Someone In There

Someone In There
10. Menerima


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


Mey baru saja menyelesaikan naskah cerpen untuk lombanya beberapa saat lalu. Bukan hanya menyerahkan naskah itu pada Ardian, dia juga membayar biaya pendaftaran setelah dipotong 50% karena dirinya adalah anggota ekskul sastra.


Awalnya gadis itu diminta tinggal lebih lama, membantu Ardian menyiapkan beberapa hal untuk lomba. Namun karena Mey masih harus mengurusi tugas pokoknya, jadi izin pergi dan menemui Nita di perpustakaan.


Mey mengembuskan napas berat. Otaknya terasa berbelit bagai benang kusut yang tak tahu di mana ujungnya. Bibir Mey terus bergetar, membuat Nita yang tengah menyantap mie ayam kering dalam kemasan steropom bergidik jijik.


"Idih, idih, untung cantik, Mey." Nita menaruh garpunya di dalam kotak, menutup kotaknya, kemudian melempar benda itu ke tempat sampah samping pintu masuk.


Dua gadis itu tengah berada di lantai dua perpustakaan.


"Aku gak nyangka kalau keputusanku masuk ke sini malah jadi kayak gini. Tugas-tugas yang enggak ada akhir, masalah berturut-turut muncul, dan otakku masih harus mikirin gimana caranya deketin Kak Reza." Mey menempelkan dadanya pada pagar dinding setinggi seratus dua puluh senti, melipat kedua tangan, menjadi tumpuan dagu.


"Itulah kenapa masa depan gak bisa dilihat, Mey. Biar apa yang terjadi, jadi kejutan buat kita dan hidup enggak membosankan." Nita melakukan hal yang sama.


"Ya, aku tahu. Tapi andai aja aku bisa lihat apa yang akan terjadi sama aku ke depannya setelah ketemu Kak Reza, mungkin aku enggak perlu susah payah deketin dia buat tanya tentang mimpi itu."


"Kamu bakal tahu, Mey. Bakalan tahu," sahut Nita cekikikan, menegakkan kepalanya seperti seekor kura-kura. Nita menatap seseorang di dekat pohon palem. Lelaki itu tengah berjalan menunduk sambil bermain ponsel.


Nita menyeringai, embusan angin siang itu menarik kedua bibirnya ke samping. Nita memindahkan tubuhnya ke belakang Mey, seolah-olah akan memeluknya. Namun sedetik kemudian, tangan-tangan jahilnya mencubit pipi Meysa dan menariknya kuat-kuat ke dua sisi. Mey dipaksa tersenyum.


"Hai Kakak ganteng yang di bawah. Lihat sini, hey!" Nita berteriak, tak peduli pada orang-orang yang sedang membaca di dalam ruangan, pun sama sekali tidak peduli jika Meysa sedang berontak meminta dilepaskan.


"Iwh apwa swi, Nwitwa. Lwepwasin."


Nita makin puas terbahak. Lagi-lagi berteriak pada Reza yang kini berada di bawah perpustakaan.


"Kakak, aku Meysa yang cantik di atas sini," teriak Nita, melepas cubitannya, melambaikan tangan Meysa pada Reza.


Merasa suaranya berasal dari atas kepalanya, lelaki dingin itu menaruh ponselnya di saku, mendongak, menatap dalam diam dan dingin.


"Nita!" Mey mundur, dadanya tersentak kaget ketika mata dingin Reza mengunci mata hitamnya, punggungnya menabrak Nita, memaksa gadis itu limbung dan pantatnya mencium lantai keramik. Mengaduh.


"Cewek aneh," gerutu Reza, kembali mengambil ponselnya dan berjalan di lorong perpustakan.


"Ish, apa-apaan, sih."


"Haha ... haha." Walau mulutnya terbuka lebar-lebar ketika tertawa, Nita sama sekali tidak bisa menyembunyikan wajah yang sesekali meringis menahan rasa sakit di pantatnya.


Mey nyaris dibuat bergetar karena Reza menguncinya dalam kebekuan. Seolah-olah dia sedang ditempatkan dalam ruang es tanpa jalan keluar.


