
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Rasanya tubuh Mey seringan kapas setelah semua masalah yang dia alami beberapa waktu terakhir ini terangkat dari kehidupannya. Masalah mengenai siapa pelaku dari insiden kunci jawaban itu, Mey sama sekali tidak menyangka jika Naila pelakunya.
Pandangan dingin dari teman-temannya kini kembali memudar, terkikis dengan informasi yang sudah disebarkan oleh Bu Patmi.
Beberapa meminta maaf, sebagian lagi bersikap seolah tidak peduli.
Setelah kejadian itu, kehidupan Mey kembali seperti sediakala.
Dia pun mulai menjalani semua tugas-tugasnya lagi tanpa beban yang membelenggu pikirannya. Termasuk menyelesaikan salah satu hal yang sedang dia tekuni serius belakangan ini.
"PR udah?" tanya Nita dalam pesan. Mey membalas dengan pesan suara.
Mey terkekeh-kekeh sambil terus menyalin buku paket ke buku catatan.
Akhir-akhir ini waktunya nyaris dihabiskan di kamar. Mey hanya turun ke ruang bawah ketika perutnya merasa lapar. Bahkan, mamanya sampai khawatir jika Mey sedang dalam masalah karena terlalu sering mengurung diri.
Mey selalu pulang cepat, mengabaikan makan di kantin, tak fokus mengerjakan tugas dari Ardian, dan selalu telat membalas pesan Nita.
Pernah suatu waktu, Nita memergoki Meysa tengah menyalin buku paket di perpustakaan. Saat itu Nita tidak ingin tahu, tapi karena semua ucapannya diabaikan, Nita jadi jengkel sendiri.
"Mey, kamu serius bisa selesaikan semuanya?" tanyanya lagi. Kini gadis itu mengirim pesan suara.
"Aku yakin bisa. Lagian ini enggak banyak. Aku udah lihat mana aja yang harus disalin."
"Tapi, Mey apa sepenting itu, yaa nanyain soal mimpi sama Reza sampai kamu harus kayak gini?"
"Mungkin buat kamu ini hal sepele, Nita."
"Emang," jawabnya enteng.
Mey akhirnya memutuskan meneleponnya.
"Tumben nelepon," ucap Nita ketus.
"Yaudah aku matiin," jawab Mey. Dia masih terkekeh.
"Ish, baper amat. Udah sampe mana, Mey? Butuh bantuan?" tanya Nita. Gadis itu kini menggeser bungkus camilannya ke sisi kasur, membiarkan kaki-kakinya terjuntai di ujung ranjang sambil merebahkan diri di atasnya.
"Masih banyak. Enggak, makasih. Aku mau usaha sendiri, Nita."
"Sampai segitunya?"
"Tanggung jawab," jawab Mey.
"Kalau yang kayak gitu, cinta bukan, sih? Atau ... emang dikerjain?" celetuk Nita. Pandangannya terarah pada lampu di plafon.
Hening. Meysa diam dan Nita menunggu.
Beberapa saat Mey berdeham.
"Maksudnya?"
"Iya, kalau bukan cinta, apa namanya sampai rela berkorban kayak gini? Kalau kamu enggak mau dibilang bodoh, tentu saja," kata Nita. Mey diam lagi. Dia di seberang telepon tampak menimbang.
"Ah, enggak mungkin deh, Nit kalau aku jatuh cinta sama dia. Ya, kan?"
"Kalau gitu, bodoh?"
"Ish. Sekarang aku kepikiran kan. Jadi apa dong?"
"Mana aku tahu. Akukan enggak tahu." Nita terbahak. Mey hanya diam.
"Mungkin aku hanya penasaran?" Mey berucap setengah bertanya pada diri sendiri. Merenungkan semua yang telah dilakukannya selama ini.
"Mungkin." Nita mengangkat kedua bahunya pelan.
"Tapi semua penasaran itu bukan hanya karena Reza sosok yang misterius dengan semua sifat dinginnya. Aku beneran penasaran kenapa dia bisa datang di mimpiku."
"Kalian punya hutang mungkin?"
"Ngawur."
"Otakku kalau malamkan emang geser, Mey. Haha."
Mey hanya tertawa menanggapi. Beberapa saat kemudian meminta izin jika pembicaraan mereka harus diakhiri karena Mey harus segera menyelesaikan misi pentingnya.
Keesokan harinya.
Dia berangkat lebih pagi, hanya menyuapkan dua sendok sarapan sambil menyalin buku paket. Mamanya sampai mengomelinya.
