Someone In There

Someone In There
27. Dua Pilihan


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Tatanan vas bunga berjejer rapi di depan halaman. Niatnya hari ini Mey ingin menanam banyak bibit bunga ungu yang sering kali muncul dalam mimpinya dan ternyata salah satu bunga favorit Seha.


Dia juga akan membuat jadwal berkunjung ke pemakaman Seha dan tentunya Mey tak perlu repot membeli bunga ungu.


"Cepat tumbuh, ya kalian semua," ucap Mey sembari menaburkan bibit bunga tersebut ke atas tanah yang ada di dalam vas masing-masing.


Seusai menaburnya, Mey memberikan pupuk terbaik serta menyiramnya agar mereka tumbuh cepat. Sudut bibirnya sedari tadi melengkung membentuk bulan sabit yang mampu melelehkan hati siapa pun jika melihatnya tersenyum manis seperti itu.


Suara ponsel berbunyi, membuatnya menghentikan aktivitasnya, karena terlebih dulu dia mengangkat sambungan telepon yang nyatanya dari Reza.


Tak banyak berpikir, Mey cepat mengangkatnya. Suara dari sebrang sana terdengar antusias saat pertama sang gadis menyapanya.


"Sibuk enggak? Enggak, kan? Kita jalan-jalan, yuk! Aku jemput, ya! Tunggu!" Suara itu adalah Reza, ucapannya membuat Mey tak bisa menolak.


Mey mengerutkan dahinya karena ucapan Reza yang menurutnya aneh. Jelas-jelas di awal obrolan dia cuman menanyakan kondisinya, tapi akhirnya dia juga yang menentukan sebelum Mey menjawabnya.


"Oh. Iya, Kak siap." Mey meresponsnya dengan baik.


Setelah mendengar jawaban itu, Reza mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Bukan hanya itu, dia juga izin terlebih dulu untuk memutuskan sambungan teleponnya.


Secepat kilat Mey mempersiapkan dirinya. Gadis itu hanya memoleskan sunscreen dan bedak bayi, tak lupa mengoleskan lipbalm pada bibir tipisnya agar tidak terlalu kering.


Tak berselang lama, suara motor Reza terdengar di depan halaman membuat Mey cepat menghampirinya. Benar saja, motor Reza telah terparkir di depan rumahnya. Beberapa kali lelaki itu memanggil namanya.


"Udah siap?" tanya Reza saat Mey keluar dari balik pintu rumah.


"Udah, Kak. Kita mau ke mana?" tanya Mey, sesekali dia membenarkan tali tas selempangnya.


"Gue mau ajak lo ke suatu tempat. Pasti lo suka," jawabnya.


Akhirnya Mey pun naik ke motornya. Seperti biasa, dia memegang besi belakang jok dengan erat. Setelahnya, Reza pun melajukan motornya kembali membelah jalan aspal.


Di sepanjang jalan, keduanya terdiam saling menikmati pemandangan yang dilewati. Mey tersenyum kala melihat pepohonan rindang di sisi jalan. Dia teringat sosok Seha.


"Mey?" panggil Reza.


"Eh? Kenapa, Kak?" Mey tersadar dari lamunannya.


"Kirain gue ... lo tidur," tebak Reza, karena tak biasanya gadis itu terdiam. Biasanya dia mengoceh membicarakan suatu hal saat motor melaju.


"Haha ... enggak."


Reza menghentikan motornya di depan restoran. Mey celingukan ke kanan dan kiri.


"Kok berhenti, Kak?" tanya Mey.


"Udah sampai," jawabnya seraya tersenyum merekah. "Yaudah ayo!"


Mey pun melangkah masuk ke restoran. Langkahnya beriringan dengan Reza, yang membuat gadis itu aneh, di dalamnya tak terlalu banyak orang. Beberapa meja dikosongkan, jarak dengan meja lainnya saling berjauhan.


"Restorannya sepi, ya?" bisik Mey saat mendudukkan pantatnya di salah satu kursi dekat pohon hias.


Reza tertawa saat mendengar ucapan sang gadis. "Kan ini restoran khusus nge-date, Mey."


