Someone In There

Someone In There
16. Hal Serupa


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


"Rencana pertama. Buat dia kehilangan sesuatu." Nita mengangkat telunjuk kanannya sambil tersenyum jahil dan menaikturunkan alis matanya. Meysa tidak paham, tapi tetap berusaha untuk memahaminya.


Dia mulai menjalankan rencana sesuai arahan Nita.


Gadis itu meminta izin keluar kelas dan berjalan ke arah lapangan saat kelas Reza olahraga. Meysa mengendap-endap di antara pepohonan ketapang untuk bisa sampai di dekat murid kelas dua.


"Mana sepatunya?" gumam Mey sambil menilik keadaan sekitar.


Dilihatnya semua senior lelaki yang tengah peregangan. Mereka semua melepas sepatu karena akan melakukan senam matras.


Di depan ruang ganti, Meysa melihat sepasang sepatu dan sebuah jaket hitam yang tadi pagi Reza kenakan. Seketika saja senyum di bibir gadis itu merekah. Kemenangan ada di pihaknya.


Dia hanya perlu mengambil sepatu itu dan pergi secepatnya tanpa ketahuan.


Ketika semua murid berlarian ke lapangan, Meysa masuk lewat pintu belakangan lapangan yang terbuat dari kawat dan besi berkarat. Dia sedikit membungkuk dan mengambil sepatu Reza setenang cicak mengintai nyamuk di dinding.


"Kalau ini bisa bikin Reza memperhatikanku, akan aku lakukan. Awas aja kalau kamu jahilin aku, Nita." Meysa tersenyum kecut.


Dia pun beranjak dari lapangan dan menyembunyikan sepatu itu di atap ruang ekskul sastra.


Bersama Nita, dia menunggu di satu tempat persembunyian.


Satu jam, dua jam, sampai jam istirahat datang, tak ada tanda-tanda Reza sedang mencari sepatunya yang hilang. Meysa yang kesal menunggu, akhirnya keluar dari persembunyiannya dekat perpustakaan bersama Nita.


"Kok Kak Reza enggak nyariin?" tanya Meysa bingung.


"Mungkin dia enggak sadar?" jawab Nita tak tahu. Kedua bahunya mengedik pelan.


"Enggak mungkin. Sebentar lagi mereka harusnya masuk kelas."


Mereka pun berlarian ke arah ruang sastra dan susah payah mengambil sepasang sepatu yang ada di atasnya untuk dikembalikan. Namun ketika Meysa sedang mencoba mencapainya dengan bambu, kedua matanya mendapati Reza yang sedang berjalan di dekat ruang ekskul musik sambil bermain ponsel.


Meysa terkesiap. Kedua kakinya yang tertumpu pada bebatuan, tergelincir, dan dia jatuh nyaris menimpa Nita yang ada di bawahnya.


"Ish. Kenapa, sih? Aku hampir kena," ucap Nita kesal. Meysa mengaduh karena pantatnya lebih dulu mencapai tanah.


"Kak Reza ada di ruang ekskul. Kedua kakinya utuh pake sepatu. Kok bisa?"


"Lho, terus itu sepatu siapa?" tanya Nita. Kedua gadis itu bertatapan.


Tak lama, seorang lelaki yang Mey kenal sebagai teman sekelas Reza datang sambil celingukan mencari sesuatu. Tubuh lelaki itu dibalut jaket hitam yang tadi sempat Mey lihat tergeletak di sisi lapang.


"Mey ...."


"Jangan-jangan," ucap Meysa menyambung perkataan Nita yang menggantung.


"Kita salah sasaran!" Nita tersenyum lebar dan jahil. Meysa mengangguk dan menggaruk kepalanya. Ternyata jaket itu milik temannya, dan Reza hanya meminjamnya saat pagi tadi.


Rencana pertama pun gagal.


Hari kedua.


Rencana kedua.


"Jadi rencananya adalah ...." Nita mengangkat dua jarinya sambil tersenyum.


Meysa dan Nita berniat untuk memata-matai Reza selama di sekolah. Semua gerak-gerik lelaki Chinese itu tercatat tanpa cela di dalam buku yang Meysa bawa.


Mulai dari kegiatan Reza di ruang ekskul, ketika Reza mengikuti acara makan bersama dengan teman-temannya di kantin, atau saat lelaki itu ada di perpustakaan untuk mencari referensi tugas.


Semuanya dicatat!


Reza berdiri di depan rak buku fisika. Meysa dan Nita bersembunyi di dekat meja baca, membungkuk sambil menutup wajah mereka dengan buku sejarah.


"Mey, Mey, kamu yakin kalau Reza sekarang mulai terlihat kayak cowok ganteng di mimpi kamu itu?" tanya Nita sambil menempelkan pipi kirinya di meja, menatap Meysa yang tengah fokus pada Reza.