"Hai, Mey." Nita menyapa, tapi Mey hanya tersenyum dan pergi ke kelas lebih dulu. Nita di belakang mengikuti sambil mengunyah keripik.
Meysa terus menyalin.
Jam pelajaran pertama dihabiskan setengah waktu untuk mendengarkan, dan sisanya dipakai untuk menyalin buku paket. Hal serupa berlaku pada jam pelajaran kedua. Bahkan sampai istirahat, Mey hanya menyantap sepotong roti dari Nita yang setia duduk di sampingnya.
Naila datang untuk membahas soal kunci jawaban. Namun dengan segera Nita menghalangi.
"Masalah kita udah selesai. Lo ingat, kan?" tanya Nita sinis. Mey yang sedang menyalin berhenti, mendongak dan tersenyum pada Naila.
"Tentu. Otak gue masih bisa dipakai. Jangankan buat inget hal remeh kayak gitu, dipakai olimpiade pun gue sanggup," jawab Naila tak kalah sinis.
"Terus lo mau apa datang ke sini?" tanya Nita lagi.
"Lo jangan besar kepala hanya gara-gara Bu Patmi belain lo," kata Naila, mengabaikan pertanyaan Nita. Gadis itu menunjuk Mey yang sedang duduk di bangkunya. Nita mendengar itu mengernyit tak suka.
"Aku rasa Nita bener, Nai. Masalah kita udah selesai," jawab Mey ramah.
"Awas aja lo. Sampai gue tahu siapa pelaku yang bocorin semuanya, kalian masih gue awasin." Naila menunjuk Nita dan Mey bergantian. Gadis berambut indah itu pun pergi meninggalkan kelas dengan langkah angkuh.
Mey hanya menganggap peringatan dari Naila sebagai pelajaran untuknya.
Dia tak mempermasalahkan itu, karena masalah sebenarnya sedang dia genggam di tangannya.
Hari demi hari berlalu.
Tepat hari di mana pelajaran olahraga berlangsung, Mey diam-diam menyembunyikan buku catatan dan buku paket di bajunya. Saat guru olahraga tidak ada, Mey melipir ke pinggir lapangan untuk menuntaskan misinya.
Gadis itu duduk di samping pohon mangga sambil masih menyalin.
Di tengah aksinya, tiba-tiba guru olahraga datang dan memergokinya. Mey pun dihukum. Dia disuruh berdiri di lapangan selama jam pelajaran berlangsung.
Semua teman sekelasnya menertawakannya, kecuali Nita.
Saat kelas olahraga bubar, semua anak kembali ke kelas dan Nita menunggu di bibir lapang.
Mey pikir, itu bukan hal yang akan menganggu pikirannya, karena sesuatu yang membuatnya merasa malu adalah ketika Reza tiba-tiba datang ke lapangan bersama teman-temannya.
Lelaki itu melihat Mey dalam kondisi memalukan. Dua kali Reza memergoki Mey yang tengah dihukum.
Reza terlihat tersenyum mengejek, sampai akhirnya dia pergi meninggalkan lapangan.
***
Mey merindukan suasana ruang ekskul yang penuh dengan aroma buku. Lembar demi lembar yang dibuka, membawa sesuatu yang menggelitik ke lubang hidungnya.
Saat ini Meysa sedang mengikuti materi tentang teknik 'show not tell' dari Ardian. Diam-diam dia menyelipkan buku paket dan buku catatannya di antara buku-buku materi yang dia bawa ke ruangan.
Ardian menjelaskan, dan Mey sibuk menyalin.
Ayana duduk dengan tenang di samping Ardian sembari mencatat siapa saja yang tidak hadir di kelasnya kali ini. Namun ketika kedua matanya tertuju pada Meysa, dia langsung menyikut Ardian.
"Meysa?" tanya Ayana.
Meysa masih anteng menulis.
Ardian dan Ayana saling pandang, membuat semua orang yang hadir ikut menoleh ke arah Meysa.
"Mey?" ucap Ardian. Kali ini membuat Meysa terperangah dan menatap ketua ekskul itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ya, Kak?"
"Kamu mencatat, kan?" tanya Ardian sedikit mengernyit. Mey hanya mengangguk ragu.
"Iya, Kak. Aku ... mencatat," jawab Mey, menggaruk pelipis kirinya dengan bolpoin dan tersenyum canggung.
Ayana dan Ardian mengangguk, kemudian mereka melanjutkan tugas masing-masing.
Seberapa kuat pun Meysa berbohong, Ardian tetap tahu jika gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu. Maka setelah jam ekskul berakhir, dia menghampiri Meysa yang masih anteng menulis.
