Someone In There

Someone In There
4. Awal Dari Semuanya.


Bab ini ditulis oleh Castortwelvy


Hal terkahir yang Mey ingat tentang kebersamaannya bersama Nita adalah saat-saat di mana mereka mendaftarkan diri di depan stan-stan ekstrakulikuler. Gadis itu begitu bersemangat, sampai-sampai ada kobaran api menjilat-jilat di matanya.


Hari-hari MOPD berlalu begitu saja, menyisakan kenangan manis dan pahit silih berganti di kepalanya. Mey ingat tentang senior bernama Ardian yang pada waktu itu satu panggung bersamanya di depan semua anak yang hadir sebagai murid baru.


Kejadian itu tak mungkin dilupakan dan sangat memalukan.


Kegiatan demi kegiatan pun terlewati, membawanya pada titik ini. Titik di mana dia benar-benar resmi dinyatakan sebagai siswi SMK Adipura. Hari baru yang akan jadi awal dari pencariannya selama ini.


Mey, gadis itu berdiri di samping jalan antara pohon palem, memakai seragam resmi dengan atribut lengkap, sebuah balok dari kain dan busa hitam bertuliskan Informatika dari benang-benang hijau bertengger di pundaknya, sambil memindai meja-meja yang disusun di pinggir lapangan.


Setiap meja diisi oleh dua orang senior. Pada benda berbahan kayu cokelat itu ditaruh selebaran kertas dilipat bertuliskan nama masing-masing ekskul.


"Meeeeeeeeey!" teriak seorang gadis dari arah perpustakaan, berlari dengan wajah ceria. Matanya yang cokelat terang membulat sempurna.


"Nitaaaa!" balas Mey, melambaikan tangannya.


Mereka berlari, sama-sama menghampiri sampai akhirnya dua gadis itu bertemu di dekat tangga perpustakaan.


Dedaunan gugur tertiup angin.


"Gila, sih jalannya macet banget. Aku takut telat. Untung aja ada senior yang mau ajak aku nebeng." Nita mengelus dadanya karena sakit, kehabisan napas. Mey hanya tertawa, kemudian mengajaknya memasuki lapangan.


Ratusan anak baru sudah mengisi setengah lapangan rumput hijau dikelilingi pohon palem tinggi menjulang. Mereka mengantre sambil membentuk kelompok-kelompok kecil.


Ada sekitar sepuluh meja untuk sepuluh ekskul yang diisi oleh dua orang.


"Mau ambil ekskul apaan? Aku udah yakin, sih ambil fotografi. Di sana tempatnya cogans, Mey. Hehe." Nita menaruh kedua tangannya di bawah dagu, menggoyang-goyangkan badannya sambil membayangkan lelaki tampan di ekskul yang akan dimasukinya.


"Ehm ... aku udah niat masuk sastra, sih, Nit. Kebetulan emang di sini ada. Jadi, udah jelas, kan?"


Dari ujung jalan masuk lapangan sampai ke sudut paling dalam dekat dengan garasi mobil kepala sekolah, Mey melihat antrean paling penuh berada di ekskul basket dan voli.


"Yaudah, aku ke stan sastra, yaa. Ketemu aku di kelas, aku bawa makanan buat kamu." Mey melambaikan tangannya, kemudian bergabung ke antrean sastra yang jumlahnya tak seberapa itu.


Dari sekian banyak murid baru, ekskul sastra hanya meraup kurang dari 10% jumlahnya.


Mey tidak lupa tujuannya datang ke Adipura. Dia terus menilik satu per satu murid senior di lantai dua dan tiga yang sedang menonton juniornya sambil tertawa cekikikan, mencari sosok yang selama ini muncul ke mimpinya.


Lelaki itu seolah tidak pernah ada di Adipura.


Mey menelan ludahnya susah payah ketika sampai pada gilirannya. Kedua maniknya yang hitam dibuat bergetar ketika tahu senior di depannya adalah Ardian.


"Hai, ehm ... siapa, ya? Aku lupa." Ardian tersenyum, bolpoin di tangan kirinya dia taruh, melipat kedua tangan sambil memiringkan kepala sedikit.


"Anu ... ehm ... Meysa." Mey sedikit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum canggung.


