Someone In There

Someone In There
28. Keputusan Sulit


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


Reza baru saja keluar dari sebuah ruangan yang ada di lantai dua, saat tiba-tiba ponsel di saku celana pendek selututnya berdering. Sebuah telepon masuk.


Lelaki itu menahan langkahnya di udara, kemudian merogoh saku celananya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang sebuah buku sampul cokelat krem bergambar langit cerah.


Panggilan masuk itu dari Meysa.


Alis lelaki itu naik sebelah. Aneh. Tidak biasanya Meysa meneleponnya lebih dulu.


Tanpa membuang waktu untuk Meysa menunggu, dia langsung mengangkat teleponnya. Berselang beberapa jenak setelah keheningan saat sambungan mencoba stabil, suara lembut dari sosok yang selalu dirindukannya terdengar.


"Kakak lagi sibuk, kan?" tanya Meysa di seberang sana. Gadis itu menatap cermin yang ada di hadapannya sambil memainkan ujung rambut, tergerai ke depan.


"Tadinya, sih. Sekarang enggak. Aku baru mau mandi. Kenapa, ya?"


"Pesan dariku enggak dibaca," kata Mey, suaranya memelan. Setengah berharap jika Reza tidak mempermasalahkan itu, karena bukan hal itulah yang akan dibahasnya. Sambil mencabuti rambut mati, Mey kembali melanjutkan, "tapi enggak apa. Kak, apa hari ini kita bisa ketemu?"


"Oke. Di mana?" tanya Reza. Dia kembali berjalan, menuruni tangga untuk sampai di ruang tamu. Buku di tangannya dia taruh di lemari, samping bingkai foto, setelahnya merebahkan diri di sofa empuk.


"Kebun Apel Kak Seha," jawab Meysa.


"Kesukaan Seha," koreksi Reza cepat, membuat Meysa di sana terkekeh-kekeh, walau di tempatnya sekarang, Reza tidak bisa melihat itu.


"Kalau gitu, kita ketemu di sana tiga jam dari sekarang. Masih ada yang harus aku selesaikan," ucap Meysa. Gadis itu sudah bersiap menjauhkan ponselnya dari telinga, saat tiba-tiba Reza menahannya dengan satu kata yang membuat dia terhenti di udara.


"Kangen," kata Reza.


Mungkin hanya perasaanya saja, atau memang udara di kamar Meysa mendadak berubah. Membakarnya hidup-hidup sampai dia merasa kerongkongannya kering mendadak. Meysa susah payah menelan ludahnya sebelum menjawab.


"Jangan lama-lama, gue kangen," tambah Reza, kemudian mematikan sambungan teleponnya sepihak. Meysa tersentak, tersadar kemudian menelan ludahnya kencang. Memaksa apa pun benda yang tersangkut di tenggorokannya, meluncur bersamaan dengan keterkejutannya.


Meysa pun mematikan ponselnya, menaruhnya di meja rias. Dia harus segera membereskan semua in. Apa pun yang menjadi masalah dalam kehidupannya harus segera dia selesaikan.


Sore ini, Nita mengajaknya bermain bersama Ardian dan Naila. Nita bilang kakaknya ingin merayakan sesuatu. Namun Meysa tidak diberitahu secara jelas tentang perayaan itu.


Sebelum menyudahi dandannya, mengoleskan lipbalm dan bedak bayi secukupnya, dia sempat meraih gelang, pemberian Ardian saat pertama kali masuk sastra saat itu, yang tergeletak di dekat ponselnya.


Meysa jadi ingat perjuangannya berada di sana, dan bagaimana dia bertahan untuk apa yang dia yakini benar. Gelang itu menjadi bukti jika apa yang dia perjuangkan tidak sia-sia. Menjaganya dengan jiwa dan raganya.


Mendadak Meysa teringat tentang Seha. Jika benar lelaki itu pernah jadi bagian dari ekskul sastra, apakah Seha juga memiliki gelang yang sama sepertinya? Gadis itu mengangkat gelang berbahan tali hitam itu setinggi dada, meniliknya saksama.


Andaikan saja Seha punya, dia ingin sekali menyimpannya. Menjadikan benda itu satu-satunya kenangan yang akan terus diingat dalam sisa umurnya.