"Oh, tapi, kok tumben Kakak bawa aku ke sini? Ada yang mau diomongin?" tanya Mey lagi.


"Iya, tapi nanti, ya. Setelah pesanannya datang."


"Kita kan belum pesan apa-apa, Kak."


"Gue yang udah pesan duluan sebelum nelepon lo," jelasnya diiringi dengan tawa.


"Pantesan aja ajakannya enggak bisa aku tolak." Mey pun ikut tertawa.


Tak menunggu belasan menit, pesanan pun datang. Dua porsi steak special serta es cappucino berada di depan keduanya.


"Aku yang traktir," ucap Reza seraya tersenyum.


"Makasih, Kak," jawab Mey senang.


Reza menusuk-nusuk steak sapi tersebut, tak berniat untuk memakannya. Dia terus memperhatikan Mey yang tengah menikmati hidangannya sembari pikirannya berputar memikirkan kalimat termanis yang akan dilontarkannya pada Mey.


"Kak ... kok belum dimakan?" tanya Mey, menghentikan aktivitasnya. Garpu dan pisau kecil kembali diletakkannya di atas piring.


"Eeh?" kata Reza terkejut.


"Kok belum dimakan?" tanya Mey lagi mengulang pertanyaan sebelumnya.


Terlebih dulu Reza berdeham, menyingkirkan kecanggungan yang menyergap raganya.


"Gue kepikiran sesuatu."


"Kepikiran apa, Kak?" Mey menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu."


Garis halus bertambah di dahi Mey membentuk kernyitan bingung karena ucapan lelaki di depannya. Reza menyadari ucapannya barusan membuatnya ingin lenyap dari dunia sekarang juga. Dia merasa bodoh setelah mengenal Mey dan mengetahui jika dirinya mempunyai rasa terhadap gadis berambut terurai panjang itu.


"Maksud Kakak?" tanya Mey.


"Gue suka sama lo," ucap Reza dalam satu kali tarikan napas, setelahnya dia menghela napas kasar.


Kedua mata Mey membulat, tak percaya dengan pernyataan si patung es di depannya.


"Lo mau kan jadi pacar gue? Sekarang?" tanya Reza lagi. Meski ragu mengatakannya, tapi lelaki itu tetap menyampaikan pertanyaan yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.


Mey terdiam. Mencoba mencerna kembali ucapan Reza dari awal sampai akhir pertanyaannya yang membuat sang gadis dilema. Pasalnya, tempo hari lalu Ardian menyatakan perasaannya dan segera meminta jawaban dari pernyataannya. Dan sekarang?


"Gimana. Lo mau, kan?" tanya Reza lagi.


"Aku butuh waktu, Kak."


"Butuh waktu? Oke, gue kasih lo waktu lima belas menit buat mikir."


"Hah?" Mulut Mey menganga, terkejut dengan jawaban Reza.


Reza mengangguk seraya tersenyum.


"Kecepatan dong, Kak. Aku butuh waktu yang enggak sebentar," ucap Mey berharap lelaki itu mengerti.


Reza tampak berpikir lagi. "Oke, gue kasih lo waktu sampai lo bener-bener kepikiran buat jawab."


Mey tersenyum, menghela napas pelan lega. "Makasih, Kak."


"Yaudah ayo kita lanjutin makan."


Keduanya pun kembali menyantap pesanannya. Suasananya menjadi canggung setelah pernyataan cinta Reza yang membuat hati Mey merasa kalut.


Beruntungnya mereka disuguhkan alunan musik yang membuat suasana tidak terlalu sunyi. Karena, keduanya saling bungkam memikirkan permasalahan masing-masing. Tak ada lagi obrolan bahkan tawa antara ....


Keduanya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Sepulang dari restoran, Reza mengajak Mey pulang. Mey merebahkan tubuhnya ke atas alas tidurnya. Tatapannya mengarah fokus pada lampu yang menggantung di atas plafon.


"Aku harus bagaimana? Kak Reza atau Kak Ardian?" ucap Mey lirih. Dia benar-benar kalut.


"Kalau aku terima Kak Reza, terus Kak Ardian gimana?"


