Someone In There

Someone In There
3. Masa Orientasi


Bab ini ditulis oleh Cloveriestar


Baju putih dan rok katun hitam kini membalut tubuh mungilnya. Gadis itu membereskan penampilannya di depan sebuah cermin besar. Rambut panjangnya diikat. Tak lupa dasi dan name tag dipasang di bagian baju putih barunya.


Setelah penampilannya dirasa lengkap dan rapi, gadis itu tersenyum di hadapan cermin.


Hari ini adalah awal dari segalanya; sekolah baru, teman baru, lembaran baru, dan harapan baru. Dia sangat menaruh harap dengan keputusannya bersekolah di SMK Adipura setelah memimpikan sosok lelaki yang dicarinya selama ini.


Mey cepat mengambil tas warna biru. Tanpa sarapan terlebih dahulu, dia pun berpamitan.


Setibanya di kawasan sekolah, Mey cepat berlari ke gerbang. Hampir saja sosok pria paruh baya berseragam itu menutup gerbangnya jika Mey tidak segera mencegahnya.


Dia melewati koridor sekolah yang tampak sepi. Tanpa memperhatikan langkahnya, Mey terjatuh yang disebabkan bertabrakan dengan salah satu siswi di sana. Kelihatannya dia juga murid baru seperti Mey.


Mey ragu membalas uluran gadis berambut hitam sebahu lurus yang kini ada di hadapannya. Dia berniat membantunya dan akhirnya Mey menerima bantuannya.


"Terima kasih," ucap Mey, matanya berbinar kala gadis itu tersenyum padanya.


"Maaf."


Gadis itu tersenyum lagi, kemudian Mey mengangguk ramah. Pandangan Mey jatuh pada name tag yang berada di kiri atas dada gadis itu. Yuanita Agustin.


"Namaku Yuanita Agustin, panggil Nita. Siapa namamu?" Nita memperkenalkan diri meskipun dia tahu jika gadis di depannya ini sudah mengetahui namanya dari name tag yang dipakainya.


"Meysa."


Perkenalan singkat itu menjadi titik awal kedekatan mereka sebagai teman. Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ruang guru untuk daftar ulang.


Nita lebih banyak berbicara dibanding Mey meskipun mereka baru saja saling kenal.


"Alasan aku masuk ke sini karena dari dulu udah pengin, sih. Banyak ekskul menarik, belum lagi cogans. Uhh. Kamu juga pasti mikir gitu, kan, Mey?"tanya Nita, menatap lawan bicaranya yang sedari tadi tak mengatakan apa pun sepanjang perjalanan.


Mey celingukan seperti orang yang tengah tersesat di hutan. Nita menepuk bahu Mey, membuat gadis itu terperanjat kaget. Matanya terbelalak nyaris keluar. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu tersenyum menunjukkan gigi gingsulnya.


🍀🍀🍀


Setelah keduanya mendaftarkan kembali data diri, mereka diperintahkan untuk berkumpul di lapangan utama.


Sekitar ratusan siswa-siswi baru berkumpul dan berbaris dengan tertib. Barisannya seperti saat upacara. Mey dan Nita berada di barisan pertama.


Sebelum memulai acaranya, para senior menyempatkan untuk memperkenalkan dirinya masing-masing.


Mey tidak sepenuhnya memperhatikan, pikirannya tak konsentrasi, disebabkan pikirannya melayang pada sosok lelaki dalam mimpinya. Dia kecewa karena sampai sekarang tidak menemui lelaki itu sebagai salah satu siswa di SMK Adipura.


Nita menyikut lengan Mey agar teman barunya itu memperhatikan ke depan. Terpaksa Mey memperhatikan.


Sekitar dua puluh orang yang berada di depan mengenakan seragam, kemeja putih yang kemudian dilapisi oleh jas kebanggaan berwarna hitam. Di bagian kanan atas saku tercantum nama OSIS dan nama sekolah.


