Someone In There

Someone In There
30. Akhir Untuk Awal Baru


Part ini ditulis oleh Castortwelvy


Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan terlewati. Lembar-lembar kehidupan tersingkap dengan sendirinya, membuka halaman baru, untuk kehidupan yang penuh kejutan.


Semua kisah pilu penuh misteri itu kini usai dengan sebuah akhir menakjubkan. Menyimpan kenangan untuk setiap insan yang pernah terlibat dalam sebuah kisah dan skenario semesta.


Semua yang pernah terjadi, meninggalkan pesan-pesan yang tak mungkin dilupakan.


Satu tahun rasanya cukup untuk menjalani kisah-kisah baru yang tak kalah menakjubkan. Menciptakan pribadi-pribadi baru yang lebih tangguh dan siap menghadapi semua masalah.


Meysa menarik napasnya perlahan, ditahannya sejenak sambil menatapi tiap kata dalam layar laptop di hadapannya. Beberapa jenak dirinya terdiam, saat dia kembali membaca kisahnya dalam sebuah tulisan yang dia selesaikan beberapa bulan ini, kemudian napas yang menggunung di dadanya dia lepaskan dengan lembut.


Meysa baru saja menyelesaikan tiga puluh chapter kisah tentang dirinya bersama Seha. Menurutnya, pertemuan kembali bersama sosok di masa lalu lewat sebuah mimpi itu, harus dibaca oleh semua orang. Dia ingin menginspirasi siapa pun, bahwa semua yang pernah terjadi, bukan untuk dilupakan begitu saja.


Manik sehitam arangnya terus berbinar. Merasa bangga sendiri karena semua perjalanannya mencari Seha berakhir bahagia. Walau dia sendiri sadar jika Seha dan dirinya sudah tidak akan lagi dipertemukan. Kecuali di surga nanti.


Bersamaan dengan menutup laptop merah mudanya, ponsel yang tergeletak di dekat tas selempangnya berdenting. Sebuah pesan masuk. Buru-buru dia membukanya.


"Aku sama Naila udah siap. Aku tunggu di depan gerbang," kata Nita dalam sebuah pesan LINE. Meysa tersenyum. Dia baru ingat jika hari ini harus menghadiri sebuah acara spesial.


"Aku datang dalam dua menit," balas Meysa. Dia terkekeh-kekeh mengingat semua kisahnya setahun belakangan ini.


Meysa kemudian memasukkan laptopnya dalam tas, menaruhnya di atas kasur dan dia bergegas mempercantik diri sesederhana mungkin. Tak memakan waktu lama, dia berlari menuruni anak tangga untuk menemui kedua sahabatnya.


Langkah demi langkah membawa debar jantung yang membuat hatinya tak keruan. Meysa seperti merasakan pacuan yang tidak biasanya. Gadis itu berdiri di ambang pintu, terdiam cukup lama, kemudian mulai meraih gagangnya.


Bersamaan dengan decit pintu, dia membuka daunnya, dan cahaya menyilaukan mata menyerangnya dari depan. Meysa mengernyit, menghalangi keningnya dengan telapak tangan.


Di ujung penglihatan, pada gerbang rumahnya, Naila dan Nita sudah menunggu. Nita melambaikan tangan dengan wajah sumringan. Senyum khasnya tak pernah luntur, menghangatkan, dan Naila berdiri dengan satu tangan ditaruh di pinggang. Dia juga ikut tersenyum.


"Ayo buruan, acaranya sudah mau dimulai," teriak Nita.


***


Ardian berdiri di belakang panggung dengan wajah cemas. Kedua tangannya terasa mati rasa, dan keringatnya sudah mendominasi. Membasahi seluruh kulitnya.


"Huhft. Tenang. Gue harus bersikap kayak biasa," gumamnya. Dua sampai tiga kali dia menggosok tangannya sembari mencoba untuk tenang.


Bagaimana dia tidak gugup, jika ini adalah penampilan terakhirnya di Adipura sebagai seorang siswa.


