Someone In There

Someone In There
29. Puzzle Kenangan


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


"Maaf, ya. Aku udah buat Kakak nunggu," ucap gadis kecil pada sosok lelaki berusia dua belas tahun yang tengah memainkan bolpoin di atas notebook.


"Enggak apa-apa kok. Menunggu sampai berjam-jam pun aku siap," jawabnya. Lelaki kecil itu memasukkan notebook-nya ke dalam tas yang dibawanya.


Gadis yang kerap disapa Meysa itu melemparkan senyum, begitu pun dengan Seha.


"Semoga kita tetap seperti ini, ya." Seha menengadahkan kepalanya ke atas, menatap pohon apel yang begitu lebat.


"Pasti dong, Kak. Kita akan selalu bersama."


"Janji?" Seha mengalihkan pandangannya, menenggelamkan bola matanya ke dalam manik mata sang gadis berambut panjang yang dibiarkan terurai.


"Janji dong. Asalkan Kakak janji akan selalu ada di samping aku," jawab Mey.


"Kalau itu pasti," jawabnya mengangguk. "Kalau kamu mau aku selalu ada, berarti kamu mau dong jadi pacar aku?"


"Pacar?" tanya Mey polos. Dahinya mengernyit tak mengerti.


Gadis itu memang lebih muda setahun di bawah Seha. Wajar saja, jika pikirannya tidak terlalu luas apalagi mengenai urusan percintaan.


Seha mengangguk. "Iya. Pacar. Kamu tahu, kan artinya pacar?"


Mey menggeleng lemah.


Lelaki berambut poni itu tertawa renyah, sesekali dia merapikan rambutnya.


"Pacar itu sosok spesial yang akan selalu ada. Nanti, tahap selanjutnya kita bakalan bersama untuk selamanya kayak mama papa," jawab Seha membuat gadis di sampingnya manggut-manggut paham.


"Oh. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa setuju keinginan Kakak," jawab Mey. Seha tampak kecewa saat mendengar jawaban sang gadis yang tak sesuai dengan harapannya. "Tapi ... kalau Kakak mau pacaran sama aku, nanti aja kalau kita udah besar."


Seha mengatupkan bibirnya, mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuknya. Dia tampak berpikir beberapa menit sebelum menjawabnya.


"Yaudah kalau gitu. Nanti kalau udah besar Kakak bakalan nemuin kamu. Tagih janji," ucapnya menggoda.


Mey tergelak mendengar ucapannya yang begitu nekad.


Gadis itu mengacungkan jari kelingkingnya, berusaha meyakinkan perjanjian antara keduanya. Tanpa meragukannya, Seha pun melakukan yang sama, mengaitkan jari kelingkingnya dengan Mey.


Seha beranjak dari duduknya, melangkah ke arah pohon rindang yang ada di belakangnya. Mey mengikuti setiap pergerakan lelaki itu yang kini tengah memetik beberapa daun.


Setelah dirasa daun hijau terkumpul banyak, Seha kembali mendudukkan pantatnya di tempat sebelumnya.


"Daun itu buat apa?" tanya Mey heran.


Orang yang ditanya malah tersenyum menanggapinya. Dia terfokus pada dedaunan yang dibiarkannya tergeletak di atas rerumputan. Lalu Seha menumpuk semua daun itu.


"Jadi deh," ucapnya seraya mengacungkan daun tersebut yang kini telah tertumpuk rapi. "Aku punya dongeng."


Dahi Mey mengerut tak mengerti dengan apa yang akan dilakukan Seha.


Seha membuka lembar daun pertama, seolah memperlakukan tumpukan dedaunan itu seperti buku.


"Suatu ketika ... seorang gadis berambut terurai panjang pergi ke salah satu tempat rekreasi bersama keluarganya, tujuannya hanya untuk berlibur. Tapi ...." Seha menjeda ceritanya, membuat Mey penasaran. "Gadis itu menghancurkan liburannya. Dia terpisah dari keluarganya, membuat semua orang mencari sang gadis." Seha kembali membuka daun lembar kedua.