"Katanya mau kenalan sama Reza."


"Tahu, ah! Kesel. Aku ke kelas, ya. Kamu nyebelin." Mey menggosok pipinya, sakit.


"Ish, baper."


Tentu saja rasa kesal dan ekspresi jengkel di wajah sahabatnya bukan hal yang serius, bukan sesuatu yang bisa membuat persahabatan mereka terpecah-belah. Nita justru menganggap jika dengan seperti itulah mereka semakin dekat.


"B-o-d-o!"


Mey menuruni anak tangga, diikuti Nita yang terus menggosok pantatnya.


Tangga yang menyatukan lantai satu dan dua itu diampit oleh dinding, membuat mereka harus turun bergantian. Nita menarik tangan Mey, memaksanya berhenti dan menoleh ke atas, pada Nita yang masih mencengkram pergelangan tangannya.


Nita mengerucutkan bibirnya ke depan, diikuti dengan tatapan merasa bersalah.


"Oh, Meysa-ku, janganlah engkau merajuk. Aku tak mampu hidup tanpa dirimu." Gadis berambut sebahu itu bertingkah seakan-akan dirinya adalah pujangga berparas tampan yang tengah menggoda permaisurinya yang marah.


Mey bergidik ngeri.


"Ish. Serius, Nit, aku takut."


Nita hanya tertawa.


Setelah berdamai, bermaaf-maafan dan Nita berjanji akan mengajaknya ke rumah untuk membaca novel, akhirnya mereka kembali bersatu.


"Tapi kamu enggak papa gak ikut ekskul?" tanya Mey, karena dia melihat jika Nita seharian ini tidak ke ruang ekskul.


"Enggak. Lagian ketua lagi gak ada kegiatan katanya. Tugas terakhirku aja masih belum dinilai kayaknya. Terus kamu? Apa si Ardian nyebelin itu gak nyariin? Dia kan ... gitu, nempel-nempel di kamu, jijik bingits." Nita menatap Mey di bawah gapura sekolah. Sama-sama menunggu angkutan umum.


Pertanyaan itu cukup dijawab dengan gelengan pelan.


Ardian memang sibuk di ekskul, tapi Mey sudah meminta izin untuk tidak membantunya dengan dalih mengerjakan tugas.


Setelah menunggu lama, akhirnya angkot muncul dari arah kanan. Sebelum masuk, Mey sempat melihat Nita terdiam. Bibir bawahnya memutih karena digigit. Gelisah.


"Ayo!" ajak Mey.


Seperti hari-hari biasa, Bandung selalu macet oleh kendaraan yang terus merayap. Dua puluh menit perjalanan rasanya seperti selamanya.


"Kamu gak papa?" tanya Mey. Namun gadis itu hanya tersenyum sambil mengatakan kalau mereka sudah sampai di depan perumahan.


Rumah Nita berada di Perumahan Asri, Jalan Cempaka. Mereka harus memutari taman angsa, seperti namanya, tempat itu dipenuhi oleh angsa-angsa yang terus berputar di tengah kolam.


Mey terkagum-kagum pada hijaunya pepohonan selama perjalanan melewati kompleks, tak bisa berkata-kata melihat kemegahan bangunan-bangunan modern semi klasik yang berderet rapi di dua sisi jalan aspal.


"Tuh rumahku," tunjuk Nita pada rumah dua tingkat perpaduan dua warna, cokelat dan merah maroon. Modelnya sangat modern dengan ornamen-ornamen kotak dari beton yang dibentuk sedemikian rupa.


Seingat Mey, Nita adalah anak orang kaya. Mereka menyebut keluarga Nita dengan sebutan Keluarga Agustin.


Terlalu sepi untuk bangunan dua tingkat yang posisinya ada di perumahan. Mey menoleh ke segala arah. Ada vas bunga, kolam ikan, dan tanaman rambat di pagar.


"Gak ada orang, ya?" tanya Mey.


"Ada, paling Bi Minu. Papa sama Mama sibuk. Biasanya Mamaku pulang malem, paling cepet magrib. Kalau Papa ...." Nita menekan bel, berbunyi nyaring. "Papa kadang pulang seminggu sekali. Hehe." Nita cengengesan, sambil terus menekan belnya berkali-kali karena kesal.


