
Bab ini ditulis oleh Cloveriestar
Setelah mempertimbangkan saran dari Ardian tentang test ulang untuk membuktikan bahwa Mey tak bersalah, akhirnya dia mengambil keputusan. Jika dipikir-pikir, ide Ardian sangat cemerlang, bahkan Mey begitu antusias saat berangkat ke sekolah.
Senyumannya mengembang seolah tak ada masalah dalam hidupnya.
Kepulangannya kemarin dari Taman Hutan Raya, memberikan dampak untuknya. Dia lebih fresh dan kembali meng-input segala puzzle kebahagiaan dalam hidupnya.
Teriakan, menyerukan namanya, membuatnya menoleh dan mendapati Nita berada di belakangnya. Badannya sedikit membungkuk, napasnya naik-turun tak beraturan, hidungnya kembang-kempis saat mengambil dan membuang napas.
"Akhirnya Meysa-ku sekolah lagi. Yeaay!" seru Nita. Kedua tangannya diacungkan tinggi-tinggi seperti orang mendapatkan sebuah piala penghargaan. Dia mengikis jarak dengan Mey dan memeluknya.
Adegan melepas rindu pun berakhir saat Nita menyadari jika orang yang dirindukannya itu kehabisan napas. Dia mengajak Mey untuk segera ke kelas, tapi ajakannya ditolak.
"Aku pengin ke ruang guru dulu, Nit. Mau ngebuktiin kalau tuduhan mereka itu salah," ucap Mey. Jemarinya dirapatkan dan dikepalkan. Kedua mata Nita terbelalak.
"Udah punya bukti?" Sebelah alis Nita terangkat.
Pertanyaan Nita kembali mengingatkan Mey jika dia tidak punya bukti apa pun, tapi hanya berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah.
Dia menghela napas lalu menjawab, "Belum."
"Lah, terus kalau belum, ngapain ke sana?" Dahi Nita mengernyit tak mengerti. Mey kembali menatapnya.
"Aku emang belum punya bukti, tapi aku pengin membuktikan kalau hasil ulangan itu murni dari otakku sendiri, Nit." Mey meraih tangan kanan Nita dan menggenggamnya erat. Dia butuh dukungan dan semangat dari sahabatnya.
"Terus cara ngebuktiinnya dengan cara apa, Mey?" tanya Nita. Dia membalas genggaman tangan Mey seolah memberikan kekuatan di kehidupan yang begitu pelik.
"Minta ditest ulang ngerjain soal kemarin." Lukisan senyum di bibirnya kembali bersinar, kedua matanya berbinar.
"Yakin?" tanya Nita.
Jawabannya hanya dengan anggukkan kepala pelan. Dia kembali tersenyum dan mereka pun kembali berpelukan.
Tak berselang lama, Nita melepaskan pelukannya, menepuk jidat dan mengingat jika dia belum memberikan tugas eskulnya.
"Mey semangat, ya! Aduh maaf, ya, aku harus cepet-cepet ke ruangan fotografi. Lupa nih belum kumpulin tugas eskul." Nita menggaruk tengkuknya tak gatal sembari tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Yaudah sana, kumpulin dulu," ucap Mey. Nita mengangguk dan mengeluarkan kamera dari kantongnya.
Sebelum pergi, Nita melambaikan tangan dan Mey pun membalasnya. Keberadaan Nita tak lagi terlihat karena punggung badannya telah hilang menjauh.
Tujuan Mey sekarang ke arah koridor ruangan guru. Dia sudah menghafal kembali pelajaran semalaman, hal itu yang membuatnya semakin percaya diri.
Usahanya tidak akan mengkhianati hasil.
Dia melewati banyak murid-murid yang tergesa menuju kelas, mungkin mereka dapat jadwal piket hari ini. Saat berpapasan, Mey tidak disapa seperti sebelumnya. Mereka saling diam.
Gadis itu berjalan santai, tidak memedulikan tatapan dinginnya. Biarkan hari ini sampai esok mereka beranggapan bahwa Mey sosok manusia salah. Mungkin di lain hari dia akan lebih dihormati dengan orang-orang yang mulai menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti yang mereka pikirkan.
Sebagian guru mulai berdatangan menuju ke arah ruang guru. Seorang guru mengenakan blazer cokelat berjalan ke arahnya. Mey mengulurkan tangannya tapi ulurannya tak disambut ramah oleh sosok guru yang kini menatapnya penuh kekecewaan.
"Udah sekolah lagi ternyata?" tanyanya sinis. Mey tersenyum simpul, kemudian mengangguk pelan.
