
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Rasanya seperti semua pertanyaan tentang mimpi itu hilang dari pikirannya. Akhir-akhir ini, kedekatannya dengan Reza seolah mengikis rasa ingin tahu Mey terhadap alasan datangnya sosok Reza dalam mimpinya.
Maksudnya, Meysa tak seantusias dulu tentang apa makna dibalik semua mimpinya.
Meski begitu, dia tetap dibuat merenung beberapa kali dalam beberapa kesempatan tentang ingatan kilas-balik yang muncul di kepalanya. Siapa sosok itu? Sosok anak kecil yang memakan buah apel itu. Apakah dia pernah berteman dengan Reza saat masih kecil? Mengapa dia melupakannya?
Meysa menggeleng lagi. Dia benar-benar tidak mengerti.
Rasanya separuh ingatannya terbuang, tapi Mey tidak bisa mengingat alasannya.
Secepat pemikiran itu datang, secepat itu pula dia mengenyahkannya.
"Oke, Mey. Tenang. Tenang. Kak Reza udah bilang kalau semua itu hanya mimpi. Jadi ...." Meysa mencoba mengelus dadanya sendiri sambil mengembuskan napas pelan. Berusaha setenang mungkin. "Jadi itu pasti mimpi. Bunga tidur."
Dia berjalan di koridor. Hari ini kelas berjalan sangat cepat. Semua anak dibubarkan setelah zuhur. Meysa pun tidak ikut ekskul karena Ardian bilang hari ini kelasnya diliburkan.
Gadis itu tidak tahu harus melakukan apa selain pulang ke rumahnya lebih cepat. Nita pun tak menemaninya karena dia sedang di ruang ekskul.
Akhirnya Meysa memutuskan pulang saja. Namun saat di koridor perpustakaan setelah menaruh buku paket, dia bertemu dengan Reza. Lelaki itu berjalan ke arahnya sambil membawa gitarnya.
Meysa diam di depannya.
"Hai," sapa Reza diikuti senyum merekah. Manis. Menunjukkan giginya yang rapi.
"Halo, Kak." Meysa menjawab ramah.
Reza menilik penampilan Meysa dari atas sampai bawah. Gadis itu terlihat membawa tasnya.
"Pulang?"
Meysa mengangguk.
"Oh, oke."
Rasanya kecanggungan berputar-putar di sekitar Meysa. Oksigen yang harusnya masuk ke hidung untuk ditransfer ke paru-paru, mendadak lenyap, membuatnya terasa sesak salah tingkah. Meysa kikuk sendiri.
"Jadi ...," ucap Meysa, menggigit bibir bawahnya.
"Jadi mau langsung pulang?" sambar Reza sambil menurunkan gitarnya. Benda itu ditaruh di depan kakinya, sementara pegangannya dia luruskan di depan perut.
"Rencananya begitu."
"Lo enggak keberatan kalau ... gue ajak jalan?" tanya Reza ragu. Dia merasa tubuhnya panas-dingin saat menanyakan hal itu. Reza takut jika Meysa menolaknya, dan itu akan sangat memalukan karena bisa menjatuhkan reputasi 'Cowok Dingin' yang selama ini dipegangnya.
Namun di luar dugaan, Meysa mengangguk pelan.
"Aku enggak ada acara. Boleh."
Reza menarik kembali gitarnya, kemudian dia pegang erat dengan tangan kanan. Gitar itu menggantung di samping paha kanan.
"Kalau gitu, lo tunggu gue di parkiran. Gue mau simpen gitar dulu."
Meysa hanya mengangguk bersamaan dengan Reza yang mulai berbalik ke arah ruang ekskul musik. Gadis itu merasa dadanya sehangat selimut di musim dingin. Ada bunga-bunga yang terbang di kepala dan jutaan kupu-kupu terbang di perutnya.
Inikah rasanya seseorang yang kasmaran? Meysa menggeleng dan berlari ke parkiran.
Gadis itu membatin. Membayangkan ke mana Reza akan membawanya. Darah di seluruh tubuhnya memanas. Meysa tak percaya dengan semua ini. Reza benar-benar berubah drastis.
"Gue enggak bawa dua helm. Kita enggak jauh. Lo enggak papa?" tanya Reza ketika dia sampai di parkiran.
"Kita mau ke mana?"
"Ke suatu tempat," ucap Reza.
