kepada putri Bapak."


☘☘☘


"Tumben banget si Mak Lampir kagak sekolah ya, Mey?" celetuk Nita, tangannya sibuk menulis tugas hari ini.


Entah kebiasaan, pemalas atau pelupa, Nita tidak pernah mengerjakan tugas di rumah. Dia selalu mengerjakannya di sekolah, itu pun bukan hasil dari pemikirannya, meminta contekan pada Mey.


"Mak Lampir?" tanya Mey.


"Iya. Mak Lampir itu Naila!" jawab Nita sembari tertawa, Mey pun ikut tertawa.


"Paling telat, Nit. Masuk kelas kan tinggal 10 menit lagi." Mey melirik arloji di tangan kirinya menunjukkan pukul 07: 20.


"Biasanya juga jam segini udah datang. Kan dia penunggu toilet di belakang sekolah." Jawaban Nita selalu saja mengundang tawa, kedua gadis itu kembali tertawa bersama.


"Udah, ah jangan kayak gitu, nanti kalau ada orangnya urusannya jadi berabe." Mey menyudahi tawanya, tapi Nita tetap saja tertawa tak bisa menghentikannya.


Bertepatan saat itu salah satu siswa kelas XI memasuki kelas. Nita berusaha menyudahi tawanya, suasana di kelas kembali sunyi. Beberapa murid yang sedari tadi berbincang, kini terdiam menyadari kehadiran kakak kelasnya.


"Disuruh ke ruangan Bu Patmi, sekarang!" ucapnya.


"Mey ada apa lagi, sih?" Nita menyikut lengan sahabatnya sembari berbisik.


"Enggak tahu. Ikut yuk, Nit!" Mey menarik tangan Nita.


Akhirnya Nita pun menemani Mey ke ruangan Bu Patmi. Meski tidak bersalah, tapi gadis itu merasa takut jika kesalahpahaman itu tetap berpihak padanya.


Beruntungnya Meysa mempunyai sahabat seperti Nita. Gadis itu menggenggam tangan sahabatnya mencoba untuk menguatkan dirinya.


Tepat di depan pintu ruangan, Meysa menghentikan langkahnya. Dia ragu masuk, tapi Nita memaksanya untuk tetap bersikap biasa seolah tak ada masalah.


"Tenang, Mey. Semuanya baik-baik aja." Nita tersenyum tipis, begitu juga Mey yang membalas senyumannya.


Terlebih dahulu Nita mengetuk pintu, dan salah satu guru yang baru saja ke luar dari ruangan menyuruh keduanya segera masuk. Saat memasuki ruangan, mereka dikejutkan dengan kehadiran Naila yang tengah terduduk, kepalanya menunduk.


Bu Patmi duduk di depannya, sembari memarahi gadis itu. "Saya sangat kecewa sama kamu Naila!"


Ayah Naila pun di sana, tengah terduduk di samping putri kesayangannya.


Beberapa guru yang sedari tadi menyaksikan perseteruan panas antara Bu Patmi dan putri atasannya memilih ke luar ruangan. Bersiap untuk mengajar murid-muridnya yang tengah menunggu di kelasnya masing-masing.


"Permisi, Bu?" ucap Mey lirih.


Bu Patmi baru saja menyadari kehadiran Mey, mempersilakan kedua gadis itu duduk.


"Mey, kamu mau cari pelaku dari permasalahan yang menimpa kamu, kan?" tanya Bu Patmi. Mey hanya mengangguk pelan. "Dia orangnya! Naila orangnya!" sergah Bu Patmi sembari menunjuk Naila.


Kali ini ayah Naila terdiam, tidak mengelak perkataan wanita paruh baya itu. Dia lebih banyak diam karena bukti rekaman suara itu meruntuhkan kepercayaannya pada putri kesayangannya.


