
Part ini ditulis oleh
Sesuai pemberitahuan Ardian, minggu ini Mey berada di tempat acara pengumuman cerpen. Bersama Nita, dia mendudukkan pantatnya di kursi barisan paling depan. Gadis itu terlihat gelisah saat acaranya akan segera dimulai.
"Tenang, Mey. Pasti kamu juaranya," ucap Nita, mengacungkan kepalan tangannya memberi semangat pada sahabatnya, seraya menyunggingkan bibirnya membentuk bulan sabit.
"Jangan terlalu berharap, Nita." Meysa berkata pelan, mengingat tulisannya yang belum layak menjadi seorang pemenang.
"Iya juga, sih, tapi mau menang ataupun kalah, kamu tetap jadi juaranya di hatiku, Meysa-ku!" Kedua matanya berbinar, beberapa kali dia menepuk dadanya tepat di bagian hatinya.
"Uwuuu. Nita kok sweet banget, sih," ucap Meysa, memeluk tubuh Nita dengan erat.
"Iya dong. Dari dulu aku emang sweet," jawabnya diiringi tawa yang mengundang pandangan orang sekitar.
"Jangan ngobrol terus. Tuh pengumumannya mau dimulai," tukas Ardian mengingatkan yang tiba-tiba datang lalu duduk di samping Meysa.
Semua orang yang hadir pun fokus lurus ke depannya, termasuk Meysa dan Nita. Sesekali Ardian menatap gadis di sampingnya yang tampak antusias saat salah satu juri naik ke podium.
"Kalah atau pun menang, kalian jangan berkecil hati. Karena masih banyak kesempatan untuk menang. Kemenangan hanya menjadi penyemangat agar kita mempertahankan prestasi yang diraih, dan kekalahan bukan berarti mematahkan semangat kalian, tapi jadikanlah cerminan untuk ke depannya bahwa kalian bisa dari sebelumnya!"
Sosok wanita berambut sanggul itu mengacungkan tangannya yang mengepal, memberikan semangat untuk semua orang di sana.
"Baik. Kalau begitu, langsung saja kita umumkan deretan pemenangnya. Untuk pemenang perlombaan cerpen tingkat nasional juara ketiga diraih oleh ...." Ucapan wanita itu diberi jeda agar membuat pendengar lebih penasaran. "Arrani Fitriyani."
Semua orang yang hadir pun bertepuk tangan memberikan apresiasi atas kemenangan sang juara. Meysa menghela napas pelan, Nita mengusap punggung tangan sahabatnya, menenangkan.
"Masih ada dua harapan lagi, Mey," bisik Nita.
"Untuk pemenang kedua, diraih oleh laki-laki. Dia adalah ...." Meysa makin gelisah ketika mendengar jika yang menang juara kedua adalah laki-laki. "Dia adalah ... Riki Raditya," ucapnya. Tepukan tangan kembali meriah menggema seisi ruangan.
Ardian melirik gadis di sampingnya yang tengah menundukkan kepalanya dalam.
"Untuk pemenang pertama, diraih oleh ... Me ...." Nita yang ada di garisan paling depan mengepal kedua tangan ketika mendengar awalan nama yang akan disebutkan.
"Ayo,ayo!" ucap Nita setengah berharap. Tangannya dia taruh di punggung tangan Meysa.
"Pemenangnya adalah Melisa Anggraini."
Tepukan meriah kembali menggema, bahkan para pendukung dari pemenang saling bersorak memanggil nama sang juara. Nita mencelus begitu saja saat mendengar nama yang disebut tidak sesuai harapannya.
Tiga orang pemenang itu naik ke podium untuk penerimaan penghargaan. Piala, medali, sertifikat dan uang rupiah dijadikan sebagai hadiah.
Mey menghela napas pelan, Nita menggenggam tangannya mencoba untuk menenangkannya lagi.
"Nanti aku kasih permen sebungkus buat Meysa-ku," ucap Nita menghibur.
"Enggak mau. Nanti sakit gigi kalau makan permen terus," ucap Mey seraya tertawa.
"Terus kamu maunya hadiah apa?" tanya Nita, mencubit pipi kanan Mey membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Enggak mau apa-apa. Lagipula akukan enggak menang, Nit," ucap Mey lirih.
"Kamukan tetep juara di hatiku." Nita merangkul bahu Mey seraya tergelak tawa.
Ardian tersenyum melihat kedekatan Mey dengan adiknya. Tidak mau menganggu, dia memutuskan keluar mempersiapkan hadiah spesial untuk Mey.