Mey melirik ke samping kirinya, ada boneka gurita yang tergeletak, lalu gadis itu melirik ke samping kanannya, di atas lemari susunnya ada banyak buku yang berjejer di sana. Salah satunya, buku pemberian Ardian beberapa bulan lalu karya idolanya, Choconextar.


"Aku bener-bener dilema karena kalian berdua, Kak. Kalian emang bisa banget bikin aku galau kayak gini." Berulang kali Mey mengusap wajahnya kasar.


Ketukan pintu terdengar beberapa kali, membuat Mey cepat menghampiri ke ruang depan rumahnya. Saat itu, mamanya sedang tidak ada di rumah. Jadi, dia yang harus menerima tamu meski pikirannya sedang kacau berantakan.


Walau malas, tapi dia tetap membukanya. Nyatanya, tamu yang datang adalah Naila. Sosok gadis yang baru beberapa hari ini menjadi temannya karena Mey banyak sekali membantunya dalam pelajaran apa pun, membuat Naila sadar jika dia memang tidak salah memilih Mey.


"Hari ini belajar matematika, ya." Naila menunjukkan buku paket tebal sekitar 300 halaman.


Mey mengangguk pelan. "Yaudah ayo masuk."


Naila pun dipersilakan duduk dan juga disuguhkan beberapa toples cemilan.


"Buka halaman 156."


Naila tidak cepat membukanya. Dia malah sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali bahkan mengabaikan Meysa yang masih berada di hadapannya.


"Nai?" tanya Meysa. Naila hanya terus bermain ponselnya.


"Katanya kamu mau dapat nilai gede?" tambah Meysa, memaksa Naila merengut kesal. Andai saja dia tidak butuh nilai itu, mungkin sekarang Naila hanya perlu rebahan di kamarnya.


Walau berat hati, Naila menaruh ponselnya dan mengembuskan napas kasar. Membuka buku paket dan mulai ikut belajar.


"Kalau materi ini sih enggak terlalu susah menurut gue, Mey." Naila menunjuk soal yang sebelumnya Meysa tunjuk.


"Tapi tetap aja aku harus ajarin, Nai."


"Terserah lo, deh. Apa pun, selama gue bisa dapat nilai dan enggak dikirim ke rumah nenek." Naila mengedikkan bahu pelan.


"Yaudah. Aku kasih soal," ucap Mey. "Nih aku kasih dua soal dulu, ya." Mey menunjukkan nomer satu dan nomer tiga dalam bentuk soal yang berbeda.


Naila terus saja mengeluh karena soal yang Meysa berikan terlalu sulit untuknya. Namun bukan Meysa namanya jika dia menyerah mengajari Naila yang kuat ingin belajar.


"Kamu bisa, Nai."


Naila memutar bola mata malas, kemudian melanjutkan mengerjakan soal.


Beberapa jenak kemudian dia sadar jika Meysa terus saja melamun. Mendiamkannya dalam waktu yang cukup lama.


"Kenapa, sih kok lo ngelamun terus?" tanya Naila di sela mengerjakan tugasnya. Jemarinya tetap menulis mengerjakan soal yang telah Mey perintahkan.


Awalnya Meysa merasa ragu menceritakannya pada Naila soal ini. Namun beberapa hari belakangan, Meysa sadar jika Naila sejujurnya orang yang baik. Dia hanya terlalu dimanja sejak kecil dan membuatnya jadi sosok yang angkuh.


Meysa tersenyum sebelum menjawab, "Aku dilema, Nai."


"Kenapa?" tanya Naila lagi, kedua matanya tetap fokus pada kertas putih bergaris biru.


"Aku bingung memilih, Nai." Mey memainkan pensil dengan mencoret-coret kertas kosong di depannya.


"Memilih? Jangan bilang kalau lo dilema soal cowok?" tanya Naila, seolah paham apa yang Meysa rasakan.


"Memilih dua orang lelaki yang sama-sama meminta jawaban dari perasaanku, Nai. Aku bener-bener bingung." Mey menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Sedikit merasa malu karena dugaan Naila benar.


Terkejut. Naila memelototkan matanya lebar.