"Aku akan tanyakan sama Kak Reza," gumamnya, kemudian memasangkannya kembali di lengan kiri, meraih ponsel dan tas selempang, kemudian bergegas keluar kamar. Nita dan Ardian sudah menunggunya di depan gerbang.


Benar saja, ketika gadis itu membuka pintu rumah setelah pamit dari mamanya, Nita, Naila dan Ardian sudah ada di balik gerbang rumahnya. Mereka bersandar pada mobil milik ayahnya Nita sembari melambaikan tangan. Di samping Nita, Naila tengah melipat kedua tangan sambil tersenyum jutek.


Gadis itu tetap bersikap seperti orang sombong meski hatinya sudah dimiliki oleh Meysa. Namun Meysa tidak mempermasalahkannya.


Sehangat matahari, Meysa merasakan hatinya meremang. Ada rasa bahagia dan haru yang dia rasakan selama kakinya melangkah mendekati gerbang. Meysa bener-benar bersyukur jika hidupnya dikelilingi orang-orang baik dan sayang kepadanya.


"Lama!" teriak Nita. Dia seolah baru bertemu dengan orang yang hilang selama berabad-abad saat melihat Meysa. Tanpa menunggu Mey menutup gerbang, dia langsung melompat dan memeluknya erat. Naila tersenyum dan Ardian mengangguk.


"Kalau gitu, ayo berangkat sekarang," kata Ardian.


Nita, Naila, Meysa dan Ardian pun mulai berangkat ke suatu tempat untuk merayakan sesuatu, yang sampai sekarang pun Meysa tidak tahu untuk apa perayaan itu diadakan.


Mereka sampai di restoran terbuka. Nuansa Chinese dengan dominasi warna merah. Nita bilang, tempat itu sudah dipesan khusus oleh Ardian, dan gadis rambut sebahu itu menambahkan informasi, kalau perayaan itu dibuat untuk sesuatu, semacam pencapaian Ardian.


Meysa juga tidak terlalu memaksa ingin tahu. Dia hanya mengangguk saat diceritakan semuanya oleh sahabatnya itu.


Ardian memisahkan diri dengan Meysa. Mereka memilih tempat dekat dengan tebing yang dibatasi oleh pagar bambu berhiaskan kain-kain merah merona. Setiap dua meter ada lampu dari minyak tanah yang terus menyala walau masih siang hari.


"Mey," kata Ardian. Dia menaruh sendok dan garpunya di piring, kemudian kedua matanya yang terang diarahkan kepada Meysa. Memaksa gadis itu salah tingkah. Tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Iya?"


"Aku masih menunggu jawaban kamu, Mey," kata Ardian sambil masih memainkan garpu yang tadi sempat dia taruh di piring. Meysa makin tidak enak. Dia harus bagaimana menyikapi semua ini? Terlebih Ardian menagih jawabannya.


Mendadak perutnya terasa melilit, mulas. Keringat bercucuran di pelipis dan tangannya.


Apa yang harus dia katakan?


"Aku harap kamu mau menjawabnya hari ini. Menunggu itu melelahkan, Mey. Terlebih pada orang yang sama sekali kita tahu kalau dia itu tak akan pernah datang ke tempat di mana kita menunggu."


Mendengar itu membuat Meysa makin merasa bersalah.


"Aku pernah bilang soal ini, kan?" tanya Ardian. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah gelang ekskul sastra. Meysa mematung di tempat. Merasa aneh dengan semuanya. Apa sebuah kebetulan?


"Iya? Itu sesuatu yang berharga untuk kami, anak ekskul sastra," jawab Mesya.


"Dijaga sepenuh hati, bagai belahan jiwa," tambah Ardian, menilik gelang itu lekat-lekat.


"Lalu?"


"Aku akan menitipkan ini sama kamu, Mey, dan kamu tahu apa artinya?"


Meysa menggeleng.


"Aku memberikan seluruh hatiku buat kamu. Aku bener-bener serius sama kamu, Mey."


Angin di tebing sana, mendadak terasa mengembus besar. Menerbangkan dedaunan di pohon yang tumbuh sepanjang tebing. Meysa mendadak tak bisa berkata-kata. Apa yang harus dia ucapkan untuk menjawab semuanya?


