
Part ini ditulis oleh Castortwelvy
Dua hari sebelum menjelang masa try out, sekolah dibebastugaskan. Murid angkatan satu dan dua sudah tidak lagi terlihat berkeliaran di area sekolah. Kebanyakan dari mereka memilih untuk diam di rumah, menghabiskan harinya dengan liburan.
Sebenarnya, Mey ingin sekali diam di rumah, membaca buku di ruangan pribadinya. Namun, mau bagaimana lagi, dia masih harus menyelesaikan beberapa hal.
Gadis berambut hitam panjang itu melangkah gontai ke arah perpustakaan, melewati jalanan aspal berumuput sambil terus menatapi guguran bunga dari pohon palem yang masih bermekara, mewangi.
Tadi pagi, dia sempat meminta agar Hellen datang lebih awal, tapi sampai gadis itu tiba di kelasnya, Mey masih belum mendapati batang hidungnya. Dia geram, lantas memutuskan untuk ke perpustakaan saja.
Seberapa pun dia mencoba untuk tidak mengingat soal bunga ungu di dalam mimpinya. Namun benda itu terlalu menarik perhatiannya. Terlebih tentang sosok lelaki berwajah samar di balik pendar cahaya yang selalu datang ke mimpinya.
"Argh ...." Mey mengacak rambutnya frustrasi. Bukan hanya soal siapa lelaki itu, tapi otaknya juga terbesit tentang lelaki yang dia temui di toko bunga beberapa hari lalu.
Nyaris seluruh wajahnya memerah saat tahu jika orang yang sedang membelakanginya, bukan sosok yang selama ini muncul dalam mimpi.
Jangan salahkan Mey jika dia begitu antusias mendapati orang itu dan hampir saja meledak karena bahagia.
Sambil menggeleng pelan, mengembuskan napas ketika kedua kakinya yang terbalut sepatu nike berdiri di depan pintu perpustakaan berbahan kaca. Gigi-giginya menggemertak, menatapi deret buku di dalam lemari yang tersusun rapi berdasarkan nama.
Kanan, kiri, dia mencari siapa pun orang yang sedang menjaga ruangan itu. Namun sampai kedua kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri, tidak ada satu orang pun yang datang.
"Buh ...."
Mey melenggang ke arah kursi besi dari susunan pipa bulat berwarna-warni di depan perpustakaan, kemudian duduk, berniat menunggu Hellen.
Kedua kakinya menjuntai ke bawah, bergoyang seirama dengan embusan angin dari arah depan. Tatapannya lurus pada ruangan guru. Dari sana, dia melihat seorang wanita berpakaian cokelat, rok mini dan kacamata kotak bertengger di hidungnya keluar dari ruang guru. Mey melonjak, kemudian memanggil wanita itu.
"Bu Darmi," panggilnya, memaksa wanita itu menoleh.
"Tumben sendirian, ke mana Hellen?" tanyanya saat sampai di depan Meysa, lengkap dengan wajah cerah seperti biasanya.
"Dia belum datang, Bu. Oh, ya, Pak Herman ke mana, ya? Saya mau balikin buku paket, sekalian pinjem yang baru, buat latihan T.O." Mey mengangkat buku sejarah di tangannya tinggi-tinggi.
"Lho, bukannya ada?" tanyanya, melongokkan kepala ke belakang pundak Mey.
Kedekatan meraka terjalin cukup baik. Mey adalah salah satu dari sekian banyak anak yang selalu dibanggakan oleh bu Darmi karena terbilang cerdas di kelas.
Perbincangan ringan terjadi, membahas soal try out, hal-hal kecil lainnya, sampai membahas tentang sekolah yang akan dimasuki oleh Mey setelah lulus nanti. Anak itu bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi seorang penulis terkenal karena terispirasi oleh bu Darmi.
Wanita berkacamata itu hanya terkekeh-kekeh mengiakan. Hingga akhirnya, Mey teringat sesuatu yang selama ini mengganjal di pikirannya.
Mey berdeham pelan, memecah tawa ringan bu Darmi yang sejak tadi mengelus kepalanya.
"Bu, menurut ibu, kalau seseorang muncul di mimpi lebih dari dua kali, atau bahkan sering, itu apa, ya artinya?" tanya Mey, menatap ke samping, pada Bu Darmi.
"Ibu pernah baca soal ini. Ada beberapa faktor yang mungkin aja terjadi." Bu Darmi menyunggingkan bibirnya ke kiri, berpikir. "Tapi, yang Ibu tahu dan, kamu tahu sendiri masyarakat Indonesia percaya, kalau mimpi orang yang sama beberapa kali itu artinya dia kangen." Wanita itu tersenyum sekarang, menunjuk wajah Mey dengan telunjuknya, mengejek.
Mey salah tingkah ditatap seperti itu olehnya, membuatnya kelabakan dan pipinya merah, memanas.
"Apa, sih, Buuu ... ih!" Mey mengembungkan kedua pipinya.
"Kamu ada yang kangen, tuh. Siapa, ayo?"
"Mana ada. Aku enggak punya---" Mey mendadak terhenti, memikirkan ucapan bu Darmi soal itu.
Tunggu dulu, ada yang salah. Tentu saja.
Katanya, kalau orang yang sama terus datang dalam mimpi, artinya dia kangen. Namun, yang menjadi masalah di sini adalah tentang orang dalam mimpinya. Bahkan, untuk dikatakan jika dia kangen pada Mey itu nyaris tidak mungkin karena Mey sendiri tidak mengenalnya.
