Someone In There

Someone In There
5. Pertemuan Singkat.


Bab ini ditulis oleh Cloveriestar


Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Sesekali dia mengusapnya dengan punggung tangan. Sorot mata Mey tertuju pada sosok lelaki yang kini berdiri di antara sepeda motor di parkiran.


Langkah kakinya sengaja dipercepat, tidak memedulikan teriakan Nita yang ketinggalan jauh di belakangnya.


"Meey ... tungguin!" seru Nita. Napasnya terengah-engah, setelah langkahnya sejajar, dia menahan lengan Mey.


"Nit, kamu pulang duluan, ya. Aku ada keperluan mendadak nih," ucap Mey. Kedua matanya tak lepas ke arah lelaki yang tengah melangkah ke arah parkiran.


"Hah? Keperluan? Tumben. Kayak orang sibuk aja ada keperluan mendadak," ledek Nita. Dia merengut kesal.


"Hehe iya, Nit. Maaf, ya!" Mey menangkupkan tangannya di depan dada sembari menatap Nita.


"Don't worry. Yaudah hati-hati. Aku duluan, ya! Dadah, Meysa-ku, see you." Nita melambaikan tangannya. Dia pun berlalu pergi.


Sorot mata Mey tidak terlepas ke arah sosok lelaki itu. Gadis itu pun berlari sekuat tenaga hingga sampai di depan gerbang. Tak lama kemudian lelaki itu melajukan motornya ke arah gerbang.


Mey menatap wajahnya dengan jelas, membuat keringat dingin membanjiri pelipisnya, jantungnya tak bekerja dengan normal, kedua kakinya seolah tertahan di atas tanah yang dipijaknya.


Ingin sekali dia menyapanya meski dengan kalimat sederhana, misalnya "hai" ataupun "halo". Namun semua yang diniatkannya urung tuk dilakukan.


Motor berwarna merah darah berlalu melewati Mey begitu saja. Kesadaran gadis itu kembali saat melihat motor itu sudah menjauh dari pandangannya. Tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu, akhirnya Mey berniat mengejar lelaki itu.


Beruntungnya, di kawasan sekolah terdapat banyak tukang ojek. Mey pun memanggil salah satu dan memintanya untuk mengejarnya.


Kecepatan lajunya motor lelaki itu membuat Mey kesal karena ojek yang ditumpangi kalah cepat.


Melewati banyak pengendara, membuat jarak Mey dan lelaki itu hanya sekitar satu meter, tapi lelaki yang dikejarnya begitu pandai dalam mengendarai motornya. Motor merah itu menyalip sebuah truk berwarna kuning, membuat lelaki itu menghilang dari pantauan Mey.


Gadis itu cemas karena lelaki yang dikejar tak ada lagi di depannya, dan meminta pengemudi motor yang tumpanginya untuk lebih cepat melajukan motor.


Saat Mey masih sibuk mengamati, tiba-tiba motor yang ditumpanginya berhenti, membuatnya kaget dan nyaris terhuyung ke depan.


"Yah ... macet, Neng!" Perkataan itu membuat kedua matanya melebar. Dia menatap ke depan, melihat kondisi jalan yang tak memungkinkannya untuk kembali melanjutkan perjalanannya.


Di sana ada dua polisi lalu lintas yang mengatur pengendara. Tepat di depannya berbagai jenis mobil berjejer. Macet. Tidak ada lelaki pengendara motor merah yang tengah dikejarnya.


Mey bertanya kepada pengendara motor tersebut, lalu pengendara itu menggeleng pelan dan mengatakan bahwa dirinya kehilangan jejak.


Mey celingukan ke arah kiri dan kanan. Tubuhnya begitu lemas saat menyadari keberadaan lelaki itu memang tak ada dalam pantauannya.


"Neng ... jadi kita ke mana?" Pertanyaan itu membuat kesadaran Mey kembali. Kedua manik matanya menatap lurus ke arah jalanan yang tampak lengang.


Dia tak tahu harus ke mana, karena tujuannya hanya untuk mencoba bertanya pada lelaki itu mengenai mimpinya yang selama ini menjadi cuplikan di setiap tidurnya.


