Someone In There

Someone In There
11. Tantangan


Part ini ditulis oleh Cloveriestar


Petik senar mengalun syahdu. Jemari pemainnya tampak lihai memainkan alat musik itu. Tak mengeluarkan suara, tapi menciptakan alunan nada yang membuat hati perempuan mana pun terpikat.


Salah satunya Naila, seorang gadis yang merupakan putri kepala sekolah, menaruh harap pada sosok lelaki yang kini tengah termenung sendirian di pojok teras halaman.


Naila mencoba untuk mengakrabkan diri sebelum dia mengutarakan keinginannya. Dia yakin jika lelaki yang dicintainya itu akan menerima tawarannya.


"Hai, Kak Reza," sapa Naila. Reza mengakhiri aktivitasnya, gitarnya dia dekap.


"Ya," jawab Reza, lebih mirip seperti dehaman yang nyaris tak terdengar.


"Kakak jago banget main gitar. Udah berapa lama?" Naila mengusap gitar yang masih setia dalam dekapan pemiliknya. Reza memutar bola matanya, malas meladeni sosok perempuan yang seolah sok akrab.


"Ada apa? To the point aja, karena gue masih banyak urusan yang lebih penting." Reza bangkit dari duduknya sambil membawa gitarnya. Dia siap melangkah, tapi ucapan Naila, membuat lelaki itu terpaku.


"Adheeva Afshen Meysa. Sosok gadis yang selalu menganggu ketenanganmu." Reza membeku di tempat, tak mengerti dengan ucapannya.


Reza menoleh ke belakang, tepat saat itu dia mendapati Naila yang tengah menatapnya. Manik matanya menyatu dengan tatapan sang gadis, tampak saling diam.


"Apa urusan lo dengan gadis aneh itu?"Alisnya terangkat sebelah, rambut yang menutupi mata kirinya tak dijadikan masalah saat menatap Naila, tajam.


"Tenang dulu, Kak. Aku cuma mengajak Kakak untuk kerjasama menyingkirkan Meysa. Bagaimana ... setuju?" tanya Naila, menyeringai ke arah Reza yang tengah mencerna ucapannya.


"Enggak! Gue enggak tertarik tawaran loe."


"Kenapa? Kita punya tujuan yang sama buat nyingkirin si cewek aneh itu. Jadi aku pikir---"


"Karena gue punya rencana yang lebih menarik dari rencana loe!" sergah Reza, berbalik dan berlalu meninggalkan Naila yang tengah menatapnya kesal.


Dia uring-uringan karena tawarannya ditolak mentah-mentah oleh Reza. Sosok lelaki yang selama ini dia sukai.


🍀🍀🍀


Tengah hari ketika matahari berada di titik puncak tertinggi, kelas X TKJ harus berada di tengah lapangan untuk olahraga. Mereka diperintahkan berlari sepuluh kali putaran untuk melatih kecepatan, kelincahan, dan ketangkasan.


Nita dan Mey seringkali menghentikan langkah kakinya. Mereka membungkuk sekadar untuk meluruskan kedua kaki yang terasa lelah. Namun keduanya tidak bisa berlama-lama terdiam karena Pak Soni meniup peluitnya setiap kali muridnya beristirahat.


Kedua gadis itu sama-sama kembali berlari secepat mungkin. Satu putaran harus mereka tempuh, tapi kedua kakinya sudah tak kuat lagi. Mereka terus memaksakannya dengan langkah tertatih, keringat membanjiri pelipis dan punggungnya.


Tatapan Mey terfokus pada satu titik, Reza. Lelaki itu tengah berjalan santai melewati lapangan, hampir semua siswi yang berada di lapangan bersorak memanggilnya. Langkah mereka pun sengaja berhenti hanya ingin menatap wajahnya.


Nita melihat itu berbisik pada sahabatnya. "Siap-siap, ya, saingannya banyak."


Mey mengabaikan bisikan Nita. Dia tetap fokus pada Reza, teringat dengan obrolan mereka mengenai tantangan itu. Banyak pertanyaan yang hinggap di pikirannya, entah apa tantangan yang disiapkan Reza.


Kakinya melangkah ke arah lelaki itu, tatapan semua orang tertuju kepada mereka.


"Hai, Kak." Senyuman Mey mengembang saat dirinya tepat berhadapan dengan patung es. Dingin mencekam terasa dalam dirinya. Dia merasa tengah berada di Kutub Utara.


Sapaannya bagai angin lalu bagi Reza. Dia tak pernah menganggap jika gadis di depannya itu ada.