"Iya, sabar!" teriak seseorang dari dalam. Mendadak Nita membatu, ekor matanya menatap Mey yang sedang membelalakkan matanya.


"Berisik amat, sih!" ucap orang itu sambil menggeser pagar stainless hitam, menciptakan bunyi nyaring menusuk gendang telinga.


"Hah?" Mey melongo.


"Aduh. Bencana!" Nita menunduk, menepuk wajahnya dengan tangan kanan, sementara tangan satunya dia taruh di pinggang. Menggeleng.


"Kak Ardian?" teriak Mey terkaget-kaget.


Sama halnya dengan Meysa, lelaki yang baru saja membuka gerbang itu memelotot tak percaya, tak memedulikan ekspresi Nita yang kini terlihat seperti ingin berteriak kencang saking frustrasi.


"Kalian, kok ...."


"Kami serumah," jawab Ardian tanpa ragu. Mungkin karena sudah tanggung tertangkap basah, sekalian saja menceburkan diri. Basah kuyup!


"Hah?" Mey bergantian menatap dua orang di depannya dengan tampang bodoh. Sepertinya dia satu-satunya orang yang tak tahu tentang ini, atau memang tak ada satu orang pun yang tahu kalau mereka serumah.


"Kami kakak-adik," sambar Nita, seakan-akan ada penyesalan di nada bicaranya.


**


Sungguh kejutan yang luar biasa. Bagaimana bisa mereka berpura-pura tidak ada hubungan darah untuk waktu yang lama? Dan seingat Mey ketika mereka bertemu, maka dua orang itu akan terlibat pertengkaran, seperti kucing dan tikus.


Sambil mengurut pelipisnya yang berkedut, Mey menggeleng tak percaya.


"Jadi, pas kamu bilang di rumahmu banyak novel ...." Mey menunjuk Nita, gadis itu selonjoran di sofa, membiarkan Ardian mengambilkan tiga gelas air.


"Ya, itu semua novelnya kakakku." Nita mengaku dengan malas.


"Gak, Nit, aku masih gak paham." Mey terkekeh-kekeh membayangkan. "Kenapa kalian merahasiakannya?"


"Buat apa aku bilang kalau lelaki nyebelin itu kakakku?" tanya Nita, sedetik kemudian mendapat jitakkan keras dari Ardian yang mendarat mulus di kepalanya.


"Silakan, Mey diminum."


"Terima kasih."


Percakapan itu berlanjut sampai beberapa menit ke depan, membahas soal mereka. Itu topik yang menyenangkan untuk Mey.


Setelah puas pada semua yang dipaparkan Nita, akhirnya Mey diajak oleh Ardian ke ruangan terpisah yang ada di belakang rumah.


Perpustakaan pribadi milik keluarga Agustin.


Bangunan kecil, bentuknya mirip jamur biru bintik-bintik putih. Ada lonceng di atas pintu kaca. Aroma menyejukkan dari lembar-lembar buku dalam rak kayu hijau tua memenuhi penciuman Mey.


Bertindak seolah dirinya pemandu wisata, Ardian sampai-sampai mengganti seragam sekolahnya dengan baju pelayan, sambil memegang nampan bulat dari kaleng.


"Gimana, Mey, kamu suka?" Ardian meminta pendapat.


"Suka. Bener-bener surga dunia."


Hanya melihat Mey bahagia sudah cukup menghangatkan hati Ardian.


Berjam-jam berlalu dan wisata kecil-kecilan itu hanya milik mereka berdua, membuat Nita kesal setengah mati, dan tubuhnya seakan-akan dipenuhi lumut hijau karena harus menunggu mereka bermesraan.


Sebelum keluar ruangan, Mey berdiri di depan etalase, bertingkah seperti sedang mengantre untuk mengisi daftar nama peminjaman buku dan orang yang jadi staf-nya adalah Ardian.


Mereka bertiga pun pindah ke ruang makan. Nita mencibir kalau mereka nyaris melupakan keberadaanya.


