Someone In There

Someone In There
18. Kepingan Misteri


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


Dokter bilang kondisi Mey tidak seburuk yang Nita bayangkan. Gadis itu sudah bisa pulang setelah istirahat cukup. Jadi, ketika Ardian dan Nita memutuskan untuk meninggalkan klinik, Meysa ikut dengan mereka.


"Kamu, Mey enggak pernah mau dengerin aku. Sekarang terasa, kan?" tanya Nita ketika mereka ada di depan gerbang klinik.


Nita merasa jengkel sendiri karena sahabatnya itu tak pernah mau menuruti apa yang dia suruh. Bukan soal harus membawa barang ini dan itu, Nita hanya menyuruh Mey untuk banyak istirahat saja.


"Ish. Sebel." Nita kembali menggerutu.


Mereka berniat pulang barengan.


Ardian membawa mobil ayahnya, jadi mereka bisa pulang bersama.


"Aku enggak apa-apa, Nita." Mey mengibaskan tangannya pelan, kemudian mulai tersenyum ketika melihat Ardian menghampiri dengan sedan hitam ayahnya. Nita menggerutu sambil mulai masuk ke mobil.


"Ada yang mau kamu beli?" tanya Ardian, menoleh lewat spion di atasnya.


Meysa menggeleng.


"Kak, beli dulu buah sama roti, ya? Tadi kita ke rumah sakit enggak bawa apa-apa," kata Nita. Meysa hanya terdiam sambil menatapi Ardian lewat spion.


"Yaudah kita ke toko buah sekalian pulang."


Sedan hitam itu pun memelesat meninggalkan area klinik tanpa tahu jika di seberang jalan ada Reza dengan motornya memerhatikan. Lelaki itu diam-diam mengikuti laju mobil yang membawa Meysa ke rumahnya.


Di perjalanan, Meysa menghabiskan waktunya dengan tertidur, Nita menatapi jalanan dari balik jendela dan Ardian fokus pada jalanan di depannya.


Mereka sama-sama sibuk.


Nita menatap pepohonan sambil berpikir apa yang telah membuat sahabatnya berbuat sejauh itu. Sebenarnya, siapa Reza bagi Meysa? Apa hubungan mereka di masa lalu?


Tidak mungkin jika ini hanya sebuah kebetulan. Pasti ada yang terjadi di masa lalu sahabatnya itu, tapi apa? Nita tak bisa menemukan jawabannya.


Ini semua membuat kepalanya berdenyut nyeri. Nita tidak kuat jika harus dipaksa berpikir hal yang rumit.


Sedan hitam itu sampai di toko buah. Meysa dibangunkan, dan mereka pun mulai memasuki ruangan kecil yang diampit toko-toko besar. Meysa memilih jeruk dan apel. Ketika tangannya menyentuh buah berwarna merah itu, aroma buah apel menyeruak ke hidunganya, membawa sesuatu yang menjalar di tangannya, lurus naik ke otak yang membuatnya merasakan sakit.


Meysa mengaduh.


"Kenapa, Mey?" tanya Nita. Dia menaruh jeruk yang sudah dipilihnya ke kantung pelastik.


"Aku sakit kepala."


Meysa mengurut pelipisnya. Bau apel-apel di depannya terus merangsang semua rasa sakit di kepalanya.


Aneh. Dia merasakan ada tayangan kilas-balik yang muncul di ingatannya. Tak lama memang, hanya sekitar dua sampai tiga detik. Remang-remang.


"Aku suka apel. Haha."


Kilas-balik itu muncul.


"Kamu suka apel juga, kan?"


Tayangan itu hilang lagi secepat datangnya.


Meysa melihat seseorang dalam ingatannya, tapi bayangan itu lagi-lagi hanya berbentuk kelebatan hitam remang-remang. Tak bisa ditangkap, apalagi dikenali.


Mey menggeleng. Ada yang salah dengan kepalanya.


"Kamu oke?" tanya Ardian. Dia dan Nita saling tatap.


"Aku ... kayaknya belum pulih aja, Kak," jawabnya. Ardian mengambil alih pelastik di tangan Meysa.


"Yaudah, kamu balik ke mobil, biar aku sama Nita yang urus."


Meysa mengangguk dan pergi meninggalkan toko lebih dulu. Tepat ketika dia akan masuk ke mobil, kedua matanya seperti melihat seseorang di ujung jalan. Sosok itu terlihat gelisah sampai akhirnya bersembunyi.


