
Bab ini ditulis oleh Cloveriestar
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswi SMK Adipura berhamburan keluar kelas, sebagian dari mereka melangkah ke arah kantin.
Namun kelas X TKJ tidak bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan, karena harus kembali duduk ketika Bu Patmi selaku guru matematika menggebrak meja sekeras-kerasnya di depan murid.
Semua siswa-siswi yang berada di sana tampak terkejut dengan kedatangan Bu Patmi yang tiba-tiba dengan wajah marah. Mereka saling berbisik karena tak mengerti dengan kemarahannya.
"Siapa yang sudah mengambil kunci jawaban ulangan harian matematika?" tanyanya dengan keras, membuat gendang telinga mereka nyaris pecah. Sesekali dia membenarkan kacamata kotak yang seringkali melorot ke bawah hidungnya.
Mereka saling pandang mencari sumber masalah, tapi mereka menggeleng lemah karena tak merasa bersalah. Meski guru berkacamata itu menatap mereka dengan penuh amarah, tetap saja tak ada satu pun yang mengacungkan tangan, malah berbisik-bisik pada teman sebangku.
"Tidak ada yang mau mengaku?" tanyanya. Kakinya melangkah perlahan ke arah depan meja murid.
"Jika kalian tidak mau mengaku juga, maka akan Ibu kasih hukuman yang berlaku untuk kalian semua tanpa ada kecuali."
Sontak mereka terkejut dengan ucapan itu. Nita menyikut lengan Mey, membuatnya menoleh dengan wajah ditekuk.
"Lho kok gitu sih, Bu? Semua ini enggak adil," ucap salah satu siswa yang berani mengutarakan kritikannya. Dia berada di barisan paling belakang, dekat tembok. Namanya Pandu, lelaki paling nakal di antara lelaki kelas X TKJ.
"Hah? Enggak adil? Ibu bertindak adil kepada kalian. Jika tidak ada yang berani mengaku kesalahannya, maka kalian juga kena imbasnya." Jari telunjuknya diarahkan kepada Pandu. Siswa yang selalu membuat guru darah tinggi.
"Kenapa harus saya, Bu?" tanya Pandu, telunjuknya menunjuk dirinya sendiri.
"Apa mungkin kamu, ya? Mungkin kamu biang keroknya!" Pandu bersiap menutup kedua telinganya tuk melindungi diri dari jeweran maut sang guru Matematika.
"Jangan nuduh dulu kayak gitu dong, Bu! Ibukan enggak punya bukti yang kuat kalau saya pelakunya. Bahkan saya juga kalau memang mencuri kunci jawaban itu di ruang guru sangat mustahil, Bu. Sayakan jarang masuk-keluar ruangan itu, paling juga kalau saya ke ruang guru pas melakukan kesalahan doang." Pandu membela diri, membuat Bu Patmi tampak berpikir.
Gadis berambut gelombang di depan Mey mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Semua pasang mata kini tertuju padanya.
Naila. Pemilik wajah cantik sempurna bagai seorang putri dalam dongeng. Kulitnya putih dan bersih. Bulu matanya hitam tebal lentik membuat aura kecantikannya semakin bertambah, hidung mancung dan bibir merah dipoles dengan pewarna bibir yang mencolok.
"Saya setuju dengan ucapan Pandu barusan, Bu. Di antara kami enggak ada yang sering bolak-balik ke sana, kecuali Meysa. Diakan satu-satunya murid kepercayaan para guru, Bu." Semua sorot mata tertuju pada gadis yang kini tengah menatap guru berkacamata kotak itu.
Saat namanya dipanggil, Mey menoleh ke arah gadis itu yang kini tengah menatapnya sinis. Kedua bolanya memutar malas saat manik mata hitam sepekat arang itu menatapnya tajam.
Dahi Bu Patmi mengernyit, pandangannya beralih sepenuhnya ke arah Mey yang tengah menunduk, memainkan bolpoin. Dia menggeleng pelan sembari menatap Naila yang tersenyum kecut.
