Someone In There

Someone In There
22. Sesuatu Untuk Diperjuangkan


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


Meysa senyum-senyum di depan ponselnya saat membaca pesan dari Reza. Perutnya geli sendiri seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di dalamnya.


Gadis itu merasa sangat bahagia akhir-akhir ini karena Reza semakin sering mengiriminya LINE. Seperti malam ini saja, Meysa tengah terbaring di ranjang sambil menatap plafon kamarnya. Menunggu notifikasi LINE dari Reza.


Boneka hadiah dari Reza, dia simpan di meja belajar. Diberi tempat khusus pada kotak kaca.


Ponsel berkedip. Berbunyi.


Pesan pertama dari Reza setelah azan isa. Meysa tersenyum sampai pipinya terasa nyeri.


"Iya, Kak?" jawab Meysa cepat, sampai tidak berani keluar dari ruang obrolan. Dia menaikturunkan layar sambil menunggu, agar saat pesan balasan dari Reza muncul, dia bisa langsung membacanya.


"Tumben jam segini belum tidur.


"Gue telepon, ya?


"Enggak keberatan, kan?"


Pipi Meysa sudah merah kalau dilihat dari cermin sekarang juga. Kenapa Reza tiba-tiba ingin meneleponnya?


Gadis itu melempar ponselnya ke kasur asal, menutup wajahnya dengan bantal sambil menjerit histeris. Kedua kakinya menendang-nendang udara. Seluruh udara yang ada di ruangan itu berubah panas sampai-sampai Meysa merasa sesak sendiri.


Tak mau membuat Reza menunggu lama, dia meraih lagi ponselnya dan membalas 'iya' kepada pemuda itu sambil bergegas berdiri, berlari ke arah cermin untuk melihat wajahnya sendiri.


Berselang beberapa jenak, telepon masuk. Meysa langsung mengangkatnya.



"Halo, Kak."


"Iya."


Hening. Meysa dan Reza sama-sama diam. Terlebih lelaki itu, dia merasa canggung sendiri. Rasanya semua kalimat yang akan dia ucapkan menggantung di ujung lidah dan lenyap begitu saja.


"Aneh rasanya gue nelepon lo kayak gini," kata Reza. Di seberang sana dia menggosok tengkuknya pelan.


"Tapi aku senang," balas Mey pelan, nyaris berbisik.


Ini kali pertama Reza menelepon Meysa. Lelaki itu malah salah tingkah sendiri. Di kamarnya yang remang-remang, dia membaringkan tubuh di ranjang sambil menatap pendar lampu warna putih terang.


Meysa adalah gadis yang berhasil membuatnya memikirkan seseorang tanpa diminta. Meysa adalah orang yang sukses membuatnya peduli pada orang lain. Benar-benar di luar dugaan.


Dalam hening, Meysa jadi teringat soal percakapannya dengan Nita tempo hari. Mereka membahas tentang pelaku yang membocorkan informasi soal Naila pada Bu Patmi. Guru matematika itu mengatakan jika Reza-lah pelakunya.


Ini kesempatan untuknya bertanya.


"Kak, apa Kakak yang udah laporin Naila ke Bu Patmi?"


Reza diam mendengar pertanyaan itu dari Mey. Kenapa mendadak sekali?


"Aku denger sendiri dari Bu Patmi, kalau Kakak orang yang udah bocorin semuanya. Kenapa, Kak?" tanya Meysa lagi.


Beberapa jenak mereka diam. Jam dinding berdetak kencang. Jarumnya terus bergerak mengitari angka-angka.


"Gue ... gue cuma enggak suka sama dia. Itu aja."


"M-maksudnya?"


"Apa lo masih butuh alasan kenapa gue melakukannya? Sementara gue sendiri gak perlu alasan kenapa gue lakuin itu?"


"Bu-bukan gitu, Kak. Aku ...." Meysa tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Dia ingin mengatakan jika Reza adalah sosok yang dingin dan tidak pernah peduli orang lain. Apa yang membuatnya ikut campur dalam urusannya. Hanya itu, tapi lidahnya terasa kaku. Kelu.


"Bukannya cewek kayak dia layak dapat hukuman kayak gitu?"


Lamunan Meysa buyar saat Reza mengatakannya.