Meysa merasa jika dia salah lihat, tapi dengan jelas sosok tadi ada di sana.


Tak memedulikan hal itu, dia pun mulai masuk ke mobil untuk istirahat.


Akhirnya Nita dan Ardian menyusul dengan dua kantung keresek ukuran sedang. Sekantung buah-buahan dan roti serta susu kental manis.


Mobil hitam mereka memelesat lagi ke rumah Meysa, dan di ujung jalan, Reza dengan motornya kembali mengikuti diam-diam.


Reza hanya khawatir jika Meysa kenapa-kenapa lagi. Dia bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada Meysa belakangan ini. Setidaknya memastikan jika gadis itu bisa sampai rumahnya dengan kondisi baik-baik saja.


Dengan tempo laju rata-rata, dia mengikuti mobil itu memasuki gerbang perumahan. Melewati pepohonan rimbun dan mulai berhenti di sebuah kelokan ketika melihat mobil Ardian parkir di depan rumah warna cokelat tua di ujung jalan kompleks.


Reza memerhatikan dengan saksama.


"Jadi itu rumahnya?"


Reza menyunggingkan senyum, kemudian menyalakan lagi motornya untuk kembali ke rumahnya, karena dia pun belum istirahat.


**


Pengharum lantai aroma pinus menyeruak masuk ke lubang hidungnya. Ada rasa segar menggelitik penciumannya ketika dia memasuki rumah dua lantai nuansa mewah itu.


Langkahnya bergema di atas keramik warna krem. Suara itu memantul di ruangan besar yang sepi.


Reza melemparkan tasnya asal ke sofa, kemudian membaringkan tubuhnya di salah satu sofa di seberangnya. Lelaki itu menarik napas sekuat dadanya bisa, kemudian diembuskan dengan kasar.


Rumahnya kosong. Membosankan seperti biasa.


Ada rasa sakit yang menguar di udara, menyelinap ke balik seragamnya dan menusuk tepat di dada kanan. Reza mengerang tanpa sebab.


Pikirannya dia coba alihkan dari kekosongan yang menyelimuti, berpikir tentang gadis yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya.


Meysa ... ya, dia.


Reza sama sekali tidak menyangka jika gadis itu akan seperti itu. Benar-benar di luar dugaan.


"Gila, sih cewek itu sampai segitunya."


Reza mencoba memejamkan mata. Membayangkan mata hitam arang Meysa yang terus mengilat saat membahas tentang mimpi.


Lampu gantung itu berubah bentuk menjadi wajah Meysa yang tengah tersenyum. Matanya yang sipit semakin membentuk garis lurus ketika tersenyum. Secepat semua khayalan itu datang, secepat itu pula Reza menggeleng kencang.


Hapus. Hapus. Jangan memikirannya.


"Arghh ...."


Reza mengurut pelipisnya.


"Gue harus jenguk dia," katanya, menoleh pada tas yang tergeletak di sofa, kemudian kedua matanya yang cerah itu terlempar ke arah bingkai foto yang ada di atas lemari kayu warna hitam pekat.


"Ya, gue harus ke rumah gadis itu."


Tanpa babibu lagi dia pun kembali ke rumah Meysa.


Namun ....


"Ngapain lo ke sini lagi?" tanya Nita ketika Reza sampai di depan rumah Mey. Gadis itu berkacak pinggang sambil memasang wajah marah. Kedua matanya memelotot. Mengerikan.


"Gue bukan mau ke temu lo, jadi lo minggir. Oke?" kata Reza datar seperti biasa. Di tangannya ada sekeranjang buah dan sekotak pisang cokelat kesukaan Meysa.


"GAK! Gue enggak akan biarin lo deketin Meysa-ku lagi. Lo enggak sadar kalau semua ini---"


Nita tak sempat mengucapkan semuanya, saat tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka. Meysa muncul dengan sweter merah maroon sambil menatap Reza sendu.


"Siapa?" tanya Mey. Matanya terarah pada Reza. Gadis itu mengulum senyum, dan diam setelahnya.


"Kamu kenapa keluar, Meysaaaa! Di sini anginnya kenceng. Kamu belum sehat. Masuk!" perintah Nita. Gadis itu memutar balik tubuh Meysa dan mendorongnya masuk ke rumah. Namun Meysa merentangkan kedua tangannya di ambang pintu, berpegangan.