"Aku yakin. Sekarang aku enggak salah masuk ke Adipura," jawab Meysa.


"Tapi di awal si cowok dingin itu kan beda banget. Ya, kan?" tanya Nita lagi.


Mey hanya mengangguk.


Nita berkata lagi.


Mey berdeham.


Nita bertanya lagi dan Mey mulai jengkel.


Ketika dia menolehkan pandangannya untuk memarahi Nita, gadis itu melepaskan pengamanannya dan membuat Reza hilang dari pandangan.


"Nita, bisa diem, kan? Kak Reza jadi ilang tuh," kata Mey sebal. Dia melepaskan buku yang menutup wajahnya, kemudian merengut tak suka. Nita hanya terkekeh-kekeh sambil menggaruk kepala.


Rencana pun dianggap gagal karena mereka sama sekali tidak mendapatkan perhatian Reza.


Cara ini dan itu dilakukan, tapi tak ada satu pun yang berhasil. Akhirnya mereka pun menyerah.


Sebenarnya Meysa tidak ingin melakukan ini, tapi nyatanya percakapan dengan Reza waktu itu tak cukup memuaskan untuk mencari jawaban yang selama ini dicarinya.


Reza kembali menjauhi Mey setelah tugas buku paket itu selesai dikerjakan. Reza nyatanya hanya menjawab satu saja pertanyaan dari Meysa.


Ini hari kesekian setelah mereka mencoba kembali mendekati Reza.


"Mey kamu belum sembuh total, ya?" tanya Nita ketika mereka berdua ada di ruang ekskul sastra. Hari ini keduanya tak berniat menjalankan rencana apa pun.


"Aku udah baikkan, Nita. Aku enggak apa-apa," jawab Mey.


Akhir-akhir ini Meysa terlihat pucat karena kurang istirahat.


"Kayaknya kamu mulai capek lagi, Mey. Jangan maksain diri, ya. Kamu juga harus banyak istirahat. Kalau ada tugas yang belum diselesaikan, bilang, aku bisa bantu kamu."


Meysa menyentuh punggung tangan Nita lembut dan menggosoknya perlahan sambil menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Makasih, Nit. Makasih, ya karena selalu ada buat aku. Makasih karena kamu enggak pernah lelah temenin aku walau kamu tahu aku kadang bikin kamu jengkel."


"Ah kamu, Mey kayak apa aja. Mataku panas nih. Berair kan tuh." Nita berpura-pura mengedipkan kedua matanya dan memasang wajah sedih. Meysa hanya tertawa.


"Jadi rencana kamu ke depannya apa?" tanya Nita kemudian.


"Setelah aku tahu apa alasan Kak Reza mengundangku ke sini, aku bakal jalani hidup kayak biasa."


Nita memiringkan kepalanya.


"Maksudku, enggak macam-macam. Aku mau jadi siswi baik dan lulus dengan predikat baik."


Nita hanya mengangguk paham.


Di tengah percakapan, Ardian datang dengan Ayana dari luar ruangan, membawa setumpuk kertas.


"Kamu di sini aja, Nit." Mey menepuk punggung tangan Nita yang masih ada di paha Meysa.


"Aku mau lihat juga, sih gimana Ardian jadi ketua." Nita terkekeh-kekeh.


Ardian membuka kelasnya sambil membagikan selebaran kertas berisi izin menginap di sekolah. Dia menjelaskan jika ekskul sastra akan mengadakan kamping literasi sambil mengumumkan siapa pemenang dari lomba waktu itu.


Setiap anggota wajib hadir.


Setelah pembagian itu, kelas berjalan seperti biasa dan bubar setelah semuanya selesai.


"Jangan lupa buat datang, Meysa." Ardian tersenyum di hadapannya.


"Aku mau ajak Nita," jawab Mey. Nita tersenyum lebar dan mengangguk, membuat Ardian tak suka.


"Semoga kamu enggak menyesali keputusanmu, Mey," kata Ardian terkekeh. Nita hanya diam sambil memelotot ke arahnya.


"Kamu sakit?" tanya Ardian ketika melihat Mey sedikit pucat. Gadis itu tak banyak bicara seperti biasanya. Bahkan saat kelas berlangsung, Meysa hanya duduk di dekat Nita sambil mengelus tangan sahabatnya itu.


"Aku baik, Kak."


"Kamu harus istirahat. Kalau sampai sakit, kamu enggak bisa ikut acaranya. Ada yang spesial, lho." Ardian menaikturunkan alis matanya.


"Aku usahakan."


"Aku bawa dia pulang," kata Nita. Ardian hanya mengangguk setuju.


"Kalau gitu, aku pamit."


Meysa berdiri dibantu Nita dan pergi meninggalkan ruang ekskul.


