
Part ini ditulis oleh Cloveriestar
Menurut Meysa, janji adalah hutang yang harus dibayar. Gadis itu sudah menepati janjinya membereskan misi yang diberikan oleh Reza.
Sebelum upacara bendera dimulai, dia menunggu Reza di taman belakang sekolah. Dua buku tebal tengah didekapnya. Dia duduk di bawah pohon kersen sembari menunggu.
Tak membutuhkan waktu lama, lelaki itu datang menghampiri Mey. Hari ini dia datang lebih awal, tidak boleh terlambat karena harus segera mengumpulkan buku salinan.
"Kak, aku sudah menyelesaikannya tepat waktu," ucap Mey, buku tersebut disodorkan pada Reza. "Berarti sekarang Kakak yang harus menepati janji."
Reza menerima buku dari Mey dengan senang hati. Terlebih dahulu membuka tiap lembar kertas. Setelah pekerjaan Meysa dirasa memuaskan, lelaki itu kembali menutup buku tersebut, kini pandangannya menatap sang gadis yang tengah menunggu jawaban.
"Oke. Enggak masalah."
Mey tersenyum saat mendengar jawaban Reza yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
Beruntungnya waktu upacara terbilang masih lama, jadi membuat keduanya memiliki waktu beberapa menit ke depan untuk membicarakan hal yang Mey ingin bicarakan.
"Kenapa, ya mimpi itu membawaku pada masalah yang sangat berat?" Mey menghela napas pelan setelah mengucapkan kalimat yang dari dulu ingin ditanyakan.
Reza menatap sang gadis. Keduanya saling bertatapan sepersekian detik, tapi cepat Mey mengalihkan pandangannya.
"Tujuanku sekolah di Adipura juga karena mimpi itu. Mimpi itu seperti nyata. Mimpi itu seperti menarikku untuk masuk ke dalamnya." Reza tidak menimpali ucapan Mey, mendengarkannya baik-baik.
"Dan ... mimpi itu pula yang membuat hidupku hancur. Banyak permasalahan yang bermunculan begitu saja. Aku terlibat dari permainan Naila yang membuat namaku tercemar tidak baik. Bu Patmi sangat kecewa, teman-teman menjauhiku kecuali Nita."
Sejujurnya Reza merasa iba pada gadis. Dia hanya bisa terdiam tak menimpali tiap ucapan Meysa. Sesekali kepalanya manggut-manggut seolah sudah paham.
Tak berselang lama, bel sekolah berbunyi. Mengingatkan siswa-siswi Adipura untuk segera berbaris di lapangan karena upacara akan segera dimulai.
🍀🍀🍀
Hari sebelum terungkap masalah ....
Reza memainkan gitar sembari bernyanyi. Tanpa disadari, dia tersenyum ketika terbayang sekelebat wajah Mey. Entahlah, kenapa akhir-akhir ini dia selalu memikirkannya.
Setiap mengingat gadis itu, dia juga selalu tersenyum tak jelas. Terkadang, Reza ingin cepat bertemu dengan Mey.
"Arrrggghhh ... kenapa, sih gue mikirin dia!" Reza mengusap wajahnya dengan kasar.
Gitar cokelat yang sedari tadi didekapnya, kini dibiarkan tergeletak di atas meja. Dia beranjak dari duduknya keluar ruangan eskul musik.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat seorang gadis yang tengah menatap ke arahnya. Dia tersenyum ramah, melangkah perlahan menghampiri Reza yang kini mematung di tempat.
"Hai, Kak Reza!" sapanya sembari melambaikan tangan kanannya.
Reza tersenyum simpul.
"Gimana kabarnya, Kak?" tanya Naila basa-basi. Reza hanya tersenyum.
"Baik," jawab Reza singkat.
Naila menarik lengan kakak kelasnya dan mengajak Reza mendudukkan pantatnya di sebuah kursi panjang pojok tembok. Meski malas, tapi Reza duduk di sebelah putri dari kepala sekolah Adipura.
Untuk menghilangkan rasa jenuhnya, lelaki itu memainkan ponsel, berselancar di salah satu sosial medianya.
"Nanti malam Kakak sibuk enggak?" tanya Naila.
"Sibuk. Kenapa?" tanya Reza, alisnya terangkat sebelah.