"Ta-tapi, Kak---"


"Aku kasih kamu waktu sampai besok. Kamu boleh pegang gelang ini. Kembalikan padaku kalau kamu menolakku, tapi kamu boleh memakainya kalau kamu menerimaku," ucap Ardian. Suaranya parau, dan setengah dari dirinya yang jauh di dalam sana sudah mencoba untuk tidak menangis.


Meysa ragu-ragu. Haruskah dia berikan gelang itu pada Ardian lagi dan menolaknya sekarang juga, atau tetap mengambilnya dan meminta waktu lagi untuk menjawab semuanya?


Meysa tidak tahu.


**


Naila dan Nita mulai akrab. Mereka mengobrol, walau lebih banyak Nita yang mengambil alih pembicaraan. Naila hanya mendengarkan sambil manggut-manggut setuju saja.


Nita sempat protes pada Meysa tentang keputusannya menerima Naila sebagai teman, dan memasukkannya ke dalam geng mereka. Namun Meysa menjelaskan jika Naila sebenarnya adalah orang yang baik.


Di awal-awal, memang Nita tidak percaya itu. Namun lama kelamaan, dia mulai menerima keberadaannya, saat gadis berambut ikal pirang itu sering membelikannya komik baru dan pisang cokelat.


Naila menunjukkan keseriusannya berubah kepada Nita dengan cara menjadi teman yang baik dan meninggalkan geng lamanya. Nilai-nilai di sekolahnya pun perlahan membaik, dan kepala sekolah memutuskan untuk membatalkan membawa Naila ke rumah neneknya di kampung.


Naila mulai sadar, jika menjadi anak kepala sekolah itu bukan berarti dia harus bersikap sombong dan bertingkah semena-mena. Hanya karena dia cantik dan popular, tak berarti bisa berbuat semaunya.


Meysa-lah yang banyak membuatnya sadar akan semua itu, dan kini Naila bersumpah akan menjadi sahabat baik untuknya.


Di perjalanan pulang setelah acara makan-makan itu, Meysa bilang pada Ardian kalau dia ingin menunjukkan sesuatu kepadanya di suatu tempat.


Ardian juga tidak banyak membantah. Dia membawa mobilnya ke mana Meysa menunjukkan arah, dan mereka sampai di sebuah perkebunan apel.


"Jadi kita mau beli apel, Mey?" tanya Ardian saat mereka berempat turun dari mobil di parkiran. Meysa hanya tersenyum, menggeleng, kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan teman-temannya.


"Tunggu, Meysa-ku!" teriak Nita. Naila di belakangnya mengikuti sambil melipat kedua tangan di dada. Ardian menyusul.


Berlarian di antara pohon-pohon apel membuat Meysa merasa seperti ada di masa lalu. Ingatan demi ingatan di kepalanya seakan-akan terkorek secara otomatis dan menyembul begitu saja.


Meysa ingat soal Seha yang tengah berlari mengejarnya hari itu. Mereka sedang bermain kucing-kucingan.


Perlahan tapi pasti, Meysa menyusuri lorong kebun apel, mencium aroma buah segar itu sembari mencoba mengingat semuanya dengan jelas.


"Aku lebih suka jadi burung, deh Mey. Bebas, kan? Aku jadi bisa lihat kebun apel ini dari atas sana, dan lihat dunia ini dari atas. Kamu mau juga, kan?" tanya Seha di sela-sela istirahat mereka. Meysa kecil terkekeh-kekeh sambil mengangguk setuju pada perkataan Seha barusan.


Tanpa sadar, Meysa yang sedang berjalan di lorong kebun apel menitikan air mata. Dia ingat semuanya. Kenangan itu, dia mengingatnya lagi. Kata-kata yang dia dapatkan dalam mimpinya soal burung, dia ingat lagi. Seha. Meysa merindukannya.


Setelah cukup jauh berjalan dan melewati orang-orang yang juga memetik apel, akhirnya Meysa sampai di tempat favorit Seha. Batang pohon mati di dekat pohon apel yang rimbun dan penuh buah.


"Ada seseorang," kata Naila, menunjuk sosok yang berdiri tegap di depan pohon dari kejauhan. Mereka mulai dekat dengan Meysa yang kini berdiri berhadapan dengan seseorang yang Naila tunjuk tadi.