Tak berselang lama, mereka memulai acara itu dengan memberikan arahan tentang jurusan, pembelajaran, serta eskul yang dapat dipilih sesuka hati. Ada pelatihan silat, fotografer, seni musik, tari, teater, sastra, paskibra, radio, sepak bola, volly, dan basket.


"Jadi ... mau ambil ekskul apa, Mey?" tanya Nita pada gadis yang kini tengah serius memperhatikan. Tatapannya lurus ke depan.


"Aku mau masuk ... ehm, gimana nanti, deh," jawab Mey singkat.


Seusai acara perkenalan berlangsung, para senior meminta kepada mereka untuk membuat lingkaran besar. Tangan mereka berpegangan dengan erat, tidak peduli menggenggam tangan orang yang tak dikenal.


Sekitar sepuluh senior menghampiri satu per satu siswa-siswi baru untuk membagikan sebuah name tag dari nama hewan. Benda itulah yang menentukan permainan game ini antara menang dan kalah.


Sebelum dimulai, salah satu anggota OSIS menjelaskan bagaimana cara permainannya. Bukan hanya siswa-siswi baru yang diberikan name tag itu, tapi para senior pun ikut serta dalam permainan ini. Mereka harus mencari pasangannya.


Benda itu wajib dipasang di sekitar baju bagian mana pun, dengan syarat dipakai terbalik agar tidak terlalu mudah untuk mendapatkan pasangan.


Acara pun dimulai.


Mey dan Nita berpencar untuk mencari pasangan masing-masing.


Mey menanyakan terlebih dulu kepada orang-orang yang lebih dekat jarak dengannya. Gadis itu mendapat tulisan "Bebek", tapi sampai saat ini belum mendapatkan pasangannya.


Mey berpapasan dengan seorang siswi cantik. Rambutnya pirang bergelombang indah, bibirnya merah merona, bulu matanya lentik nan lebat, tapi wajahnya terlihat tidak bersahabat. Jutek.


Namun sifat seseorang tidak bisa ditentukan berdasarkan wajahnya.


Mey pun menyapa gadis berwajah yang nyaris sempurna itu, "Hai."


Gadis berambut pirang itu menatap Mey dengan sinis, tak ada senyuman yang terlukis di wajahnya.


"Apaan, sih?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah.


"Name tag kamu bebek bukan?" tanya Mey menyelidik, matanya bersinar kala mentari menyilaukan penglihatannya.


Gadis itu memutar bola mata malas. "Bukan!" jawabnya sembari berlalu pergi.


Mey menggeleng pelan dan kembali mencari pasangannya.


Sudah sepuluh menit permainan ini berlangsung, tapi belum ada yang kalah dan menang. Mereka sama-sama masih mencari, saling bertanya kepada tiap orang.


"Name tag kamu apa?" tanya kakak senior perempuan berambut pendek. Dia meminta Mey untuk membalik miliknya. Kakak senior itu mengembuskan napasnya saat name tag Mey tercantum nama "Bebek".


Kakak senior itu menggeleng pelan, kemudian mengucapkan terima kasih sebelum berlalu.


Pencariannya belum berakhir, tapi Mey tidak menyerah. Matanya berbinar ketika dia mengingat jika dirinya belum bertanya kepada para senior. Tepat di dekat pohon kersen dia melihat dua orang senior perempuan. Salah satu dari mereka adalah senior yang beberapa menit lalu bertanya padanya.


Mey memberanikan diri menghampiri dan bertanya pada perempuan berambut ikal. Dia menggeleng pelan dan menunjukkan miliknya yang tercantum adalah "Kucing".


Salah satu senior berambut pendek yang sebelumnya ditemui Mey menunjuk ke arah lelaki yang jaraknya tidak begitu jauh. Dia bergumam jika lelaki yang kini membelakangi mereka mendapatkan tulisan bebek.


Awalnya Mey ragu, tapi kedua senior itu meyakinkannya. Mey pun menghampirinya.


"Name tag Kakak bebek!" ucap Mey lantang. Gadis itu seolah memberitahu kepada seniornya yang baru menyadari kehadirannya.


