
Part ini ditulis oleh Cloveriestar
Bait-bait puisi ikut tercantum di bagian lembar terakhir cerita. Buku bersampul langit cerah itu dihiasi warna merah muda sebagai pelengkap keindahan covernya.
Baik remaja perempuan ataupun laki-laki, ikut mengantre demi mendapatkan tanda tangan sang penulis. Mereka sangat mengidolakan semua tokoh-tokoh dalam bukunya yang begitu natural saat diceritakan.
"Pokoknya aku suka sama tokoh sahabat si ceweknya, dia lucu dan pencair suasana," komentar salah satu fans pada gadis berambut panjang. Rambutnya kali ini dibiarkan tergerai, di samping kirinya diberi jepitan pita, membuat penampilannya lebih terpukau.
"Kakak ... kalau boleh tanya. Kenapa sih, si cowok yang ada dalam mimpinya itu harus meninggal, Kak?Emang harus, ya?" tanya salah satu perempuan berambut ikal yang berada di barisan paling depan.
Sang penulis yang diberikan deretan komentar itu terdiam. Menyudahi aktivitasnya, meletakkan bolpoin merah muda yang sedari tadi dibuatnya menari di atas buku karyanya.
"Sebuah karya hanya bisa ditentukan oleh sang penulis dan takdir. Sedangkan pembaca, hanya bisa menerima dan mengikuti alur ceritanya." Gadis yang memiliki nama lengkap Adeeva Afsheen Meysa itu akhirnya menjelaskan pada para fansnya.
Gadis kecil yang bertanya akhirnya bungkam. Melangkah mundur karena malu dengan pertanyaannya yang terlalu lancang.
Pertanyaan gadis itu membuat Mey kembali mengingat sosok Seha. Kenangan bersama lelaki itu memang begitu sulit untuk dilupakannya, sampai akhirnya dia memutuskan untu mengabadikan kisahnya dalam sebuah buku yang hari ini berhasil bisa diperjualbelikan.
Gadis itu puas dengan pencapaiannya. Akhirnya dia bisa menghibur para pembaca dengan ceritanya. Di dalam buku itu, dia menumpahkan segalanya tentang Seha yang berawal dari mimpi hingga kenyataan yang memilukan hati.
Genre-nya kisah percintaan remaja, membuat para remaja tertarik untuk segera memeluknya.
"Ada banyak cinta di dunia ini, tapi hanya satu kali seumur hidup kalian bisa merasakan jatuh cinta yang benar-benar sejati." Mey menutup acara launching bukunya dengan kalimat yang harus dicerna berulangkali oleh semua orang.
Dia membenarkan perkataannya dalam hati. Mey memang hanya jatuh cinta pada Seha, dialah sosok lelaki yang berhasil mengambil hatinya. Meskipun ada dua lelaki yang masih menunggunya, nama Seha tetap meraja dalam relung hatinya.
Tak hanya Meysa yang sukses dalam bidang sastra. Begitu juga dengan Nita yang menjadi seorang komikus. Buku komiknya selalu laris di pasaran, membuat namanya melambung terkenal. Bahkan Nita juga mempunyai toko buku khusus komik, setiap harinya selalu saja ramai oleh pembeli.
Beberapa tahun lalu Nita, yang selalu rajin dan tidak pernah ketinggalan membeli komik keluaran baru, kali ini dialah yang selalu ditunggu para fansnya untuk mengeluarkan karya terbarunya.
Nita sangat puas dengan pencapaiannya yang melaju pesat. Seperti kali ini, dia tengah sibuk melayani para fansnya yang memintanya untuk berfoto bersama.
"Kak Nita keren deh pokoknya. Aku ngefans banget sama Kakak." Tiba-tiba saja salah satu fansnya memeluk Nita begitu saja.
Nita tak mempersalahkan hal itu. Dengan senang hati, dia membalas pelukan sang gadis kecil nan manis yang selalu memborong komik idolanya.
"Jangan bosen-bosen beli komik karya aku ya, Dek." Nita mencubit pipi gembul sang gadis sekitar usia dua belas tahunan. Melihat gadis itu dia jadi teringat dengan dirinya masa kecil dulu yang selalu menghabiskan uang jajan demi membeli komik terbaru karya One Piece.
"Siap, Kak. Aku janji!" Gadis kecil itu mengacungkan jempol pada Nita yang kini terkekeh.
Sepulang gadis itu, Nita mendudukkan pantatnya di kursi kasir. Dia membuka handphone-nya yang sudah penuh dengan pemberitahuan notifikasi dari akun instagramnya.