Di hari kelulusannya ini, Ardian memutuskan ingin membawakan sebuah lagu untuk seseorang yang spesial. Dia sama sekali tidak berniat membuat kesalahan. Namun justru dengan berpikir terlalu berlebihan, membuat dirinya gugup dan bisa saja malah membuat kesalahan fatal.


Di tengah kekhawatirannya, Ayana datang dengan kedua rambut dikepang dua seperti biasa. Gadis itu menepuk pundaknya pelan, menggosoknya, berusaha memberikan ketenangan kepada rekan kerjanya selama tiga tahun ini.


Ayana benar-benar bangga dan kagum pada Ardian. Dia sukses menjadi ketua yang bijaksana dan disegani semua anggota.


"Kamu pasti bisa, Ar. Santai aja." Ayana berkata sambil tersenyum.


Di depan sana, siswa lain sedang mengisi acara.


"Gimana kalau gue gagal?" tanya Ardian cemas. Kedua matanya bergerak-gerak tak tentu arah. Sesekali terdiam saat matanya yang cerah itu menatap gitar di sampingnya.


"Kamu enggak akan gagal. Lakukan seperti biasa," jawab Ayana. Dia kemudian mengangguk dan pamit karena harus mengurusi sesuatu. Ardian hanya berterimakasih karena telah memberinya semangat.


Ardian hanya perlu melakukan yang terbaik.


Di sisi lain, Meysa dan dua teman-temannya sudah sampai. Mereka ke sekolah menggunakan mobil pribadi Naila.


"Enggak keliatan, Mey di sini. Ke depan, yuk?" kata Nita, menarik tangan Meysa. Memaksa gadis itu terseret ke depan, melewati kerumunan orang dan akhirnya mereka sampai di barisan paling depan.


Berada di sana, bisa melihat semua pertunjukan dengan jelas.


Naila di belakang menggeleng. Dia berjalan perlahan sambil menaruh kedua tangannya di dada. Namun saat akan masuk kerumunan, dia ditabrak oleh seseorang. Lelaki itu mengaduh, dan Naila nyaris meledak karena orang yang baru saja menabraknya tidak berjalan dengan benar.


Namun urung saat dia sadar jika lelaki itu sangat tampan.


"Eh, maaf," ucap si lelaki. Menggosok bahu kirinya yang terus berdenyut, sementara Naila hanya melongo di tempat.


Nita dan Meysa sedang mengikuti irama, melompat-lompat seperti yang lain saat Naila sampai di depan. Gadis itu tersenyum ketika melihat Meysa begitu bahagia.


SMK Adipura mengundang bintang tamu yang katanya sedang naik daun belakangan ini. Semua remaja berteriak saat pembawa acara itu menyebutkan namanya.


"Gila, gilaa. Seriusan sekolah ngundang doi?" tanya Nita tak percaya. Dia menaruh kedua tangannya di dagu, menggoyang-goyangkan tubuh dan pinggangnya karena senang. Meysa hanya terkekeh-kekeh.


"Dua bintang tamu spesial katanya," tambah Naila. Dia melipat kedua tangannya sambil menatap ke atas panggung.


Di tengah jerit semua orang, pembawa acara itu mengatakan jika salah satu dari ketua ekskul akan tampil sebelum bintang tamu spesial itu menunjukkan dirinya.


"Kalau begitu, kita saksikan penampilan dari ... Ardian," teriaknya, mempersilakan Ardian naik membawa gitar cokelatnya. Tatapan lelaki itu langsung tertuju kepada Meysa yang ada di barisan paling depan.


Ardian melangkah maju, membetulkan posisi standing mic dan mulai mengatur gitarnya.


"Selamat sore semua," ucapnya, kemudian tersenyum pada semua orang yang ada. Jawaban antusias serta jerit kaum hawa mengisi pendengarannya. Ardian begitu popular belakangan ini, terlebih ketika dia memenangkan sebuah lomba menulis novel untuk perwakilan ekskulnya dulu.


"Aku pernah berjuang di awal," ucapnya. Dia menatap Meysa yang juga balas menatap ke arahnya. "tapi aku enggak pernah berpikir untuk menyerah pada perjuanganku. Sesakit apa pun itu, aku tetap mengejarnya."