"Itu Kak Reza," jawab Nita. Naila merasa hatinya mencelus saat melihat Reza. Masih ada kebencian yang bersarang di hatinya pada lelaki itu. Namun sekuat tenaga Naila mengingat ucapan Meysa. Dia harus memaafkan. Menjadi pemaaf.


Ardian mengernyit. Pikirannya berputar ke mana-mana. Apa yang Reza lakukan di sini?


"Hai, Kak." Meysa menyapa, dan Reza hanya tersenyum. Mata lelaki itu menatap ke belakang tubuh Meysa, ada banyak sekali orang.


"Lo ngapain di sini?" tanya Reza pada Ardian yang kini berhadapan dengannya. Tatapan mereka beradu, dan Meysa bisa merasakan sesuatu yang tidak mengenakan dari pancaran keduanya.


"Lo sendiri ngapain?" tanya Ardian.


***


Ardian duduk dekat Nita, pada alas rumput, di sampingnya ada Naila dan Reza berada tidak jauh dari batang pohon, duduk di belakang Meysa yang masih anteng membelakangi mereka. Menatapi pohon mati yang jadi tempat Seha dan dirinya bermain dulu.


Tidak ada yang bicara. Semua diam. Reza dan Ardian saling pandang, tapi sesekali menatap ke arah Meysa yang mulai sesenggukan. Keduanya sigap, dan sama-sama berdiri untuk menenangkan Meysa yang tengah menangis.


Namun Meysa menggeleng, tahu betul apa yang akan mereka lakukan.


"Sekarang aku ingat semuanya. Aku ingat semua yang pernah aku lupakan," ucap Mey di tengah isak tangis. Dadanya terasa sesak, dan dia mulai berbalik. Mendunduk karena tidak ingin siapa pun melihatnya menangis seperti itu.


Meysa mulai menceritakan kenangannya dengan Seha, dan apa hubungannya dengan Seha. Sedekat apa mereka di masa lalu.


"Mey," ucap Nita lirih. Naila di sampingnya diam memerhatikan.


Rasa sakit di dadanya terus memelesat ke atas. Menancap di otaknya, dan Meysa merasakan kepiluan yang amat karena harus mengenang sosok yang selama ini dilupakannya.


Namun, secepat rasa sakit itu datang, secepat itu pula dia menghindarinya. Meysa harus kuat. Dia menggeleng. Bukan, kedatangannya ke sini bukan untuk menangis lagi. Dia sudah bisa menerimanya.


Meysa menyeka air matanya perlahan dengan lengan bajunya, kemudian mendongak dan berusaha tersenyum.


Kedatangannya ke sini untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting, baik itu untuk Reza maupun bagi Ardian.


"Kak," ucap Mey, itu kata pertamanya setelah beberapa jenak menangis. "Aku sudah siap menjawabnya," tambahnya.


Reza dan Ardian sama-sama tersentak. Mereka tidak tahu, ke mana arah mata Meysa tertuju saat mengatakan itu. Namun yang jelas, mereka sama-sama yakin jika ucapan itu ditujukan untuk diri mereka.


Ardian tidak pernah tahu Reza menyatakan cintanya pada Meysa, dan Reza pun begitu.


"Untuk Kak Ardian," kata Mey lagi. Itu membuat Reza terkejut, dadanya terasa dihantam oleh benda tumpul dengan keras. Kenapa malah Ardian?


"Aku harap Kakak sudah mendengar dengan jelas apa yang aku ceritakan tadi. Jadi ...." Meysa menarik napasnya dalam-dalam, ditahannya kuat-kuat, kemudian diembuskan perlahan bersamaan dengan jawaban baru,"Aku minta maaf sama Kakak, aku ... enggak bisa menerima cinta Kakak. Dan ini, aku kembalikan gelang Kakak. Terima kasih buat semuanya."


Meysa merogoh saku celananya, berjalan ke arah Ardian. Lelaki itu mematung. Telinganya mendadak penuh. Dia sama sekali tidak bisa membedakan suara apa yang masuk ke pendengarannya. Kedua tanganya kaku, dan Meysa meraih satu tangan Ardian kemudian menaruh gelang itu di sana.


