Someone In There

Someone In There
23. Bukan Dia


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Memperjuangkan cinta seseorang itu tidak mudah, apalagi jika yang diperjuangkan seolah tak peduli, bahkan lebih memilih mempertahankan sosok insan lain yang belum tentu memperjuangkannya.


Mungkin mudah saja bagi Nita memberikan semangat kepada sang kakak yang tengah dirundung pilu dengan kata-kata seperti itu. Meski sebenarnya lelaki itu telah putus asa karena semesta tak berpihak padanya.


Mungkin saja Ardian memang sudah ditakdirkan untuk kalah, pasrah, dan menyerah.


Sepulang sekolah Nita menyarankan padanya untuk mengantar sahabatnya pulang. Meski awalnya Ardian enggan melakukan saran dari sang adik, tapi akhirnya dia tetap melakukannya.


Kemarin Reza memang lebih beruntung, tapi mungkin saja hari ini ataupun esok Ardian yang sangat beruntung, pikirnya.


"Semangat!" Nita mengacungkan tangannya yang terkepal, memberikan semangat pada kakaknya yang kini sudah menyalakan motor.


"Doain, ya?" ucap Ardian pada Nita. Pandangannya tak terlepas dari sosok gadis yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah.


Nita mengangguk, dia mengacungkan dua jempolnya, dan kembali mengingatkan, "Udah cepetan sana! Nanti keburu dijemput sama Reza lagi."


Ardian pun menghampiri Mey. Gadis itu belum menyadari kehadiran sang kakak kelas karena kedua netranya masih terpaku pada ponselnya.


Suara klakson sengaja ditekan beberapa kali, membuat Mey menyadari keberadaannya, mengalihkan pandangannya dari ruang obrolan yang sedari tadi membuat sudut bibirnya melengkung.


"Eh, Kak?" tanya Mey kikuk, dia menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


Melihat sosok Ardian membuatnya teringat pada perjanjiannya malam itu. Kakak kelasnya mengajak ketemuan, tapi dia malah pergi bareng Reza.


"Mau pulang?" tanya Ardian menyadarkan Mey dari lamunannya.


Mey mengangguk pelan. Kepalanya menunduk dalam, dia merasa bersalah pada lelaki yang kini ada di depannya, karena tidak menepati janjinya.


"Kak ... maaf," ucap Mey lirih.


"Untuk?" tanya Ardian, meski dia tahu kata maaf Mey untuk janji waktu malam yang tidak ditepatinya. Namun, lelaki itu ingin mendengar langsung penjelasan darinya.


"Waktu malam. Aku---"


"Mey ... yuk!"


Sosok Reza mengacaukan pembicaraan mereka, dia menghentikan motor merahnya tepat di depan Mey. Memotong apa yang akan Meysa ucapkan pada Ardian.


Kedua tangan Ardian mengepal, matanya menatap Reza tajam.


"Maaf, Kak ...," ucap Mey terjeda. "Aku pulang duluan, ya." Mey menerima helm yang diberikan Reza, dan cepat memasangkannya.


"Oh. Iya. Silakan." Sebisa mungkin Ardian tersenyum, meski hatinya terasa sakit kembali. Sudah berturut-turut dia melihat langsung Mey bersama Reza, dia berharap semoga hatinya lebih kuat.


Mey melambaikan tangannya pada Ardian saat Reza mulai melajukan motornya dan meninggalkan kawasan sekolah Adipura.


"Yah ... kalah lagi," ucap Nita menghampiri kakaknya setelah kepergian Mey.


Ardian terdiam. Memainkan kunci motor yang masih menggantung di tempatnya. Nita naik, duduk di belakangnya.


"Ngapain?" Ardian melirik ke belakangnya.


"Pulanglah. Kan nganterin Mey kagak jadi. Yaudahlah anterin adeknya yang paling imut ini pulang." Nita menepuk bahu Ardian layaknya pada tukang ojek.


"Dih ... pulang aja sendiri. Males. Sana turun!" pinta Ardian tegas.


"Ih pelit banget sih. Jangan galak-galak, pantesan aja Meysa-ku demennya deket sama Reza," ucap Nita kesal, dia turun dari motor kakaknya sembari berkacak pinggang.


