Someone In There

Someone In There
17. Ungkapan Kejujuran


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Sesuai ajakan Mey pada Reza, saat jam istirahat dia menunggu kakak kelasnya di taman belakang. Di bawah pohon kersen.


Tak berselang lama, Reza menghampirinya dan duduk di sampingnya. Kedua tangannya membawa dua botol minuman dingin yang sempat dibelinya.


"Akhirnya Kakak datang," ucap Mey seraya tersenyum.


"Iya," jawab Reza, menyodorkan satu botol minuman pada Mey.


"Makasih."


Dengan senang hati Meysa menerimanya.


"Mau ngomong apa?" tanya Reza langsung pada inti percakapan mereka.


"Aku mau menyampaikan hal yang menurutku penting. Dari dulu aku kepengin, deh ngebahas hal ini," ucap Mey, kepalanya menunduk sembari memandangi botol minuman.


"Penting?" Reza mengerutkan dahinya bingung.


"Iya."


Reza membuka tutup botol minuman yang dipegangnya, lalu meneguknya beberapa kali.


"Aku selalu bermimpi seseorang," ucap Mey sembari menatap Reza yang tengah menikmati minumannya. "Dan ... seseorang itu adalah Kakak."


Reza sampai terbatuk-batuk saat mendengar pernyataan Meysa. Kedua matanya memerah, sesekali menepuk-nepuk dadanya. Beberapa kali Reza berdeham dan kembali meneguk sisa minuman dari botol yang dipegangnya sampai tandas.


"Kak, kenapa?" tanya Mey cemas.


Dia mencoba membantu Reza dengan memberikan botol minuman miliknya yang masih utuh. Dibukanya tutup botol itu, lalu diberikannya pada lelaki yang belakangan ini seringkali menganggu pikirannya.


"Enggak apa-apa." Reza mendorong botol itu pada Mey. Lagipula tenggorokannya sudah kembali membaik.


"Beneran enggak apa-apa?"


Reza mengangguk pelan. "Iya. Lanjutin ceritanya."


Entah kenapa setelah mendengar pernyataan Meysa yang menyangkut dirinya, Reza semakin penasaran dengan cerita sang gadis selanjutnya.


"Aku ketemu sama Kakak. Aku selalu bersama Kakak. Dalam mimpi itu kita seperti sudah kenal lama." Mey tersenyum kala mengingat mimpinya tempo hari.


Reza terdiam sepersekian detik. Mencerna ucapan Meysa sebelum menanggapinya.


"Terus?"


"Alasanku masuk ke sekolah Adipura pun karena mimpi yang selalu datang dalam tidurku. Sekarang, aku pikir ternyata keputusanku enggak salah, Kak. Aku masuk ke sekolah Adipura dan akhirnya bertemu Kakak," ucap Mey jujur.


Meysa lega, karena akhirnya bisa mengutarakan semua yang mengganggu pikirannya selama ini.


Reza tak menimpali ucapan Mey. Lidahnya seolah kelu tak bisa menanggapinya dengan kalimat apa pun. Dia terdiam sembari memutar tutup botol minuman.


"Aku udah jujur. Aku udah ngebahas semuanya. Untuk kali ini, aku minta Kakak tolong jujur." Kedua manik Mey mengilat, menatap Reza dengan penuh harap.


"Jujur?" tanya Reza terkejut. Dua pasang netranya saling beradu dengan bola mata hitam arang milik sang gadis, membuat keduanya saling tatap.


"Apa alasan Kakak selalu hadir dalam mimpiku? Kenapa dalam mimpi itu aku selalu bertemu Kakak?" tanya Meysa, di akhir ucapannya dia menggigit bibir bawahnya.


Meski ragu mengatakan hal itu, tapi dia bersikukuh mendengarkan jawaban Reza.


"Alasan? Maksud lo?" tanya Reza bingung.


"Ya alasan. Kenapa Kakak selalu hadir dalam mimpiku?" tanya Meysa mengulang lagi pertanyaannya.