Sepanjang perjalanan, Mey meminta bapak paruh baya itu untuk tetap berjalan lurus, kedua matanya menelisik dengan teliti ke arah jalanan. Lelaki itu tidak ada.


Mey pun kehilangan lelaki itu.


Dia pikir, setiap pertemuan pertama, setelahnya akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang lebih mengejutkan.


Setelah bergelut dengan pikiran, gadis berambut panjang itu memutuskan untuk pergi ke Gramedia. Daripada langsung pulang setelah perjalanan jauh seperti ini.


Pengendara motor itu memberhentikan Mey karena tujuannya telah sampai di sebuah toko buku.


Mey melangkah menuju toko yang berdiri kokoh di hadapannya.


Dia memasuki ruangan yang cukup luas. Kedua kakinya berpijak di atas lantai putih bercorak cokelat. Di setiap ujung ruangan terlihat tanaman hias yang membuat ruangan ini terlihat lebih indah dan terasa sejuk.


Langkah gadis itu terhenti di depan barisan belakang, tempat di mana berbagai judul novel yang begitu memikat hati. Sorot mata Mey tertuju pada sebuah buku bersampul biru muda. Gadis itu meraihnya dan menatap lekat buku di tangannya yang berjudul "For Oreo". Dia tersenyum simpul saat melihat buku itu pikirannya terbayang mengingat Ardian.


Niatnya untuk membeli diurungkan karena Ardian telah meminjamkannya saat itu. Mey pun kembali menyimpannya dan beralih ke barisan buku di sampingnya, di sana terdapat banyak komik terbaru, salah satunya One Piece.


Pikiran Mey melayang ke beberapa hari belakang saat Nita dan Mey menghabiskan waktu istirahatnya di kantin sekolah.


Mey melongok ke genggaman Nita, di sana terdapat sebuah video anime. Nita begitu tampak menikmatinya hingga tak menyadari jika Mey juga ikut menonton.


"Kamu suka anime ternyata, Nit?" tanya Mey, kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, pisang cokelat keju yang kembali disantap olehnya.


"Suka dong. Asal kamu tahu ya, Mey, anime sama cogans itu keduanya berada di posisi yang sama menurutku. Keduanya sama-sama bikin suka, rindu dan candu," jawab Nita sembari tertawa kala mengatakan hal itu.


Dia mengembalikan ponselnya ke layar utama dan memilih berbincang dengan sahabatnya mengenai kecintaannya terhadap anime.


"Anime apa yang paling kamu suka, Nit?" tanya Mey. Satu potong pisang cokelat keju masuk ke mulutnya.


"One piece. Aku paling suka One Piece. Hampir setiap komik One Piece mengeluarkan edisi terbaru aku langsung beli," jawab Nita antusias.


"Wow ... kamu emang udah kecanduan One Piece kayaknya, Nit!" ucap Mey diiringi dengan tawa Nita yang renyah.


Nita manggut-manggut dan akhirnya berseru kembali, "Tapi kali ini, aku belum beli komik One Piece yang terbaru lagi," ucapnya lirih. Sorot matanya tak lagi bersinar. Dia menunduk dalam dan memajukan bibirnya beberapa senti.


Sudut bibir Mey tersungging ke atas saat dia mengingat obrolannya dengan Nita beberapa hari yang lalu. Dia meraih buku bergambar lelaki topi jerami itu, membalikkan buku tersebut, terdapat tahun edisi diterbitkannya buku itu.


Ternyata dugaannya benar, buku yang dipegangnya adalah buku yang sedang didambakan oleh Nita.


Dia akan membeli buku itu untuk Nita, karena jika Mey membelikannya pasti Nita senang. Dia mengeluarkan ponsel, lalu mengetik sesuatu di layar itu dan mengirimkannya pada Nita.


Mey juga meminta Nita untuk datang ke rumahnya karena ada sesuatu yang akan dibahas. Gadis itu pun mengatakan kepadanya jika dia membelikan komik One Piece terbaru.