Meysa hanya bisa mengangguk pelan dan mulai naik ke motor merah milik Reza.
Dengan susah payah gadis itu mendudukkan pantatnya di jok. Kedua tangannya terlipat di dada. Meysa takut jika harus berpegangan pada Reza, tapi dia juga tidak ingin jika harus terjatuh dari motor saat motornya mulai melaju.
Meysa pun mencengkram pegangan besi di belakangnya, kemudian memejam erat. Bersiap untuk semua kejutan yang akan menghantam dadanya saat motor itu mulai berjalan.
Namun tak terjadi apa-apa.
"Lo serius setakut itu naik motor?" tanya Reza. Lelaki itu sedang membalik tubuhnya menatap Meysa yang terpejam ketakutan. Tangannya di belakang bergetar. Meysa kemudian membuka mata saat mendengar Reza bertanya.
"A-aku ... aku cuma takut kebawa angin, Kak. Hehe."
"Kalau gitu pegangan," ucap Reza.
"Ini aku pegangan," jawab Meysa. Menggerakkan kedua tangannya di belakang. Reza hanya menggeleng pelan.
"Gue punya pundak gratis buat pegangan. Sebelum dikasih tarif per menit, lo mau pegangan sekarang?" tanya Reza. Gadis itu menahan tawanya sekuat mungkin. Dia tak ingin Reza melihatnya menertawakannya.
"Aku pegangan ke belakang aja, Kak."
"Gue enggak mau disangka bawa nenek-nenek ke pasar lho," kata Reza memutar bola mata. Meysa hanya mengerutkan dahi tak mengerti.
"Ma-maksudnya?"
"Lo pernah lihat nenek-nenek naek motor? Mereka pegangan ke belakang. Lo mau disamain kayak mereka?" tanya Reza menahan tawa. Dia ingin tetap terlihat sok dingin dan keren. Walau bibirnya kedat-kedut tak bisa berbohong.
Muka gadis itu memerah. Bagaimana bisa disamakan dengan nenek-nenek?
"Enggak!" ucap Meysa cepat. Dia kemudian melepas pegangannya, dan mulai memegang pundak Reza dari belakang.
"Kalau gitu, gue berangkat sekarang."
Setelah yakin Meysa memeganginya, Reza pun memajukan motornya meninggalkan parkiran menuju tempat yang akan jadi tujuannya.
**
Belakangan ini kehidupan Meysa terasa jauh lebih baik dan berwarna dari sebelumnya. Dia tidak tahu apa penyebabnya, tapi satu hal yang diyakini, jika semuanya adalah yang terbaik untuknya.
Reza berangsur berubah. Meysa bisa merasakan semua itu dari sikapnya yang mulai mencair jadi hangat. Tak ada lagi sosok Reza yang dingin sebeku kutub. Hilang semua kekakuan dan kebekuan lelaki itu.
Reza kini nyaris mirip dengan sosok yang ada dalam mimpinya.
Beberapa kali dia mengajak Meysa pulang bareng, walau tetap saja Meysa menolak karena dia tidak ingin orang-orang menganggapnya aneh atau malah menyebarkan gosip yang buruk.
Di sekolah saat bertemu, Reza pasti menyempatkan menyapa. Entah itu sekadar bertanya kabar, atau tentang jam pelajaran yang Meysa ikuti sebelum istirahat.
"Nita," ucap Meysa.
"Ya, Zeyengg. Ada apa?" jawab Nita sambil memilih polaroidnya. Nita memisahkan gambar yang menurutnya bagus di sebelah kanan, dan yang kurang menarik di sebelah kiri.
"Apa yang bikin Kak Reza berubah, ya?" tanya Mey.
"Berubah gimana maksudnya?"
"Kamu perhatiin'kan akhir-akhir ini sikapnya yang jauh dari sebelumnya?"
"Ya, terus?"
"Oke, terus?" Nita tak mengalihkan tatapannya sedikit pun dari polaroid di depannya. Kedua tangannya lihai memilih.
"Apa dia mulai mendekatiku?"
"Kalau iya, terus kenapa?" tanya Nita lagi. Meysa makin jengkel dengan jawaban 'terus' yang selalu saja dijawabnya. Gadis itu menyambar semua polaroid di depan Nita dalam sekali usap.
"Ih, apaan, sih Meey. Kamu bikin polaroidnya acak-acakan lagi," kata Nita jengkel.