"Maksudnya, Meysa takut kalau sama gue gitu?" tanya Ardian.


"Pikir aja sendiri." Kedua kaki Nita melangkah keluar gerbang lebih dulu tanpa memedulikan kakaknya yang memanggil namanya.


Setiap pulang sekolah Mey dan Reza biasanya singgah ke salah satu tempat, entah taman ataupun kedai. Namun, untuk kali ini lelaki berparas Chinese itu mengajak sang gadis ke rumahnya.


Mey menyetujui ajakannya, lagipula Reza pun sering datang ke rumahnya. Sedangkan, sang gadis belum mengetahui di mana letaknya dia tinggal.


"Nah, ini rumahku, Mey." Reza kembali mengganti kata sapaannya menjadi lebih diperhalus. Dia menunjuk bangunan besar nan megah yang ada di depannya.


Mey berdecak kagum saat melihat desain rumah Reza bagai bangunan kerajaan yang pernah dilihatnya di film barbie.


"Yuk masuk!" Reza menarik tangan Mey memasuki rumahnya.


Bukan hanya luar rumahnya saja yang menakjubkan, ternyata di dalamnya pun tak kalah megah dengan hiasan yang elegan. Mey menggelengkan kepalanya pelan mendapati banyak karya seni yang ditempel di atas dinding.


"Duduk, Mey." Reza menepuk kursi di sampingnya.


Mey pun mendudukkan pantatnya tepat di kursi samping Reza.


"Bagus banget rumahnya, Kak." Kedua mata Mey kembali menilik sekitar, dia sangat menyukai lukisan di pojok lemari kaca, terlihat unik dan menarik.


Bibir lelaki itu naik ke atas membentuk bulat sabit. Pandangannya mengikuti arah kedua netra Mey yang kini tertuju pada bingkai foto kecil di atas nakas.


"Itu siapa, Kak?" tanya Mey pada gambar berbingkai kayu yang menunjukkan foto diri Reza dengan satu orang lelaki yang memiliki wajah persis sepertinya, tapi yang membedakan keduanya adalah penampilannya.


Meski lancang Mey meraih bingkai foto itu, menilik gambarnya kembali dengan saksama, lalu disodorkannya pada Reza meminta jawaban dari pertanyaannya.


"Dia ... saudara kembarku, Mey," jawabnya lirih seraya meraih bingkai foto itu dari tangan Mey. Dia menatapnya nanar, hatinya terasa menyesakkan saat memorinya kembali berputar bagai sebuah video.


"Saudara kembar kamu, Kak?" tanya Mey mengulang, mencoba kembali memastikan.


Reza mengangguk pelan. "Iya. Namanya Seha."


"Kembaran Kakak? Seha?" tanya Mey lagi, dia kembali merebut bingkai foto itu dari tangan Reza.


Gambar di foto itu memiliki wajah persis seperti Reza. Hanya saja Reza terlihat lebih cool. Kacamata berbentuk kotak bertengger di wajah oval Seha, menjadikan pembeda antara keduanya.


"Dia kakak kelas kamu juga, sekolah di Adipura."


Hati Mey terasa sesak, kedua matanya terasa panas, dan akhirnya air matanya pun meluruh begitu saja.


"Lalu?" tanya Mey pelan.


"Dia orangnya perhatian, pengertian, pendiam. Penasihat yang sangat baik, sosok murid yang selalu diandalkan oleh setiap guru, lelaki tampan yang diidamkan para siswi seantero Adipura, dan sosok putra yang selalu dibanggakan orangtua," ucap Reza lirih, tangan kanannya menutup kedua matanya kini sudah basah oleh cairan bening air mata yang sedari tadi mendesak keluar.


"Berarti dialah orang yang selama ini aku cari," ucap Mey lirih. Kedua tangannya menutup wajahnya.


"Maksud kamu, Mey?" tanya Reza, satu alisnya terangkat.


"Di mana, Kak Seha sekarang? Aku ingin bertemu dia!"


Pertanyaan Meysa belum juga dijawab. Reza mendadak bisu, berulang kali memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Kak, di mana dia?" tanya Mey kesekian kalinya.