Sejujurnya Mey masih ingin berada di sekeliling buku-buku, tapi urung karena dia khawatir jika Nita sudah berada di rumahnya dan menunggunya pulang.


Tidak membutuhkan waktu lima menit, ojek online yang dipesannya pun datang dan siap mengantar Mey ke rumahnya.


Dugaan Mey benar, Nita sudah berada di rumahnya. Dia tengah duduk di kursi panjang berbahan kayu di samping pintu rumah Mey. Nita melambaikan tangan, mengembangkan senyumannya pada sang sahabat yang kini menghampiri ke arahnya.


Kedatangan Nita hari ini untuk yang kedua kalinya. Pertama kali datang untuk bekerja kelompok, dan kali ini untuk sesuatu yang akan Mey ceritakan padanya hari ini.


Bertepatan dengan itu, Mey akan memberikan sesuatu yang selama ini Nita inginkan. Komik One Piece terbaru.


"Nit ... kamu datang sejak kapan?" tanya Mey. Dia duduk di samping Nita. Pandangannya menatap Nita yang tengah merapikan rambutnya dengan lima jari tangan.


"Dari sejak para cogans dilahirkan ke dunia, haha." Nita tertawa. Mey merengut kesal karena Nita selalu saja pikirannya mengingat cogans.


"Ah cogans mulu, berarti kalau dikasih komik One Piece yang terbaru pasti nolak, ya?" tanya Mey sembari menunjukkan komik yang sengaja dibelinya untuk Nita.


"Ih mau dong. Makanya cepat datang ke sini juga kan tahu kalau Meysa-ku itu mau kasih komik, hehe." Kedua mata cokelat madu terang berbinar. Dia menyambar buku dari genggaman Mey, tapi Mey menariknya kembali sembari menyeringai jail pada Nita.


"Nita kan suka cogans. Berarti kalau komik gak suka dong," ucap Mey sembari terkekeh pelan. Nita memajukan bibirnya, membuat Mey kembali terkekeh.


"Ih nyebelin!" Nita memalingkan wajahnya dari hadapan Mey


Tak mau membuat sahabatnya kesal, akhirnya Mey memberikan buku komik itu padanya.


Tak berselang lama, Nita teringat Meysa ingin menceritakan sesuatu. Dia pun cepat bertanya. Dengan senang hati Meysa menceritakan segalanya kepada Nita.


"Lelaki yang tadi di sekolah itu adalah lelaki yang selalu hadir dalam mimpiku," ucap Meysa akhirnya setelah menceritakan tentang awal dari mimpi itu.


Kedua mata Nita membulat nyaris keluar dari tempatnya, mulutnya terbuka lebar. Sebisa mungkin dia berusaha menelan salivanya. Mey tidak mengekspresikan apa pun, datar.


"Cowok ganteng itu?" tanya Nita antusias. Manik matanya menatap lekat wajah Mey, mencari kebenaran dari bola mata sahabatnya. Mey hanya mengangguk pelan.


Mey menggengam kedua tangan sahabatnya, lalu menatap Nita saksama.


"Aku mau tahu, deh alasannya kenapa dia selalu hadir dalam mimpiku," lirih Mey. Nita menggigit bibir bawahnya dan mengangkat kedua bahunya.


"Mimpi itu kan cuman bunga tidur, Mey." Perkataan Nita membuat Mey tersadar tentang mimpi.


Awalnya Mey beranggapan seperti itu. Namun setelah pertemuannya dengan lelaki tadi, membuat Mey lebih percaya jika kehadiran si lelaki adalah sebuah takdir yang akan menunjukkan kepada Mey sesuatu tak terduga.


"Tapi ... aku yakin semua mimpiku ada sangkut-pautnya dengan hidupku. Semuanya terasa nyata, dan ... benar aja lelaki itu memang ada di SMK Adipura. Sekolah yang sama dalam mimpiku dan juga lelaki yang sama persis dengan sosok itu."


"Yaudah, kasus ini harus diselidiki. Kalau emang bener dia sosok lelaki yang sering hadir dalam mimpi kamu, Mey."