"Lagian, aku ajak ngobrol kamu enggak menghargai banget. Tahu, ah. Aku mau ke kantin." Meysa beranjak. Melihat sahabatnya mulai berjalan, Nita ikut berdiri dan mencekal tangan Meysa secepat kilat.
"Hehe. Yaudah, aku minta maaf. Aku traktir, yaa di kantin. Tapi sebelum itu bantu aku dulu beresin ini. Kamu boleh cerita apa pun setelahnya."
Mungkin memang ini risikonya berteman dengan Nita. Meysa harus banyak bersabar menghadapi semua kelakukan Nita yang kadang membuatnya naik darah. Namun itu bukan sesuatu yang membuat pertemanan mereka hancur.
Meysa dengan telaten membantu Nita memungut polaroid dan memasukkannya ke loker milik Nita di ruang ekskul fotografi.
"Kamu tahu, Mey kalau kisah kamu itu mirip dongeng? Rasanya bagus kalau dijadiin novel. Andai aku bisa menulis novel kayak kamu," kata Nita. Dia mengunyah pisang cokelatnya dengan lahap.
"Itu cerpen yang aku lombain kemarin, Nita." Mey mengaduk es lemonnya.
"Coba aja kalau kamu jadiin novel. Cerita tentang cewek yang cari sosok cowok dalam mimpinya. Haha. Bagus tuh."
"Nanti aku pikirkan. Aku pernah bahas ini sama Kak Ardian. Setelah dia kasih buku 'For Oreo' aku makin semangat. Aku juga terinspirasi banget sama ChocoNextar. Dia penulis idolaku, sekaligus guruku."
"Emang kenal?" tanya Nita penuh selidik. Mey hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Nah, kemarin---" Meysa tak sempat menamatkan ucapannya saat ponsel yang dia taruh di meja berkedip. Dia mendapatkan LINE baru.
"Siapa?"
"Kak Reza. Dia ngajak aku main besok," ucap Meysa setelah membaca pesannya. Jelas, gadis yang ada di hadapannya memelotot. Pisang yang tadi dikunyahnya memelesat ke tenggorokan, membuat dia susah napas.
"G-gila. Kalian udah jadian?" tanya Nita setelah meminum es lemonnya sekali teguk.
"Enggak." Meysa nyaris memuntahkan air lemon yang ada di mulutnya mendengar pertanyaan Nita barusan.
"Gimana dia bisa tahu LINE kamu?" tanya Nita.
Meysa tak menjawab, malah tersenyum, membayangkan perjalanan hari itu bersama Reza ke sebuah tempat yang indah. Mereka sampai di sebuah jembatan melengkung dari bambu. Di bawahnya terdapat sungai yang jernih dan bebatuan licin mengilap. Di sepanjang aliran sungai tumbuh pohon kersen berguguran.
Meysa menghabiskan harinya bersama Reza sambil mendengarkan musik, berbagi headset. Tepat saat akan pulang, Reza meminta ID LINE milik Meysa. Lelaki itu bilang jika sewaktu-waktu memerlukan sesuatu, bisa menghubungi Meysa dengan mudah.
"Heh, ditanya malah bengong. Jadi kamu mau nerima tawaran dia?" Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Meysa.
"Kenapa enggak?"
"GILA!" teriak Nita, membuat semua orang di kantin menoleh ke arahnya.
**
Mencintai sendirian itu menyakitkan. Tentu saja. Berjuang tanpa pernah diperjuangkan pun sama sakitnya. Melelahkan. Itu semua bisa Ardian rasakan dengan jelas di hatinya.
Mencintai diam-diam, bukan hal yang menyenangkan.
Rasanya semangat dalam hidupnya lenyap belakangan ini. Dia kehilangan nafsu makan. Tak ingin mengerjakan apa pun, bahkan sampai kena marah Ayana karena terlalu sering terpuruk dan menelantarkan ekskul sastra.
Ardian tahu hatinya sedang tidak baik-baik saja. Jika dia bisa melihatnya sendiri, mungkin akan terlihat kepingan-kepingan yang mulai berjatuhan akibat retakan yang ada. Nasib baiknya, Ardian tak perlu melakukan semua itu.
Terlalu menyayat hati.
Ingatan tentang Meysa yang begitu nyaman bersama Reza malam itu membuatnya makin terjatuh dalam. Nyatanya selama ini wanita yang dia cintai, mencintai laki-laki lain.