"Mey," ucap Ardian. Aliran aneh meluncur di dada kirinya. Mendadak perutnya melilit, mual. Dia ingin menangis, tapi rasanya sangat sulit.


Tangan kanan yang masih terbuka dan jadi tempat gelang itu mendarat, bergetar kencang. Mengantarkan rasa sakit yang terus menggulung di hatinya.


"Aku minta maaf, Kak."


Meysa berbalik ke arah Reza, yang jelas sekali terlihat terkejut pada apa yang sedang terjadi. Dia sama sekali tidak menyangka jika Ardian menyatakan perasaan pada Meysa. Sama seperti dirinya.


Setengah berharap Meysa menerimanya setelah dia melihat penolakan itu. Namun setengah dirinya yang lain, dia merasa tak pantas untuk hal itu.


"Dan untuk Kak Reza, aku sangat berterima kasih buat semuanya. Semua yang udah Kakak lakukan untukku, tapi maaf, aku juga enggak bisa membalas cinta Kak Reza. Karena aku ... aku ...." Meysa menahan lagi ucapannya. Dadanya terasa sakit lagi. "Karena aku hanya jatuh cinta pada Kak Seha, bukan pada Kak Reza. Maaf kalau selama ini aku bikin Kakak salah paham." Meysa menggeleng. Merasa bersalah mengatakan itu kepada orang yang selama ini baik kepadanya.


Naila dan Nita sama-sama diam. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.


Ardian menunduk.


Reza diam terkejut.


"Kak Ardian, Kak Reza, aku bener-bener minta maaf, tapi ... hatiku hanya untuk Kak Seha. Aku enggak bisa."


Kedua lelaki itu sama-sama diam. Ada amarah terpancar dari mereka. Nyaris saja Reza hilang kendali dan mengamuk. Namun urung, dan sadar jika cinta bukan sesuatu yang harus dipaksakan.


Ardian tersenyum saat hatinya terluka. Dia berjalan ke arah Meysa, menepuk pundak gadis itu pelan dan berkata,"Enggak papa, Mey. Kalau cuma harus menunggu, aku udah biasa soal ini. Aku udah nunggu kamu lama banget, kalau harus nunggu sebentar lagi sampai kamu mau menerimaku, itu udah enggak menyakitkan lagi. Aku enggak masalah."


Meysa mulai menangis lagi.


"Kalaupun kamu enggak bisa nerima aku, senggaknya, jangan berubah, ya? Tetap kayak gini. Tetap jadi Meysa yang aku sukai. Tetap jadi sosok yang selalu aku cinta, sampai nanti kamu balik mencintaiku," tambah Ardian. Matanya sudah basah dan dia menangis.


Reza tidak bisa mengatakan apa pun. Berpuisi seperti Ardian bukan keahliannya. Mereka jelas beda. Hanya saja, mereka memiliki kesamaan dalam satu hal, hari ini mereka sama-sama sedang sakit hati oleh wanita yang sama.


***


"Kita masih bisa jadi sahabat," kata Meysa. Dia memeluk Reza dan Ardian bergantian.


"Enggak papa, Mey. Santai," jawab Reza. Walau hatinya masih terasa sakit dan belum bisa menerima faktanya.


"Haha. Bener tuh kata si Reza," tambah Ardian.


Meysa tiba-tiba ingat pada gelang sastra. Dia kemudian menanyakannya pada Reza sebelum mereka berpisah untuk pulang.


"Apa Kak Seha punya gelang ini?" tanya Mey sambil menunjukkan benda itu pada Reza. Secepat benda itu muncul, secepat itu pula Reza menyambarnya.


Sejenak dia diam. Menimbang. Tampak berpikir.


"Dulu ada, tapi gue enggak tahu dia simpan di mana," jawab Reza, mengembalikan gelang berliontin buku dan bolpoin itu. Meysa tampak kecewa dengan jawabannya. Dia kemudian menoleh kepada Ardian.


Tatapannya jelas, dia minta untuk pulang sekarang.


"Tapi gue punya sesuatu buat lo," kata Reza.


"Apa?" jawab Meysa.


"Ini," katanya. Dia menyerahkan sesuatu kepada Meysa, dan gadis itu terbelalak. Terkejut.