"Bi Minu enggak masak, Cerewet," kata Ardian ketika gadis itu membuka penutup makanan di atas meja.


"Ish, ngapain aja di rumah? Chatting sama satpam kompleks pasti." Nita mengumpat sebal.


"Kalau kita masak gimana?" tanya Mey. Ardia berbinar dan tanpa babibu lagi langsung mengiakan. Dia mengganti bajunya dengan pakaian ala maid dan apron kotak-kotak biru muda bertuliskan huruf A.


"Tunggu dulu, aku segera kembali." Dia memasuki kamarnya di lantai dua dan kembali dengan sebuah apron bertuliskan May Loop. Berdalih jika nama 'Mey' cocok dengan kata 'May' pelesetan dari 'my' yang dia artikan sendiri menjadi 'milikku'. "Nih pake, biar baju kamu gak kotor."


Mey mengangguk, tapi sebelum dia meraih dan memasangkannya sendiri, Ardian sudah memasukkan tali apron ke lehernya, membuat mereka terpaut jarak puluhan senti meter saja. Saling pandang.


"Berbalik," titahnya.


Mey menelan ludahnya secara kasar, berdegub kencang. Mungkin hanya perasaanya saja, tapi dia yakin jika pipinya memerah dan panas.


Sempat menatap mata Ardian sekilas sebelum akhirnya mengangguk dan membiarkan lelaki itu mengikat tali apron di belakangnya.


"Terooooz, terooooz, dikit lagi, teroooz." Nita bertingkah seolah-olah dirinya tukang parkir dan kesal tidak ketulungan.


Kitchern set perpaduan warna krem dan putih itu terlihat rapi dan mengilap. Mey sampai tidak tega untuk masak di sana karena takut mengotorinya. Namun Ardian tanpa basa-basi menariknya ke dekat kompor.


"Kamu suka makan apa, Mey? Biar aku masakin." Ardian mencabut pisau dari gantungan yang isinya pisau berbagai bentuk.


"Aku suka---"


"Suka Kak Ardian?" tanya Ardian tekekeh-kekeh. Nita memukul tutup panci dan berpura-pura muntah di belakang.


Selama beberapa saat ke depan, mereka sibuk memasak. Mey memotong cabai dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan oleh Ardian, sementara Nita hanya mengaduk-aduk nasi di dalam penanak nasi sambil meniupi kepulan asap.


Dia dilarang memasak setelah menciptakan telur gosong yang nyaris membakar penggorengan.


Dalam kegiatannya, Mey yang sedang berdiri bersisian dengan Ardian menceletuk pelan, "Kak, aku boleh nanya sesuatu?"


"Tanya aja, santai. Apa?" Ardian mengaduk-aduk ampela yang sudah menguning di penggorengan, membiarkannya beberapa detik sambil menunggu Meysa bertanya.


"Kakak kan kelas dua, ya, jadi pasti satu angkatan sama ...." Entah bagaimana bisa terjadi, Mey merasa lidahnya kelu, dan kalimat yang akan meluncur itu terhenti di ujung bibir. Pada akhirnya hanya bisa menelan ludah, mengembalikan apa yang akan dia ucapkan ke kerongkongannya.


"Reza?" tambah Ardian, melanjutkan ucapan Mey yang terputus. Ada kegetiran dalam suaranya.


"Gimana---"


"Semua cewek di Adipura pasti tergila-gila sama dia. Jadi aku pikir wajar kalau kamu mau tahu soal Reza juga. Ya, aku satu angkatan sama dia, dan kami pernah dekat, satu ekskul."


"Ouh." Suara Mey melemah di ujung kata, merasa bersalah karena sudah bertanya hal itu di saat-saat seperti ini. Namun sepertinya Ardian menyadari penyesalan itu.


"Iya," jawabnya meluncur bersamaan dengan elusan lembut di puncak kepala Mey, memaksa gadis itu menegang dengan urat-urat yang muncul di lehernya. Sama sekali tidak tahu jika Ardian akan mengelus kepalanya.