Harusnya Ardian tahu itu.
Hari ini, dia bermaksud untuk kembali ke sekolah. Ardian terus mendapat panggilan dari Ayana. Gadis itu tidak bisa mengurus ekskul sendirian. Walau malas, Ardian tetap datang.
Ketika di gerbang, dia bertemu dengan Meysa yang tengah berdiri sendirian. Dada Ardian berdegup kencang. Dia seperti seseorang yang bersalah tengah mencoba bersembunyi. Hatinya mencelus begitu saja.
Saat tatapan Meysa terarah kepadanya, Ardian tidak bisa bersikap baik-baik saja. Dia salah tingkah. Sampai gadis itu melambai dari kejauhan dan menyapanya dengan semangat seperti biasa.
"Hai, Kak. Aku jarang lihat Kakak di kelas." Meysa tersenyum ramah. Senyuman yang membuat hati Ardian hancur. Bagaimana jika senyum itu bukan untuknya?
Ardian membalas dengan dehaman kemudian pergi begitu saja.
Ada yang terasa menusuk di dadanya ketika dia melakukan itu.
"Kak Ardian kenapa, ya?" gumam Meysa.
Siangnya, ketika di kantin, Meysa dan Nita kembali bertemu Ardian. Lelaki itu sedang bersama teman-temannya. Saat mereka melewati meja makan Mey, dia sempat berhenti sejenak, terdiam lama kemudian beranjak dari sana tanpa sepatah kata pun.
Ardian memilih tempat paling jauh. Benar-benar menjauh.
Nita jelas paham ada yang salah dengan kakaknya. Dia menilik lelaki itu sejak kepergiannya dari meja makannya. Nita akan berbicara. Namun ketika dia bangkit, Meysa menanyakan soal puisinya yang baru selesai dan minta dikomentari.
Bahkan saat berada di ruang ekskul yang kembali aktif pun, Ardian sama saja.
"Kak aku udah selesai," ucap Meysa ketika di ruang ekskul. Dia menyerahkan tugas puisinya pada Ardian, tapi lelaki itu hanya mengambil bukunya dan berlalu begitu saja tanpa komentar atau sepatah kata pun.
Meysa makin dibuat penasaran. Apa salahnya? Apa yang membuat Ardian seperti itu kepadanya?
Saat pulang sekolah, Meysa memutuskan menunggu Ardian di depan ruang ekskul. Dia akan bertanya apa kesalahannya. Tepat ketika lelaki itu keluar, Meysa langsung menghadangnya di ambang pintu dengan merentangkan kedua tangan.
"Kak, ada yang mau aku tanyain."
Ardian diam. Merasa itu jawaban untuknya, Meysa melanjutkan ucapannya sambil menurunkan kedua tangannya.
"Kak, apa yang salah? Katakan. Kenapa Kakak menjauh?" tanya Meysa. Suaranya pelan dan lembut. Tatapannya nanar. Merasa bersalah.
Ardian tak menjawab. Dadanya semakin sakit. Dia tak tahu harus melakukan apa. Melihat Meysa berdiri dan merasa bersalah seperti itu malah membuatnya semakin terluka.
Tak mau menjadikan dirinya makin larut dalam kesedihan, Ardian menggeser tubuh Meysa yang ada di hadapannya ke samping, kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Meysa begitu saja.
Embusan angin dari tubuh Ardian menerpa pipi dan rambut Mey. Menyesakkan. Meysa terperanjak dan tersadar begitu saja.
"Kak," katanya, mencekal tangan Ardian. "Aku mohon. Jelasin ada apa? Kenapa Kakak menjauh? Apa salahku?"
Kamu enggak salah, Mey, batin Ardian. Dia mengenyahkan tangan Mey dan pergi meninggalkan gadis yang kini mulai menitikan air mata penuh rasa bersalah.
"Kak Ardian!" teriak Meysa.
Bahkan di rumah, Ardian hanya mengurung diri. Bermain gitar dengan kesedihan yang terus menggerogotinya. Hanya nyanyian sendu yang menemani. Lelaki itu benar-benar galau.
Mungkin suatu saat nanti.
Kautemukan bahagia, meski tak bersamaku.
Bila, nanti kau tak kembali.
Kenanglah aku sepanjang hidupmu.