"Minggir!" ucap Reza pelan tapi tegas. Cukup terdengar di kedua telinga Mey, tapi perintahnya tak digubris. Gadis itu malah menghalangi jalan, tak mengindahkan peringatannya.


Dia mematung menghadapnya, tatapannya tajam, begitu pula Reza membalas tatapannya. Keduanya saling diam dan saling pandang sepersekian detik.


"Aku ...." Mey memutuskan kontak matanya terlebih dahulu, menundukkan kepalanya ke bawah lapang yang menampakkan dua sepasang sepatu yang saling berhadapan.


"Mau lo apa, sih?" tanya Reza dengan suara lebih keras dari sebelumnya. Nada bicaranya seperti membentak.


"Waktu ... dan kamu," lirih Mey, sayup-sayup terdengar berlawanan dengan angin yang membelai kasar dedaunan, menciptakan bunyi saling gesek.


"Hah? Maksud lo?" tanya Reza.


Suara peluit menyadarkan keduanya. Banyak tatapan sinis, kecewa, marah dan cemburu terhadap dua insan yang kini saling pandang. Tanpa disadari, Reza menarik lengan Mey kasar, membawanya ke tempat yang lebih hening, taman belakang sekolah.


Mendadak tubuh sang gadis seperti es di genggaman Reza. Cukup lama Reza membuat tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup tak beraturan, tapi sesaat kemudian lelaki itu melepaskan tangannya dengan kasar.


Ujung mata Mey melirik ke arah tangannya yang tak lagi dicekal, dia tersenyum samar, mengingat perilaku Reza. Walau dingin, tapi luar biasa manis.


"Lo tuh emang susah di kasih tahu, ya? Keras kepala!" sergah Reza. Kedua tangannya mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya frustrasi. Mata kirinya tak lagi terhalangi oleh rambut hitam legam. Mey dapat melihat kedua manik matanya lekat.


"Tantangan apa yang akan Kakak berikan?" tanya Mey menantang. Reza menyeringai meremehkan.


"Gue enggak yakin lo bisa menang," ledeknya. Tatapannya terkunci pada kedua manik mata hitam, lengkungan senyum mengembang begitu saja, menilik wajah Mey yang menurutnya terlalu polos.


"Tapi aku yakin bisa menang," sambar Mey cepat. Wajahnya begitu antusias menunggu kelanjutan jawaban dari Reza.


Reza melipat kedua tangannya di dada, tapi sesaat kemudian berkacak pinggang dan melangkah, mengikis jarak. Mey tetap berdiam diri di tempatnya, tidak berniat mundur.


"Gue tantang lo datang ke perpustakaan sekolah tengah malam," ucap Reza menekankan kalimatnya agar terdengar lebih jelas oleh lawan bicaranya.


"Buat apa aku ke sana, Kak?" tanya Mey. Dahinya mengerut seolah tak mengerti dengan ucapan Reza.


"Salin buku paket kejuruan kelas XI dalam semalam." Alisnya terangkat sebelah memastikan persetujuan Mey.


"Hah?" Mengingat jika buku paket yang begitu tebal, mungkin saja tebalnya hampir sama dengan ketebalan kamus bahasa. Sekitar 400 atau bahkan lebih dari jumlah perkiraannya.


"Lo nolak? Nyerah sebelum mencoba?" Kedua bahunya terangkat. Lalu berbalik, hendak meninggalkan gadis yang tengah mematung.


Dia menggerakkan kepalanya sebagai isyarat pertanyaan 'apa?'.


"Aku setuju!" Jawaban Mey begitu meyakinkan. Tekadnya bulat, mengambil keputusan yang cukup sulit untuk dilakukan.


Reza sedikit terkejut saat mendengar jawaban Mey menyetujui tantangan bodoh itu. Gadis di depannya memang sangat polos dan tidak berpikir berulang kali dalam mengambil suatu keputusan.


Dia memang bodoh, pikirnya.


🍀🍀🍀


Nita dan Mey menyempatkan ke kantin membeli pisang cokelat sebelum pulang. Cacing di perut mereka sudah tidak bisa dikompromi, bahkan saat pelajaran terakhir, suara keroncongan menyita perhatian semua orang, seluruh teman sekelasnya menertawakan Nita karena suara itu berasal darinya.


Mey tidak banyak bicara setelah pertemuannya dengan Reza mengenai tantangan itu. Nita sampai bertanya-tanya, apa yang dikatakan Reza hingga membuat sahabatnya melamun tak seperti biasanya.