Tiga puluh menit yang lalu, Naila mengunggah fotonya dengan sang kekasih. Dalam foto itu keduanya terlihat bahagia, dan sama-sama memegang selembaran kertas putih yang merupakan surat bahwa keduanya keterima di universitas ternama seantero Indonesia. Ucapan hamdalah dijadikan caption di bawahnya.
"Walah ... Naila keren banget!" ucap Nita, dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Sudah banyak komentar di statusnya yang mengatakan selamat teruntuk sepasang kekasih itu. Bahkan ada yang mendoakan keduanya untuk segera menuju pelaminan dan doa itu cepat diaminkan Naila.
"Emang bener tuh, ya. Mereka jodoh. Sama-sama pinter, sama-sama cakep, sama-sama kaya, terus pada setia juga. Aaah luvluv buat kalian. Wajib buat dirayain nih!"
🍀🍀🍀
Reza kewalahan saat turun dari panggung, harus meladeni para fansnya meminta foto dan juga tanda tangan.
Namun, senyumannya tidak pernah pudar meski sebenarnya dia sudah kelelahan. Bahkan banyak kamera yang mengikuti langkahnya demi menyorot paras tampannya untuk ditayangkan di sejumlah channel televisi.
Meskipun begitu, Reza lebih senang dengan hidupnya sekarang. Dia menjadi vokalis band yang tengah naik daun, dan selalu dijadikan topik terhangat di setiap kabar berita netizen.
Dia juga menjadi sosok lelaki yang dikenal banyak orang, bahkan dijadikan incaran bagi kaum hawa dan juga ibu-ibu untuk dijadikan menantu.
"Argghhh lelah banget," ucapnya saat masuk ke mobil pribadinya, dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan kasar.
"Kita ke mana hari ini?" tanya supir pribadinya.
"Manggung lagi, Pak. Sekarang terakhir. Di jalan kenanga."
Tanpa menjawab ucapan majikannya, pria paruh baya itu pun langsung tancap gas menuju alamat yang telah Reza sebutkan.
Semenjak kelulusan sekolah, rutinitas lelaki itu menjadi sibuk. Wajar saja, dia seorang aktor papan atas yang banjir dengan job.
Namun, bukan hanya Reza saja yang sukses di dunia entertainment. Sedangkan Ardian, dia menjadi sosok manusia sibuk di dunia kepenulisan.
Ardian telah banyak menerbitkan buku karyanya yang selalu berhasil menarik perhatian pembacanya. Bahkan buku-buku karyanya selalu terjual ribuan bahkan jutaan eksemplar.
Rutinitasnya menjadi padat, membuatnya tak ada waktu untuk sekadar menemui Mey lagi. Bahkan dengan Nita yang merupakan adik kandungnya sekalipun.
🍀🍀🍀
Nita berencana untuk merayakan keberhasilan semua teman-teman terdekatnya. Dia sangat bersyukur karena skenario semesta selalu indah akhirnya.
Gadis itu juga sudah menghubungi semua teman-temannya dengan paksaan yang tak bisa ditolak. Sebenarnya sebagian ada yang berhalangan datang, tapi Nita kembali memaksanya. Dan ... akhirnya permohonan pemilik toko komik itu dikabulkan oleh semua teman-temannya.
Seperti saat inilah, Nita menyuruh semua pekerjanya untuk mengubah rumahnya menjadi sebuah istana yang akan menyambut orang-orang spesial.
Rumahnya yang luas dihias sedemikian rupa dengan dekor yang tidak sederhana. Sangat mewah dan glamour.
"Pokoknya saya mau rumah ini tuh persis hotel bintang lima di Eropa." Nita kembali menyuarakan keinginannya pada CEO terkenal.
Dengan telaten dia kembali menghubungi teman-temannya yang belum saja sampai.
Setelah mulutnya berbusa, dan marah-marah tak jelas, tak lama suara mesin mobil terdengar dan terparkir di depan halaman rumahnya.
"Aaaahhh ... Meysa!" pekiknya. Sontak dia keluar tuk menyambut sahabatnya yang selama ini dirindukannya.
Nita membuka pintu rumahnya, dan mendapati teman-temannya yang tengah mematung di sana.
"Meysa-kuuuuuu!" Kedua tangannya direntangkan selebar mungkin. Dia memeluk Meysa dengan erat membuat gadis berambut panjang itu kehabisan napas.