Pertanyaan Meysa membuat tawa Reza pecah begitu saja. Lelaki bermata sipit itu tak kuat menahan tawanya lagi. Gadis di sampingnya begitu keras kepala agar dirinya mengatakan alasan yang menurutnya tidak perlu dijawab. Karena memimpikan siapa pun hanyalah bunga tidur, tidak ada alasan apa pun dari orang yang bersangkutan.


"Apaan sih? Alasan apa coba? Mimpi itu cuman bunga tidur." Reza menyudahi tawanya, kembali bersikap biasa.


"Tapi ...." Ucapan Mey menggantung, tidak bisa lagi mengatakan apa pun.


"Tapi apa? Emang setelah tahu alasannya, mau apa?" tanya Reza lagi.


"Aku enggak akan lagi gangguin Kakak."


Reza terdiam, mencerna perkataan Mey baik-baik.


🍀🍀🍀


Setelah percakapannya dengan Mey beberapa jam lalu, Reza terus saja kepikiran kalimat yang sempat diucapkan gadis itu sebelum menyudahi pertemuan mereka.


Hidupnya sudah terbiasa dengan kehadiran Meysa. Namun gadis itu malah berniat menghindar darinya setelah dia mulai terbiasa dengan gangguan gadis itu.


Sepulang sekolah Reza berniat untuk menemui Mey. Dia ingin mengetahui sesuatu dari gadis itu. Bukan hanya perihal mimpi, tapi kalimat yang sempat dia katakan tempo hari. Kalimat itu menganggu pikirannya, seolah mengembalikannya pada masa lalu, dan mengingatkannya pada seseorang.


Kalau aku bisa memilih, aku pengin jadi burung aja.


Kalimat singkat, tapi bermakna di hati Reza, membuatnya penasaran.


Tidak mungkin jika gadis itu mendengar dari orang lain. Karena setahunya kalimat itu tidak diucapkan oleh sembarang orang, hanyalah Reza yang tahu maksudnya.


Di depan gerbang sekolah Reza menunggu Meysa keluar dari kelasnya. Tak perlu menunggu lama, kedua matanya telah menangkap kehadiran gadis berambut panjang yang tengah berjalan pelan menuju gerbang.


"Mey!" panggilnya.


Merasa terpanggil, Meysa tersenyum dan cepat menghampiri kakak kelasnya.


"Lo kenapa?" tanya Reza cemas saat memandangi wajah Mey dari dekat, terlihat begitu pucat. Kedua matanya sayu, bibirnya tak lagi merona, dan tubuhnya terlihat lunglai.


Meysa menggeleng lemah.


"Lo kok pucat?" tanya Reza lagi, tapi Mey tak lagi menjawab. Gadis itu kembali menggeleng.


"Lo sakit?" tanya Reza lagi.


Pertanyaan ketiga kalinya dari Reza masih sama. Tak ada jawaban dari sang gadis, bahkan kali ini dia tak lagi menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba saja tubuh Mey terjatuh. Beruntungnya, Reza cepat menahan tubuhnya yang lemas. Lelaki itu semakin cemas dengan keadaan sang gadis yang tak sadarkan diri.


Berulang kali Reza memanggil namanya, menepuk-nepuk kedua pipinya, dan menggoyangkan badannya. Namun, usahanya sia-sia karena kedua mata sang gadis tetap terpejam.


Sebagian teman-teman Mey mempertanyakan keadaannya pada Reza. Namun, yang ditanya pun bungkam tak bisa menjelaskannya.


Tak banyak berpikir, Reza membawa Mey ke klinik terdekat.


🍀🍀🍀


Reza menemani Meysa yang tengah terbaring lemah di atas kasur pasien. Kecemasannya sedikit lega karena dokter bilang, gadis itu hanya kelelahan dan kurang istirahat.


Akan tetapi, Reza masih saja khawatir dengan kondisinya, sehingga dia harus menunggu Mey sampai kedua matanya kembali terbuka atau sampai keadaannya kembali pulih.


"Makanya lo itu harus banyakin istirahat." Reza berkata dengan lirih. Dia tak peduli jika yang diceramahinya tidak akan mendengar, karena keinginannya pun tidak ingin terdengar oleh Mey. Jika saja Mey mendengarnya, dia bisa dianggapnya terkesan sok perhatian.