"Dia ...," ucapan Reza terjebak, tenggorokannya terasa tersendat, suaranya parau dan perlahan dia menghela napas. "Sudah pergi jauh, Mey."


"Pergi? Ke mana?" tanya Mey penasaran.


"Pergi ke tempat yang lebih tinggi. Jauh dari kita, dia sudah beda alam, dia benar-benar sudah pergi." Reza mengusap wajahnya dengan kasar, sekelebat wajah sang kakak membayangi pikirannya.


Mey beranjak dari duduknya, mematung seraya menatap wajah Reza yang tampak menyedihkan.


"Kenapa, Kak? Kenapa? Kenapa Kakak baru ngebahas tentang dia? Kenapa Kakak enggak pernah cerita ke aku kalau Kakak punya kembaran, yang mungkin aja dia memang datang ke mimpiku? Kakak bohongin aku? Aku kecewa, Kak!"


Amarah Mey membludak saat itu juga, wajahnya merah padam, dan kedua matanya mengkilat.


"Gue bohongin lo? Gue enggak pernah ada niat sedikit pun ngebohongin lo, Mey!" Reza terpancing emosi, nada suara sedikit meninggi membuat Mey terperanjat kaget.


"Jelas-jelas Kakak ngebohongin aku! Kakak enggak pernah ngebahas tentang Kak Seha! Aku benar-benar kecewa, Kak!" Mey pergi berlari dari hadapan Reza, emosinya tidak bisa dikendalikan.


"Mey!" teriak Reza melihat kepergian Mey dari rumahnya tanpa pamit.


"Kenapa harus Seha, Mey?" ucap Reza lirih.


Berulangkali Reza memukul kepalanya, tubuhnya terasa lemas, membuatnya terduduk di bawah lantai. Kepalanya menunduk pada kedua lutut yang sengaja ditekuknya.


"Gue cinta sama lo, Mey! Gue benar-benar enggak mau kehilangan lo! Asal lo tahu itu!" gumam Reza pada dirinya sendiri dengan pelan.


Merasa jarak keberadaannya dari rumah Reza terbilang sudah lumayan jauh, Mey melangkah pelan menyusuri jalanan berumput hijau. Di seberangnya tampak ramai, jalanan luas dan banyak kendaraan beroda empat maupun beroda dua yang berlalu lalang.


Mey benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Sosok lelaki yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya ternyata bukanlah Reza orangnya.


"Mey!"


Merasa terpanggil, Meysa menoleh ke belakangnya dan mendapati Ardian yang menghentikan motornya tepat di pinggir jalan.


"Kak."


"Kamu kenapa, Mey?" tanya Ardian, dia melihat kedua mata sang gadis berkaca-kaca. "Kok jalan kaki? Ini bukan arah jalan ke rumah kamu lho."


Mey menundukkan kepalanya dalam, terdiam membisu tak menimpali pertanyaan beruntun dari Ardian.


"Reza mana?" tanya Ardian lagi.


"Aku mau pulang, Kak," ucap Mey lirih.


"Oh. Yaudah aku antar," ucap Ardian. "Ayo naik, Mey."


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Mey hendak naik di belakangnya Ardian.


Ardian tak lagi mengajak Mey berbicara. Dia memilih diam sembari fokus mengendarai motor karena melihat kondisi gadis itu saat ini sedang tidak baik-baik saja.


☘☘☘


Nita sedari tadi membicarakan cowok yang dikaguminya saat SMP, yang nyatanya kemarin bertemu lagi saat pulang sekolah. Sampai mulutnya berbusa pun Mey tidak fokus mendengarkan curhatan gadis berambut sebahu itu.


Mey lebih banyak diam, dan tidak menceritakan apa pun pada sahabatnya. Nita akhirnya menyudahi curhatannya karena melihat kedua mata gadis di hadapannya tidak terfokus pada dirinya.


"Mey ... dengerin aku ngomong enggak, sih?" tanya Nita kesal.


Mey masih diam. Pandangannya kosong.


"Mey!" Untuk kali ini Mey terperanjat kaget.


"Eh? Apa, Nit?" tanya Mey.


