Someone In There

Someone In There
1. Bunga Ungu


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Gebrakan meja membuat gadis keturunan asal Tionghoa itu tersentak, terkejut kala kesadarannya kembali dan mendapati Hellen tepat di depannya. Jarak antara mereka hanya beberapa sentimeter saja sehingga keduanya bisa menganalisis wajah masing-masing.


Gadis yang kerap disapa Mey membelalakkan kedua matanya, seolah terkejut dengan apa yang dilihatnya, tapi sedetik kemudian kedua alisnya yang hitam tebal bertautan.


"Apaan sih!" Gadis bermata sipit itu merengut. Gebrakan Hellen membuatnya kesal karena mengganggu halusinasinya.


"Lagian ngelamun mulu sih! Mikirin apaan sih sampai segitunya? Aku tanya malah bengong," ucap Hellen, memajukan bibirnya beberapa senti.


"Emang tadi kamu nanya apaan?" tanya Mey. Dahinya mengerut seolah tak mengerti pertanyaan apa yang Hellen ajukan padanya.


"Nanyain tentang sekolah," jawab Hellen singkat. Mey beroh-ria dan tersenyum, membuat gingsulnya terlihat. Manis.


"Kita kan udah sepakat masuk sekolah SMA dan jurusan yang sama," ucap Mey, tangannya ingin sekali menoyor dahi temannya yang terkadang pelupa.


Waktu pembelajaran sebenarnya belum habis, tapi dikarenakan hari ini ada rapat guru, jadi semua siswa-siswi dipulangkan.


"Eh iya, Hell, aku hampir lupa buat bayaran." Mey menepuk jidatnya kala tangan kanannya meraba saku sebelah kanan yang terdapat sekian rupiah.


"Yaudah ayo. Aku juga belum bayaran hehe," ucap Hellen.


Dua gadis itu akhirnya sepakat berangkat ke ruang administrasi untuk membayar semua hal yang berkaitan dengan try out beberapa hari lagi. Mereka menapaki keramik putih mengilap di koridor ruang guru, melewati pilar-pilar sewarna hijau yang berdiri tegap per tiga meter.


Staff guru keuangan pun melayani mereka dengan baik, uang yang mereka berikan digantikan dengan selembar kertas berharga. Kuitansi.


Tak lama mengurusi pembiayaan, mereka beranjak pergi meninggalkan ruangan.


"Mey kamu antar aku belanja, yuk!" ajak Hellen setelah mereka berada di depan gerbang. Pak satpam menyapa keduanya dengan senyuman.


"Beli apaan?" tanya Mey. Gadis itu merapikan poninya yang tertiup angin, kepalanya menunduk saat dia menyadari salah satu siswa memperhatikannya.


"Beli kebutuhan buat di rumah," jawab Hellen.


Dengan telaten Hellen melambaikan tangannya, memberhentikan salah satu angkot yang melewati mereka.


Keduanya duduk di dekat pintu agar lebih mudah saat turun dan juga bisa melihat pemandangan jalan saat mobil melaju.


"Hel ... kamu pernah mimpi enggak?" tanya Mey, mengigit jari telunjuknya saat mengutarakan pertanyaan itu. Bibirnya tersungging membentuk senyuman kala Hellen menatapnya penuh selidik.


Beberapa detik kemudian Hellen menatap Mey. Sebelum menjawab pertanyaan, dia tampak berpikir, mengetuk-ngetuk dahinya dengan telunjuk dan akhirnya tersenyum lalu berkata, "Pernah dong. Namanya juga manusia, ya pasti pernah bermimpi."


Mey manggut-manggut mendengar jawaban Hellen.


"Lalu menurut kamu, apa itu mimpi, Hell?" Manik mata hitam sepekat arang itu menatap bola mata cokelat terang, mencari jawaban di sana.


"Bunga tidur. Ya, hanya bunga tidur," jawabnya santai, bahunya terangkat tak acuh. Mey mengerutkan dahinya mencoba menelisik kebenaran ucapan Hellen.


"Kamu yakin kalau mimpi itu hanya bunga tidur?" tanya Mey lagi. Pertanyaan Mey mendapatkan anggukan cepat dari Hellen.