"Awalnya, sih mau ngajakin ke pasar malam, tapi enggak apa-apa sih. Hehe." Naila menggaruk pelipisnya yang tak gatal, salah tingkah jika berada di dekat Reza. Jantungnya pun berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
"Oh."
"Btw, sekarang Meysa gimana?" tanya Naila.
"Maksudnya?" tanya Reza bingung. Nama gadis yang kini tengah membayangi pikirannya, lagi-lagi dijadikan topik pembicaraan.
"Masih dekatin kamu enggak, Kak?" tanya Naila.
Sebelum menjawab, Reza terlebih dahulu mencerna perkataannya. Dia sedikit bingung dengan pembicaraan Naila yang selalu tertuju pada Meysa.
"Kelihatannya gimana?" Bukannya menjawab, Reza malah bertanya balik. "Emang kenapa? Kok lo nanyain Meysa?"
"Ya mungkin aja, kan dia menjauh dari Kakak karena malu dicap murid enggak berprestasi setelah insiden perseteruan sama Bu Patmi," jawabnya seraya tersenyum.
"Perseteruan gimana maksudnya?" tanya Reza pura-pura tidak mengetahui permasalahan yang menimpa Mey.
"Emang Kakak enggak tahu?" tanya Naila pelan.
Reza mengingat pembicaraan Mey mengenai permasalahan dengan Bu Patmi yang membuatnya terpuruk. Dijauhi oleh teman-temannya, bahkan guru pun ikut kecewa.
Dengan cepat Reza menggeleng, berpura-pura tidak tahu. Pembicaraannya dengan Naila membuatnya tertarik untuk membahas gadis yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya.
"Emang beneran Mey yang ngelakuinnya?" tanya Reza, kedua matanya membulat, berpura-pura tertarik.
Naila tertawa. "Ya enggaklah."
Reza mengerutkan dahinya heran. Sebegitu senangnya Naila saat teman sekelasnya sendiri terkena masalah, dan lebih herannya lagi dia mengetahui jika Meysa tidak melakukan hal itu, tapi dia tak berusaha untuk memberitahu Bu Patmi.
Lelaki itu semakin heran pada Naila, curiga padanya. Kemungkinan besar gadis di sampingnya merupakan dalang di balik permasalahan ini. Dia jadi teringat pada pembicaraan mereka tempo hari.
Di hari itu Naila mengajaknya untuk bekerjasama menyingkirkan Meysa, tapi gadis itu tidak menjelaskan bagaimana rencana ke depannya.
Reza semakin yakin jika Meysa difitnah.
"Enggak? Kok lo tahu?" tanya Reza, jemarinya berhenti menari di atas layar.
"Ya tahu dong. Masa sih kelakuan aku sendiri enggak tahu," jawabnya sembari tertawa, tangan kanannya menutupi mulutnya.
Jawaban gadis itu benar-benar membuat Reza yakin dengan firasatnya. Naila pelaku pencuri jawaban itu, sedangkan Mey hanyalah korban dari kelakuan bejatnya.
Terbersit ide merekam ucapan Naila yang begitu blak-blakan membicarakan kelakuannya sendiri. Diam-diam Reza menghidupkan tombol rekaman.
"Kelakuan lo? Maksudnya?" tanya Reza lagi.
Naila kembali tertawa. "Aku yang ambil kunci jawaban itu, dan aku yang susun biar semua dilimpahkan pada Mey. Kasian, Meysa yang malang. Dia difitnah curi kunci jawaban matematika pelajaran Bu Patmi sampai hasil ulangannya pun dapat nol," jawab Naila. Dia begitu antusias membicarakannya, sampai tak menyadari jika rekaman suaranya tengah disimpan di dalam ponsel Reza.
"Jadi ... lo yang ngelakuin ini semua, Nai?" tanya Reza terkejut.
"Iya dong. Rencanaku berhasil. Semua teman-teman menjauhinya, karena mereka pikir kepintaran si Mey ini hasil dari curian. Bahkan semua guru kecewa, enggak ada lagi yang percaya kalau nilainya selalu tinggi. Karena mereka beranggapan kelakuan Meysa itu sudah sejak lama," jawabnya dengan panjang lebar.
Setelah dirasa suara Naila cukup menjadi bukti untuk Bu Patmi, Reza menyudahi rekaman itu dan menyimpannya.