"Bantu aku, ya?" bujuk Mey.


Nita tampak berpikir, pandangannya dialihkan pada tanaman bunga mawar yang indah bermekaran. Mey kembali memanggil Nita, memastikan jawaban. Manik mata cokelat madu terang itu kembali menatap Mey dan kali ini bibirnya tersungging ke atas membentuk senyuman.


Dia mengangguk. "Aku bakal bantu kamu."


Mey senang mendengar jawaban Nita. Lantas dia memeluknya dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.


Tak berselang lama dalam pelukan, Nita pun pamit pulang karena waktu sudah mulai sore.


🍀🍀🍀


Sehabis pelajaran bahasa Inggris, Mey dan Nita berjalan ke kantin untuk istirahat. Namun langkah Mey terhenti, membuat Nita pun ikut terhenti dan bertanya, "Kok berhenti? Ayo ke kantin, nanti keburu masuk kelas lho."


"Kamu duluan ya, Nit. Aku ada urusan sebentar. Mendadak, hehe. " Nita memutarkan bola matanya malas, lalu mengembuskan napasnya.


"Urusan apaan sih? Urusan mulu kerjaannya." Nita merengut sebal, kedua matanya menatap lekat sahabatnya.


"Ada urusan sama anak sastra, sekalian aku pengin sendiri di taman sih buat baca novel ini nih. " Mey menunjukkan sebuah buku bersampul biru muda yang dipinjamnya dari Ardian beberapa hari lalu.


"Ah kebiasaan. Yaudah duluan deh, udah lapar nih,"ucap Nita, dia mengusap perutnya, sesekali berbunyi. Mey tertawa saat pendengarannya menangkap suara cacing.


"Yaudah, sana cepatan ke kantin. Kasian tuh cacingnya udah pada demo semua," ledek Mey. Nita menoyor dahi Mey, membuat gadis bermata sipit itu mundur menghindari Nita.


"Udah ah mau ke kantin. Dadah Meysa-ku." Nita melambaikan tangannya sembari berlalu menuju kantin.


Inilah saatnya Meysa untuk mencari lelaki yang akhir-akhir ini selalu ada dalam pikirannya. Biasanya di waktu istirahat seperti ini, siswa lelaki akan menghabiskan waktunya di lapangan untuk bermain bola, di pojok ruangan bermain gitar, di perpustakaan bagi lelaki yang kutu buku atau di taman belakang berkumpul bersama teman satu gengnya.


Hal yang Mey tahu, lelaki jarang berada di kantin, mungkin hanya sebagian yang nakal saja berada di sana, hanya untuk menjaili kaum hawa atau sekadar menemani pacarnya untuk makan siang.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Ada beberapa lelaki yang berada di pojok, tengah memainkan gitar. Mey meniliknya dengan teliti, tapi dia menggeleng lemah karena lelaki yang dilihatnya bukanlah lelaki yang dicarinya.


Mey tidak menyerah.


Dia kembali menyusuri halaman sekolah, kemudian teringat dengan satu tempat yang sangat disukai oleh anak sastra. Perpustakaan. Mungkin saja lelaki itu ada di sana.


Mey pun masuk ke sana, disambut deret buku berjejeran dengan rapi.


Tidak ada. Lelaki itu tidak berada di sana.


Mey mencari ke belakang sekolah, di sana sejuk dan sepi. Tidak ada siapa pun di sana, hanya ada pepohonan yang meneduhkan. Dia menghela napas pelan lalu melanjutkan misinya mencari lelaki itu.


Dia mengitari lapangan luas, di sana banyak siswa yang tengah bermain basket. Mata Mey menyipit karena harus melawan sinar matahari menyilaukan. Siang ini cuacanya begitu terik, tidak terbayangkan oleh Mey terhadap lelaki yang berada di tengah lapang.


Mey berjalan mengitari sisi lapangan penuh rumput hijau. Sekitar tujuh orang lelaki yang tengah bermain, tiga lelaki yang lainnya duduk di sisi lapang, memberikan semangat kepada temannya.


