
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Kehidupan memang penuh misteri. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan itu sedetik atau dua detik berikutnya, tak ada yang tahu. Namun itulah yang menjadi kehidupan ini menyenangkan. Semua penuh kejutan.
Sama halnya dengan hidup Meysa. Setengah dari kisahnya merupakan misteri yang terjalin selama kehidupannya berada di Adipura, dan sisanya mulai terkuak ketika dia menemukan kepingan misteri yang kembali muncul ke permukaan.
Meysa tidak pernah menyangka, jika sosok yang selama ini hadir dalam mimpinya adalah Seha, sahabat masa kecilnya dulu.
Apa yang membuatnya melupakan Seha, sudah diketahui belakangan ini. Meysa menanyakan apa yang terjadi pada kehidupannya di masa lalu. Apa saja yang tidak dia ketahui, tapi terjadi kepada dirinya.
Mamanya dengan sabar mengurut semua puzzle dalam hidup Meysa. Menceritakan dari kegiatan Mey yang selalu minta diajak ke kebun apel, sampai pada tragedi mengerikan yang mengakibatkan kehilangan sosok ayah.
Saat mendengar semuanya, Meysa merasakan sakit dan bahagia secara bersamaan, bergantian, silih berganti masuk dalam relung hatinya yang paling dalam.
Meysa punya riwayat hilang ingatan. Namun itu terobati ketika mamanya dengan telaten mengajak Meysa berobat ke dokter khusus keluarganya.
Sekarang, semua seperti gambar yang Meysa pegang dalam ingatannya, tersusun secara utuh. Potongan-potongan mimpi dan wajah Seha serta siapa dia sebenarnya sudah terkumpul dalam satu bingkai sempurna.
Gadis itu juga sudah menyelesaikan masalahnya dengan Ardian. Walau sebenarnya belum benar-benar terselesaikan karena dia masih harus menjawab pertanyaanya beberapa hari lalu. Namun setidaknya Meysa sudah merasa semua mulai kembali membaik.
"Ahh, aku bosen banget. Ngadain acara, yuk?" ajak Nita saat mereka berdua duduk di kantin. Pulang sekolah kali ini Meysa tidak mengikuti kelas menulisnya karena Ardian sedang meniadakannya.
"Mau apa? Aku bisa temenin kamu ke mana aja, mumpung suasana hatiku lagi bagus," jawab Meysa, tersenyum-senyum senang. Itu justru membuat Nita mengernyit penasaran.
"Ehm, ada yang kamu sembunyikan dariku."
"Apa?"
"Cerita!"
Meysa menggeleng. Terkekeh-kekeh. Dia senang sekali menggoda Nita seperti ini.
Keadaan kantin mulai kosong. Mereka belum tahu harus melakukan apa sepulang sekolah. Nita pun malas masuk ekskul. Dia benar-benar bosan.
"Ish. Meysa. Kamu nyebelin banget, sih kayak Ardian," kata Nita. Dia merengut kesal.
Ucapan itu membuat Meysa tersentak. Dia teringat soal Ardian.
"Nita, aku mau kasih tahu. Aku udah nemuin siapa sosok yang sering muncul di mimpiku," jelasnya. Nita terlihat malas menanggapi, karena dia tahu jika sosok itu adalah Reza.
"Ehm, terus? Bukannya udah ketemu dari dulu. Dia kan Kak Reza?"
"Awalnya, sih."
"Awalnya? Maksudnya gimana, sih, Meysa?"
"Mau dengerin enggak nih? Kalau enggak, aku pulang," kata Meysa sedikit mengancam. Senyum jahilnya mengembang di ujung bibir. Memaksa Nita harus ikut berdiri karena tidak mau kehilangannya.
"Iya, ish. Nyebelin tahu enggak kamu, Mey."
"Jadi cowok itu adalah Seha," kata Mey, mengabaikan Nita yang terlihat kesal.
Meysa pun mulai menjelaskan semuanya dari awal dia bisa tahu soal keberadaan Seha. Termasuk tentang tragedi apel yang sempat mengundang ingatannya di toko buah kala itu. Dia berlanjut menceritakan soal foto kembar yang ada di rumah Reza dan siapa sosok Seha sebenarnya.
"Gila. Serius? Seha itu kembarannya Kak Reza?" tanya Nita tidak percaya.