Bu Patmi hendak melangkah, tapi Mey menahannya. Dia kembali mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah dan semua tuduhan itu adalah fitnah. Mey tidak tahu mengapa kertas itu ada dalam tasnya dan Mey meyakinkan kepadanya jika dia adalah korban dari sebuah kebohongan.
"Saya akan membuktikan bahwa kenyataan tuduhan itu tidak benar, Bu." Kedua mata Mey berbinar, menilik manik mata cokelat gelap bagai mencari sesuatu di dalam sana.
"Lalu bagaimana cara membuktikannya?" Ternyata respons Bu Patmi membuat hati Mey sedikit lega. Dia mempunyai kesempatan untuk membuktikan kejujuran dirinya dalam mengerjakan ulangan.
"Ditest ulang, Bu. Saya ingin Ibu memberikan soal-soal ulangan harian kemarin dan meminta untuk mengerjakan ulang." Bu Patmi tampak berpikir, menatap Mey tajam. Sedetik kemudian dia manggut-manggut dan menyuruh Mey ikut masuk ke ruang guru.
Mey dipersilakan duduk. Ruangan masih sepi, hanya ada beberapa guru yang mengisi jam pelajaran pertama.
Bu Patmi mengambil alih tempat duduknya, tepat berhadapan dengan sang murid. Tak ada senyuman yang terlukis di wajahnya, tatapannya lurus mengarah ke sebuah lemari besar pojok tembok di samping tempat Mey mendudukkan pantatnya.
"Tadi kamu bilang mau ditest ulang?" Pertanyaan itu membuat Mey kembali pada kesadarannya setelah bergelut dengan pikirannya yang tidak fokus.
Di saat masalah melanda, bayangan wajah Reza malah terputar otomatis bagai sebuah video. Dia menggeleng pelan sembari memejamkan kedua matanya. Tak berselang lama, Mey kembali fokus dan menatap guru berkacamata kotak itu saksama.
"Ya, Bu. Saya akan membuktikan bahwa ulangan harian itu murni berkat pemikiran saya."
Mey menundukkan kepalanya, mengarah pada meja yang ada di depannya. Ada sebuah vas bunga yang terletak di pertengahan, bunga hiasan warna merah darah dan ungu muda kini menjadi pemandangan yang lebih baik menurutnya ketimbang memandangi wajah sang guru yang tampak tak suka padanya.
"Hah? Tidak segampang itu untuk mengembalikan kepercayaan saya, Meysa. Tidak dengan mengerjakan soal begitu saja." Jawaban Bu Patmi membuat Mey terdiam. Tatapannya masih tetap pada sebuah vas bunga bermotif.
"Saya juga akan cari tahu siapa pelakunya, Bu." Mey tidak tahu harus bagaimana membuktikan bahwa dia bukanlah pelakunya.
"Untuk apa kamu repot-repot cari pelakunya jika kenyataannya kamu pelakunya!" sergah Bu Patmi. Kedua matanya menatap tajam ke arah Mey yang tengah menyeka air matanya yang jatuh setiap kali mengingat segala kejadian yang tak diketahui apa penyebabnya.
"Tapi ... aku janji, Bu!" ucap Mey. Manik hitam sepekat arang itu kembali menatap lekat bu Patmi yang tengah mengelap kaca lensanya.
Kring ... kring ....
"Sudahlah sana masuk kelas, Mey! Saya hanya butuh bukti dari kamu."
šlšš
Jam istirahat kali ini Mey dan Nita tidak seperti biasanya pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Mereka memilih berdiam di taman belakang, berkeinginan untuk menenangkan pikiran agar dapat menghasilkan ide cemerlang.
Semilir angin sesekali melambai-lambai rambut mereka, membuat kesejukan terasa menusuk ke dasar kulit.
Mereka mencari pelaku yang telah membuat Mey terpuruk. Nita menempelkan jari telunjuknya di atas dagu sambil diketuk-ketuk, barangkali ada sebuah ide yang melintas.
Begitu juga dengan Mey, tengah menggigit jari telunjuknya sembari memikirkan bagaimana cara dia menemukan si pelaku. Mereka tak menyempatkan untuk berbincang, karena Nita yang memberi saran jika mereka berdua harus saling diam sebelum keduanya menemukan cara.
Keduanya gagal fokus saat seseorang mengacaukan suasana. Dia membuat kedua gadis itu tersentak kaget kala datang dengan mengejutkan.
Siapa lagi kalau bukan Ardian, sosok kakak kelas baik yang selalu mendukung Mey di segala kondisi.