"Aku enggak nyangka kalau kamu bakal daftar ke sastra," ucap Ardian, menoleh pada teman di sampingnya, yang Meysa tebak adalah wakil ketua. Seorang gadis kepang dua dengan pakaian serba besar, kedodoran.


"Itulah yang disebut dengan jodoh enggak pernah ke mana," kata si gadis kepang dua, memandang Mey dengan tatapan jahil.


Muka Mey merah karena malu.


"Ehe ... hehe. Iya, Kak. Aku tertarik banget sama sastra."


"Aku pikir tertarik sama aku." Ardian terkekeh-kekeh.


Gadis di sampingnya terbahak sambil menyerahkan buku pendaftaran pada Meysa.


"Kalau gitu, silakan isi identitas, tanda tangan, dan setelah itu kamu resmi jadi bagian dari kami." Ardian menyerahkan bolpoin di depannya dengan tangan kanan.


Mey mengangguk, mulai mengisi satu per satu kolom. Selama tangannya menari di atas kertas, dia merasa jika seniornya terus menatapnya, membuat dia salah tingkah, gerogi.


Mey mendongak dan tepat saat itulah kedua mata mereka beradu.


Ardian tersenyum, menunjukkan deret gigi rapi besar dan putih, dan Mey merasakan pipinya memerah.


"Jangan lupa isi nomor hp-nya, kalau-kalau ada masalah dan pemberitahuan soal ekskul, mempermudah kami memberitahu." Ardian menunjuk kolom kosong untuk nomor dengan jari telunjuk kirinya.


"Pemberitahuan apa pemberitahuan?" ejek gadis kepang dua itu, mendelik licik ke arah Ardian.


"Satu dua kayuh, tiga empat pulau terlewatilah maksudku." Ardian bergegas membela diri.


"Pepatah dari mana, tuh? Gak pernah denger."


"Yeuhh, ganggu aja!" Ardian mendelik sebal sementara si gadis kepang dua kembali terbahak.


Mey sama sekali tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Namun sebelum kembali mengisi, Mey mendengar Ardian menceletuk tentang wajahnya yang cantik dan manis.


"Iya, Kak?" tanya Mey mengoreksi.


"Apa?" jawab Ardian, menggerakkan matanya ke sana kemari.


"Aku selesai, Kak. Ini." Mey menyodorkan buku daftar itu ke arah Ardian dan dibalas dengan anggukan.


"Sekarang kamu anggota kami. Pakai ini," ucap gadis itu sambil menyerahkan sebuah gelang tali berwarna hitam, liontin gelang itu berupa pensil dan buku.


"Jaga gelang itu sebagai nyawamu. Gelang itu bagian dari tradisi dan jati diri sastra," tambah Ardian. Mey hanya mengangguk, matanya berbinar cerah.


Mey meninggalkan stan sambil berlari.


Jika mengingat tentang bagaimana dia masuk ekskul sastra, Mey suka senyum sendiri, merasa bangga dan geli sendiri dalam waktu bersamaan.


Siang ini, dia sedang berada di ruang ekskul bersama dengan murid lainnya. Mey sudah jadi bagian dari kelompok ini selama tiga hari lamanya


Ardian berdiri di depan semua anggota, di sampingnya ada Ayana sebagai wakil ketua yang sedang memangku papan dada warna biru. Siap untuk mencatat nama siapa saja yang tidak hadir.


Beberapa saat lagi Ardian akan menyampaikan materi tentang monolog dan teknik menulis puisi.


Hari pertama, dia memperkenalkan seluruh anggota lama berserta staf yang ada, menjelaskan tujuan adanya ekskul ini, termasuk memberitahukan soal apa saja yang sudah diraih sejak ekskul ini didirikan.


Hari berikutnya menjelaskan tentang cerpen, dan menulis puisi.


Mey sangat antusias, terlepas dari sosok tampan yang menjadi pemateri ekskul ini.


Setelah menyampaikan hal-hal kecil tentang tugas, akhirnya Ardian kembali ke mejanya dekat meja Mey.


"Selalu semangat kayak biasa." Ardian berdeham pelan saat dirinya berdiri di dekat meja di mana Meysa tertunduk menulis. Gadis itu mendongak dan mendapati seniornya.


"Gak ada yang bikin aku lebih semangat dari ini, Kak. Aku seneng banget." Mey menyipitkan matanya saat tersenyum.


Lelaki itu menarik satu kursi di dekat meja, mensejajarkannya dengan milik Meysa.