🌿🌿🌿
Setelah acara pengumuman lomba usai, Meysa dan Nita memilih untuk melihat bintang. Padahal kebanyakan yang lain berhamburan masuk ke tenda untuk istirahat sejenak.
"Liat deh bintang yang di sana, cerah banget, ya?" ucap Nita, jari telunjuknya mengarah pada salah satu bintang di bagian barat.
"Iya bener, Nit. Yang itu juga cerah banget," tambah Mey, dia juga menunjuk salah satu bintang di bagian timur. "Kalau enggak salah namanya ...."
"Canopus. Itu bintang paling terang."
Meysa mengangguk ketika Nita menyebut namanya. Tak heran, karena sahabatnya memang hafal soal antariksa.
"Jadi pengin bisa terbang, deh. Biar bisa lihat bintang dari dekat." Nita menatap langit hitam bertaburan benda-benda kecil yang berkerlap-kerlip.
"Hahahalu terus," ledek Mey seraya menertawakan sahabatnya yang tengah berandai-andai.
"Terus nanti ketemu cogans juga di planet lain." Nita memejamkan kedua matanya sembari tersenyum sendiri.
"Emang ada cogan di sana? Alien mah iya banyak," kata Mey.
Nita menangkupkan kedua tangannya, membayangkan banyak cowok ganteng dari langit yang berkenalan dengannya.
"Sadar, Nit. Sadar!" Meysa melayangkan tangannya di depan Nita.
"Sadar kok, Mey. Btw, kok jadi pengin pipis, ya," ucap Nita sembari menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Kalau pengin pipis, yaudah sana cepatan ke toilet dulu."
"Enggak apa-apa kamu ditinggal?" tanya Nita memastikan.
"Enggak. Udah sana ke toilet!"
"Yaudah. Tungguin, ya!"
Sepeninggal Nita, Meysa mengarahkan pandangannya ke arah langit lagi. Bertepatan dengan itu, Reza menghampiri Mey lalu terduduk di sampingnya.
Gadis itu melirik ke arahnya yang ternyata sosok itu adalah kakak kelasnya.
"Kakak kok ada di sini?" tanya Mey bingung. Dia berdiri dari duduknya.
"Iya. Diundang, karena gue mantan anggota eskul sastra," jawabnya seraya tersenyum.
"Oh ... Kakak dulu anggota eskul juga?" tanya Mey lagi. Pikirannya berputar ke percakapan bersama Ardian saat di rumah Nita dahulu.
Ketika itu, Ardian bilang jika Reza pernah satu ekskul dengannya. Jadi, Reza memang anggota sastra?
Reza mengangguk. "Iya."
Meysa beroh-ria, dia kembali mengalihkan pandangannya menatap langit.
"Duduk, Kak." Meysa kembali duduk diikuti Reza sambil masih mendongak ke langit.
"Suka bintang?" tanya Reza, menengadahkan kepalanya ke arah langit.
"Suka banget, Kak," jawab Mey, tak mengalihkan pandangannya pada bintang-bintang.
"Mau enggak kalau gue bawa terbang?" tanya Reza pelan.
"Ke mana, Kak?" Mey mengerutkan dahinya, melirik kakak kelasnya yang kini tengah menatapnya.
"Ke langit. Lihat bintang dari dekat." Reza akhirnya tertawa saat menyadari jika ajakannya hanyalah khayalan semata.
"Ih Kakak halu kayak Nita!" ledek Mey, tawa keduanya pun meledak.
Di sela kebersamaan mereka, Ardian melihat Mey dan Reza dari kejauhan. Tangannya terkepal, kotak kecil berwarna merah muda digenggamnya dengan erat, sedangkan dua batang cokelat dalam genggamannya sengaja dijatuhkan.
Awalnya Ardian ingin memberikan semangat pada Mey yang tengah dirundung kesedihan karena tidak memenangkan perlombaan itu, tapi niatnya diurungkan karena hatinya benar-benar hancur melihat sesuatu yang sangat menyayat hatinya.
Ada rasa sesak dalam dadanya. Tidak mengeluarkan darah, tapi terasa sangat sakit. Ardian ingin marah, tapi mengingat jika dia bukanlah siapa-siapa, membuat kedua kakinya melangkah mundur menjauh dari keduanya.
"Bukan halu, cuman berandai aja," jawabnya, tawa Mey kembali pecah.
Mey menatap lelaki itu yang kini kembali mengalihkan pandangannya ke atas langit. Bibir gadis itu naik ke atas membentuk bulan sabit, menyadari jika perlakuan Reza semakin manis dan hangat layaknya sang lelaki dalam mimpinya. Dia menjadi semakin yakin jika dialah jawaban dari pertanyaannya selama ini.