"Apa mungkin Mey pelakunya, Bu?" tebak Pandu. Nita lantas berdiri tegap saat sahabatnya dituduh sebagai orang tersangka.
"Maksud lo apa, Pand?" tanya Nita. Dia berkacak pinggang di depan Pandu, tak memedulikan ada guru yang menatapnya.
Dia sangat mengetahui Mey, sahabatnya tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Emosinya terpancing, menatap Pandu penuh amarah. Sorot matanya mengilat, menatap semua teman sekelasnya yang kini menatap Mey sinis.
"Ya dong, Pandu. Kita jangan nuduh Mey kayak gitu. Mey itu siswi yang cerdas, masa sih mencuri kunci jawaban. Ya, kan, Mey?" tanya Naila, tersenyum simpul ke arah Mey yang tengah menatapnya datar.
"Jangan sok baik lo!" sergah Nita. Mey menarik lengan Nita dan memintanya untuk kembali duduk di sampingnya.
Bu Patmi melerai perdebatan mereka. Pandu disuruh duduk kembali di tempatnya.
Bu Lizha menyuruh Bu Patmi untuk duduk terlebih dahulu agar emosinya tidak terlalu meluap. Dia juga menyarankan jika permasalahan ini diselesaikan dengan baik-baik tanpa ada perkelahian.
"Kalau boleh tahu, Bu, emang siapa yang nilainya paling tinggi dalam ulangan kali ini?" tanya Naila. Kening Bu Patmi mengernyit seolah tak mengerti apa maksud dari pertanyaan Naila.
"Adheeva Afsheen Meysa, dia mengerjakan dengan sangat memuaskan, bahkan tidak ada kesalahan dalam mengerjakannya sedikit pun. Dia memang pintar."
Tatapan semua orang kini tertuju pada Mey yang tengah menunduk memainkan bolpoinnya, mencoret-coret bukunya. Nita menyikut lengannya sambil berbisik mengucapkan selamat. Mey hanya tersenyum simpul.
"Oops, awalnya gue pikir bukan dia pencurinya, tapi dilihat dari hasil ujiannya, gue jadi yakin, deh," ucap Naila, menyeringai ke arah Mey yang kini menatapnya seolah tak mengerti apa maksud dari ucapannya.
"Apa maksud lo Nai? Nuduh Meysa ambil kunci jawabannya?" tanya Nita menyambar ucapan sang gadis. Naila menaikkan alisnya sembari menyeringai padanya.
Sekuat tenaga Mey mencekal lengan Nita yang nyaris menghabisi Ratu Kelas itu. Kedua tangannya mengepal, tubuhnya bahkan sudah berdiri tegap dan bersiap menghajar Naila saat ini juga.
Kedua gurunya menghalangi. Bu Lizha bahkan mengelus pundak Nita dan menyuruhnya agar tetap tenang.
"Ya, mungkin dia pelakunya, Bu" ucap salah satu siswa di belakang Mey. Dia menunjuk Mey seolah dialah tersangka.
Mey menoleh ke belakangnya dan mendapati lelaki itu yang menatapnya tak suka. Semua teman sekelasnya kini menatap Mey dengan tatapan tak bersahabat, kecuali Nita yang selalu menguatkannya.
"Coba aja diperiksa, Bu. Kali aja di tasnya masih ada kertas jawaban," celetuk salah satu siswi yang merupakan teman Naila.
Teman-teman sekelasnya menatap Mey dengan tatapan menusuk, salah satu siswa bahkan berani menghampiri, memaksanya untuk mengeluarkan seluruh isi tasnya.
"Woy, jangan seenaknya fitnah kayak gitu sama Mey. Dia enggak mungkin mencuri!" sergah Nita. Kemarahannya memuncak, tidak rela jika sahabatnya difitnah seperti itu.
Nita meraih tas Mey sebelum berada di tangan si penuduh. Dia mendekapnya dengan erat, tapi Mey meminta untuk menyerahkan tas miliknya, karena merasa tidak bersalah. Semua siswa-siswi berbisik-bisik membicarakannya.