"Gadis itu kenapa, Kak?" tanya Mey penasaran.


"Gadis itu tersesat. Masuk ke hutan yang luas. Dia ketakutan, tak bisa kembali pada keluarganya," ucapnya lagi. Kedua mata Mey memelotot terkejut.


Seha kembali melanjutkan, "Sang gadis menangis di tengah hutan. Dia takut jika di sana pasti banyak binatang buas yang siap memakannya kapan pun."


"Ih kasian." Mey meringis mendengar ceritanya.


"Tapi, beruntungnya ada sosok pemuda yang membuat hatinya tenang. Dia menemani gadis itu dan bahkan bersedia mengantarnya ke jalan pulang," ucap Seha meneruskan. Dia kembali membuka lembar daun ke selanjutnya.


"Gadis itu sangat berterimakasih pada sang pemuda yang berhati baik. Benar saja, pemuda itu mengantarkannya ke arah jalan yang dia ketahui. Janjinya ditepati." Ardian menutup kembali bagian daun terakhir.


Mey pun bertepuk tangan dengan senang.


"Tapi ... aku rasa kok itu kayak cerita aku, ya?" tanya Mey.


Seha tertawa melihat Mey kebingungan.


"Iya. Itu cerita kita," jawabnya. "aku berharap sih kalau udah besar nanti, aku bisa jadiin kamu satu topik utama dalam buku karyaku."


"Kakak suka nulis?" tanya Mey.


Seha mengangguk. "Karena menulis adalah bagian hidup."


***


Reza galau karena kepikiran terus soal Mey yang seringkali menceritakan mimpinya. Gadis itu bertemu dengan sosok Seha yang seolah-olah pernah mempunyai cerita khusus di masa lalu.


"Enggak mungkin Seha datang gitu aja dalam mimpi Mey. Pasti, kedatangannya ada yang pengin dia omongin atau ...." Reza menjeda ucapannya. Mengingat apa yang harus dia cari untuk menjadi bukti jika Seha dan Mey pernah mengenal sebelumnya. "Gue harus geledah kamar Seha."


Reza menggenggam kunci kamar Seha yang sudah lama tak lagi dibuka semenjak kepergiannya. Saat pintu kamar itu terbuka, menguar aroma tak mengenakan ke dalam rongga penciumannya.


Kedua kakinya melangkah masuk ke kamar saudara kembarnya. Pandangannya tertuju pada bingkai foto sosok lelaki berkacamata kotak yang masih setia terpajang di atas nakas.


"Seha ... gue harap lo selalu tenang di alam sana." Reza merasa hatinya tersentuh kala memandang gambar wajah Seha yang tengah menyunggingkan bibirnya. Manis.


Tak mau berlama-lama menunda niatnya, dia mulai membuka tiap laci lemari yang terkunci. Beruntungnya, tiap kunci tersebut menggantung di tempatnya. Membuatnya tak perlu kesusahan.


Sudah hampir satu jam dia berada di kamar Seha, tapi Reza belum juga mendapatkan apa pun di sana.


Lelaki itu tak mudah menyerah begitu saja. Matanya menangkap satu laci yang dilewatinya, tapi kunci laci tersebut tak ada di tempatnya.


Reza kelimpungan mencari kunci dari laci yang dibuatnya penasaran. Dia begitu cekatan mencarinya, membuat usahanya tidak sia-sia. Dia akhirnya menemukan kunci tersebut di suatu kotak yang disimpannya di bawah tumpukan buku-buku.


Cepat, dia membuka laci tersebut. Ada sebuah buku sampul cokelat krem bergambar langit cerah.


Reza yakin, buku itu sangat berarti bagi Seha. Di dalamnya pasti banyak tulisan yang menurutnya penting sehingga disimpannya dengan sangat hati-hati.


Lelaki itu penasaran dengan isi buku tersebut. Tak mau membuat dirinya tambah penasaran, dia pun membuka bagian buku tersebut.