"Tapi aku enggak kenal orang itu," lanjutnya, mengatupkan bibir rapat-rapat, nyaris tidak berharap dengan reaksi terkejut yang terjadi pada wajah bu Darmi sekarang.
"Kalau gitu---"
"Tuh dia datang," ucap Mey.
₻₻₻
Sehari selum T.O, Mey kembali mendapatkan mimpi dengan orang itu. Dalam mimpinya, mereka bertemu di sebuah ruangan berdinding putih polos dengan deret komputer yang tersusun rapi berhadapan.
Mey duduk di komputer ketiga dari arah kiri, dekat dengan jendela lantai tiga. Mey tiba-tiba tahu persis di mana posisinya karena kaca tembus pandang di hadapannya menyajikan pemandangan indah.
Tepat berhadapan dengan komputernya, Mey mendapati sosok lelaki tampan bermata sipit tengah duduk menggunakan masker hitam. Rambutnya lurus tergerai ke depan kiri, menutupi matanya.
"Tugasnya selesai belum?" tanya lelaki itu. Dari balik maskernya, Mey berpikir jika lelaki itu sedang tersenyum.
"Tugas apa?" jawab Mey, bingung karena seingatnya dia sama sekali tidak sedang mengerjakan tugas. Untuk menjawab lagi, Mey hanya menggeleng, lebih pada tidak-tahu-tugas-apa-yang-dimakud.
"Menyusun data," kata lelaki itu. Mey merasa jika udaranya mendadak berubah, walau sebenarnya dia sama sekali tidak yakin bagaimana kondisi atmosfer di sekitarnya sebelum ini.
Ada lonjakan aneh di dadanya, seperti perasaan senang membanjiri tubuhnya dari atas sampai bawah. Meski begitu, Mey tidak tahu apa penyebabnya. Namun, sebelum lelaki itu kembali menjelaskan, Mey sudah terbangun dari tidurnya.
Lagi-lagi mimpi. Itu membuatnya sedikit kesal dan marah karena siapa pun orang yang datang ke mimpinya tanpa maksud yang jelas, sungguh tidak sopan.
Gadis itu menutup wajahnya dengan buku, kepalanya terasa berkedut seperti ada kawat-kawat ditarik secara langsung dari dua arah ketika memikirkan soal mimpinya semalam.
Apa maksudnya itu? Siapa orang itu?
Hari ini dia berniat untuk mengikuti semua jejaknya berdasarkan ingatan. Belakangan ini, Mey bermimpi mengunjungi tempat-tempat yang sering didatanginya, seperti perpustakaan, gramedia, tempat belanja, bahkan tempat yang tak dikenalnya sama sekali.
Setelah pulang sekolah, Mey memutuskan untuk mendatangi gramedia, mengulang kembali kilasan-kilasan yang berkelebatan di pikirannya, seperti layar film yang diputar acak, remang-remang.
Mey mendatangi lantai satu yang penuh dengan tas dan peralatan sekolah, sampai ke lantai tiga di mana buku-buku tersusun rapi di rak buku.
Dia nyaris menyerah dan menganggap jika tindakannya konyol.
Merasa putus asa, akhirnya Mey menyudahi kegiatannya. Pikirnya, biarkan saja mimpi bodoh dan aneh itu datang, jangan sampai menganggu pikirannya untuk besok pagi.
Rupanya Mey salah besar. Bahkan sampai keesokan harinya pun dia tetap memikirkan soal mimpi terakhirnya dengan orang yang sama. Namun terasa begitu berbeda.
Lelaki itu memakai seragam lengkap, dasi hitam panjang tergantung di lehernya, celana katun senada dengan dasi dilipat dua kali sampai mata kakinya.
Mey ingat jika lelaki itu mengedipkan matanya sekali. Bahkan pendar cahaya yang selalu muncul bersamaan dengan mimpinya pun hilang kali ini. Mey jelas sekali melihat bagaimana tampannya si lelaki.
"Ikut aku!" pintanya dalam mimpi. Mata sipit itu semakin hilang seperti garis lurus ketika tersenyum, nyaris membuat Mey meleleh begitu saja hanya karena menatap matanya.
Dia memaksa Mey mengikutinya ke sebuah gedung bertingkat. Mey bisa tahu jika itu gedung sekolahan. Ada dua gapura di pintu masuk, warnanya biru muda. Namun, lelaki itu tak membawa Mey mendekati dua gapura itu, melainkan ke belakangnya.
Halaman belakang sekolah.
"Aku sekolah di SMK Adipura," jelasnya, seolah mengetahui apa yang ingin Meysa ketahui. Sejenak Mey hanya diam tak merespons, sampai akhirnya lelaki itu menujuk pada bangunan di belakang Mey. "Aku sekolah di sana."
"Aku tahu," jawab Mey. Sama sekali tidak menyangka dan tak pernah tahu bagaimana dia bisa menjawab kalimat itu. Mey hanya mendesah dalam mimpinya, kemudian mengangguk, mengiakan, tanpa tahu apa yang dia setujui.
"Ada yang mau aku sampaikan, ini menyangkut kehidupan kamu," ungkapnya kemudian, memaksa Mey melongo, membulatkan kedua matanya lebar-lebar.
"Apa, Kak?"
"Aku---"
Tepat ketika orang itu akan berkata, Mey dikejutkan dengan tepukan pelan di kedua pipinya. "Meysa bangun, hari ini kamu mau try out, kan?"
Itu ibunya.
To be continue