"Masa sih, Mey?"
Beberapa masih gasak-gusuk membicarakannya.
"Ternyata pintarnya gak murni." Perkataan pedas yang masuk ke telinga Mey membuat hatinya menjerit berkata "tidak".
"Diaaam! Bukan hanya tas milik Mey yang akan diperiksa, tapi Ibu juga akan memeriksa semua tas kalian!" ucap bu Patmi lantang, membuat seisi ruangan mendadak sunyi. Mereka terdiam dan menundukkan kepalanya dalam.
Bu Patmi tidak percaya jika Mey yang melakukan semua ini, karena dia tahu Mey memang gadis yang pintar. Namun dia tetap harus mencaritahu kebenarannya.
Dia meminta dua orang siswa untuk membantu memeriksa tas teman-temannya agar semua permasalahan ini bisa cepat dipecahkan. Bu Lizha juga ikut memeriksa.
Terlebih dahulu Naila dan teman cs yang diperiksa oleh bu Patmi. Ternyata isi tasnya lebih banyak alat-alat kosmetik dibandingkan buku. Nita sampai cekikikan melihat isinya. Dia bahkan berpikir tujuan mereka ke sekolah bukan untuk belajar tapi tata rias.
Kini bagian tas Nita yang diperiksa. Di dalamnya hanya ada beberapa buku pelajaran hari ini, sebuah komik One Piece, dan sebungkus keripik pedas yang disiapkannya dari rumah untuk istirahat nanti.
Bu Patmi beralih ke arah Mey, membuka bagian depan tas, terdapat resleting lain dan saat dibuka pun tak begitu banyak barang, hanya terdapat uang. Dia pun beralih ke bagian resleting yang merupakan tempat untuk menyimpan buku-buku. Bu Patmi merogohnya sampai ke dalam, mengeluarkan beberapa buku pelajaran, ada sebuah novel bersampul biru muda, dan ada sebuah kertas yang tertindih.
Kertas itu diacungkan ke depan dan bu Patmi membukanya untuk memastikan. Sebuah kertas berwarna putih yang serupa dengan kertas kunci jawaban miliknya. Saat dibuka, ternyata benar isinya adalah jawaban matematika yang telah dia persiapkan sebelum ulangan dimulai.
Kemarahannya kini dilimpahkan kepada Mey. Tatapannya diarahkan dengan tajam. Guru berkacamata itu menunjukkan kertas itu pada murid-muridnya yang kini menatapnya tak percaya.
Mey terkejut saat melihatnya, karena merasa tidak pernah mencuri kertas itu, bahkan ulangannya pun murni berkat dari pemikirannya. Nita memandang Mey seolah mencari penjelasan.
Mey menggeleng pelan. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya, sebisa mungkin dia tahan untuk menguatkan diri.
"Bukan, Bu. S-aya ... tidak mencurinya. Nilai itu saya benar-benar murni dari kerja kerasnya." Nita mengenggam bahu Mey, mengingatkannya bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi permasalahan ini. Air matanya mulai meluruh ke permukaan, semua sorot mata menatapnya tak percaya.
Bahkan Bu Lizha yang selama ini mengaguminya, karena gadis itu selalu belajar dengan baik saat dia menerangkan dan selalu jadi orang pertama yang mengumpulkan tugas, tampak kecewa.
Bu Patmi marah besar pada Mey. "Jika bukan kamu pelakunya, kenapa kertas ini ada di dalam tas kamu, Mey?" tanyanya tegas. Kedua mata Mey berlinang air mata, menarik napas panjang, membuat dadanya sesak.
"S-aya tidak tahu, Bu. Saya tidak tahu mengapa kertas itu ada dalam tas saya. Saya benar-benar tidak tahu." Mey menggeleng dan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Mana ada sih pencuri ngaku!" celetuk Naila. Semua teman sekelas Mey pun bersorak setuju dengan ucapan Naila, kecuali Nita.