Gadis-gadis makin berteriak histeris.


"Di akhir, aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang. Seseorang yang pernah membuatku terluka, tapi dengan luka itulah bagaimana aku bisa makin mencintainya. Dengan cara dia terus melukai itulah bagaimana aku semakin jatuh cinta kepadanya."


Meysa menggigit bibir bawahnya. Merasa bersalah karena telah menolak dua kali Ardian. Dia benar-benar tidak bisa menerima lelaki itu.


Ardian mundur, menduduki sebuah kursi besi, kemudian mulai menyanyi.


On the first page of our story


The future seemed so bright.


Then this thing turned out so evil


Dont know why i'm still surprised.


Even angels have their wicked schemes


And you take that the new extremes


But you'll always be my hero


Even though you've lost your mind.


Just gonna stand there and watch me burn


But that's all right because i like the way you hurts


Just gonna stand there and hear my cry


But that's all right because i love the way you lie.


I love the way you lie.


Tanpa sadar, Meysa menitikan air matanya. Ada sayatan yang terus terasa sakit di hatinya. Naila yang sadar akan hal itu, buru-buru mengusap punggungnya. Dia tahu, Meysa masih terus merasa bersalah untuk keputusannya.


Ardian masih bernyanyi, dan Meysa berusaha untuk menguatkan diri.


Mey tahu, Ardian menyanyikan ini bukan untuk melukai dirinya sendiri ataupun membuat diri Meysa semakin bersalah. Ardian punya cara sendiri untuk menyampaikan apa yang dia rasakan.


Setelah menarik napas untuk terus berusaha tegar, gadis itu kembali mendongak dan tersenyum kepada Ardian.


Di tengah-tengah nyanyi, Ardian menyuruh semua orang mengangkat tangan, mengikuti alunan yang mulai mendayu-dayu. Dia menyanyikan bagian paling menyakitkan dan menyanyat hatinya sendiri.


So maybe i'm a masochist


I try to run but i dont wanna ever leave


Til the walls are goin' up


In smoke with all our memories


Semua menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan bersamaan.


Dan penampilan itu berakhir dengan tepuk tangan dari semua orang.


Ardian mengembuskan napas lega karena penampilannya berjalan sempurna. Walau awalnya dia merasa gugup sendiri, tapi dengan munculnya Meysa, dia bisa mengendalikan situasinya.


"Hebat, ih. Aku suka, Kak." Meysa mengucapkannya dengan senyum manis. Dia menyalami Ardian yang baru saja turun dari panggung dan berlari ke arahnya.


"Makasih, Mey."


"Karena udah datang ke acara perpisahanku," katanya. Meysa mengangguk. Dia kemudian memberikan satu buket bunga yang baru saja Nita ambil dari mobilnya Naila.


"Untuk Kakak, karena sudah berjuang selama ini, berjuang sampai titik ini dan ...." Meysa menggigit bibir bawahnya, akan melanjutkan, tapi tatapannya tertuju pada seseorang yang baru saja datang dan berdiri di belakang Nita.


"Dan?" tanya Ardian.


"Dan terima kasih karena sudah menjaga, membimbingku selama di ekskul," ucap Meysa. Ardian sedikit kecewa mendengarnya. Dia berharap jika ucapan terima kasih terakhir itu untuk semua perasaanya selama ini.


"Mey lo datang ternyata," ucap Reza.


"Pasti, Kak." Meysa mengambil buket bunga satunya dari Naila dan memberikannya kepada Reza. "Selamat, Kak. Kalian hebat."


Reza mengangguk, menerima baket itu, kemudian mencoba untuk tersenyum.


"Kalau gitu, aku udah bisa ambil foto sekarang?" tanya Nita, terkekeh-kekeh sambil sudah siap mengangkat ponselnya ke udara.


Ardian, Reza, Naila dan Meysa mendelik bersamaan kepadanya, kemudian merengut nyaris barengan. Nita terkekeh-kekeh lagi, kemudian berlari ke tengah-tengah mereka.