Ardian mengeluarkan tiga buah roti isi pisang cokelat. Dia berikan kepada Mey satu, lalu dia bungkus kembali dan didekapnya kuat-kuat tanpa membaginya pada Nita. Kemudian es lemon diberikan pada Mey lalu untuk dirinya dua gelas sisanya.
Mey mengucapkan terima kasih setelah makanan dan minuman itu ada dalam genggaman.
"Dih pelit," sindir Nita pada kakak kelasnya. Ardian tidak menggubris ucapan Nita, seolah tak menganggap kehadirannya. Nita merengut dan memalingkan wajahnya pada kakak senior yang menurutnya tak patut tuk jadikan panutan.
Mey menyadari kekesalan sahabatnya, dia cepat membagi rotinya. Mey hendak membelah roti itu, tapi Ardian mencegahnya karena itu hanya untuk Mey.
"Nih roti sama esnya!" Ardian menyodorkannya pada Nita yang tengah menatap langit.
"Tumben sok baik!" sergah Nita. Dia tetap menerima makanan dan minuman dari Ardian tanpa menolak.
"Makan habisin. Cowok ganteng ini enggak pelit, ya!" Ardian menepuk dadanya bangga sembari mengembangkan senyumannya ke hadapan Mey.
Ardian memilih menatap Mey yang kini mulai membuka bungkusan roti. Dia tidak merasa lapar asalkan gadis bermata sipit itu selalu ada di sampingnya.
Mey yang menyadari dirinya tengah dipandang merasa risi. Gadis itu memberanikan diri menatap Ardian dan menyuruhnya untuk segera memakan roti yang dibawanya.
Nita melahap roti itu sampai habis, menyisakan plastik. Dia menyeringai ke arah Mey yang tengah mencomot rotinya. Bukan hal aneh lagi bagi Mey, dia menyodorkan roti miliknya kepada Nita. Gadis itu antusias dan hendak mengambil alih roti itu, tapi tangan Ardian siaga menepis tangannya, membuatnya menggerutu kesal.
"Maen ambil aja makanan punya orang lo! Dasar Rakus!" seru Ardian. Matanya memelotot pada Nita, tapi gadis itu tidak takut dengan tatapan lelaki yang kini menghalangi Mey darinya.
"Dih ... kan dia yang ngasih. Rezeki tuh enggak boleh ditolak. Dasar Bodoh!" Nita memalingkan wajahnya ke langit.
Mey menggeleng pelan, bisa saja dia sudah lelah dengan menyaksikan perdebatan rumah tangga yang tak ada habisnya.
"Kalau mau urusin tentang rumah tangga tuh jangan di sini. Tuh, sana di hutan belantara sekalian," celetuk Mey diakhiri dengan tawa. Nita memelotot membuat bola matanya nyaris keluar dari tempatnya.
"Dih ... amit-amit deh kalau punya istri yang bawelnya kayak dia, bisa-bisa nih gendang telinga pecah tiap hari." Ardian mengusap kedua telinganya sembari komat-kamit tak jelas.
"Ih siapa juga yang mau sama cowok kek lo! Bisa-bisa gue makan hati," seru Nita. Bahunya bergidik ngeri. Pandangannya kini beralih ke arah Mey yang tengah tertawa lepas seolah semua masalah menguap begitu saja.
Ardian memandang Mey dengan saksama. Mata sipitnya terlihat semakin menyipit saat dia tertawa, rambut hitam panjangnya sesekali tertiup angin, membuat helainya melambai-lambai. Dia cantik, manis, dan polos.
Mey akhirnya menghentikan tawanya saat dia menyadari jika Nita tengah marah padanya. Gadis itu memalingkan wajahnya, bibirnya cemberut, tangannya dilipat di atas dada.
"Nit ... kamu marah?" tanya Mey. Jari telunjuknya jail mencolek dagu sang sahabat tapi cepat Nita menepisnya.
"Udahlah, Mey ... biarin aja dia marah, nanti juga balik lagi ke kamu." Ardian meneguk es lemon setelah mengutarakan ucapan itu.
Nita menoleh ke arah Mey. Wajahnya datar tanpa ekspresi tapi sedetik kemudian tersenyum menampilkan deretan giginya. "Apa, sih? Mana mungkin seorang Yuanita Agustin bisa marah sama Meysa-ku." Dia meregangkan kedua tangannya, siap memeluk sang sahabat yang berada di sampingnya.
"Dih ... jijik." Ardian bergidik. Dia kembali meneguk es lemonnya yang tinggal setengah hingga tandas.