"Meysa, kamu ikut saya ke ruang BK. Sekarang!" pinta bu Patmi dan berlalu terlebih dahulu. Meysa tak bisa mengelak, jelas jika barang bukti ada di tasnya.
Dia pun mengikuti. Sebelum berlalu, Meysa menoleh ke arah tempat Nita berdiri, tersenyum seolah menguatkan, kedua matanya memerah, tapi tak ada setetes pun cairan bening yang lolos dari pelupuk matanya.
Nita menahan tangis itu di depan Mey.
🍀🍀🍀
Sehari sebelumnya ....
Langkahnya sengaja dipercepat karena hari ini akan melaksanakan ulangan matematika. Bangun kesiangan berdampak juga dengan keberangkatan ke sekolah.
Jarak antara gerbang dan kelasnya cukup jauh.
Bel masuk berbunyi. Bersamaan dengan itu, Mey dapat panggilan dari alam, kebelet pipis. Akhirnya Mey pun memutuskan untuk membereskannya. Di kamar mandi hanya ada dia sendirian.
Mey pun menyelesaikan urusannya.
Tepat di depan pintu, nyatanya dugaan Mey benar jika kelasnya sudah masuk. Nita juga sudah duduk manis di tempatnya, sudah mempersiapkan alat tulis.
Terlebih dahulu Mey mengetuk pintu dan meminta izin kepada Bu Patmi untuk masuk kelas. Dengan senang hati, wania berkacamata itu memperbolehkannya masuk karena Mey tidak terlalu datang terlambat bahkan ulangan baru saja akan dimulai.
Disusul Naila dan gengnya yang baru datang setelah Meysa.
Ulangan pun dimulai.
Lembaran soal mulai dibagikan oleh Bu Patmi. Dia juga memperingatkan kepada murid-muridnya untuk lebih teliti dalam mengisi jawaban dan harus jujur dalam mengerjakannya.
Gadis itu mengerjakannya dengan teliti. Sesekali Mey menggigit pensilnya saat berpikir, tapi setelahnya dia kembali menulis, membuat pensil berwarna biru itu kembali menari di atas bukunya.
Mey melihat kembali hasil kerjanya dengan teliti, setelah dirasa yakin benar, dia segera mengumpulkan lembaran kertas itu ke meja Bu Patmi. Guru itu meraih kertas hasil kerja Meysa. Dia berdecak kagum dengan kepandaian siswinya itu, dalam waktu tidak lebih setengah jam dia selesai mengerjakan.
Dia memperbolehkan Mey keluar lebih dulu untuk istirahat.
🍀🍀🍀
Mey memasuki ruangan persegi bertuliskan "ruang guru" tepat di depan pintunya. Di dalamnya banyak barang-barang berbobot seperti lemari tempat penyimpanan arsip, kursi persegi panjang di dekat pintu, serta beberapa meja yang dikhususkan untuk para guru.
Di ruangan inilah Mey diinterogasi mengenai pencurian kunci jawaban. Bagai di sebuah persidangan, gadis itu duduk sendirian di hadapan beberapa guru yang menatapnya kecewa.
Mey diberikan banyak pertanyaan seperti orang tersangka yang telah melakukan kejahatan.
"Tidak. Saya tidak melakukan pencurian itu. Nilai yang saya dapat, murni dari hasil jerih payah sendiri," ucap Meysa. Kedua matanya merah, air matanya berderai di permukaan pipi, kali ini tak ada lagi senyuman manis yang Mey perlihatkan.
Wajahnya pucat, rambutnya pun berantakan, bahkan dia merasa jika hidupnya seolah hancur dalam sekejap mata.
"Saya tidak tahu harus percaya atau berlaku bodoh, meniadakan peristiwa ini, Mey. Jujur, saya benar-benar kecewa sama kamu." Bu Patmi menggeleng pelan, tatapannya tak dialihkan ke arah lain, dia tetap menatap Meysa yang kini tengah menunduk.