Lelaki itu tersenyum. "Jawabannya benar!"


Mey menghela napas lega karena dia telah berhasil mendapatkan pasangannya.


Tanpa terduga, lelaki dengan nama Ardian menggenggam tangan Mey lalu mengacungkannya. Dia berteriak bahwa dirinya telah mendapatkan pasangan, yaitu Mey.


Gadis itu sedikit risi dengan perlakuan Ardian, manik matanya menatap Ardian yang tengah tersenyum lurus ke depan. Semua orang pun bertepuk tangan, termasuk para senior.


Mey dan Ardian diminta untuk maju karena mereka memenangkan permainan ini.


Salah satu senior lelaki memberikan arahan kepada mereka bahwa keduanya harus menuruti segala permintaan penonton. Mey tampak kesal dengan permainan ini, dia pikir setelah dirinya mendapatkan pasangan akan mendapatkan sebuah penghargaan.


Salah satu senior perempuan mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Dia mengatakan ingin meminta sesuatu kepada mereka berdua. Pasangan itu harus saling menyuapi makanan pemberiannya. Sebuah roti cokelat.


Setelahnya, salah satu siswi baru berani mengacungkan tangannya. Ardian harus bernyanyi sambil memainkan gitar yang dipersembahkan untuk Mey di hadapan mereka.


Keduanya tidak bisa menolak dua permintaan itu.


Ardian mengawali dengan menyuapi Mey. Gadis itu ragu saat Ardian menyuruhnya untuk membuka mulut, tapi semua penonton menyoraki mereka untuk segera melakukannya. Tanpa berpikir panjang, Mey pun membuka mulutnya dan mulai memakan roti itu.


Sekarang gantian, Mey mengambil alih roti untuk menyuapi seniornya. Posisi mereka saling berhadapan, keduanya saling tatap hingga manik mata mereka bertemu.


Setelah roti selai cokelat itu habis, keduanya harus memenuhi permintaan terakhir. Terlebih dahulu Ardian mengambil gitar dari ekskul musik yang dipegang oleh salah satu temannya.


"Sesuai permintaan, aku akan menyanyikan sebuah lagu yang dipersembahkan untuk seorang gadis di hadapanku saat ini," ucap Ardian, mulai memetik senarnya sembari memandang wajah Mey.


Sepasang manik hitam legam itu tidak berkedip meski sedetik saja, tapi gadis pemilik mata sipit itu tidak membalas tatapannya.


Matamu melemahkanku


Saat pertama kali kulihatmu


Dan jujur, ku tak pernah merasa


Ku tak pernah merasa begini


Matamu melemahkanku


Saat Pertama kali kulihatmu


Ku tak pernah merasa begini


Oh, mungkin inikah cinta


Pandangan yang pertama


Karena apa yang kurasa, ini tak biasa


Jika benar ini cinta


Mulai dari mana?


Oh, dari mana?


Dari matamu, matamu


Kumulai jatuh cinta


Kumelihat, melihat


Ada bayangnya


Lagu itu mengalun merdu di telinga para penonton, termasuk Mey. Mereka tampak menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Ardian.


Selama bernyanyi lelaki itu tidak memalingkan tatapannya pada pemandangan lain, sorotan matanya tertuju pada Mey.


🍀🍀🍀


MOPD dilaksanakan selama empat hari. Hari pertama selesai. Momen yang sangat ditunggu-tunggu adalah hari terakhir, karena biasanya akhir acara akan berkemah di lapangan, dan pelaksanaan penyuluhan api unggun.


Ini adalah hari kedua.


Mey dan siswa-siswi lainnya sudah berkumpul di lapangan, kecuali Nita.


Mey mengedarkan pandangannya menyisir ke setiap arah, hingga manik mata hitamnya terkunci pada sosok gadis yang tengah berlari sekencang mungkin ke arahnya.


Gadis itu sedikit membungkuk sembari mengatur napasnya yang terengah-engah, keringat membanjiri pelipisnya.