Dan begitulah selanjutnya, acara masak-masak itu berlangsung dalam kecanggungan serta kabut-kabut misteri yang terlontar dari mulut Ardian tentang kedekatannya dengan Reza di masa lalu.


Bagaimana bisa mereka dekat dan ....


Apakah Reza mantan anak sastra?


**


Keesokan harinya, Mey bertemu dengan Reza di depan ruang ekskul musik. Reza sedang bermain gitar di dekat pohon cemara melingkar.


Mungkin itu tindakan bodoh, tapi Mey sama sekali tidak tahan jika harus menunggu dan menunggu apalagi menghadapi penolakan Reza yang dingin secara terang-terangan.


Kedua tangannya mengepal erat, berdiri di bawah bangunan koperasi yang bagian bawahnya dipakai sebagai tempat parkir. Mey menguatkan dirinya sendiri sebelum bertatap muka dengan Reza. Mendekatinya, berarti bersaing dengan jutaan gadis di Adipura.


Meski Reza dingin, tapi seperti apa kata Nita, dia punya segudang penggemar yang siap melindunginya kapan pun.


"Kak," sapanya ketika berdiri di depan Reza. Aura dingin mencekam membekukan atmosfer sekeliling Mey, menyesakkan.


"Mau apa?


"Mau minta tanda tangan atau foto bareng kayak yang lain?


"Gak lihat lo kalau gue lagi maen gitar?"


Mey menutup mulutnya karena kaget, terbelalak. Sama sekali tidak menyangka jika lelaki dingin itu bisa berbicara lebih dari lima suku kata. Secepat ucapan Reza memberondongnya, secepat itu pula Mey menggeleng.


Lelaki itu diam, memeluk gitarnya.


"Ada yang mau aku tanyakan."


Tenang, Meysa ... tenang. Mey membatin.


"Aku ...."


Bagaimana Mey bisa fokus pada apa yang dia rencanakan, jika tatapan mengintimidasi Reza membekukan semua urat sarafnya?


"Ck, lama!" Reza menekuk kakinya, berdiri dari posisi duduk dan siap pergi sampai akhirnya Mey kembali berkata.


"Kasih aku waktu sepuluh detik!" teriak Mey. Saking takutnya lelaki itu pergi, sampai-sampai Mey tidak sadar jika sejak ucapan terakhirnya habis, hingga lelaki di depannya memutar mata, sudah menghabiskan lima belas detik.


"Waktu lo habis. Gue cabut."


"Please, Kak. Dengerin aku dulu."


Jika saja Meysa adalah laki-laki dan masih bersikap seperti ini untuk menghabiskan waktunya yang berharga, maka Reza tidak akan segan-segan untuk menghabisinya sekarang juga. Namun, mendapati kenyataan bahwa yang dihadapinya adalah perempuan, Reza hanya bisa berdecak sebal.


Sejurus kemudian dia tersenyum sinis, seperti baru saja menemukan sesuatu pada ekspresi memelas yang Mey tunjukkan.


"Gue akan denger apa pun yang lo katakan," jelasnya, memaksa Mey mendongak dan berbinar.


Untuk beberapa saat gadis itu tak menjawab, menunggu apa yang akan dikatakannya. Walau tak bisa dipungkiri jika bulu-bulu di tengkuk Mey mulai meremang saat senyum sinis penuh kelicikkan mengembang di bibir Reza.


"Selama lo mau terima tantangan dari gue," lanjut Reza menyeringai.


"Ta-tantangan?" Mendidih. Seluruh tubuhnya terasa mendidih. Entah itu karena cuaca panas atau memang Mey tak bisa membendung keterkejutannya.


"Kalau lo bisa menang dari tantangan ini, gue bakal lakukan apa pun yang lo katakan."


Kerongkongan Mey seperti ditahan oleh benda-benda tajam, meneguk ludah saja rasanya seperti menelan landak hidup-hidup. Menunggu Reza melanjutkan seperti detik-detik tiada akhir.


"Kalau aku kalah?"


"Lo gak usah ganggu gue lagi dan jangan datang buat tanyain hal gak penting lo itu."


Reza pergi begitu saja, meninggalkan Mey yang diam membeku.


To be continue