Jawaban mantap Hellen membuat Mey yakin kalau mimpinya hanyalah mimpi biasa yang merupakan bunga tidur, tapi entah mengapa kalau mimpi itu terasa nyata, bahkan seperti kejadian yang akan terjadi pada dirinya suatu hari nanti bersama orang yang dia impikan.


"Mey udah sampai! Ah kamu malah bengong lagi."


Hellen menepuk pundak Mey lalu menarik tangannya untuk keluar dari angkot.


"Udah, jangan mikirin tentang mimpi, Mey. Pelajaran mimpi itu kan enggak ada dalam materi pembelajaran kita," ucap Hellen. Mey hanya mengangguk pelan dan mencoba untuk melupakan permasalahan tentang mimpinya sejenak.


Mereka sudah berada di pusat perbelanjaan. Hellen begitu lincah memilah-milah kebutuhan untuk di rumahnya. Mey hanya melihat dan membantu Hellen jika temannya membutuhkan.


Setelah beberapa jam mereka berbelanja, Hellen pun memutuskan untuk pulang karena belanjaannya sudah cukup.


Tepat saat senja menampakkan rona jingganya, kedua gadis itu pulang dengan wajah lelah, karena hampir seharian mereka bermain di pasar pula.


Tidak biasanya.


🍀🍀🍀


"Kakak?"


Kehadiran sosok lelaki yang ada di hadapannya membuat gadis itu terkejut. Tidak habis pikir, jika takdir kembali mempertemukan dirinya dengan sosok lelaki pemilik senyuman manis di sebuah toko bunga.


"Kakak ngapain ada di sini?" tanya Mey, lelaki itu masih saja tersenyum sembari menatap Mey.


"Kakak ikutin kamu. Karena setiap kakimu melangkah, maka kakiku pun akan melangkah mengikuti. Sampai seterusnya aku akan seperti itu," ucapnya. Bibirrnya tersungging. Manis.


"Untukku?" tanya Mey kala seikat bunga diberikan ke hadapannya. Mey tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Dia sangat gugup hingga keringat membasahi pelipisnya.


Lelaki tersebut hanya tersenyum simpul, tapi senyuman itulah yang membuat hati Mey meleleh.


Lelaki itu hendak melangkah, tapi Mey menahannya.


"Tunggu, siapa namamu?" tanya Mey.


Lelaki itu menoleh ke belakang karena merasa dirinya dipanggil, membalas senyuman sang gadis dan menghampirinya.


"Namaku ...," ucapnya, tapi perkataannya terhenti saat hewan bersayap indah hinggap di punggung tangannya. Dia mengaduh kesakitan karena nyatanya hewan bersayap itu mengigitnya.


"Aduh."


Mey menepuk pipinya sendiri, darah segar keluar saat gadis itu menepuk hewan yang kini terdampar di permukaan pipinya. Tangannya meraba pipi kirinya, kelopak matanya beberapa kali mengerjap, pada akhirnya kedua matanya terbuka sempurna.


Kedua tangannya dia regangkan karena merasa sendi-sendi tubuhnya terasa pegal setelah tidur semalaman. Dia celingukan dan melihat arloji menunjukkan pukul 01:00.


Ternyata dia mimpi lelaki yang sama seperti sebelumnya, tapi untuk mimpi kali ini Mey diberikan seikat bunga berwarna ungu yang tampak indah yang dibelinya di sebuah toko bunga yang tak dia ketahui tempatnya.


Mey jadi kepikiran dengan toko bunga itu.


Apakah mungkin toko bunga itu salah satu petunjuk bagi Mey agar hatinya tergerak untuk mencari sosok lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya?


🍀🍀🍀


Cahaya matahari menyelinap masuk ke celah jendela. Menyinari.


Dalam ruangan ini terdapat tempat tidur, lemari dan meja belajar. Tidak ada yang istimewa di dalamnya, hanya ada foto-foto Mey saat kecil dan saat acara sekolah dua tahun yang lalu. Pigura berbentuk persegi panjang itu sebagian ditempelkan di atas dinding yang bercat warna biru langit.