"Enggak."


Nita terdiam.


Reza yang masih berdiri di sana hanya memerhatikan. Hatinya terasa hangat ketika tadi Meysa tersenyum ke arahnya.


"Meysa ...."


"Nita, aku enggak apa-apa. Lagian Kak Reza mau jenguk aku, kan?" tanya Meysa sambil kembali berbalik dan menghadap ke arah lelaki itu. Nita diam dan Reza mengangguk.


"Lo ... udah baikkan?" tanya Reza. Lelaki itu sedikit mengalihkan pandangannya ke sisi lain sambil menggosok sikutnya dengan tangan kiri. Aura canggung menguar di udara. Pekat.


Meysa mengangguk.


"Masuk, Kak."


"Di sini aja. Gue ... gue cuma mau mastiin kalau lo ... udah baikkan."


Reza menggigit bibir bawahnya.


Mengapa? Dia merasa sangat canggung sekarang. Rasanya mengatakan semua itu membuat dadanya berdegup kencang, dan tubuhnya membeku.


Reza seperti sosok lain, bukan dirinya ketika mengatakan semuanya.


"Gak. Dia enggak baikkan." Nita menyambar.


"Baik," jawab Mey nyaris bersamaan dengan Nita. Gadis itu menoleh ke arah Nita dan memelotot. Nita hanya diam sambil merengut sebal.


"K-kalau gitu, gue balik. Ini ada buah buat lo."


Reza menyodorkannya ke arah Meysa dan disambar oleh Nita dengan cepat karena gadis itu melihat sekotak pisang cokelat kesukaannya. Meysa hanya tersenyum kemudian kembali menatap Reza yang berusaha untuk berbalik meninggalkannya.


"Tunggu, Kak."


"Apa?" kata Reza. Dia belum sempat berbalik karena Meysa menahannya.


"Duduk dulu, ya?" Gadis itu mengajaknya duduk di kursi depan. Reza hanya mengangguk pelan.


"Kamu ambil air, ya?" kata Meysa pada Nita. Walau kesal, Nita tetap melakukannya. "Kakak, ada yang mau aku bahas," tambah Meysa.


Mereka pun duduk bersisian. Meysa menatapi dedaunan di taman rumahnya dan Reza hanya diam sambil menahan diri agar tidak merasa jadi sosok yang kikuk di depan Meysa.


Sekitar beberapa menit keheningan melanda, akhirnya Nita datang membawa camilan dan air untuk Reza.


"Kak, aku masih belum dapat jawaban soal mimpi itu," ucap Mey pada akhirnya. Gadis itu tersenyum sambil menatap Reza yang kini diam membalas tatapannya.


"Aku akan berhenti bertanya setelah tahu jawabannya. Semakin ke sini, teka-teki itu semakin banyak. Aku ingin semua jawaban itu." Meysa mengangguk setelah mengatakannya. Kilatan di matanya makin jelas terlihat. Meysa bersemangat.


Reza tak tahu harus menjawab apa. Dia menoleh pada Nita yang kini merengut tak suka ke arahnya. Gadis itu memelotot, mengancam.


Pikiran lelaki itu terlempar kembali ke masa lalu. Dia sedikit memejam membayangkannya. Tak lama setelah itu, dia ingat pada bingkai foto yang dia lihat di atas lemari sebelum berangkat ke rumah Meysa tadi.


Reza membuka mata, kemudian tersenyum.


"Udah, lupain aja. Itu cuma mimpi, kan? Yang terpenting sekarang lo udah sehat. Lo udah baikkan."


Meysa diam. Tatapan lelaki itu terlihat berbeda bagi Meysa. Seolah jika sosok yang selama ini muncul di mimpinya benar-benar sedang berdiri di hadapannya sekarang.


Dia memelotot tak percaya dengan apa yang ada di depannya.


"GWS, ya?" tambah Reza.


Reza berdiri dan Meysa makin membulatkan kedua matanya.


Benarkah ini Reza?


Ada aliran hangat dan lonjakan perasaan aneh di dadanya. Meysa merasa jika ucapan terakhir lelaki itu meresap seluruhnya ke dalam dada. Membuat nyaman.


Meysa menelan ludahnya, kemudian mengangguk.


"Iya, Kak. Terima kasih."


Reza pun pulang.


"Kalian ... kenapa?" tanya Nita.