"Meysa-ku, kamu kenapa? Sebenarnya kamu kenapa, sih? Ada masalah?" tanya Nita.


Mey menggelengkan kepalanya lemah. "Enggak, Nit."


"Kamu tadi dengerin cerita aku enggak?" tanya Nita, alisnya terangkat sebelah.


"Cerita? Cerita apa, Nit?" tanya Mey, dahinya berkerut bingung.


"Hmz."


"Maaf, Nit. Aku tadi enggak fokus," ucap Mey lirih.


Nita memutar kedua bola matanya malas. "Ke kantin yuk!"


"Yaudah ayo!"


Keduanya hendak beranjak, bersamaan itu pula Reza datang menghampiri mereka.


"Mey ...."


Mey memalingkan wajahnya ke arah pohon rindang. Dia benar-benar tidak ingin melihat wajah sosok lelaki yang telah membuatnya kecewa.


"Mey ... gue pengin ngomong sama lo," ucapnya lirih. "Gue pengin jelasin semuanya."


"Nit ... kitakan mau ke kantin? Yuk cepetan!" Mey menarik lengan Nita, mengabaikan kehadiran Reza di sampingnya.


Nita celingukan bingung dengan sikap Mey yang seolah tidak peduli pada Reza. Sikapnya berubah, entah apa yang membuatnya menjauh dari lelaki yang selama ini dia kejar mati-matian. Namun, sekarang Mey menjauh begitu saja. Usahanya seolah-olah sia-sia.


Reza mencekal tangan Mey dengan kuat, tapi cepat gadis itu menepisnya dengan kasar. Kedua matanya mengilat menatapnya tajam.


"Aku pengin ngomong, Mey."


"Dari tadi Kakak udah ngomong."


"Aku serius."


"Enggak ada yang perlu diomongin lagi, Kak!" ucap Mey penuh penekanan.


"Kenapa? Kenapa, Mey? Aku pengin jelasin semuanya!"


"Karena semuanya udah jelas, Kak!"


Tak ingin mendengar ucapan dari Reza lagi yang dianggapnya seorang pembohong, dia melenggang melewati lelaki itu tanpa mengatakan apa pun lagi.


"Mey!"


Begitu pula saat Mey sampai di kantin, Reza tak menyerah membuntuti gadis itu, hanya ingin menyelesaikan masalahnya. Namun, jika hati perempuan sudah terluka, sangat sulit untuk mengembalikannya.


Meysa memilih pergi, menyudahi makanannya yang masih belum habis.


"Mey ... ke mana?" tanya Nita yang masih mengunyah pisang cokelat.


"Ke kelas, Nit."


"Kan punya kamu belum habis. Masih banyak pula, Mey," ucap Nita sembari melirik pada makanan di sampingnya.


"Kenyang."


Mey melenggang pergi tanpa menoleh ke sampingnya. Di sana ada Reza yang tengah berusaha mendekatinya, tapi gadis itu malah menjauh. Sebagai sahabat sejati, Nita pun ikut mengejar Mey, dia hanya melirik kakak kelasnya sekilas.


Reza tetap berusaha untuk menemui Meysa. Sampai gadis itu berada di dalam kelas pun, dia ke kelas Mey untuk menemuinya.


"Mey, tuh ada Kak Reza, katanya pengin nemuin lo," ucap sosok lelaki berperawakan jangkung yang merupakan ketua kelas.


"Suruh balik aja." Mey menenggelamkan kepalanya pada tumpuan kedua tangannya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Enggak."


Telah berbagai cara Reza lakukan untuk menjelaskan semuanya pada Mey. Tetap saja usahanya sia-sia.


☘☘☘


Meysa tidak langsung pulang, karena dia harus mengikuti pembelajaran di ruang sastra. Di sana sudah ada Ardian dan Ayana yang menyambut kedatangan murid-murid di eskulnya.


Hari ini Ardian menjelaskan tentang premis cerita. Semua anggota eskul sangat antusias ketika diberikan tugas untuk membuat sebuah premis. Judul ceritanya pun bebas, di sana mereka dibebaskan untuk berkhayal.