Benar saja, di dalamnya ada nama Mey yang tercatat pada bagian lembar pertama dalam buku sampul cokelat krem tersebut.


Sontak saja Reza terkejut dengan apa yang dibacanya. Asumsinya kali ini tidak melenceng. Mey pernah hadir dalam masa lalu Seha, tapi yang membuatnya bingung, kenapa Meysa tidak mengingatnya?


"Apa Mey adalah teman misterius Seha di masa kecilnya?" tanya Reza pada dirinya sendiri.


"Oke. Sebelumnya, gue harus baca buku ini sampai selesai."


Reza pun memutuskan untuk keluar dari ruangan kamar Reza. Baru saja dia melangkah, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada telepon masuk.


Telepon masuk itu dari Meysa.


Alisnya terangkat sebelah. Tidak biasanya Meysa meneleponnya lebih dulu.


Tak mau membuat Mey menunggu, dia langsung menerima sambungan teleponnya.


"Kakak lagi sibuk, kan?"


***


Mey mengernyitkan dahinya saat Reza memberikan sebuah buku sampul cokelat krem bergambar langit cerah.


Dengan senang hati, gadis itu menerimanya.


"Ini apa, Kak?" tanya Mey.


"Buka aja. Kamu pasti senang," jawab Reza seraya tersenyum.


Cepat, dia membuka lembar pertama karena merasa penasaran dibuatnya.


Kedua matanya melebar kala mendapati namanya yang tercatat pada bagian pertama. Mey terkejut.


Dia membacanya dalam hati.


Cerita yang dulu pernah diceritakan Seha tertulis di sana. Meysa ingat betul saat Seha mengumpulkan banyak dedaunan yang ditumpuknya menjadi sebuah buku.


Kisah sosok gadis yang kehilangan arah, ketakutan saat berada di hutan luas, terpisah dari keluarganya, dan yang selalu berputar dalam pikirannya Seha. Dialah Meysa.


Kedua mata Mey mulai memanas, tak terasa air matanya meluncur begitu saja. Dia menangis sesegukan membuat teman-temannya mempertanyakan keadaannya.


Nita terkejut melihat tangisan Mey pecah begitu saja. Dia cepat mendekati gadis itu dan memeluknya mencoba untuk menenangkannya.


Naila terharu melihat Mey yang tengah menangis. Ternyata kisah teman barunya begitu memilukan, dia telah salah menilai Mey dulu.


Mey kembali membuka lembaran selanjutnya. Semuanya tentang Mey, tak ada yang lain. Putaran memori saat di kebun apel dulu kembali mengingatkannya sosok Seha yang selalu menunggu Mey sembari menulis di buku yang kini dipegangnya.


Gadis itu tak kuasa lagi menahan tangisnya. Mendadak kedua lututnya lemas, dia menjatuhkan tubuhnya di bawah rerumputan.


Nita masih setia menenangkannya, mengelus pundaknya yang berguncang hebat.


Tak hanya Mey, Ardian dan Reza pun ikut menangis. Merasakan kehilangan sosok Seha yang patut tuk dijadikan panutan.


"Kak?" ucap Mey, dia mengembalikan buku milik almarhum Seha pada saudara kembarnya lagi, tapi Reza mendorongnya kembali.


"Buku itu pegang sama lo aja, Mey."


"Kenapa, Kak?" tanya Mey lirih.


"Karena hanya lo yang berhak pegang buku milik Seha. Meskipun gue saudaranya, tapi di hatinya cuma ada satu nama. Yaitu lo, Mey." Reza menunjuk sang gadis, sesekali mengusap kedua matanya yang sedari tadi basah.


Mey tersenyum. "Makasih, Kak."


Reza pun membalas senyumannya dan mengangguk pelan.


Hari inilah ... kenangan sosok Seha terkuak, kembali memuncak di bagian ingatannya.


Mey semakin yakin, jika hanya Seha yang akan selalu menempati ruang hatinya.