"Katakan, ciiiiiiiis."


Semua berteriak, dan tersenyum.


Acara perpisahan ditutup dengan penampilan dari Ngatmombilung yang tengah menyanyikan lagu menepi. Gadis-gadis menangis karena mereka baper.


Ardian berdiri di samping kiri Meysa, dan Reza berada di sebelah kanannya. Mereka bertiga menonton penampilan itu sambil mengangkat tangan.


Mungkin memang seperti itu akhir kisah yang seharusnya. Mereka semua sama-sama bahagia, walau tak bisa bersama untuk bisa bahagia.


Karena Meysa yakin sekali, kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan.


Reza merangkul Meysa, dan Nita merangkul Ardian yang sejak tadi hanya bisa menatapnya dengan hati yang terus sakit teriris.


"Dasar," ucap Naila di belakang. Dia terkekeh-kekeh.


***


Ardian dan Reza sudah tidak ada di sekolah. Semua terasa berbeda. Namun Meysa tetap harus melanjutkan kehidupannya.


Dia menjadi ketua ekskul sastra, dan memilih wakil perempuan yang juga satu pemikiran dengannya.


Hari berlalu begitu cepat. Penerimaan siswa baru berlangsung selama beberapa hari. Meysa dan kedua sahabatnya kini menjadi panitia untuk membimbing murid-murid baru yang akan menjadi bagian dari Adipura.


"Hahaha. Sekarang aku bisa balas dendam," teriak Nita setelah dia mencoret-coret muka anak baru yang salah. Dia ingat dengan perlakuan Ardian dulu ketika mereka baru saja masuk.


"Kejam, ih." Meysa hanya bisa menggeleng. Naila di belakangnya duduk dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.


"Gue jadi inget pas dulu MOS," katanya pada sosok lelaki itu. Dia adalah murid baru di kelasnya, dan Naila mencoba untuk membuka hati kepadanya.


"Udah lama banget, ya?" balas lelaki itu, tersenyum. Rambutnya hitam legam. Matanya bulat sempurna dan kedua rahangnya tegas.


Menjadi panitia, membuat mereka bisa bertemu orang-orang dengan karakter baru. Menyenangkan.


Di tengah memberikan arahan, Meysa mendadak terdiam. Dia melihat sosok lelaki berkacamata yang tengah menulis di bawah pohon palem. Lelaki itu terlihat menikmati kegiatannya. Sesekali dia menoleh ke lapangan, terlihat mencari sesuatu untuk ditulis.


"Seha," gumam Meysa. Dia kemudian pamit pada Nita, dan mendatangi lelaki itu.


Anak itu masih menulis saat tiba-tiba dia berhenti dan menatap ke arah Meysa yang sedang berdiri di depannya.


"Ada apa, Kak?" tanyanya. Dia menaikkan kacamatanya dengan tangan kiri.


Meysa hanya tersenyum, memiringkan kepalanya ke samping kiri sambil membungkuk.


Merasa risi, anak itu meringis.


"Nama kamu siapa?" tanya Mey.


"Eh? Aku ... Sevha," jawabnya.


***


Tiga bulan kemudian, Meysa baru saja menerima surel dari penerbit, isinya tentang naskah yang dia ajukan waktu itu sudah diterima dan bisa dicetak untuk dipasarkan. Meysa sangat senang, dan dia langsung memberitahukannya di grup LINE.


"Wah, keren, tuh," ucap Nita dalam telepon grup.


"Selamat, Meysa," kata Naila.


"Terima kasih kalian."


"Mau ke rumah gue buat dirayain?" tanya Naila. "Gue bisa siapin daging buat acara bakar-bakar," tambahnya.


"Boleh, tuh. Aku lapar, nih. Kebetulan banget. Kapan?" sambar Nita. Dia menaikkan volume suaranya. "Eh, tapi aku baru ingat sesuatu."


"Apa?" tanya Meysa dan Naila bersamaan.


"Aku kirim fotonya di grup," jawab Nita, kemudian mereka sama-sama mematikan sambungan telepon.


