
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Mey bersumpah jika sosok hitam itu berdiri beberapa meter dari tempatnya sekarang. Pendar lampu jalanan di dekat pohon palem tak cukup terang untuk menyingkap apa yang ada di baliknya. Sosok hitam itu berdiri di koridor perpustakaan.
Mey menjerit lagi.
Bersamaan dengan jerit Mey yang makin kencang, sosok itu berlari ke belakang perpustakaan.
"Aaaaa!"
Meysa menutup kedua matanya dengan jemari. Takut pada apa pun sosok hitam yang akan muncul lagi di depan wajahnya secara tiba-tiba.
Apa itu?
Makhluk apa?
Dengan tubuh bergetar, Meysa merenggangkan jari-jarinya untuk melihat keberadaan sosok hitam tadi. Namun sosok hitam itu sudah hilang.
Kedua kakinya tak mau berhenti bergetar. Sekarang, Meysa merasa jika tindakannya datang ke sekolah ini adalah sebuah kekonyolan.
Seluruh tubuh Mey memanas, seperti dibakar hidup-hidup. Keringat bercucuran di pelipis dan punggungnya.
Bagaimana jika yang datang tadi itu hantu?
Mey merinding sendiri. Menelan ludahnya kuat-kuat.
Rasa takut mengisap semua tenaganya, memaksa otot-ototnya melemas. Walau menggigil, dia tetap berusaha untuk melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan. Sambil menarik napas dalam-dalam, Meysa membulatkan niatnya untuk menyelesaikan misi itu.
"Tenang, Mey. Tenang. Itu bukan apa-apa. Itu bukan apa-apa," ucapnya sambil mengelus dadanya yang masih berdebar tak keruan.
Sekuat apa pun dia berusaha untuk tidak berpikir macam-macam, tetap saja penampakan beberapa saat lalu masih mengisi kepalanya. Meysa takut jika itu benar-benar hantu.
Dirasa semua sudah aman lagi, Mey melanjutkan langkahnya ke arah perpustakaan. Dia harus berjalan ke belakang, membuka jendela yang sudah dia lepas kuncinya tadi siang dan masuk secara cepat agar misinya segera selesai.
Di depan pintu masuk, dia melihat sekop sampah dan sapu. Otaknya langsung berputar untuk melengkapi dirinya dengan pertahanan seadanya.
Adipura terlihat gelap di beberapa tempat. Hanya ruangan-ruangan tertentu saja yang lampunya dinyalakan.
Meysa mengambil jalan ke kiri setelah keluar dari koridor, kemudian mengendap-endap ke belakang perpustakaan. Namun sebelum berhasil sampai di jendela yang sudah menjadi satu-satunya jalan masuk, dia dikagetkan lagi dengan sosok hitam yang muncul secara tiba-tiba.
Sosok itu mengangkat kedua tangannya yang tertutupi sarung hitam.
"Ah! Setan!" Meysa menjerit. Tangannya refleks diayunkan ke arah wajah sosok hitam itu dengan kencang.
"Aw," teriak sosok itu.
Meysa sadar jika ayunan tangannya sangat kencang sampai dia yakin sosok apa pun itu akan kesakitan ketika pegangan sapu mendarat di bagian tubuhnya yang tertutupi sarung hitam.
Melihat sosok itu terlungkup di tanah, Meysa kembali mendaratkan pukulan bertubi-tubi. Menghantam gundukan itu dengan emosi sambil terus menjerit ketakutan.
"Woi, woi, woi. Setop. Berhenti!" teriak sosok itu minta ampun. Tangannya mencuat dari dalam sarung hitam, kemudian menangkap pegangan sapu yang akan menghantamnya lagi.
Meysa terkejut, menjerit dan mundur.
"Si-siapa di sana?" tanya Mey ketakutan. Kedua kakinya bergetar.
"Ini gue!"
"Hah?"
Meysa menajamkan pandangannya pada sosok yang kini berusaha berdiri sambil terus merintih kesakitan. Sosok itu menyingkap sarung hitamnya, dan muncul lelaki tampan dari dalamnya dengan wajah bagian kiri memerah.
Reza.
Mey memelotot, menaruh tangan kirinya di bibir dan buru-buru berlari mendekat setelah tahu jika sosok dalam sarung hitam itu adalah Reza.