"Ehm. Hanya saja ... aku ... ngerasa enggak enak sama Naila." Dia mengangguk pelan, walau Reza di kamarnya tidak tahu jika Meysa melakukan itu.


"Sekarang yang terpenting lo udah bebas dari tuduhan itu."


"Terima kasih, Kak."


Ini bukan yang diinginkan Reza. Tujuan dia menelepon gadis itu bukan untuk membahas soal siapa pelaku yang membocorkan informasi itu.


Tak mau percakapannya semakin merambat dan suasananya menjadi buruk, Reza buru-buru mengalihkannya.


"Besok gue boleh jemput lo lagi?"


"Aku enggak mau bikin Kakak repot."


Reza bangkit dari rebahannya, kemudian duduk di bibir kasur.


"Alasan klasik."


Mey tersenyum di kamarnya.


"Jadi?" tanya Reza.


"Selama Kakak enggak repot," jawabnya.


"Laksanakan, Nyonya." Reza di kamarnya mengangkat tangan, hormat. Senyumnya mengembang secerah warna cat di dinding kamar.


"Kalau gitu, aku pamit tidur, Kak."


"Gue belum bisa tidur," jawab Reza. Percakapan ini akan berakhir, dan dia tidak menginginkannya.


"Kenapa?"


"Sebelum dapat ucapan selamat malam dari lo."


Demi apa pun itu, Mey ingin membanting ponselnya ke lantai saking senangnya. Untuk yang kedua kalinya, dia menutup wajahnya dengan sepuluh jari sambil berteriak. Apa benar ini Reza? Mey tidak mengerti sama sekali.


Walau ragu setengah malu-malu, dia mengucapkannya pelan dibarengi saliva yang meluncur cepat ke tenggorokannya.


"Se-selamat malam, Kak," bisik Mey. Apa Reza tidak tahu jika ini adalah hal memalukan? Meysa tidak sanggup.


"Apa? Aku enggak denger," katanya.


Jantung gadis itu seperti dihantam dengan benda tumpul saat Reza menyebut dirinya sendiri dengan 'aku' dan bukan 'gue' seperti yang biasa dilakukannya selama ini. Benar-benar romantis.


"Selamat malam!" Meysa berteriak dan menutup teleponnya sepihak. Dia melempar ponselnya ke arah kasur dan berlari di kamar sambil menjerit-jerit seperti orang gila. Tidak peduli jika mamanya datang dan heran dengan tingkahnya yang aneh.


Meysa senang, besok Reza akan menjemput sekolah.


Keesokan harinya Reza benar-benar datang. Dia membawa dua helm. Mey berangkat sekolah bersamanya. Bahkan di kelas gadis itu membagi kisahnya pada Nita. Mey sangat senang dan itu tak akan dia lupakan begitu saja.


Sepulang sekolah, Reza sudah menunggunya di gerbang. Lelaki itu tersenyum secerah matahari ketika melihat Meysa muncul dari ambang gerbang pertama bersama Nita.


"Aku duluan, Nita." Mey melambai pada Nita dan berlari mendekati Reza yang sedang duduk di motor merahnya.


Mereka berangkat diikuti tatap semua anak yang berjalan di sisi jalanan. Semuanya terheran-heran pada Meysa yang mampu mendapatkan hati Reza si patung es.


Saat sampai di rumah, Meysa mengajak Reza untuk mampir.


Merasa tidak sedang buru-buru, Reza pun akhirnya menyetujui.


Meysa menyuguhkan stoples kacang dan perasan jeruk segar untuk Reza. Mereka duduk di kursi depan menghadap taman hijau.


"Baguslah. Gue juga senang."


Meysa tahu jika Reza memang tipe orang yang seperti itu. Dia akan tetap memakai 'gue' untuk dirinya sendiri. Tidak masalah.


"Aku enggak mau semuanya berakhir, tapi ...." Gadis itu menggigit bibir bawahnya. "Aku bener-bener penasaran. Apa yang membuat Kakak berubah drastis." Itu lancang. Meysa tahu, tapi pertanyaanya tak akan hilang jika dia masih memendamnya sendirian.


Reza diam. Tatapannya kembali dingin dan Meysa merasa bersalah karena hal itu. Namun beberapa jenak kemudian kembali cerah seperti sebelumnya. Dia tersenyum.