"Maksudnya, dua lelaki nembak lo gitu?" tanya Naila lagi. Merasa tersaingi. Bagaimana bisa Meysa lebih popular dibandingkan dirinya?


Mey mengangguk. "Iya. Keduanya juga yang udah berhasil bikin aku selalu semangat dan tersenyum. Tapi ...." Ucapannya menggantung begitu saja seperti Mey menggantung jawaban untuk Reza dan Ardian.


"Tapi apa Mey?" tanya Naila penasaran.


"Aku bingung."


"Lho kok bingung? Seharusnya lo punya satu pilihan."


"Aku enggak tahu, Nai. Aku tetap bingung."


"Sebenernya gue enggak mau tahu, tapi lo bikin gue penasaran. Emang siapa sih dua lelaki itu?" tanya Naila, dia meletakkan pensilnya di atas kertas, menghentikan aktivitasnya dan memilih untuk menatap Mey dengan saksama.


"Kak Ardian sama kak Reza," jawab Mey, dia mengigit bibir bawahnya.


Naila menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Padahal bukan hal yang perlu dikejutkan lagi sebenarnya karena Mey memang sangat dekat dengan kedua lelaki itu. Ya, pastinya mereka menyimpan perasaan setelah menghabiskan waktu selalu bersama.


"Kamu bisa kasih saran enggak, Nai? Aku harus pilih siapa?" tanya Meysa lagi.


Naila terdiam. Jika harus memberikan saran, dia juga bingung. Baru kali ini ada seseorang yang meminta saran darinya padahal Mey tahu dulu dia punya sirik terhadapnya.


"Gue enggak bisa kasih saran kalau menyangkut urusan hati, Mey. Karena yang bisa nentuin itu cuman lo," ucap Naila bijak.


Mey mengangguk pelan, dia juga menyadari jika soal perasaan hanyalah hatinya yang bisa menjawab. Cinta tidak bisa dipaksakan, sekuat apa pun usahanya. Jika tidak mencintai, maka salah satu hati pasti ada yang terluka.


"Iya, Nai. Makasih, ya. Nanti aku bakalan coba pikirin lagi."


Naila mengangguk seraya tersenyum.


"Yaudah kamu lanjutin lagi ngerjain soalnya," ucap Mey mengingatkan.


"Udah beres kok dari tadi juga." Naila menyodorkan buku tulisnya pada Mey.


Mey tersenyum senang karena semakin hari Naila ada peningkatan dalam mengerjakan soalnya.


🌿🌿🌿


"Gimana? Kamu mau kan jadi sosok yang special dalam hidup aku, Mey?" tanya sosok lelaki berkacamata kotak yang tengah terduduk di atas batu besar.


Gadis yang diberikan pertanyaan itu masih bungkam. Tak cepat menjawabnya.


"Kalau kamu masih ragu. Aku kasih waktu," ucapnya pengertian.


Mey tersenyum. Mengingat perlakuan hangatnya yang berbeda dari lelaki mana pun.


"Aku justru bingung, Kak. Aku enggak bisa memilih." Mey mengarahkan pandangannya pada matahari yang akan segera terbenam di ufuk sana.


"Kenapa? Bukannya memilih itu hal yang mudah? Antara iya atau tidak?" tanyanya lagi.


"Enggak semudah itu, Kak."


"Aku tahu, Mey. Mulai sekarang, kamu harus punya satu pilihan."


"Semoga aku bisa memilih, Kak," ucap Mey seraya tersenyum.


"Pasti. Karena di hati kamu cuman ada satu pilihan."


"Makasih, ya, Kak."


Seha pun mengangguk. Kedua tangannya direntangkan siap meraih tubuh Mey ke dalam dekapannya. Namun ... saat gadis itu memajukan tubuhnya ke arah sang lelaki ....


"Aduh. Sakit." Mey tersungkur jatuh dari atas kursi panjang. Ternyata semalaman dia tertidur di ruang tengah.


Sosok lelaki pemilik senyuman manis yang membuatnya candu itu hanya datang dalam mimpinya lagi. Mey memegangi pinggangnya yang terasa sakit.


"Makasih udah datang, Kak," ucap Mey lirih. "Meski pun hanya dalam mimpi."