🌿🌿🌿
Pengurus acara kembali mengumumkan pada semua anggota ekskul yang hadir jika sisa malam akan dihabiskan dengan berkreasi. Siapa pun boleh unjuk gigi dengan bakat masing-masing.
Meysa duduk berdampingan dengan Reza dan Nita, posisinya berada di pertengahan. Malam ini lelaki berparas Chinese itu lebih banyak bicara pada Mey.
Nita sudah mulai memaafkan Reza lagi. Dia ingin melihat Meysa bahagia. Walau sebenarnya malas, tapi tetap melakukannya.
"Ajak ngobrol juga dong," sindir Nita sembari melirik sahabatnya yang tengah asik bercanda dengan Reza. Entah apa yang dijadikan bahan obrolannya, karena Nita pun tidak mendengarnya dengan jelas.
"Yaudah sini, Nit. Ikut ngobrol aja," ucap Mey.
"Emang ngobrolin apaan, sih?" tanya Nita penasaran, dia lebih mendekatkan duduknya dengan Mey.
"Mau tahu aja urusan orang," tukas Reza dingin. Nita merengut kesal pada si patung es itu, dia kembali merenggangkan duduknya dengan Mey seperti sebelumnya.
"Ih jangan gitu dong, Kak." Mey merangkul bahu Nita.
"Becanda kok, Mey."
Di antara kebersamaan mereka, Ardian merengut tak suka. Dadanya masih terasa sesak, tenggorokannya terasa tersekat, sesekali dia meneguk salivanya susah payah.
Lelaki itu naik ke panggung dengan membawa sebuah gitar berwarna biru. Tatapannya lurus ke arah Mey yang tengah berbincang mesra dengan Reza.
Rasa sakit di hatinya semakin menjadi, amarahnya memuncak ingin sekali meronta dan memisahkan dua insan itu. Namun, Ardian sadar jika dia tidak punya hak untuk melarang Mey bersama siapa pun, karena perannya hanya sosok kakak kelas dan juga ketua ekskul sastra. Tidak lebih.
Dengan hati yang terus terasa sakit, Ardian mulai memetik senar gitar, tepukan meriah dari para penonton membuat semangatnya membara. Sembari memandang Mey dia mengalunkan lirik lagu yang mampu menyentuh kalbu.
"Ini untuk seseorang yang aku kagumi dalam diam," katanya sebelum memulai menyanyi.
Ketika semua hening, Ardian pun memulai semuanya.
Kau yang pernah
Singgah di sini
Dan cerita yang dulu
Kau ingat kan kembali
Tak mampu aku
Tuk mengenang lagi
Biarlah kenangan kita
Pupus di hati
Tak ada waktu kembali
Untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu
Di awal dulu
Meysa tersenyum ke arah Ardian dan memberinya semangat. Tangannya mengepal lalu diacungkan setinggi-tingginya.
Kutahu dirimu dulu
Hanya meluangkan waktu
Sekadar melepas kisah
Sedihmu
Semua yang hadir mengangkat tangan dengan flash yang dinyalakan. Di bawah taburan bintang, mereka mengayukan tangan-tangan yang terangkat mengikuti irama yang sendu.
Meysa merinding mendengarnya. Ada rasa sakit yang menjalar di dada, tapi tak tahu apa penyebabnya. Dia kemudian menoleh ke arah Reza yang tengah asik menatap konser Ardian.
Mencintai dalam sepi
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman di dalam pelukannya
Yang mampu membuatku
Tersadar dan sedikit menepi
Suara Ardian mampu menghipnotis pendengar karena mengalun sangat merdu. Hampir semua penonton pun menikmati penampilannya, begitu juga Mey yang sangat antusias menyemangatinya.
Ardian menyudahi lagu menyayat hati itu dengan sebuah senyum yang dipaksakan. Dia menatap Meysa, tapi ketika gadis itu membalas tatapannya, dia memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Kak ... tadi suaranya bagus banget. Keren!" ucap Mey pada Ardian setelah penampilannya usai. Dia ingin mengucapkan selamat, tapi Ardian tampak tak peduli. Dia menyerahkan gitar pada temannya, kemudian terdiam dalam bisu.
Ardian hanya tersenyum samar, tak menimpali ucapan Mey atau bahkan mengatakan terima kasih. Dia mengabaikan kehadiran gadis itu begitu saja lalu pergi tanpa pamit.
"Kak Ardian kenapa, ya?" ucap Mey lirih pada dirinya sendiri.