***


Meysa bermimpi bertemu dengan lelaki itu lagi di sebuah tempat asing. Dia memakai kacamata dan tersenyum di balik cahaya.


"Kak," ucap Meysa.


Lelaki yang Meysa yakin adalah Reza itu hanya diam, kemudian mengajaknya ke sebuah lapangan besar penuh ilalang yang bergoyang diterpa angin. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah gundukan tanah berumput penuh bunga. Ukurannya tak terlalu besar, dan Meysa tahu jika benda itu tak asing.


"Apa itu, Kak?" tanya Mey, menunjuk pada gundukan tanah penuh rumput berbunga.


"Hal serupa yang terpisah," jawabnya.


Meysa merengut tak mengerti.


"Aku enggak paham." Meysa menggeleng. Lelaki itu hanya tersenyum sambil masih menatapi gadis di hadapannya.


"Banyak hal di dunia yang enggak selalu harus dipahami."


"Sudah lama, ya kita enggak main," kata lelaki itu. Dia mendongak ke angkasa, melihat kawanan awan.


"Ya," jawab Mey.


"Ingat dulu kita sering main juga?" tanyanya.


Meysa merengut. Ingatannya samar. Tatapannya beralih dari gundukan tanah penuh bunga-bunga itu pada wajah lelaki yang putih berseri tertimpa cahaya matahari.


"Ya," jawab Mey lagi.


"Kalau aku bisa memilih, aku lebih suka jadi burung, Mey." Dia tersenyum setelah mengatakannya. Matanya sedikit terpejam, kemudian membukanya perlahan sambil menikmati embus angin yang terus berdatangan.


"Kenapa, Kak?"


"Karena aku ...."


Meysa terbangun dari tidurnya saat mentari sudah mencuat dari jendela kamarnya.


"Mimpi lagi."


Dia mengembuskan napas berat sambil mencoba untuk bangkit dari tidurnya.


Di ambang jendela kamarnya, ada dua burung yang tengah bermain. Seketika Mey teringat ucapan di mimpinya. Aku lebih suka jadi burung ....


Siang harinya sepulang sekolah, Meysa bertemu dengan Reza di depan gerbang. Lelaki itu tengah membetulkan motornya yang mogok. Meysa yang sudah terpisah dari Nita, karena gadis itu harus ke ruang ekskul, berniat untuk menyapanya.


"Kak kenapa motornya?"


"Oh, hai."


Reza mendongak, menatap Meysa yang berdiri di samping motornya. Cahaya matahari tertutup kepala Mey, membuat Reza bisa melihat kecantikan gadis itu seutuhnya. Lelaki itu menelan ludahnya secara paksa saat menyadari jika Meysa benar-benar cantik dengan mata hitam arangnya.


"Kak?"


Meysa mengayunkan kedua tangannya di depan wajah Reza yang terbengong.


"Oh, ya, yaa. Ya?"


"Motornya kenapa?"


"Mogok."


"Oh. Ada yang bisa aku bantu?"


"Enggak. Santai."


Meysa mengangguk. Menaruh kedua tangannya di depan paha sambil berdiri celingukan, menatapi anak-anak yang mulai meninggalkan area sekolah.


Teman-temannya satu per satu berpamitan. Meysa juga melihat Naila yang baru saja melewatinya dengan mobil hitam ayahnya. Naila menatap Reza sekilas.


"Mau didorong ke tempat bengkel?" tanya Meysa.


"Kalau masih belum bisa nyala," jawab Reza.


"Oke."


Gadis itu tak berniat untuk beranjak. Bukan karena merasa tak enak meninggalkan Reza, tapi karena memang dia ingin berada di dekat Reza lebih lama.


Mey berusaha memecah kebekuan dengan bertanya hal-hal kecil, tapi Reza tidak begitu antusias menanggapi. Akhirnya gadis itu memilih diam memerhatikan.


Sampai beberapa menit mereka membisu, akhirnya Reza memutuskan untuk mendorongnya ke bengkel. Meysa menawarkan diri membantu.


Akhirnya mereka berjalan berdua. Reza mendorong si merah dan Meysa menemaninya.


"Kak," kata Meysa di tengah perjalanan ketika melihat burung berterbangan di antara pohon ambon samping jalan, seketika teringat soal mimpinya tadi malam.


"Hmm."


"Ka-kalau aku bisa memilih, aku lebih suka jadi burung aja," ucap Meysa. Dia berniat mencaritahu apa maksud dari perkataan Reza dalam mimpi itu dengan mengucapkannya langsung pada Reza. Siapa tahu Meysa bisa menemukan jawabannya.


Namun di luar dugaan, lelaki itu malah mematung dengan kedua mata memelotot. Dia menatap Meysa dengan tatapan penasaran.


Reza membisu.


To be continue