Dia menilik satu per satu lelaki yang berada di sana. Matanya sampai tak konsentrasi karena terlalu banyak lelaki. Mey sudah mencoba menganalisis wajah lelaki yang berada di sana, tapi lelaki itu tidak berada di sana.


Gadis itu pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Dia mengambil arah berbeda dari sebelumnya, melewati ruang eskul. Tempat itu begitu sepi karena hampir semua siswa-siswi berada di kantin untuk mengisi perut.


Bau obat-obatan menyergap penciumannya kala langkahnya melewati ruang UKS. Mey sekilas melihat ke dalam ruangan itu, di sana ada sosok lelaki yang dicarinya tengah mengobati luka di kaki kirinya.


Mey kaget, membuatnya panas dingin. Lelaki itu ada di sana. Mendadak seluruh tubuhnya kaku. Otaknya menyampaikan jika dia harus masuk untuk menyapa, tapi tubuhnya tak kuasa untuk masuk, dia hanya memandang dari luar.


Lidahnya seolah kelu tak sejalan dengan hatinya yang ingin menyapa, tubuhnya gemetaran hingga keringat dingin bercucuran di pelipisnya.


Bodoh sekali! Sejak tadi mencari lelaki itu, tapi ketika ada di depan matanya, Mey tidak bisa melakukan apa pun.


Mey merasakan hidungnya gatal, seperti ada debu yang menari di lubangnya, membuat gadis itu bersin kencang. Lelaki dari dalam menoleh, dan dengan tergesa Mey melangkah meninggalkan kawasan UKS. Kaget.


Dia salah tingkah sampai buku yang sedari tadi dibawanya terjatuh di depan ruang UKS. Saat langkahnya sudah mulai menjauh, dia menyadari jika buku novel milik Ardian tidak ada dalam genggamannya.


Dia memutar balik langkahnya dan mendapati buku bersampul biru muda itu di depan pintu ruangan UKS. Gadis itu meraih bukunya bersamaan dengan mendapati sepasang sepatu hitam yang berada di depannya.


Dia lelaki yang Mey cari.


Lelaki itu berwajah Chinesse, membuat jantung Mey berdegup lebih kencang. Kedua matanya sipit, rambutnya hitam legam tergerai ke depan nyaris menutupi mata kirinya. Hidung mancung, kulit putih bersih, seputih susu.


"Emz ... hai, Kak?" sapa Mey gugup. Dahi lelaki itu mengerut, tatapannya begitu menusuk hati Mey. Sinis.


Lelaki itu jelas sama dengan yang ada di mimpinya, bahkan memang dia. Namun tatapan mata dan ekspresinya sangat jauh berbeda. Dingin. Menusuk.


Lelaki itu tidak menjawab sapaan Mey, beranggapan jika gadis di hadapannya ini aneh. Dia terus memandangi wajah Mey, membuat gadis itu tersipu malu dan wajahnya memerah.


Degup jantungnya nyaris terdengar oleh lelaki yang ada di hadapannya, tubuhnya gemetaran hebat, keringat dingin membanjiri pelipisnya.


"Kak ... kamu ingat aku, kan?" tanya Mey memberanikan diri, gugup. Posisinya masih tetap berjongkok dan kepalanya menengadah menatap sang lelaki.


Matanya menatap Mey tajam, alisnya bertautan, kemudian dia arahkan pandangannya ke arah lain.


"Huft .... " Lelaki itu mengembuskan napas, rahangnya mengeras. Dia tampak kesal dengan gadis yang ada di hadapannya. Gadis aneh.


Tak lama Mey cepat meraih bukunya dan berdiri tepat berhadapan dengan lelaki itu.


"Kakak," sapa Mey lirih. Lelaki itu menatapnya lekat, mata kiri yang terhalang oleh rambutnya yang perlahan melambai-lambai tertiup angin. Pandangannya kembali ke arah Mey dengan tatapan sinis.


"Apa sih? Ganggu aja, minggir!" Lelaki itu mendorong Meysa ke samping, membuat tubuh Mey nyaris menabrak dinding.


Dia berlalu meninggal Mey yang kini menatapnya tak percaya.


To be continue