"Saya tidak percaya kalau kamu melakukan hal ini, tapi buktinya kamu yang melakukannya," ucap Bu Lizha memandang Meysa kecewa. Dia bangkit dari duduknya dan kembali ke tempat yang dikhususkan untuknya.
Mey tergugu meratapi nasibnya hari ini. Semua ini fitnah. Entah apa yang harus dilakukannya agar semua orang mempercayai ucapannya.
Tanpa Mey ketahui, di balik pintu ruang guru ada sepasang telinga yang mendengar semuanya. Dia Reza. Pemuda itu baru saja diceramahi oleh Bu Veronica karena tak pernah masuk kelasnya.
Hukuman menyalin buku paket sebanyak 400 lembar harus dikerjakannya dalam kurun waktu satu bulan. Reza hanya mengiakan saja tapi tidak ada niatan untuk mengerjakannya.
Ketika dia berbalik ke arah pintu, tak sengaja manik matanya menangkap sosok gadis yang pernah ditemuinya. Gadis aneh yang selama ini menyapanya dengan sebutan "kakak" dan menemuinya seolah-olah jika keduanya sudah saling mengenal.
Perlakuan Mey yang seolah mengejar Reza membuatnya puas saat menemui gadis itu berada di ruang BK. Bibirnya tersungging ke atas, bahagia saat mengetahui sisi buruk gadis itu. Dia seorang pencuri.
Ternyata gadis itu memang sama sepertinya, biang masalah di sekolah. Bahkan dia lebih nakal darinya, nekat mencuri kunci jawaban ulangan harian.
Meysa memohon kepada Bu Patmi untuk bersedia mendengarkan penjelasannya, tapi dirinya tidak mendengarkan ucapan Meysa. Ucapan itu seolah angin lalu baginya. Gadis itu sampai memohon kepada bu Patmi untuk memercayai dirinya.
Satu lembar kertas mendarat mulus di meja, tepat di hadapan Mey. Kertas itu merupakan jawabannya saat mengerjakan soal. Nilai seratus tak lagi tertera di kertasnya, Bu Patmi mencoretnya dan menggantinya dengan angka nol.
"Ulangan kali ini kamu mendapatkan nilai nol, Adheeva Afsheen Meysa. Saya tidak pernah menghargai orang-orang yang mendapatkan nilai tinggi dengan cara kelicikan, lebih baik nilai rendah tapi berpikir keras dengan otak, bukan mencuri!"
Wajah Mey terangkat, kedua manik hitam arang itu menatap lekat Bu Patmi yang tengah menggenggam bolpoin merah. Lagi-lagi air matanya kembali meluruh, sesekali dia mengusapnya dengan punggung tangan kanannya.
"Saya rasa semua sudah selesai, sekarang silakan tinggalkan tempat ini, Meysa," ucapnya.
Mey menatap kertas hasil kerja kerasnya yang pada akhirnya dia raih. Sebelum keluar ruangan, dia mengulurkan tangannya kepada Bu Patmi, tapi guru berkacamata itu seolah tak menganggap kehadiran Mey.
Mey pun keluar dengan wajah suram. Tubuhnya hampir tak seimbang, terlalu banyak pikiran mengenai masalahnya yang begitu rumit. Dengan langkah tertatih Meysa perlahan keluar dari ruangan.
Bertepatan saat dia membuka pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, kedua kaki Mey seolah terhenti, tubuhnya nyaris membeku bagai ada sebuah gunung es yang mengapit tubuhnya, di hadapannya saat ini ada sosok lelaki yang tersenyum kecut.
"Ternyata hidup lo bermasalah juga." Mey terdiam tak menimpali ucapan Reza yang cukup menyayat hatinya.
"Gue enggak nyangka, di balik muka polos dan sok enggak berdosa itu ada iblis pencuri. Lo nyuri kunci jawaban? Hah, menyedihkan," ledek Reza. Dia pun tersenyum sinis kepada Mey sebelum berlalu pergi.
Mey terpaku di tempatnya berdiri sambil menatap punggung Reza yang perlahan menghilang jauh. Dada Mey terasa sakit.
To be continue