"Bukannya kelas udah selesai?" tanya Ardian tiba-tiba. Dada Meysa seperti dihantam benda tumpul dengan kencang ketika pertanyaan itu melayang ke telinganya.
Buru-buru Mey menutup bukunya dan menggeser semua benda yang ada di hadapannya ke samping. Mey tersenyum sambil melipat kedua tangan di atas meja.
"Aku ... ketinggalan, Kak."
Ardian menaikkan sebelah alis matanya.
"Enggak biasanya kamu telat," ucapnya.
Meysa membuang tatapannya ke sembarang arah sambil mulai membereskan buku-bukunya.
"Aku ... ada tugas, Kak. Nita kirim aku LINE. Aku harus pergi sekarang. Dadah." Mey mengemas bukunya dan dalam sekejap pergerakannya terhenti karena Ardian mencekal pergelangan tangannya.
"Ada yang kamu sembunyikan," ucapnya.
Mey membeku.
"Ya?"
Ardian melepas pegangannya dari tangan Meysa dan mengambil buku paket dari hadapannya lalu mengangkatnya setinggi dada. Dilihatnya buku tebal itu beberapa saat, sampai akhirnya dia kembali menatap Meysa dengan wajah sedikit kecut.
"Mau kamu apakan buku paket ini?" tanyanya.
"A-aku ... aku salin, Kak."
"O, ya?"
Mey hanya mengangguk pelan.
"Ini buku kelas dua, lho."
Mey membatu.
"Aku ... harus pergi sekarang, Kak." Meysa menyambar buku dari pegangan Ardian, dan bergegas meninggalkan ruang ekskul.
Ardian melongo di tempat. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Meysa.
"Mey tunggu," teriak Ardian, membuat gadis itu berhenti tepat di ambang pintu. Meysa menoleh dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin.
"Ya, Kak?"
"Seminggu lagi pengumuman cerpen. Kami akan mengadakan acara camp sekalian umumin pemenangnya. Jangan lupa untuk itu," katanya.
Meysa mengangguk dan berbalik meninggalkannya. Lelaki itu hanya diam sambil melihat punggung gadis berambut hitam panjang yang kini hilang ditelan mulut pintu.
***
Meysa bersyukur jika tugas-tugasnya sudah mau selesai. Jika dihitung secara menyeluruh, mungkin Mey sudah nyaris mengerjakan semuanya.
Buku paket kelas dua yang Reza suruh salin sudah bisa dia selesaikan dalam waktu kurang dari seminggu.
Tepat hari ini dia akan menemui Reza untuk memberitahukan jika bukunya sudah hampir siap.
Mey berdiri di depan ruang UKS sambil memeluk buku paket. Wajahnya pucat karena kurang istirahat. Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilannya yang acak-acakan.
Seperti janji Reza kemarin, dia akan menemui Meysa di sana setelah pulang sekolah.
"Ini setengah dari tugasku, Kak. Aku bisa selesaikan sisanya dalam tiga-empat hari ke depan."
Meysa menyerahkan bukunya pada Reza, membiarkan lelaki itu memeriksanya.
"Tugas gue kumpulin seminggu lagi," jawab Reza.
"Aku bisa selesaikan," kata Mey penuh percaya diri.
Sesaat Reza menilik penampilan gadis di hadapannya. Terlihat menyedihkan dan menghawatirkan. Meysa benar-benar pucat. Dia kurang tidur hanya demi menyelesaikan tugasnya.
Rasanya Reza ingin mengucapkan terima kasih dan bilang kalau usahanya sudah cukup. Namun semua itu hanya berputar di kepalanya. Lidahnya seakan memotong kalimat demi kalimat yang akan keluar dan hilang begitu saja.
"Nih, lo lanjut sampai selesai. Balikin ke gue sebelum upacara," ucap Reza. Lelaki itu berbalik meninggalkan Mey begitu saja.
Bagi Mey, jelas ada begitu besar perbedaan antara Reza dan lelaki yang muncul di mimpinya. Jadi, siapa sosok itu?
Mey ikut meninggalkan ruang UKS dan pulang dengan keadaan lelah. Tanpa tahu jika sebenarnya ada Naila yang tengah memerhatikan dari kejauhan. Gadis itu menyaksikan tiap detik pergerakan antara Meysa dan Reza.
Naila tidak akan tinggal diam. Jelas, Meysa telah mengibarkan bendera perang lagi. Bukan hanya menginjak daerah kekuasaannya, Mey pun telah merebut seseorang yang sangat berarti di kehidupannya.
To be continue