Reza kembali terduduk di samping ranjang tempat Mey tertidur. Sembari menidurkan kepalanya di atas kasur, dia menyempatkan memejamkan kedua matanya.


"Kak," ucap Mey lirih nyaris tak terdengar.


Kedua mata Reza kembali terbuka lebar, cepat menoleh ke sumber suara di sampingnya. Dia mendapati Mey yang tengah berusaha untuk terbangun dari tidurnya.


"Eh lo harus tiduran dulu. Lo harus banyak istirahat."


Meysa kembali berbaring seperti sebelumnya. Bibirnya tersungging ke atas karena merasa senang melihat sikap Reza lebih manis padanya.


"Meysaaaaaa!" teriak Nita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu bersama Ardian.


Meysa tersenyum simpul mendapati Nita dan Ardian menjenguknya.


"Sori. Tadi enggak bisa balik bareng. Soalnya kan tadi ada kegiatan di ruang eskul radio," ucap Nita merasa bersalah.


"Udah. Enggak apa-apa."


"Jadinya kan Meysaaaaa-ku enggak ada yang jagain." Nita merengut kesal, lalu memeluk sahabatnya dengan erat.


"Heh. Jangan kenceng-kenceng peluknya. Kasian Meysa," bisik Ardian pada adiknya.


Nita menyadari jika Meysa kehabisan napas karena pelukannya. Dia pun menyudahinya. Tak sengaja kedua matanya menangkap kehadiran Reza yang tengah mematung di sampingnya.


Tatapan Nita penuh amarah dan kebencian pada Reza. Tak sungkan, dia menarik paksa lengan lelaki berparas Chinese itu keluar ruangan, membawanya ke taman belakang rumah sakit yang tak terlalu ramai.


Dengan perlakuan Nita seperti itu membuat Meysa cemas.


"Nit ... kamu mau ke mana?" teriak Mey.


Meysa hendak beranjak dari atas tempat tidurnya, tapi Ardian mencegahnya untuk mengejar mereka. Dia meyakinkan Mey bahwa semuanya baik-baik saja.


"Kamu harus banyak istirahat, Mey," ucap Ardian lembut seraya tersenyum manis.


Nita marah besar pada Reza karena telah membuat sahabatnya menderita sampai jatuh sakit. Penyebab Meysa kelelahan pun karena dirinya yang telah memberikannya misi melelahkan.


"Lo seharusnya tahu diri, Kak. Lo yang udah bikin Mey sakit! Lo emang enggak nyadar? Enggak tahu malu lo tuh, ya?" sergah Nita, kemarahannya memuncak berkobar seperti api yang tengah menyala.


"Gue? Lho, kok lo jadi nyalahin gue sih?" tanya Reza bingung.


"Ya jelas lo! Karena lo yang udah kasih misi yang enggak jelas gitu. Asal lo tahu, ya, Kak Reza. Meysa berjuang nyelesain misi itu tanpa istirahat, bahkan dia rela ketinggalan pembelajaran hanya karena menulis misi dari lo! Dia juga beberapa kali kena marah dari sebagian guru yang ngeliat Mey enggak fokus belajar!" Nita menghela napas pelan. "Dan ... semua itu gara-gara lo!"


Reza langsung diam saat mendengar semuanya dari Nita. Dia menyadari jika sikapnya terhadap Mey terlalu keras membuat gadis itu harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa dekat dengannya, sedangkan Reza malah memanfaatkannya.


"Mulai sekarang dan seterusnya, lo enggak usah deket-deket sahabat gue lagi! Kehadiran lo itu hanya memperburuk hidup Mey! Keberadaan lo juga enggak ada gunanya untuk Mey. Jadi, gue mohon sama lo ...." Nita kembali menjeda kalimatnya, mengambil napas terlebih dahulu. "Jauhi Mey. Dan ... sekarang lo pergi!"


Jari telunjuk Nita mengarah pada jalan keluar rumah sakit. Mempersilakan Reza pergi sekarang juga.


Tanpa menimpali ucapan Nita yang membuat dirinya tersadar, kedua kakinya melangkah meninggalkan Nita. Meski berat langkahnya, tapi untuk saat ini dia benar-benar merasa bersalah dan ingin merenungkan kesalahannya sendiri.