Mey dan Nita saling pandang. Sangat terkejut dengan pernyataan gurunya yang mengungkapkan kebenaran, padahal selama ini menjadi permasalahan besar dalam hidupnya.


"Nita, tolong siarkan berita ini ke radio!" pinta Bu Patmi. "Biar semua siswa-siswi tahu kelakuan Naila. Biar dia tahu rasa!"


"Jangan, Bu!" Mey mengelak.


"Kenapa, Mey? Naila sudah membuat nama kamu tercoreng di depan teman-teman kamu," ucap Bu Patmi mengingatkan muridnya yang merupakan korban dari kelakuan Naila.


"Enggak usah, Bu. Saya sudah memaafkan Naila. Dan ... saya harap kejadian ini tidak diulangi lagi," ucap Mey seraya tersenyum, menatap Naila yang tengah tertunduk malu.


"Naila! Kamu dengar perkataan Mey? Meskipun Mey sudah memaafkan kamu, tapi Ibu tetap tidak puas jika kamu tidak meminta maaf secara langsung di depan Ibu!" sergah Bu Patmi mendesak Naila.


Naila tetap bergeming di tempatnya. Memilin baju seragam, sembari sesekali mengusap kasar air matanya.


Dia malas meminta maaf, apalagi pada Mey. Selama hidup Naila tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun karena yang dia tahu semua perbuatannya itu tidak pernah salah. Naila merasa dirinya selalu benar.


"Naila! Cepat minta maaf!" Bu Patmi kembali menegaskan permintaannya.


Gadis itu menatap ayahnya yang tak lagi membela dirinya. Sang ayah lebih banyak diam, hanya menatapnya sekilas tanpa mengucapkan apa pun.


"Mey, gue minta maaf!" ucap Naila malas, setelahnya berlari begitu saja tanpa permisi.


Nita yakin, Naila malu bercampur marah yang tertahankan.


☘☘☘


Setiap hari minggu Mey selalu menyempatkan main ke rumah Nita. Selagi tak ada rencana berlibur, rumahnya dijadikannya sasaran untuk menghabiskan waktu kosong.


Di rumah Nita, gadis berambut panjang itu tidak hanya sekadar bermain dengan sang pemilik rumah. Akan tetapi, juga membantu membereskan rumah.


Seperti saat ini, keduanya tengah membersihkan kolam berenang di halaman belakang rumahnya.


Kalau soal membersihkan kolam, kedua gadis itu lebih bersemangat karena bisa sambil bermain air. Beres-beres rumah yang tidak membosankan, pikir keduanya.


Kebetulan hari ini Ardian sedang keluar rumah. Jadi Nita bisa lebih leluasa bermain air tanpa ada yang melarangnya.


"Capek juga ya, Mey?" tanya Nita. Sesekali dia mengusap peluh di pelipisnya.


"Iyalah. Kita kan ngebersihin kolam udah hampir dua jam. Itu gila, kan?" tanya Mey sembari tertawa menyadari keduanya yang terlalu betah bermain air.


"Yaudah kita istirahat dulu yuk!" ajak Nita. "Lagian kolamnya juga udah bersih."


Nita melongok kolam renangnya yang sudah terisi air bersih kembali. Kemudian terduduk di kursi kayu dekat kolam. Ada beberapa macam hidangan makanan yang tersaji di mejanya.


Mey menyeruput segelas jus jeruk yang sudah disediakan sebelumnya. Begitu pun Nita yang meneguk jus jeruk itu sampai tandas.


"Nit ... aku kepikiran sesuatu nih," ucap Mey.


"Mikir apa lagi sih?" tanya Nita, mulutnya mengunyah keripik kentang yang tersedia di dalam stoples kecil.


"Siapa, ya yang udah ngebocorin info itu ke Bu Patmi?" tanya Mey pada Nita yang masih sibuk mengunyah keripik.


"Iya juga, ya, siapa kira-kira pelakunya?" tanya Nita akhirnya.


To be continue