Dikarenakan hari ini libur, Mey bertekad untuk mencari keberadaan toko bunga yang ada dalam mimpinya.


Dia bergegas keluar kamarnya dan menyampirkan tas selempang bahan katun. Dia mengenakan baju kaus lengan panjang polos warna navy dan celana bagypants dengan warna senada.


Mey tidak tahu harus ke mana untuk mencari toko bunga yang akan dituju. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk berjalan agar lebih leluasa melihat toko-toko yang berjejeran.


Tak berselang lama dalam pencarian, kedua mata gadis berambut panjang itu tampak berbinar saat melihat di depannya sekitar berjarak satu meter ada sebuah toko yang menjual berbagai macam bunga.


Dengan cepat Mey menghampiri toko tersebut. Terlebih dahulu dia mengingat-ingat letak, susunan bunga, dan suasana dalam mimpinya semalam, tapi nyatanya semua yang kini ada di hadapannya terasa berbeda.


Gadis itu kembali melangkah karena tidak ada niatan untuk membeli dan toko bunga yang ditujunya pun tidak seperti yang diharapkan. Dia terus saja berjalan tanpa arah dan tujuan, tapi langkahnya terhenti saat mendapati jalan pertigaan.


Dia celingukan mencari jalan dan saatnya memilih sesuai kata hati. Jalan belok ke kanan pilihan hati Mey, menyusuri jalanan berumput.


Mey sudah mulai menyerah dengan pencariannya. Perkiraan Mey mungkin hanya ada satu atau dua toko bunga di daerahnya.


Sesekali dia mengusap keringatnya yang mulai bercucuran di pelipisnya. Mey berhenti di kursi pinggir jalan. Tepat saat tatapannya lurus ke samping kirinya, pandangannya seakan terkunci dan tak mampu untuk berkedip meski sekali pun.


Bermacam-macam bunga dijejerkan dengan rapi. Bunga bougenville, anggrek, mawar, melati, daffodils, dan masih banyak lagi bunga berwarna cantik yang tidak diketahui namanya oleh Mey, tapi ada satu spesies bunga yang menarik perhatiannya. Bunga ungu.


Mey mengucek-ngucek kedua matanya, mencoba untuk meyakini bahwa semua ini tidaklah mimpi. Dengan tergesa-gesa gadis itu pun menghampiri toko bunga tersebut.


Tepat di depan toko, Mey melihat tumpukan karung berisi pupuk tanaman dibiarkan menumpuk di ujung dekat meja kasir. Anggrek putih berantai di sekeliling atap ruangan menjadi tampak indah dan sejuk, vas bunga tersusun rapi dekat bunga bougenville yang begitu indah bermekaran. Semuanya sama.


"Maaf ... ada yang bisa saya bantu?" Pertanyaan sosok pria paruh baya membuyarkan ingatan Mey perihal mimpi itu. Mey mengigit bibir bawahnya.


Tidak tahu harus berkata apa pada sosok pria di hadapannya, karena dari awal tak ada niatan untuk membeli bunga atau apa pun. Tak sempat menjawab, Mey sudah dikejutkan lagi dengan sosok lelaki yang tengah membelakanginya. Lelaki itu memegang seikat bunga berwarna ungu. Bentuknya unik, begitu juga dengan warnanya.


"Kakak," seru Mey memanggil tanpa menghampiri lelaki itu lebih dekat. Dia tetap berdiri di tempat sebelumnya.


Tak berselang lama, lelaki yang dipanggil menoleh lalu tersenyum padanya. Lelaki itu memakai jaket berwarna hitam, celana jeans, serta jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Dia menaikkan sebelah alisnya dan menggerakkan kepalanya ke arah kanan seolah bertanya 'Ada apa?'.


Sepersekian detik Mey menatap lelaki itu, tapi ternyata dia bukanlah sosok lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya. Mey kecewa. Pandangan Mey akhirnya jatuh pada bunga yang berada di genggaman lelaki itu. Dia menghela napas panjang. Bunga yang sama.


"Maaf! Aku salah orang," ujar Mey lalu tersenyum.


Lelaki itu pun mengangguk pelan lalu membalas senyum Mey.


To be continue