"Kak Reza?" teriak Mey. Dia menangkupkan kedua tangan di dada, memasang wajah bersalah sambil menggigit bibir bawahnya.
"Aw. Tenaga lo gila juga," kata Reza merintih. Tangan kanannya mengusap pipi kiri. Meysa hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pemuda itu terlihat menyedihkan dengan lebam merah di wajahnya.
"Kak ... maaf. Aku enggak tahu."
Reza hanya berdecak sebal.
"A-a-aku obatin, ya? Ayo, Kak."
Mey meraih lengan Reza, membuat si empunya meringis kesakitan dan menepis pegangannya refleks. Mey mundur. Makin merasa bersalah.
"Jangan sentuh gue!" Reza berjalan ke arah perpustakaan, memasuki koridor dan duduk di bangku hitam. Meysa di belakang mengikuti sambil mengepalkan tangan.
"Kak, aku beneran minta maaf. Aku enggak---"
"Ini salah gue," sergah Reza dingin seperti biasa.
"Aku ajak Kakak ke UKS dulu, ya?" tanya Mey sembari menaruh sapunya di tempat semula. Reza hanya diam memerhatikan. Tatapannya yang dingin tertuju pada mata Meysa.
Sejenak suasana hening, sesunyi sekolahan yang tak berpenghuni. Angin malam berembus kencang dari sela-sela pohon palem, merambat di kulit dua insan itu.
Mey merinding. Bukan hanya karena angin malam, tapi tatapan Reza yang mengintimidasi membuatnya tak bisa bergerak.
Meysa beranjak dari diamnya kemudian berjalan ke arah UKS. Ruangan kecil di samping perpustakaan itu dikunci dan bagian dalamnya benar-benar gelap. Gadis itu terlihat gelisah. Berjalan ke sana kemari seperti penghalus pakaian.
Beberapa kali dia mengintip. Apa ada yang bisa dia lakukan untuk membuka kuncinya? Meysa benar-benar membutuhkan obat untuk Reza.
Bagaimana ini? Apa yang harus Mey gunakan untuk mengobati lukanya?
Pemuda itu hanya diam sambil melihat semua gerak-gerik Mey yang terlihat bagai seorang induk ayam kehilangan anaknya.
Melihat keseriusan Meysa yang ingin mengobatinya dan merasa bersalah, Reza akhirnya memutuskan untuk membantunya.
"Lo," katanya.
Meysa menoleh. Kedua tangannya menempel di kaca ruang UKS.
"Ya, Kak?"
"Obati gue."
Meysa berbinar. Mengangguk. Tersenyum.
**
Akhirnya Reza hanya diobati dengan es batu dari dapur khusus ruang guru yang tidak dikunci. Mey mengambil beberapa kotak es dan menempelkannya di tempat-tempat yang memerah dan lebam.
Mereka hanya diam. Meysa merasa jika udara di sekitarnya ikut membeku karena balok-balok es yang dia pegang. Kecanggungan menguar di udara.
Mereka saling buang muka.
Meski begitu, Meysa merasa jika dadanya bergegub sangat kencang. Seakan ada genderang yang terus berbunyi setiap detiknya.
Beberapa menit hening, akhirnya Reza memutuskan untuk mengambil suara. Namun tepat ketika dia akan mengucap, Meysa juga ikut berkata. Akhirnya, mereka sama-sama bersuara dan suasana kembali canggung karena dua-duanya merasa kikuk.
"Lo duluan," ucap Reza mempersilakan. Mey menggeleng.
"Kakak silakan." Mey membuang muka, menggigit bibir bawahnya sambil meremas es batu dengan tangan kiri. Mengabaikan rasa dingin yang menggerogoti.
"Heh, gue kira lo cuma gadis penakut yang banyak omong."
"Maaf?" tanya Mey meminta ucapan Reza diulang. Bukan karena dia ingin memastikan jika yang didengarnya keliru, tapi karena Mey memang tidak mendengarnya.
"Lo nekat datang ke sini cuma biar bisa ngomong sama gue? Nyali lo gede juga buat ukuran cewek."
"Itu ...." Mey menunduk dan menaruh es batunya di keramik.
Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Meysa ajukan sekarang. Namun dia sadar jika pertanyaan inti yang selama ini menganggu kepalanya harus dia ajukan setelah misinya selesai. Mey akan jadi orang yang bertanggungjawab atas apa yang dia mulai.
"Apa rencana lo sekarang?" tanya Reza.
"Ambil buku paket di perpus," jawab Mey. Meski dalam kegelapan yang menyelimuti, Reza bisa melihat gerling cahaya di manik hitam gadis di depannya. Gadis ini benar-benar serius.
"Oh. Caranya?"
"Sudah aku pikirkan."
"Oh."
Embus angin mendominasi lagi.
Canggung.
Lelaki itu benar-benar irit kata. Meysa harus super sabar.
"Ke-kenapa Kakak bisa ada di sini?" tanya Mey.
Sebenarnya dia tidak ingin menanyakan itu, tapi otaknya tidak bisa diam kalau jawaban untuk semua rasa penasaran itu belum didapatkannya. Tentang bagaimana bisa Reza ada di sekolah, dan tentang apa yang sedang dilakukannya dengan sarung hitam di tangannya.
Apa Reza berniat menakutinya?
Untuk beberapa saat Reza tak menjawab. Dia hanya menatap wajah gadis di depannya dalam diam. Meysa malah salah tingkah ditatap seperti itu, dan dengan cepat berdeham kemudian berdiri untuk segera menuntaskan misinya.
"Ka-kalau gitu, aku permisi dulu, Kak. Buku paketnya belum aku ambil."
Reza diam. Matanya tak lepas dari punggung gadis yang kini pergi berbelok ke kiri meninggalkannya. Sesaat ada rasa bersalah dalam diri Reza karena membiarkan gadis itu datang ke sekolah malam-malam.
Secepat rasa bersalah itu datang, secepat itu pula dia merasa puas karena bisa membuatnya sedikit menderita.
Reza menyelonjorkan kakinya ke depan. Namun dia segera bangkit dan berlari mengejar Meysa ke belakang perpustakaan.
Saat sampai di belakang, dia melihat Meysa sedang bersusah payah mengangkat daun jendelanya dengan satu tangan, sementara kaki-kakinya menggapai dasar jendela untuk bisa masuk.
Reza berjalan perlahan, dan diam-diam mengambil alih pegangan daun jendela itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Meysa menoleh ke atas, mengikuti daun jendela yang makin jauh.
"Buruan masuk, gue bantu." Reza memalingkan wajah ke arah lain sambil memegangi daun jendelanya.
"Makasih, Kak."
Setelah susah payah, akhirnya mereka masuk. Ruangan itu benar-benar gelap. Meysa hanya bisa melihat bayangan pilar koridor yang terkena cahaya dari luar terpantul di rak-rak buku.
"Lo buruan cari bukunya."
"Tapi lampunya---"
"Ya lo nyalain!" titah Reza memutar bola mata. Mey menggaruk belakang kepalanya sambil cengengesan.
"Kakak bantu, ya?"
"Ck. Ribet."
Meysa pun berjalan sambil meraba kegelapan, mencari letak saklar.
Tepat di dekat pintu gudang, Meysa dan Reza berdiri berhadapan, tapi tak saling tahu. Ketika keduanya akan menyalakan saklar, yang meraka yakin jika lokasinya di sana, tangan mereka tumpang-tindih di atas saklar.
Mereka bersentuhan.
"Eh?"
Meysa mundur. Reza menarik lagi tangannya.
Wajah Meysa mendadak panas. Dia makin mundur dan punggungnya membentur rak buku. Rak itu goyah dan buku-buku yang tersusun rapi di dalamnya harus berjatuhan karena getaran yang dihasilkan dari benturan tadi.
Bunyi jatuhan buku bergema di ruangan.
"Lo berisik banget."
Reza segera menyalakan lampu dan melihat jika gadis itu sedang meringis kesakitan serta buku-buku berserakan di lantai.
Meysa menengadah dan tersenyum lebar.
"Hehe. Maaf."
Setelah acara marah-marahnya, Reza pun membiarkan Meysa membereskan buku-buku itu dan mengambil buku paket sebagai tujuan utamanya.