"Jangan dulu kaget. Aku belum selesai," kata Mey terkekeh-kekeh. Menutup mulutnya dengan kepalan tangan.
"Terus sekarang dia di mana kalau memang bukan Reza orangnya?"
"Dia ... meninggal."
"Oops. Aku turut berduka cita, Mey."
Meysa menggeleng. Dia paham soal itu. Namun sejenak kemudian wajah Nita kembali cerah karena tahu jika Meysa tidak keberatan soal itu. Meysa sudah menerimanya. Itu pasti.
Merasa Nita sangat bersemangat mendengarkan, dia pun melanjutkannya. Meysa bercerita soal sahabat masa kecilnya dulu. Siapa sosok Seha bagi dirinya, dan kenangan yang sempat terhapus sementara dari kepalanya.
Nita benar-benar dibuat kagum. Dia terus berdecak tak percaya. Seolah sedang membaca kisah novel dari penulis terkenal.
"Aku juga kaget kalau ternyata itu adalah kembarannya Kak Reza, Nit." Mey menggeleng tak percaya, setengah takjub dan sisanya benar-benar senang.
"Apa ingatan seseorang emang bisa melakukan sesuatu kayak gitu?" tanya Nita heran. Dia teringat soal kisah yang pernah Mey lupakan, tapi terus saja terbayang di dalam mimpi. Terdengar aneh.
"Singkatnya, otak manusia tetap menyimpan ingatan sesuatu atau seseorang. Meskipun dalam jangka waktu yang lama, tapi kalau otak kita pernah merekamnya, itu akan tetap tersimpan."
"Kamu kan pernah amnesia," kata Nita, tanpa takut Meysa tersinggung. Namun dia tahu jika sahabatnya takkan tersinggung.
"Aku enggak tahu."
Di tengah-tengah percakapan soal Seha, tiba-tiba Ardian muncul dari belakang meja mereka. Lelaki itu menepuk kedua pundak Meysa, dan merapatkan wajahnya di samping Meysa sambil berbisik pelan. Memaksa gadis itu meremang, merinding.
"Aku kenal Seha," kata Ardian. Meysa dan Nita terperanjat, kaget.
Ardian terkekeh-kekeh melihat respons Meysa. Dia kemudian melepas pegangannya, melangkah ke arah kursi di seberang meja Meysa dan duduk tanpa permisi. Sama sekali tidak peduli dengan tatapan kesal di sampingnya.
"Kakak kenal?" ulang Meysa. Ardian hanya mengangguk.
"Kok bisa?" tanya Nita. Dia mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka dengan tingkah sok tahu Ardian. Namun Meysa malah terlihat antusias dengan ucapan Ardian.
"Karena kami dulu satu ekskul. Aku, Seha dan Reza sama-sama di ekskul sastra."
Meysa memelotot mendengar penjelasan barusan. Dia memang pernah mendengar soal Reza berada di ekskul sastra, bahkan dua kali. Saat itu Reza mengatakannya langsung, dan Ardian memberitahunya di rumahnya dulu.
Namun yang membuatnya terkejut adalah Seha dan Reza berada di ekskul sastra. Apa yang membuat Reza pindah?
"Terus, Kak kenapa Kak Reza meninggalkan sastra?"
"Setelah tragedi itu, Reza seolah ingin mengurangi kenangannya bersama Seha di ekskul sastra. Dia enggak bisa terus-terusan di ekskul ketika saudaranya udah enggak ada di sana," jelas Ardian, menatapi gantian dua gadis di depannya.
"Dengernya aja bikin sakit," celetuk Nita.
"Dia mutusin buat masuk ekskul musik."
"Kenapa Kakak enggak pernah cerita soal dia?" tanya Meysa.
"Siapa yang sangka, kan kalau sosok yang sering kamu ceritain itu ternyata Seha?" jawab Ardian setengah bertanya pada diri sendiri dan pada dua gadis di hadapannya.
Meysa mengangguk pelan. Dadanya terasa sakit lagi. Entah apa yang terus berusaha naik ke permukaan, membuat genangan di pelupuk matanya penuh dan tatapannya mulai remang-remang lagi.
Pundak Meysa naik-turun, menahan nafsu yang ingin meledak keluar. Namun gadis itu sebisa mungkin untuk tidak lepas kendali dan menangis begitu saja.