"Huh ... hampir aja terlambat." Nita menegakkan kembali tubuhnya dan napasnya pun sudah mulai beraturan.


"Tumben baru datang, Nit?" tanya Mey pada gadis yang kini tengah meneguk air mineral yang dibawa dari rumahnya.


"Tadi udah ke sini, eh gara-gara kebanyakan mikirin cogans jadinya lupa deh bawa persyaratan MOPD." Nita menunjukkan kantong kresek yang berisi persyaratan MOPD kemarin.


Persyaratannya membawa makanan yang telah ditentukan oleh senior dengan nama seperti teka-teki. Snack berpetualang, bambu panda lumer, bantal isi lumpur, dan sebutan aneh yang lainnya.


Tak berselang lama, senior berjas hitam dengan logo sekolah dan organisasi menghampiri setiap siswa-siswi baru untuk memeriksa persyaratan.


Mey diperiksa oleh Ardian. Senior lelaki berparas tampan yang kemarin bersikap manis padanya membuat Mey salah tingkah. Hari ini pandangan Ardian tidak sepenuhnya jatuh pada wajahnya, tapi pandangannya tertuju pada persyaratan yang Mey bawa.


"Persyaratannya lengkap." Ardian tersenyum lalu berlalu memeriksa persyaratan yang lain.


Pemeriksaan terhenti seketika saat salah satu siswi ribut dengan satu senior perempuan, mempermasalahkan persyaratan.


Mey dan Nita pun ikut melihat kejadian adu mulut antara siswi berambut pirang bergelombang yang ternyata pernah Mey temui kemarin saat menanyakan name tag.


Kejadian itu terjadi dimulai oleh siswi yang kini berkacak pinggang di hadapan para senior. Namanya Naila, merupakan anak kepala sekolah. Dia tidak terima jika senior itu menghukumnya hanya karena tidak mematuhi aturan dan tidak memenuhi persyaratan.


Naila bertingkah seenaknya pada semua orang, termasuk kakak kelas. Namun kejadian itu tidak berlangsung lama, karena Ardian dan para senior lelaki yang lain melerai pertikaian itu.


Naila berlalu pergi karena dirinya merasa diremehkan. Para senior pun membiarkan Naila dan kembali melanjutkan acara.


Mereka diperintahkan untuk menghafal kembali trisatya dan dasadarma. Mey dan Naila pun menghafal bersama. Setelah hafalannya mereka dirasa lancar, keduanya menghampiri salah satu senior perempuan yang sudah siap mengetes hafalan mereka.


Di hari ketiga, pengisian SKU.


Setiap siswa-siswi baru wajib mempertanggungjawabkannya. Naila yang sempat menghilang di hari kedua kini kembali hadir dengan tingkah yang masih sama. Sombong dan jutek.


Nita dan Meysa diberi tugas tentang tali-temali. Ardian memandang mereka bergantian, alis kirinya terangkat. Lelaki itu memberikan tali tambang kepada mereka dan memerintahkan untuk segera melakukannya.


Nita dan Mey saling pandang. Mereka tidak bisa dalam tali temali ini, merasa kesulitan dalam mengingat.


"Ah susah! Ganti aja deh ujian SKU-nya!" Nita menggerutu kesal pada Ardian. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mey hanya terdiam dan berusaha melakukan perintah Ardian seingatnya.


"Ehh salah. Bukan gitu caranya, sini aku ajarin." Ardian membantu Mey dalam membuat tali simpul mati. Dia mengajarkan Mey dengan membimbing jarinya memainkan tali tambang. Dengan bantuan Ardian, tidak membutuhkan waktu lama, simpul mati selesai dan membentuk sempurna.


Akhirnya Mey pun mendapatkan tanda tangan. Akan tetapi, Nita belum dan Ardian memerintahkan Nita untuk berusaha sendiri tanpa bantuan dari Mey.


"Susah! Gak bisa!" Nita semakin kesal saat usahanya tidak ada hasil.


"Usaha sendiri! Harus bisa!" ucap Ardian dengan nada tegas.