🍀🍀🍀
"Nita ... tolong siarkan berita ini ke siaran radio!" pinta Bu Patmi. "Biar semua siswa-siswi tahu kelakuan Naila. Biar dia tahu rasa!"
"Jangan, Bu!" Mey mengelak.
"Kenapa, Mey? Naila sudah membuat nama kamu tercoreng di depan teman-teman kamu," ucap Bu Patmi mengingatkan muridnya yang merupakan korban dari kelakuan Naila.
"Enggak usah, Bu. Saya sudah memaafkan Naila. Dan ... saya harap kejadian ini tidak diulangi lagi," ucap Mey seraya tersenyum, menatap Naila yang tengah tertunduk malu.
"Naila! Kamu dengar perkataan Mey? Meskipun Mey sudah memaafkan kamu, tapi Ibu tetap tidak puas jika kamu tidak meminta maaf secara langsung di depan Ibu!" sergah Bu Patmi mendesak Naila.
Naila tetap bergeming di tempatnya, memilin baju seragam, sembari sesekali mengusap kasar air matanya.
"Naila! Cepat minta maaf!" Bu Patmi kembali menegaskan permintaannya.
Gadis itu menatap ayahnya yang tak lagi membela dirinya. Sang ayah lebih banyak diam, hanya menatapnya sekilas tanpa mengucapkan apa pun.
"Mey ... gue minta maaf!" ucap Naila malas, setelahnya dia berlari begitu saja tanpa permisi. Nita yakin, Naila malu bercampur marah yang tertahankan.
Meysa merasa lega, akhirnya permasalahan itu terselesaikan dengan sendirinya. Nita pun ikut senang karena sahabatnya terbebas dari tatapan rendah teman-temannya.
Pada saat keluar ruangan, Nita mengomeli Mey. Dia begitu marah pada sahabatnya, karena menurutnya Meysa terlalu baik pada Naila, membiarkannya begitu saja.
"Seharusnya si Mak Lampir itu dikasih hukuman yang setimpal, Mey! Dia udah bikin masalah segede ini sampe semua teman-teman ngehindar. Bahkan semua guru pun kecewa," ucap Nita, memijat pelipisnya karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit menghadapi permasalahan Meysa.
"Udahlah, Nit, yang terpenting sekarang masalahnya udah beres. Jadi tenang deh." Mey menghela napasnya, beban berat dalam hidupnya seakan terhempas jauh.
"Bukan gitu, Mey. Tuh si Naila harus dikasih pelajaran. Biar tuh orang tahu rasa, dan enggak bakalan gangguin hidup Meysa-ku lagi," jawab Nita, kemarahannya berada di puncak, membuat Meysa terkekeh geli mendapati wajah sahabatnya yang memerah.
"Nita, udahlah jangan bahas Naila lagi, ya? Aku yakin kok kalau Naila pasti malu sendiri sama kelakuannya. Bahkan papanya pun selaku kepala sekolah di sini enggak membela anaknya terus-terusan, kan?" Meysa menepuk bahu Nita membuat gadis itu merasa sedikit tenang.
"Iya, sih. Naila pasti malu banget karena kelakuan bodohnya kebongkar," timpal Nita lagi.
"Iya," jawabnya.
"Mey ke kantin yuk? Laper nih." Nita mengelus perutnya yang rata.
"Yaudah ayo. Kasian tuh cacingnya kelaparan, haha."
Di tengah kebahagiaan Meysa yang tak lagi terbebani oleh permasalahan, kini Naila bergantian berada di posisi menangisi permasalahannya yang dibuat sendiri.
Dia terduduk di bawah pohon kersen belakang sekolah. Tempatnya sepi, karena jarang sekali dikunjungi oleh para siswa-siswi Adipura.
Naila menutupi wajahnya dengan kedua tangan, gadis itu tak berhenti terisak karena terlalu sakit saat kembali mengingat kelakuannya sendiri.
"Siapa sih yang udah ngebocorin masalah ini?" ucap Naila disela isaknya. Dia berusaha mengingat orang-orang di sekitarnya, tapi cepat dia menggeleng karena tidak bisa berpikir dengan jernih di saat dirinya tengah marah.
"Siapa pun orangnya, gue enggak akan pernah maafin dia sampai kapan pun!" sergahnya. Kedua matanya mengilat, dan kedua tangannya pun mengepal.
To be continue