"Kami bener-bener kehilangan sosok Seha. Dia murid kebanggaan semua guru. Bahkan, semua anak gadis rela antre cuma buat daftar sastra, cuma buat lihat Seha." Ardian mencoba tertawa ringan di ujung penjelasannya. Menahan rasa sesak yang terus mencuat di hatinya.
Walau tanpa sadar, air matanya sudah turun, dan dia menangis.
Meysa mendongak, menatap Ardian yang ikut menangis seperti itu malah memaksanya menyerah.
Hancur sudah. Dinding yang sejak tadi Meysa susun agar tak jebol itu akhirnya hancur juga. Tepat saat Ardian bilang jika semua anak sastra sangat kehilangannya, Meysa menangis sesenggukan.
***
Sepulang sekolah, Reza mengajak Meysa berkunjung ke sebuah kafe yang baru saja dibuka. Tempat itu mengusung konsep literasi. Banyak buku dan itu sangat disukai Meysa.
Reza membelikan Meysa secangkir es lemon dan pisang cokelat kesukaannya. Dia kemudian mengajak Meysa keluar kedai karena Reza mulai bosan mengantre. Wajar, karena kedai baru dibuka.
"Jalan-jalan sebentar sambil nunggu pesanan gue matang, mau?" tanya Reza. Dia menyerahkan cangkirnya pada Meysa. Gadis itu tersenyum, kemudian mengangguk.
Keduanya menyusuri kanstin, diselingi lampu jalan per dua meter.
Reza seperti ingin menyampaikan sesuatu kepada Meysa. Namun lidah dan saraf-saraf di mulutnya terasa kaku, sangat sulit digerakkan. Akhirnya Reza hanya bisa menggigit bibir bawahnya sembari membiarkan Meysa menatapi awan di langit.
"Udara siang ini bagus." Meysa menceletuk di tengah mengisap es lemonnya. Reza yang anteng berjalan di trotoar berhenti, menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Awannya bagus. Apa dulu Kak Seha suka awan, ya?" tanya Meysa sambil kembali menyesap esnya.
"Oh," jawab Reza, suaranya memelan di ujung lidah. Dia mendunduk sambil menginjaki kanstin yang ada di bibir jalan. Entah apa yang sedang melandanya, tapi itu terasa menyakitkan di bagian dada.
Reza merasa ada benda tipis tajam menyayat hatinya saat Meysa mengungkit soal Seha.
Apakah karena Reza merindukan Seha dan tidak ingin membahas hal yang membuatnya sakit, atau dia merasa sakit hati karena orang yang dia cintai malah membahas Seha, seseorang yang dia rindukan?
Di tengah keheningan saat mereka berjalan, tiba-tiba Meysa ditarik oleh seorang gadis dari arah belakang. Meysa nyaris terhuyung ke belakang saat gadis itu menarik tangannya dengan paksa.
"Woi," teriak Reza. Dia kaget saat tahu Naila orang yang melakukannya.
"Meysa," kata Naila, melepas tangan gadis itu saat dia mulai berbalik menatapnya.
"Ya, Nai. Ada apa?" tanya Meysa. Dia memutar pergelangan tangan kirinya yang terasa berdenyut sakit. Sama sekali tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Naila di tempat seperti ini.
"Lo harus ikut gue," katanya, dan menarik lagi tangan Meysa secara paksa. Namun Reza menghentikannya.
"Mau apa lo? Lepasin atau gue bisa bertindak kasar sama lo," ucap Reza mengancam. Naila tidak takut, dan dia menatap Reza dengan mata penuh kebencian.
Gadis itu masih menaruh amarah pada Reza, sosok yang membocorkan identitasnya kepada Bu Patmi.
"Lo enggak usah banyak tanya," jawab Naila, menunjuk Reza. "Urusan gue cuma sama Meysa," tambahnya.
"Tapi urusan Mey, urusan gue juga."
"Diam!"
Meysa hanya bisa mengangguk, dan bilang pada Reza jika dia akan baik-baik saja.
"Aku akan ikut Naila."
"Tapi, Mey ...."
Walau awalnya Reza tidak mengizinkan, tapi pada akhirnya dia melepaskan Meysa ke dalam pegangan Naila. Meysa pun dibawa ke dalam mobil milik Naila dan pergi ke suatu tempat.
