
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
“Kak, aku senang banget bisa kayak gini sama Kakak.” Gadis rambut hitam panjang tergerai sampai pinggang itu menatap sosok lelaki yang berdiri tak jauh di hadapannya. Rona merah di pipinya menandakan jika gadis itu sedang tersipu malu. Meski begitu, bola mata hitam terangnya tak lepas menatap sosok memesona di depannya.
“Aku lebih senang karena bikin kamu senang,” jawab pemuda itu, tersenyum. Tubuh jangkungnya membelakangi cahaya, membuat si gadis sedikit menyipit, menyaksikan langsung senyum manis yang terukir indah di bibir merah merona.
“Meysa,” sapanya, mengelus halus rambut si gadis. Memaksa gadis itu lebih tinggi menaikkan pandangan. Cahaya benar-benar menyilaukan pandangan. Meysa seolah melihat bayangan hitam saat menatapi wajah lelaki di depannya itu.
“Iya, Kak?”
“Mau kan kamu berjanji kalau nanti aku enggak ada, selalu ingat aku, sampai kapan pun itu?” tanyanya. Seberapa pun cahaya itu menghalanginya untuk melihat wajah si lelaki, tapi Mey masih bisa dengan jelas menyaksikan bibirnya tertarik ke samping, tersenyum.
Mey tahu, lelaki itu hanya menanyakan hal konyol, tapi dia tak mau jika pertanyaan itu adalah tanda jika dirinya benar-benar akan ditinggalkan. Mey menggeleng.
“Kakak mau ke mana? Aku enggak mau Kakak pergi. Bukannya---“
“Pertanyaan aku cuma bisa dijawab sama iya atau enggak, Mey. Jawaban kamu melenceng,” jawab lelaki itu, kembali tersenyum sambil masih mengelus lembut rambut Meysa. Lesung pipinya semakin jelas, tertarik oleh bibir merah yang kian merekah.
“Aku akan selalu ingat. Aku akan selalu ingat, Kak.” Meysa menunduk, mengepalkan kedua tangannya di depan paha, bibir bawahnya digigit kuat-kuat. Menahan rasa sakit yang menjalar di dadanya. Untuk memastikan jika pemuda itu tidak akan pergi ke mana pun, Mey kembali mendongak. “Tapi Kakak enggak akan ke mana-mana, kan?”
Pemuda itu tersenyum lagi. Menggeleng. Mey tahu itu bohong, mereka sama-sama tahu itu sebuah kebohongan. Meski begitu Mey sedikit mengangguk, tak melepaskan gigitan bibir bawahnya dan mencoba untuk tersenyum menanggapi pertanyaan si pemuda.
“Kak ....”
“Jangan nangis, jangan sedih. Kakak tahu kamu anak yang kuat. Kakak bawa kamu ke sini ...,” katanya, membalik tubuh Mey yang sejak tadi membelakangi hamparan pepohonan dari ketinggian bukit, kemudian menunjuk kota yang dikelilingi rimbunnya hutan hijau pohon pinus, “karena Kakak mau bikin kamu bahagia. Bukan bikin kamu sedih kayak gini,” lanjutnya. Pemudia itu menaruh kedua tangannya di pundak Mey dan mendekatkan wajahnya di telinga kiri Meysa.
“Indah,” seru Mey pelan, menatap hijaunya daun-daun di bawah bukit tempat kakinya berpijak. Semilir angin menerpa pipinya pelan, membelai rambut hitam yang kini ikut bergoyang.
“Jadi, jangan nangis lagi, ya?”
Degub jantung Mey tak keruan, bergetar seperti sedang digoyang-goyang menggunakan mesin pengaduk tepung saat napas si pemuda menabrak telinganya. Ludah yang sejak tadi berdiam diri di balik lidah meluncur begitu cepat ke kerongkongan, menyapu alas-alas kering di dalamnya, seakan tak ada hambatan sama sekali.
“Kak ....” Mey menelan ludahnya lagi.
“Silakan,” jawab pemuda itu, membuka mata sebentar, kemudian menutupnya lagi. Memberi celah untuk Meysa melakukan apa yang ingin dilakukannya. Namun, Meysa hanya bisa menggeleng, tak mengerti.
Itu bohong. Meysa tahu, otaknya sedang memikirkan hal aneh, hal yang tidak-tidak. Mereka sama-sama tahu jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukannya. Namun itu terlalu sulit untuknya.
“Kenapa?” tanya pemuda itu kemudian. Menyadari jika Mey mematung di tempatnya dengan sejuta keterkejutan. Si pemuda tertawa ringan, melepas pegangannya dari pundak Mey, kemudian berdiri tegap, menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter itu dari Meysa.
“A-aku ... ehm ....” Muka Mey semerah stoberi. Pipinya pasti sudah sangat panas.
“Hahaha ....” Pemuda itu melangkah sekali ke depan, mensejajarkan dirinya dengan Mey, berputar sedikit ke arah Meysa, meluruskan pandangan keduanya sambil mengunci tatapan agar tak kembali lepas. Tepat ketika semua sudah berada dalam satu garis lurus, pemuda itu mulai memangkas jarak di keduanya.
Meysa menegang, wajahnya mengeras dengan otot-otot di leher yang makin terlihat jelas. Jarak di keduanya semakin dekat dan Mey merasa embus napas hangat segar dari hidung pemuda di hadapannya mulai memenuhi pernapasannya. Itu membuat darah Mey bergolak.
Saat Mey akan memejamkan mata, tiba-tiba bunyi nyaring memekakan telinganya, mendobrak keheningan, menarik Meysa dari alam mimpi. Kedua matanya terbelalak begitu saja, bersamaan tubuh tegap terduduk di tempat tidur. Napas tak beraturan, naik-turun.
“Hah ... hah ... haaah. Tadi itu ... apa?” tanyanya bingung sendiri.
“Astaga ... tadi itu apa, ya?” Matanya melotot ke depan, pada rak buku dekat lemari putih di hadapannya.
Dia mengurut pelipisnya pelan, mencoba mengingat mimpi aneh yang baru saja muncul di tidurnya. Namun, seberapa kuat pun usahanya untuk mengingat, tak ada satu gambar pun terlintas. Satu-satunya hal yang Meysa ingat sekarang adalah, dirinya harus segera pergi ke sekolah karena alarm sudah bernyanyi sejak tadi. Itu artinya dia tidak punya waktu banyak.
Mey bisa terlambat!
**
Hore. Itu dia prolognya. Bagaimana? Penasaran? Semoga suka. Jangan dulu beranjak, karena part selanjutnya akan segera ditambahkan.
Terima kasih. Jan lupa vote dan komen.