"Udah dong, Nit!" Mey menepuk-nepuk lengannya. Nita pun akhirnya melepaskan pelukannya.
"Naila! Kak Reza!" teriaknya histeris.
Naila tersenyum. "Emang kagak berubah nih si Nita."
Tawa Meysa pun pecah begitu saja. Gadis itu melongok ke dalam rumah Nita yang kosong.
"Kak Ardian mana?" tanya Mey.
"Belum datang. Katanya sih enggak bakalan datang," ucapnya, bibirnya cemberut kesal. "Tapi ... tenang aja Mey. Aku udah paksa dia buat datang kok."
Meysa pun mengangguk.
"Enggak bakalan disuruh masuk nih?" celetuk Reza pada Nita.
"Yaudah ayo masuk. Tuh makanannya takut keburu habis sama semut."
"Untung sama semut bukan sama lo, Nit," ledek Naila. Serempak tawa mereka pecah.
Saat mereka hendak melangkah. Nita mengejutkannya dan menghentikan langkahnya.
"Tuh, Kak Ardian!" Jari telunjuk menunjuk ke arah lelaki yang tengah berjalan menghampirinya.
"Hai, Mey. Apa kabar?" tanya Ardian saat kedua matanya tenggelam ke dalam manik mata sang gadis.
"Hai, Kak. Baik." Mey tersenyum. Untuk sepersekian detik keduanya saling memandang.
Tiba-tiba Reza menghentikan adegan tatapan keduanya. Lelaki itu cepat merangkul pundak Meysa.
"Yaudah ayo masuk. Kasian Nita udah siapin makanan buat kita." Diakhir ucapannya Reza kembali tergelak.
Mereka semua pun serempak masuk, dan memosisikan di tempat duduk yang dirasanya nyaman.
"Akhirnya kita bisa kumpul lagi." Nita mengunyah keripik kentang.
"Iya dong. Selagi semuanya di Indonesia, pastinya kita masih bisa ketemu dong," ucap Mey.
"Bisa aja kamu, Mey," ucap Reza seraya melemparkan senyuman yang membuat serangga mati.
Ardian berdeham dan dia pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Selamat ya, Nai. Lo akhirnya keterima di universitas yang sangat diidamkan oleh semua orang." Ardian menyeruput minuman yang telah disediakan asisten rumahnya.
"Makasih, Ar. Gue juga sih masih enggak nyangka pencapaian gue bisa sejauh ini. Tapi, gue kayak gini juga karena bantuan Meysa."
Meysa tersenyum ramah. "Pencapaian kamu sekarang itu adalah hasil dari semangat dan perjuangan kamu, Nai."
"Makasih, Mey."
"Aaaaaahh kok jadi terharu sih. Aku bangga sama kalian karena bisa berjuang sampai sejauh ini. Kalian semua sukses." Tak biasanya, Nita menitikkan air matanya.
Melihat Nita menangis, Mey dan Naila pun jadi ikut terharu.
"Udah, udah, jangan adegan nangis-nangisan. Kan kita mau rayain pencapaian kita," ucap Reza akhirnya.
"Ya dong. Kapan lagi coba kumpul kayak gini," timpal Ardian.
"Nanti kita kumpul lagi di perayaan pernikahan gue," celetuk Naila membuat beberapa pasang mata terbelalak menatapnya.
"Hah?" Sontak semuanya terkejut. Membuat Naila cekikikan enggak keruan.
"Jangan kaget gitu dong. Ya pastinya dong gue duluan yang sold out. Soalnya kan di antara kita yang udah punya pasangan cuman gue doang."
Ardian dan Reza serempak menatap Meysa. Nama Meysa masih bersarang dalam ruang hatinya. Belum ada yang bisa menggantikan tempatnya.
"Makanya, doain aku dong biar cepet nyusul dapat jodoh. Jodohnya yang cogan kalau bisa," ucap Nita akhirnya.
Tawa mereka meledak secara bersamaan, kembali menertawakan Nita seperti dulu.
Suasana di dalam rumah Ardian kembali hangat seperti beberapa tahun lalu. Untuk hari ini mereka berencana untuk meninggalkan kesibukannya masing-masing sementara.
Mereka menghabiskan waktunya saling menceritakan pengalamannya beberapa tahun ke belakang, pekerjaan yang cukup melelahkan, dan penghasilan yang sangat memuaskan.
Hidup itu tidak hanya perihal konflik yang terlibat di dalamnya, meski pun ada banyak begitu masalah. Tapi, percayalah kebahagiaan selalu menunggu di akhir kisah.