"Aku mulai menyukaimu," jawabnya.


**


Hari Sabtu semua anak bubar lebih cepat. Guru-guru mengadakan rapat dadakan. Kelas dua dan kelas satu pulang, sementara kelas tiga tetap di sekolah untuk mengurusi hal-hal persiapan ujian.


Karena ekskul libur, Nita jadi banyak melamun di rumah. Komik-komiknya sudah selesai di baca, dan novel yang ada di perpustakaanya tidak ada yang baru.


Gadis itu bersiap akan ke rumah Meysa. Namun langkahnya terhenti saat matanya menatap Ardian yang tengah duduk di tepi kolam renang. Lelaki itu menjuntaikan kakinya ke dalam air.


Nita kepo dan mendekat.



(


Pict : Webtoon Love Doesnt Talk)


"Aku tahu ada yang aneh sama kamu, Kak." Nita duduk di samping lelaki itu tanpa permisi. Ardian masih tak menjawab, hanya menggoyangkan kaki di air. Dia berusaha sesopan mungkin bicara dengan Ardian, tidak seperti biasanya.


"Kamu enggak kayak biasanya. Ada apa?" Gadis itu menaruh kedua tangannya di dada, menilik dari atas sampai bawah lelaki yang duduk di sampingnya.


"Apa semua ini soal Meysa?" tanya Nita kemudian, membuat Ardian terbelalak, tersadar dan menoleh secepat pertanyaan itu masuk ke telinganya.


Dari tatapan yang jelas terlihat, Nita langsung tahu jika semua ini ada kaitannya dengan sahabatnya itu.


"Sudah kuduga."


Ardian tidak mengerti, apa mencintai akan segila ini? Semenyakitkan ini? Dia sama sekali tidak mengerti.


"Hufht ...." Ardian menghela napas, membusungkan dadanya yang sesak, kemudian mengembuskannya perlahan.


"Cerita aja. Aku akan bantu kalau memang bisa aku bantu."


Meski pada awalnya Ardian terlihat enggan untuk terbuka, tapi pada akhirnya dia percaya jika adiknya akan sedikit meringankan beban pikirannya tentang Meysa.


"Awalnya gue pikir itu cuma rasa kagum. Lama kelamaan, gue makin sadar, ada sesuatu yang aneh muncul dalam diri gue saat lihat dia."


Nita mengangguk. Membiarkan kakaknya itu membuka semuanya.


"Dimulai saat itu, saat pertama kali gue lihat dia. Dengan mata berbinar dia bertanya soal name tag yang gue pake. Sorot matanya penuh semangat. Gue pikir itu cuma rasa kagum karena gue langsung suka sama dia. Gadis itu kembali muncul di hari kedua, dan lenyap lagi, tapi Tuhan kasih jalan buat gue. Dia masuk ekskul sastra. Lebih dekat dengan gue."


Nita lagi-lagi mengangguk. Dia tahu itu. Sahabatnya memang penuh semangat.


"Senyumnya, semangatnya, semua yang dia lakukan di ekskul bikin gue semangat menjalani semua hal yang selama ini membuat gue lelah, Nit. Gue bahagia hanya dengan lihat dia tersenyum di ruang ekskul."


Ardian menunduk. Pundaknya naik-turun. Ada rasa sakit yang terus menjalar di dadanya, naik ke kepala. Tanpa sadar, bulir air menetes di matanya.


"Hari itu, seterusnya, dan esoknya-esoknya lagi, gue makin sadar kalau gue jatuh cinta sama dia. Tapi ... semesta enggak sebaik itu. Setelah semua yang gue lakukan buat dia, ternyata cinta gue hanya bertepuk sebelah tangan."


Ardian menutup wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan satunya dia gunakan sebagai penopang tubuh yang terbungkuk, menunduk menatap air beriak.


"Meysa menyukai Reza. Sosok yang menjadi alasan dia datang ke Adipura. Dengan semangat, dia cerita soal sosok yang selama ini menjadi misteri di mimpinya."


Nita merasakan sakit yang Ardian rasakan. Dia menggigit bibir bawahnya pelan, kemudian mulai mengusap punggung kakaknya yang bergetar.