"Aku yakin kamu bakal lebih seneng pas lihat ini." Ardian membalik sling bag yang sejak tadi memeluk punggungnya dan mengeluarkan sebuah novel dengan cover biru muda bergambar pemuda merentangkan tangan menatap awan. Judulnya 'For Oreo'.


"Uih. Buku kedua, baru rilis bulan lalu. Aku ...." Mey mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya, memegang novel itu dengan kedua tangan. "Aku belum sempet ke toko buku buat beli lanjutannya, dan Kakak punya buku ini. Waaah!"


Mey membalik cover itu dan mendapati tanda tangan penulis di sana. "Ada tanda tangannya juga!" Mey beteriak antusias.


"Haha. Kan, apa aku bilang, kamu bakal lebih antusias pas lihat buku ini." Ardian membusungkan dada, merasa bangga sendiri karena telah membuat juniornya senang seperti itu.


"Gimana Kakak tahu aku suka novel ini?"


"Semua remaja suka, terlebih gadis energic kayak kamu." Ardian mengedikkan bahu pelan. "Kalau mau pinjam, aku bakal kasih, di rumahku banyak novel."


Seolah belum cukup dengan rasa senang saat mendengar jika buku kedua dari penulis favoritnya sudah ada di depan mata, Mey dibuat kagum dengan pernyataan bahwa di rumah Ardian ada banyak novel.


"Wah, serius?"


"Dua rius. Bisa datang kapan pun kalau mau pinjam." Ardian mengatakannya dengan keras, memancing semua pandangan anggota ke arahnya. Saat itulah Ardian sadar jika dia baru saja membangunkan 'hewan lapar'.


"Aku juga pinjam."


"Aku juga, Kak."


"Aku mau!"


Dan Ardian sedikit menyesal untuk hal itu.


***


Hari-hari berikutnya, sekolah berjalan seperti biasa. Mey mengikuti ekskulnya dengan senang hati, mengumpulkan semua tugas wajib dan tugas dari Ardian tepat waktu. Dia juga mulai banyak teman, meski ada beberapa yang sulit diajak kenalan.


Namun itu semua bukan masalah, karena Mey tetap senang dengan adanya Nita, gadis ceria yang jadi sahabatnya.


Hampir seminggu, dan mereka sudah sangat erat. Berbagi cerita, menceritakan apa saja hal yang disukai dan tak disukai dari masing-masing.


Dia sudah menyusuri semua sudut sekolah untuk mencari orang itu. Namun, sampai detik ini pun, batang hidung si lelaki belum kelihatan.


Menyadari jika keputusannya adalah kesalahan, Mey mulai menyesal.


Sambil berjalan ke arah perpustakaan, Mey mengembuskan napas berat. Pikirannya kacau. Dia merasa ingin menyerah saja. Bahkan, sejak awal dirinya merasa seperti orang bodoh dan konyol.


Mey meraih ponselnya, menghubungi Nita yang sedang berada di ruang ekskul fotografi.


"Halo, Nita. Kamu udah selesai? Aku mau ke kantin ... ah ... oke. Aku tunggu di perpus. Kamu ... iya, aku bayarin ... ah oke, Bawel. Yaudah, dadah!" Mey menutup teleponnya tepat ketika kedua kakinya berdiri di depan perpustakaan dua lantai.


Bangunan cat abu-abu itu disangga oleh pilar biru, tersusun per dua meter setengah. Selama berjalan, otaknya berpikir tentang mimpi. Sedikit merindukannya.


Benar, Mey baru sadar kalau dia merindukan sosok tak dikenal itu. Semenjak dirinya masuk ke Adipura, lelaki itu tak lagi datang ke mimpinya.


Saking larut dalam kerinduan semu, Mey tidak sadar jika sosok lelaki celana hitam katun panjang berdiri di depannya dengan kedua tangan memegang susu kotak warna biru.


"Bengong aja, ngapain, hey?" sapa lelaki itu, memaksa Mey keluar dari lamunan.


"Eh, Kak Ar. Sejak kapan?"


"Dari dulu." Dia terbahak.


"Oh. Aku kok gak liat Kakak tadi di sini, ya?"


"Aelah, bercanda, Mey. Kamu ini." Ardian kembali tertawa, menyipit dan sesaat kemudian menyerahkan satu kotak susunya pada Mey.