Reza di belakang mengikuti dengan motor.
Di dalam mobil, Naila merasa canggung sendiri. Udara dingin AC rasanya tidak cukup untuk membuat Naila merasa lebih baik karena hawa panas yang membelenggu.
Dia kikuk sendiri sambil mencoba mencari celah untuk mengucapkan sesuatu yang menurutnya sama sekali bukan dirinya. Ini terlalu mengganggunya dan Naila sangat tidak sudi melakukannya.
"Jadi, sebenarnya gue ada perlu sama lo."
Meysa mengangguk.
"Gue ...." Naila menggigit bibir bawahnya. Rambut ikal pirangnya terbawa angin pendingin, dan tepat ketika sopir menatap ke arahnya, Naila mulai melanjutkan. "Gue butuh bantuan lo.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Gue tahu ini mendadak, dan ... ya, lo tahu sendiri, cewek sepopular gue enggak ada urusan sama lo. Tapi ini demi kebaikan gue juga. Gue mohon, bantu gue mendapatkan kepercayaan guru-guru dan bantu gue belajar buat dapatkan nilai tinggi."
"Hah?"
Meysa kaget dan Naila mulai menyesali ucapannya.
***
"Terima kasih, Nai," ucap Meysa, tersenyum pada Naila yang masih duduk di bangku belakang.
"Oke. Kalau gitu ... gue balik," jawabnya.
Meysa benar-benar merasakan kecanggungan yang Naila sebarkan sepanjang perjalanan dari toko bunga tadi.
Dia sama sekali tidak menyangka jika dirinya harus membantu orang yang pernah membuat namanya tercoreng satu sekolahan.
Meysa melambaikan tangan, saat mobil Naila meninggalkan area pemakaman.
Sambil melangkah masuk ke lokasi di mana makam Seha berada, Meysa mengingat percakapan dalam mobil bersama Naila tadi.
"Tapi apa yang bikin kamu pilih aku?"
"Lo pinter, Mey. Semua guru sayang lo."
"Kamu berlebihan, Nai. Aku enggak kayak gitu."
"Terserah. Gue tetep mau lo jadi tutor gue."
Naila mengibaskan kipas bulunya di depan wajah. Masih bersikap angkuh seperti biasanya.
"Tapi kenapa?"
"Lo tahu sendiri bokap gue galaknya kayak gimana. Gue bisa dikirim ke kampung buat tinggal sama nenek kalau dalam beberapa semester ini nilai gue anjlok terus. Iuh. Ogah banget. Gue rasa lo satu-satunya orang yang bisa bantu gue." Naila melipat kipasnya menjadi sebuah tongkat pendek, kemudian mengetukkannya dua kali ke kening Meysa.
"Tap---"
"Lakukan aja. Gue bisa bayar lo. Sekarang lo bilang mau ke mana? Gue antar lo. Kesepakatan kita udah terpenuhi." Naila kembali membuka kipasnya, mengibaskannya beberapa kali di depan wajah.
Meysa menggeleng, mencoba mengenyahkan ingatan itu dari kepalanya.
Ah, biarlah. Meysa tidak perlu memikirkannya dulu. Dia harus menjenguk Seha dulu dan memberinya beberapa doa.
Setelah tadi diajak berkeliling oleh Naila, Meysa kemudian bilang ingin berkunjung ke kuburan temannya, dan dia minta diantar ke toko bunga untuk membeli satu baket bunga ungu hadiah untuk Seha.
Meysa berdiri di depan makam Seha. Dia mengelus batu nisan itu satu kali, kemudian menaruh bunganya di bawah nisan sambil menciumnya beberapa kali. Tanpa sadar, Meysa kembali menangis.
"Kak Seha, aku kangen. Kita bisa ketemu lagi, kan?" kata Mey lirih. Bahkan bibirnya tak terasa sakit saat dia gigit dengan sangat keras.
Rasa sakit yang terasa justru berada tepat di dadanya. Meysa seakan disayat oleh benda tipis tajam berulang kali. Dan dia makin merasa sesak, kesulitan bernapas. Membuatnya tersungkur di tanah sembari sesenggukan.
"Mey," sapa Reza saat tiba-tiba lelaki itu muncul dan mengelus punggungnya dengan lembut.