Mereka pun mematikan lampu, mengunci lagi jendela dengan cara Reza yang bahkan Meysa sendiri tidak paham, kemudian keluar dari area sekolah untuk segera pulang.
**
"Aku bisa pulang sendiri."
"Lo jangan sok jago. Lo cewek, kalau terjadi apa-apa, gue juga yang kena. Udah naik!"
Meysa sedikit menimbang. Bukannya tidak senang jika Reza mengantarnya pulang, bahkan ini lebih dari sebuah anugerah jika dirinya bisa dibonceng oleh Reza. Dia hanya merasa tidak enak saja.
"Tapi, Kak---"
"Tawaran gue cuma sekali. Lo enggak terima, gue cabut."
Meysa masih saja diam.
"Yaudah kalau lo emang mau balik sendiri."
Reza menaiki motornya yang dia sembunyikan dekat pepohonan di samping gapura. Tadi saat berangkat, Meysa benar-benar tidak menyadari keberadaan kendaraan itu. Reza menyembunyikannya dengan sempurna.
"Tunggu, Kak. Aku ... ikut." Mey menunduk dan mengangguk.
Akhirnya motor Reza memelesat meninggalkan area sekolahan. Meysa di belakang duduk dengan kikuk. Kedua tangannya ditaruh di dada sambil memeluk buku paket.
Selama perjalanan, mereka hanya diam. Meysa pun sibuk dengan ketakutannya. Reza membawa motornya dengan kecepatan tinggi dan Meysa sama sekali tidak berani berpegangan ke tubuh Reza. Namun jika dia tidak melakukannya, dirinya bisa saja jatuh.
Mey dag-dig-dug tak keruan.
Motor Reza menyisir kemacetan kota malam hari. Melewati rimbunnya pepohonan di jalanan utama menuju rumah Meysa.
"Jadi apa yang lo pikirkan ketika mencuri kunci jawaban itu?" tanya Reza di sela diamnya. Matanya tetap pada jalanan di depan. Motor-motor yang lambat disalipnya dengan mudah.
Meysa diam tak merespons, karena suara angin jalanan sangat berisik mengisi gendang telinganya.
Merasa tak diacuhkan, Reza kesal dan berdecak sebal. Ingin lanjut bertanya, tapi keburu malu. Alih-alih pertanyaannya dijawab, dia malah bicara sendiri macam orang gila.
Sementara Reza menggerutu, Mey di belakang senyum-senyum sendiri. Dadanya terasa hangat, dan bibirnya tak hentinya tersungging ke samping.
Malam ini benar-benar membuatnya bahagia.
"Kak, aku turun di depan komplek aja. Aku bisa jalan sendiri," teriak Mey. Reza menoleh ke arah spion.
"Apa?"
"Aku turun di depan komplek," teriaknya.
"Oh."
"Iya."
Reza menurunkan Meysa di tempat yang dimaksud. Gadis itu tidak ingin dilihat tetangga saat dirinya diboncengi lelaki malam-malam.
Setelah turun, Reza langsung putar balik, dan Meysa hanya menunduk malu. Sebelum kembali berangkat, Reza sempat menoleh ke belakang. Tatapan mereka bertemu ketika Mey mengangkat pandangan.
"Apa?" tanya Reza.
"Ma-makasih. Makasih karena udah antar aku pulang, dan ...." Mey mengangkat buku paketnya. "Aku akan selesaikan tugasnya secepat mungkin," ucapnya sambil tersenyum. Matanya yang sipit semakin membentuk garis lurus.
Reza yang melihat itu hanya terdiam. Dadanya terasa dihantam benda tumpul ketika melihat senyum manis Meysa. Dia merasa kikuk sendiri. Tanpa membuang waktu dia mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
"O-oke. Gue balik."
Reza menyalakan lagi mesinnya, dan memelesat pergi.
Meysa mengangguk dan melambaikan tangan, mengantar kepergian Reza yang kini mulai hilang di ujung jalanan.
"Aaah. Hari ini bahagia banget. Aku seneng!"
Meysa berlari di jalan komplek sambil mengangkat kedua tangannya. Dia berteriak di tengah embusan angin malam.
"Aku semakin dekat sama dia," teriaknya.
To be continue