"Buat aku?"


Ardian mengangguk.


"Tapi aku mau ke kantin setelah Nita datang. Kakak enggak perlu---"


"Ambil aja. Lagain aku beli dua."


"Oh, makasih."


"Nungguin siapa tadi?"


"Nita." Mey menaruh kotak biru itu di atas kursi di sampingnya.


"Oh, cewek berisik dan heboh itu, ya?" tanya Ardian, tanpa memedulikan perasaan Mey karena sudah mengejek temannya. Mey hanya tertawa sambil menggeleng.


"Ikut aku ke kantin, yuk?"


"Tapi, Kak ...."


"Udah, aku yang bayarin." Ardian menarik tangan Mey dengan tangan kirinya, memaksa gadis itu bangkit. Mey buru-buru meraih kotak susu tadi dan memasukkannya ke saku rok.


Namun sebelum Ardian membawa Mey pergi, Nita muncul dengan kedua tangan di depan dada.


"Mau dibawa ke mana sahabatku, hmm?" tanyanya menyelidik, matanya menusuk tajam, kedua alis bertautan, sementara bibirnya maju.


"Eh dateng juga cewek heboh. Sana, deh jangan ganggu! Gue mau ajak Mey kencan."


"Enak aja! Dia udah jadi milikku. Udah ada jadwal kencan sejak kemarin! Hush!" Nita berjalan cepat ke arah mereka, dan dengan sigap memutus tautan tangan keduanya. Mey salah tingkah ketika dirinya kecolongan sedang dipegang oleh Ardian di depan Nita.


"Ganggu aja nih bocah. Jangan ngelawan sama senior. Mau dihukum?" ancam Ardian. Nita tak gentar, memelotot, berkacak pinggang sambil menengadah, karena tinggi tubuh Ardian yang jauh di atasnya.


"Kalau mau kencan sama sahabatku, lewatin dulu mayatku!" Nita tersenyum jahat dengan kedua tangan masih berkacak pinggang.


Mey hanya tersenyum. Setidaknya ada Nita yang sudah menjaganya dan menyelamatkannya dari rencana Ardian. Gadis itu melenggang ke belakang Nita, tersenyum.


"Yaudahlah, aku enggak mau balik ke kelas babak belur. Dadah, Mey." Ardian berlalu setelah berpamitan dan dibalas dengan senyuman.


Mey hanya tertawa riang dan menenangkan Nita yang masih menggebu-gebu.


"Haha. Makasih. Udah, deh yuk ke kantin sekarang."


Mey dan Nita menghabiskan waktu istirahat dengan bercanda dan membahas ekskul masing-masing. Mereka memesan es jus lemon dan pisang goreng susu keju.


Bicara ngaler-ngidul sampai akhirnya Mey sedikit membahas tentang mimpi. Menanyakan tafsir mimpi dan tentang sosok lelaki yang selalu muncul ke mimpinya. Tentu Nita tak semudah itu percaya. Dia hanya menganggap Mey konyol.


Percakapan pun berakhir dengan bel berbunyi. Mereka melanjutkan kelas, diisi oleh mata pelajaran Matematika.


***


Kelasnya berada di lantai dua, bagian paling ujung dari arah tangga.


Siang itu, mereka membahas soal aljabar.


Mey terus saja ke depan untuk mengisi soal, tanpa pernah tahu jika di sudut kelas, dekat pintu masuk ada gadis berambut pirang bergelombang tengah menggebu-gebu karena merasa tersaingi.


Naila mendelik ke arah Mey ketika gadis itu baru selesai mengerjakan soal dan akan kembali ke mejanya. Ketika Mey melewati meja Naila, kaki kirinya tersandung sesuatu. Mey terjerembab dan terhuyung ke depan.


Jika saja kedua tangannya tidak cekatan menahan tubuh yang ambruk, bisa jadi wajah Mey sudah mendarat mulus di lantai.


Semua murid tertawa, menatap ke arah Meysa.


"Adheeva, kamu kenapa?" tanya guru berkacamata. Mey mengaduh kesakitan. Nita yang melihat hal itu menggebrak meja, berdiri dan berlari ke arahnya.


"Astaga, Meysa-ku. Kamu kenapa?" Nita membantu Mey berdiri.