"Jadi, alasan Kakak jauhin Meysa supaya hati Kakak enggak sakit lagi? Kakak enggak mau patah hati?" tanyanya.


Ardian diam.


"Nyatanya, semakin Kakak menjauh, hati Kakak malah semakin sakit dari sebelumnya? Kakak enggak bisa melakukan itu?" tambah Nita. Air mata di pelupuk matanya sudah penuh. Bibir gadis itu bergetar.


"Gue cuma bisa mencintainya dalam diam. Walau kenyataan enggak bisa seindah apa yang gue harapkan, tapi gue tulus cinta sama dia. Gue tahu, siapa pun yang akan jadi pacarnya, gue hanya berharap dia bahagiain Meysa."


"Kalau beneran cinta, perjuangkan, Kak. Bukan malah menjauh. Kakak berhak bahagia. Bukan malah sakit karena cinta yang Kakak buat sendiri." Nita menggeleng. Dia tidak mau kakaknya sakit hati seperti ini.


Nita paham jika perihal hati bukan sesuatu yang bisa dikendalikan. Cinta datang begitu saja tanpa diketahui. Namun sebagai manusia, kita bisa memutuskan untuk tetap melanjutkan cinta yang tumbuh tanpa dihendaki itu, atau berhenti dengan luka yang malah lebih besar dari sebelumnya.


"Kakak hanya harus berjuang, Kak. Jangan menyerah."


Nita menepuk lelaki itu, kemudian berdiri. Tak lama, meninggalkannya. Nita tahu Ardian butuh sendirian.


Ardian tersenyum.



**


"Meysa, malam ini kamu ada acara?" tanya Ardian dalam telepon.


Meysa merasa kaget karena Ardian tiba-tiba meneleponnya. Beberapa hari ini lelaki itu menjauhinya. Namun entah karena angin apa mendadak menghubunginya.


Meysa diam, menunggu sesuatu yang akan menyadarkannya dari lamunan.


"Kalau kamu enggak sibuk, aku mau ajak kamu main malam ini."


Bagaimana ini? Rasanya seperti canggung sendiri ketika seseorang yang selama ini menjaga jarak dengannya malah mengajaknya jalan. Tak memungkiri, Meysa merasakan senang di hatinya saat Ardian kembali seperti semula.


"A-aku ... aku kosong, Kak. Baiklah."


"Sekalian gue mau ngomong sesuatu," kata Ardian.


"Ka-kalau gitu ketemu malam ini."


Ardian mengangguk di kamarnya, kemudian menutup teleponnya untuk segera bersiap.


Setelah diceramahi oleh Nita, Ardian jadi sadar jika cintanya harus diperjuangkan. Apa pun risikonya nanti, dia tetap harus menerima. Karena akan sangat memalukan jika dia menyerah sebelum berperang.


Ardian yakin, apa pun yang jadi pilihannya, semua memiliki risiko. Maka dari itu, pilihan mana pun akan dia tanggung akibatnya.


Malam Minggu ini, dia akan menyatakan perasaanya pada Meysa. Tak peduli apa pun yang akan Meysa katakan, dia siap menerima semuanya.


Cintanya tak boleh menunggu lebih lama lagi. Ardian harus mengutarakan semuanya.


Dengan penampilan sederhana. Namun mampu membuatnya bersinar dan tampak segar dengan kaus biru dongker pendek dan celana panjang warna krem.


Dia mengendarai motor scoopy-nya menuju rumah Meysa. Tadi sebelum berangkat dia menghubungi Meysa untuk segera bersiap.


Ardian semangat, sampai hatinya terasa hangat terbakar.


Namun semuanya harus hancur ketika dia melihat jika di gerbang rumah gadis itu ada Reza yang tengah berbincang dengan Meysa. Reza memakai motor merahnya sedang mengajak gadis itu keluar malam Minggu.


Kedua tangan Ardia mengepal erat. Sesak kembali menyeruak di dadanya.


"Apa gue selalu jadi orang yang kalah?" gumamnya saat melihat Meysa menaiki motor Reza dan mereka berangkat keluar kompleks. Melewati Ardian yang tengah bersembunyi di belakang salah satu rumah.


Ardian kembali tersakiti.