"Ih enggak bisa! Dasar Kakak senior galak!" ucapnya sembari kembali berusaha membuat tali simpul mati.


Mey tidak memedulikan perintah Ardian yang tidak memperbolehkan membantu temannya. Beruntungnya Mey masih mengingat caranya. Dia pun bisa menyelesaikan tali-temali itu dengan ingatannya.


"Yee ... akhirnya bisa!" Nita tampak begitu bahagia dengan hasil tali simpul mati yang sempurna berkat bantuan Mey.


"Bisa juga kan karena dibantu," ledek Ardian sembari memberikan tanda tangan di SKU milik Nita. Gadis itu merengut sebal dan mengambil kembali SKU-nya dengan kesal setelah ditandatangani.


🍀🍀🍀


Hari terakhir MOPD.


Siswa-siswi baru akan berkemah semalam di lapangan sekolah SMK Adipura.


Kebetulan Mey dan Nita satu kelompok yang diberi nama "Cempaka" sehingga mereka bisa satu tenda, diisi oleh lima orang.


Setelah selesai membuat tenda, Mey dan Nita membereskan barang bawaannya.


Sinar matahari tak lagi menyinari bumi, rona jingga menggantikan suasana, menjadi lebih indah saat dipandang. Setelah lelah membereskan tenda, Mey dan Nita duduk di tengah lapang sembari memandang senja yang begitu memanjakan mata.


Semua orang diperbolehkan untuk istirahat sejenak dan mengganti bajunya, karena setelah ini mereka akan kembali beraktivitas.


Istirahat yang diberikan oleh senior tidak lama, tapi cukup untuk meregangkan sendi-sendi tubuhnya yang terasa pegal.


Kegiatan MOPD itu cukup melelahkan, karena selama empat hari, apa pun perintah yang diberikan oleh para senior mereka harus melakukannya.


Tak ada waktu bagi mereka untuk tidur. Saat ini para senior mengumumkan kepada mereka untuk segera kembali berkumpul di lapangan untuk penyuluhan api unggun.


Sebagian senior sibuk menyiapkan segala keperluan untuk pelaksanaan api unggun dan senior yang lainnya membereskan barisan peserta.


Mereka juga mempersilakan untuk membawa pakaian hangat karena suasana sudah mulai dingin. Pukul 24: 00 pelaksaan api unggun di mulai, semua senior telah mempersiapkan segalanya, sedangkan para siswa-siswi baru hanya menonton dan menikmati kehangatannya.


Dari banyaknya anggota OSIS, hanya sepuluh orang yang melaksanakan penyuluhan api unggun, salah satu dari mereka adalah Ardian. Mereka menata kayu bakar hingga menggunung tinggi.


Detik-detik penutupan acara MOPD.


Salah satu anggota OSIS memberitahukan kepada mereka bahwa malam ini kedatangan tamu spesial dari anggota ekskul olahraga.


Mereka memperkenalkan berbagai macam kegiatan seputar ekskul, dan memberitahukan bahwa mereka sudah mendapatkan banyak penghargaan dari permainan basket, sepak bola, bulu tangkis, silat.


Di malam itu juga mereka akan mempertunjukkan beberapa atraksi, salah satunya pertunjukkan permainan basket.


Hampir satu jam mereka melakukan atraksinya, ini saatnya penyambutan sang ketua basket yang baru saja datang ke kawasan lapangan.


Jantung Mey berdegup tak keruan, entah apa yang terjadi padanya saat salah satu senior itu menyebutkan sambutan untuk sang ketua basket.


Mey pikir jika ketua basket itu adalah sosok lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya. Sang ketua basket datang dengan mengenakan topi hitam, membuat wajahnya nyaris tertutupi, tak terlihat.


Sedetik kemudian, lelaki itu membuka topinya dan membereskan rambutnya. Mey mengembuskan napasnya, menunduk sembari merengut kesal.


Dia kecewa.


Pencariannya tidak menghasilkan apa-apa.


To be continue