Mey cepat mengerjakannya, judul yang diambilnya "Dermaga Terakhir". Isi ceritanya sebagian dari kisah mimpi yang sempat menemani malamnya. Sosok lelaki berkacamata yang takkan pernah bisa dia temui langsung, dan takkan bisa dimiliki seutuhnya.


Setelah selesai mengerjakan, Mey memberikannya pada Ardian untuk dikoreksi bagian-bagian yang kurang atau terlalu bertele-tele.


"Kak ... aku udah." Mey menyodorkan buku bersampul merah muda berdesain biru pada Ardian yang tengah memainkan handphone.


Biasanya, Ardian cepat merespons ucapan gadis itu. Dengan senang hati memberikan komentar pada ceritanya, tapi untuk kali ini dia menggeserkan buku Mey pada Ayana, pandangannya tetap fokus pada benda pipih berlayar canggih di atas meja.


Ayana melirik temannya dan Meysa secara bergantian. Dia bingung dengan sikap Ardian yang berubah drastis pada adik kelasnya.


"Kamu masih ada kesalahan di beberapa bagian, Mey. Biar aku kasih tanda, ya?" ucap Ayana sembari mencoret sebagian kalimat dari karya Mey.


Meysa hanya mengangguk. Menatapi Ardian yang masih sibuk dengan handphone-nya. Dia merasa jika sikap sosok guru literasinya berubah, tidak seperti biasanya yang selalu memperhatikannya lebih.


"Kak, aku udah," ucap salah satu anggota eskul, namanya Tiwi.


Karya milik gadis berambut ikal itu cepat dibacanya dengan saksama. Mematikan ponselnya yang jelas-jelas sedari tadi fokus memainkannya. Dia juga berpindah tempat, menjauh dari Mey tanpa menyapa atau sekedar tersenyum padanya. Hal itu membuat Mey gelisah dan bertanya-tanya.


Seusai pembelajaran di ruang eskul, Mey berniat untuk menemui Ardian yang masih berada di dalam ruangan bersama Ayana.


"Kak ...," panggil Mey pelan, menghampiri Ardian yang lagi-lagi menyibukkan dirinya membereskan beberapa buku tebal.


"Aku lagi sibuk banget hari ini, Ayana," ucap Ardian, tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku yang berserakan di atas meja.


"Yaudah biarin aku aja yang beresin, Ar." Ayana melirik kehadiran Mey yang merasa terasingkan.


"Yaudah makasih, Na ... kalau gitu aku duluan, ya." Ardian cepat pergi begitu saja, mengabaikan kehadiran Mey yang tengah mematung bingung.


Meysa tak ingin meributkan masalah sikap Ardian yang berubah drastis. Dia pun memutuskan untuk pulang, bersamaan Reza berlari menghampirinya.


"Mey!" panggilnya. Reza menghalangi jalan Mey, membuat gadis itu kesal.


"Tolong jangan halangin jalan aku, Kak!" Mey menekankan ucapannya membuat Reza mengalah, memberikan jalan.


Dengan cepat Mey meninggalkannya, mengabaikan panggilan beberapa kali dari Reza menyebut namanya. Dia benar-benar marah pada lelaki itu.


Sesampainya di rumah, Mey menenggelamkan wajahnya pada bantal berseprai warna merah. Dia sudah lelah dengan skenario semesta.


Dia kepikiran terus pada Ardian yang tiba-tiba menjauhinya begitu saja, padahal kemarin lelaki itu sempat mengantarkannya sepulang dari rumah Reza.


Di satu sisi lain, dia juga teringat masalahnya dengan Reza. Dia tidak ingin menemui lelaki itu lagi, karena Reza bukanlah sosok yang selama ini dicarinya dari mimpi.


Malam itu, Mey gelisah. Angin sepoi yang sesekali meniup gorden jendela kamarnya dengan pelan, gadis itu sembari menatap langit hitam berbintang.


"Kak Ardian kenapa? Kak Reza bagaimana? Kak Seha apa kabar?" ucap Mey lirih pada tiga bintang yang berjejer di sebelah barat lebih terang dari bintang yang lainnya.


"Lelaki itu ternyata bukan dia."