Setelah adegan pelukan yang tak banyak menyita waktu, Nita mulai memakan roti milik Mey. Dengan senang hati dia menghabiskannya sampai tak tersisa kecuali bungkus plastiknya.
"Eh iya, Mey, novel udah dibaca?" Ardian menatap Mey lekat yang tengah meneguk es lemon.
"Udah dong, Kak. Seru banget alur ceritanya. Penulisnya memang pandai dalam mengolah kata, membuat tulisannya indah. Aku suka. Dia pantas dijadikan panutan." Mey menatap langit sembari mengembangkan senyumnya. Gadis itu begitu antusias jika membicarakan perihal buku karya idolanya, ChocoNextar. Dia bisa membicarakan berjam-jam soal idolanya itu.
"Kamu antusias banget, ya kalau udah bicarain penulis itu," seru Ardian. Mey menatap manik mata milik Ardian, kedua matanya berbinar, senyumannya mengembang. Dia mengangguk pelan membenarkan ucapan Ardian.
"Ya dong. Aku emang kagum sama dia. Andai aja aku bisa ketemu sama penulis itu, kupastikan hanyalah Adheeva Afsheen Meysa sosok perempuan yang beruntung." Meysa kembali meneguk es lemonnya yang tinggal setengah.
Ardian tersenyum simpul. "Semoga aja kamu bisa bertemu dengan dia, Mey." Dia menatap sang gadis yang sedang memainkan gelas plastiknya. Kali ini Mey tak menjawab, dia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Nita sedari tadi sibuk sendirian, memainkan ponsel sekadar mencari berita atau melihat foto-foto cogans yang membuat dadanya berdegup kencang. Mey yang menyadari hal itu hanya menggeleng karena sudah menjadi kebiasaan Nita setiap hari.
"Mey ... pulang sekolah jalan, yuk!" ajaknya. Dia begitu berharap jika Mey menerima ajakannya.
"Jangan!" sergah Nita. Sorotan mata Ardian tajam ke arahnya.
"Kenapa? Sok ngatur banget!"
"Mey masih ada urusan yang lebih penting daripada jalan bareng lo. Dia harus cari tahu siapa pelaku semua masalah ini." Nita menatap kedua manik mata hitam sahabatnya yang berbinar.
Mey mengangguk ke arah Ardian.
ššš
Desir ombak mengempas keras batu karang ke pesisir pantai. Ombaknya tak terlalu bergemuruh, hanya beriak-riak dengan tenang. Suasana pantai kala itu tak terlalu ramai, bahkan tak terlihat nelayan yang melayari kapal di atas gelombang.
Dua insan tengah memadu kasih di tepi pantai, terduduk di bawah indahnya cakrawala.
Dalam pertemuan kali ini, sang gadis tidak terlalu bergairah berada di dekat sosok lelaki yang disebut "Kakak". Dia terdiam, menundukkan kepalanya ke arah pasir putih yang mengotori kedua lengannya.
Hidupnya terasa berat. Dia tidak sekuat baja bahkan tembaga. Dia merasa jika dirinya lemah tak berdaya.
"Seberat apa pun masalah yang kamu pikul, kamu harus tetap kuat memikulnya dan bertahan menahan rasa sakitnya. Karena masih banyak orang di luar sana yang mempunyai masalah lebih berat daripada masalah kamu, Mey." Lelaki itu menatap Mey lalu tersenyum.
"Aku tidak sekuat mereka, Kak." Mey berkata jujur jika dirinya memang lemah. Dia tidak sanggup menyelesaikan segala permasalahan dalam kehidupannya yang terasa berat baginya.
Lelaki itu menengadahkan kepalanya ke arah sinar matahari yang sangat menyilaukan. Lalu dia bangkit, meraih tangan Mey dan menggenggamnya. Mengajak Mey berlari ke arah matahari di tengah ombak yang tenang.
"Lupakan masalah itu sejenak. Ayo lari!" ucapnya antusias. Kesedihan Mey seolah sirna dan tergantikan dengan senyuman kebahagiaan di wajahnya.
Lantas keduanya hendak berlari, tapi Mey menghentikan langkahnya. Dia mengaduh kesakitan di bagian telapak kakinya. Dia menginjak sesuatu. Kerang.
"Aaaaww."
Mey terbangun.
Lagi-lagi dia bermimpi sosok Reza. Namun sikapnya tidak sedingin yang dia tahu, lelaki itu begitu manis saat dalam mimpinya.
Rasa sakit menjalari kaki kanannya, baru menyadari jika kakinya menginjak jepit rambut ukuran besar yang terlepas dari rambut panjangnya.
To be continue