Setelah membacanya, Meysa dan kedua temannya siap-siap. Mereka akan berangkat ke sebuah tempat.


"Kok aku bisa dapat?" tanya Meysa saat mereka di dalam mobil, menuju lokasi.


"Aku pernah suruh kamu ikut acara GA gitu, kan? Nah, tanpa kamu tahu, aku ikutsertakan kamu, dan ... dapat!" Nita menjawab antusias.


"Curang, tapi menguntungkan," balas Naila.


"Dan si penulisnya bilang, ini undangan khusus buat kamu."


"Aku enggak percaya ini. Nit, cubit aku. Aku enggak mimpi, kan?" tanya Meysa. Dia seperti sedang berada di dalam sebuah roller coster, membuat dadanya berdegub kencang, tak keruan.


"Selamat, Mey. Kamu dapat dua hal spesial dalam satu waktu," ucap Naila. Nita malah sudah mencubit Meysa berkali-kali, membuat gadis itu meringis dan tangannya sudah merah karena sakit.


"Aku diundang ke acara launching ChocoNextar. Gila!" teriak Meysa. Dia masih tidak percaya dengan itu.


Nita terkekeh-kekeh.


Mereka pun sampai di lokasi saat matahari sudah di tengah-tengah langit. Di depan mereka, ada sebuah panggung dan ratusan kursi yang sudah penuh terisi. Meysa melihat di sisi kanan dan kiri panggung ada poster si penulis, tapi fotonya dibuat hitam. Menyerupai bayangan.


"Sampai sekarang belum ada yang tahu gimana mukanya si penulis," ucap Meysa pada Nita yang mulai duduk di bangku kedua. Di sana masih tersisa empat kursi kosong.


"Misterius banget, ya." Naila menanggapi. Nita sama sekali tidak peduli. Dia mengunyah keripik dan sudah berusaha duduk senyaman mungkin, karena dia tahu acara launching itu tidak akan berlangsung sebentar.


"Ini pertama kali dia menunjukkan wajahnya," balas Meysa.


Satu per satu tamu mengisi kursi, dan ketika semua sudah terisi, pembawa acara mulai mengatakan susunan acaranya. Dia juga menyebutkan jika si penulis ada di antara penonton, sedang duduk memerhatikan.


Semua panik, dan orang-orang saling pandang ke teman sebangkunya. Termasuk Meysa dan kedua sahabatnya yang ikut celingukan mencari seseorang.


"Wah, menarik banget, sih penulisnya," kata Nita. Dia mengernyit.


Di tengah kepanikan, seseorang di ujung barisan berdiri, sontak meraup semua perhatian. Lelaki itu memakai masker hitam dan topi yang nyaris menutupi wajahnya. Dia berjalan ke depan, melewati gadis-gadis yang sedang menjerit.


Satu dua gadis meraih tangannya, tapi penulis itu tetap mengabaikan.


"Wah, ini dia penulisnya. Selamat datang, Kak Choco," ucap pembawa acara. Dia menyalaminya, kemudian si penulis itu duduk di kursi yang sudah disiapkan.


Meysa mengernyit. Dia terus menilik penampilan di penulis.


Lelaki bermasker itu meraih mic-nya, kemudian memutar tubuh, membelakangi tamu yang hadir. Dari gerak-geriknya dia terlihat sedang membuka masker dan topinya.


Jerit demi jerit gadis makin terdengar saat dua benda hitam itu dijatuhkan ke lantai panggung.


"Selamat datang semua," ucapnya, masih membelakangi.


Nita, Naila dan Meysa tersentak. Mereka tak asing dengan suaranya.


"Kenalkan, namaku ...." lelaki itu memutar tubuhnya, berdiri tegap menghadap ke penonton dan melanjutkan, "ChocoNextar," tambahnya.


Semua orang menjerit histeris karena wajah si penulis misterius itu sangat tampan.


Meysa dan kedua sahabatnya memelotot dan serempak berteriak, "Kak Ardian?"


TAMAT.


**


Terima kasih karena sudah membaca. ^^