"Saya enggak apa-apa, Bu," jawab Mey. Nita membopong Mey ke meja sementara Naila tersenyum sambil bergumam pelan.


Sesaat sebelum Nita meninggalkan meja Naila, dia sempat melihat gadis itu komat-kamit. Awalnya Nita ingin memarahi Naila karena menganggap jika dirinya mengolok-olok Mey yang sedang kesusahan. Namun Mey mencegahnya.


"Aku enggak apa-apa." Mey duduk di kursinya, sementara Nita mengacungkan kepalan tangannya ke arah Naila.


Pelajaran kembali seperti semula sampai beberapa menit ke depan. Penjelasan a sampai z berlangsung lama.


"Ya, itu saja buat hari ini. Jangan lupa buat belajar, hari Jumat minggu depan kalian akan ulangan harian, ya." Wanita kacamata itu berdiri, menutup buku paketnya dan pergi meninggalkan kelas.


"Meysa, kamu berpotensi untuk ikut olimpiade," tambah wanita itu sebelum keluar kelas. Meysa hanya tersenyum.


Kepergian wanita itu disambut hangat oleh Naila cs. Mereka bertiga berjalan ke arah meja Meysa.


"Makanya, jangan sok di kelas. Mentang-mentang bisa, sikat aja semua. Lo kira yang belajar di sini cuma elo sama si cewek heboh ini?" tanya Naila, menunjuk dada Nita dengan jari telunjuknya yang cantik karena dihias cat warna merah muda.


Nita sigap menepis tangan Naila dari dadanya dan balas menunjuk.


"Gue tahu, lo yang bikin Mey jatuh tadi, kan?" Mey menurunkan jemari Nita.


"Kalau emang gue, kenapa?"


"Cewek aneh, gak jelas!" Nita geram, giginya menggemertak, kedua tangannya mengepal erat ingin mencakar Naila. Namun urung karena Mey menyeretnya menjauh, meninggalkan Naila cs.


"Kami pamit, dadah." Mey menarik Nita, sementara Naila marah-marah karena merasa diabaikan.


Selama perjalanan pulang, Nita marah pada Mey. Dia menjambak rambutnya sendiri karena kesal.


"Ish. Ngapain dipisahin, sih? Aku pengin remes tuh muka sampai jadi adonan kue. Kesel, bett!"


"Udah, ih. Kalau sampe terlibat masalah sama dia, aku enggak bisa bantu kamu. Enggak lupa kan kalau Naila anak kepala sekolah? Tahu dong apa konsekuens kamu kalau berantem sama dia?" Mey menuruni anak tangga, di sampingnya Nita sedang mengelus pipinya sendiri, kaget, baru sadar jika dirinya hampir terlibat masalah.


"Aaaaaaah! Gila. Gila. Aku bisa dikeluarin."


"Nah!" Mey menggosok punggung Nita pelan sambil berjalan menyusuri pilar koridor. Mereka berjalan ke arah ruang BK.


Mey berdiri di sebelah kanan, tepat menyusuri kelas warna hijau dan di depannya ada ruang BK yang sedang terbuka lebar. Bahkan, dari jarak beberapa meter pun, Mey bisa melihat jika seseorang di dalam sana tengah memarahi satu murid nakal.


Dia mengernyit, tak memedulikan rengekan Nita yang hampir tereliminasi dari Adipura.


"Ke sana, yuk bentar. Aku mau lihat ada apa." Mey menarik tangan Nita ke arah ruangan segiempat di depannya. Belum genap dua langkah sejak rencana pertamanya, kakinya harus membeku di udara. Tertahan.


Jantung Mey nyaris putus dari sarafnya ketika kedua matanya mendapati sosok lelaki yang baru saja keluar dari ruang BK itu. Seolah ada gundukkan batu tajam di kerongkongan, Mey seperti sulit menelan ludahnya.


"Itu ...." Mey melongo. Menunjuk lelaki itu dengan gemetar. Nita menghentikan rengekannya, menoleh ke arah si lelaki, kemudian terdiam, kaget.


"Ganteeeeeeng!" gumamnya.


Mey melongo sekali lagi. Atmosfer di sekelilingnya mendadak hilang, membuatnya kehilangan kemampuan bernapas. Dan ketika lelaki itu menoleh ke arahnya, Mey sudah mati sejak itu!


"Dia lelaki yang itu!" ucap Meysa.


To be continue