"Tadi si Reza ngomong apaan, sih?" tanya Nita kepo. Tingkat keingintahuannya meningkat dua kali lipat dari orang lain. Mulutnya terbuka lebar siap melahap suapan pertama makanan favoritnya.


"Hmz ... enggak ngomong apa-apa sih," jawab Mey berbohong. Tantangan itu dia rahasiakan dari siapa pun, bahkan Nita.


"Beneran?" Pertanyaan Nita hanya dijawab dengan anggukkan pelan.


"Eh iya aku lupa ...." Mey menepuk jidatnya. Dia bangkit dari duduknya dan menyodorkan pisang cokelat pada Nita yang masih utuh.


"Ke mana?" tanya Nita. Kedua tangannya sibuk menumpahkan pisang cokelat miliknya yang tinggal sepotong ke piring kertas pemberian Mey.


"Ada urusan. Kamu duluan aja, ya, Nit. Dah!" Mey melambaikan tangannya dan berlari pelan ke arah koridor ruang eskul.


"Hati-hati, Meysa-ku. Dah!" Nita kembali membalas lambaian tangan sahabatnya dan tersenyum ke arahnya.


Langkah Mey terhenti tepat di depan pintu perpustakan. Dia melongok ke jendela, melihat situasi di dalamnya. Ruangan itu tampak sepi, bahkan tak ada penjaga.


Pintunya pun belum dikunci saat dia memegang daun pintu. Gadis itu pun melangkah masuk, memastikan ruangan yang akan dimasukinya nanti malam.


Ada beberapa jendela yang ditutupi oleh helai kain polos berwarna hijau muda, rak-rak buku berbaris rapi. Mey masih memikirkan bagaimana cara dia masuk ke perpustakaan tengah malam, karena ruangan ini akan dikunci oleh penjaga.


Beruntungnya Mey rajin menonton TV yang selalu menyajikan berbagai macam sinetron dan berita. Seingatnya dua hari lalu dia menonton berita tentang kasus pencurian di sebuah rumah orang kaya. Pelakunya mengatakan jika cara dia memasuki toko tersebut dengan cara memanjat lewat jendela.


Mey mendekati jendela pojok kanan yang tertutup, lalu membukanya tidak terlalu lebar, hanya memberikan celah sedikit agar tidak ketahuan oleh penjaga saat kembali mengunci perpustakaan. Hal itu dilakukannya agar memudahkannya nanti malam untuk menyusup ke ruangan.


Gadis itu pun kembali meninggalkan ruangan. Tepat saat itu seorang lelaki melangkah ke arahnya, seorang penjaga perpustakaan. Mey bersikap biasa saat tatapan mereka saling bertemu, berharap lelaki di depannya tidak mencurigai keberadaannya.


"Saya ... balikin buku, Pak."


Sebelum penjaga itu bertanya, Mey mengatakan hal itu agar tidak mencurigakan. Lelaki paruh baya itu hanya beroh-ria dan menyuruhnya untuk segera pulang karena waktu jam pulang sudah berlalu satu jam yang lalu.


Terlebih dahulu Mey berpamitan dan meninggalkan kawasan sekolah.


🍀🍀🍀


Semilir angin malam membelai rambut ke tiap helaian. Langkahnya tergesa menuju arah gerbang sekolah yang menjulang tinggi, membuatnya berpikir keras agar bisa masuk ke kawasan sekolahnya.


Tidak mudah bagi Mey melakukan tantangan ini, dia harus mengendap-endap seperti pencuri di rumahnya sendiri dan sekarang harus berbuat kriminal di sekolahnya.


Terlebih dahulu dia memanjat gerbang untuk memasuki perpustakaan yang merupakan tujuannya.


Gadis itu celingukan ke kanan dan kiri, melihat situasi sekitar.


Sepi, sunyi, dan gelap. Mey pun nekat memanjat gerbang karena itulah satu-satunya cara.


Berkali-kali dia terjatuh tapi hal itu tidak membuatnya menyerah. Dia kembali mencobanya dan akhirnya berhasil. Dia sudah berada di atas puncak gerbang, tapi tak berani untuk turun.


Mey menghela napas pelan, tak kuasa melihat ke bawahnya, sebuah lapang yang menyatu dengan taman depan sekolah


Mey tidak mau kehilangan kesempatan. Semua yang dilakukannya demi Reza, tekadnya sudah bulat untuk memenangkan tantangan dari si patung es itu.


Perlahan-lahan kedua kakinya berpijak ke bagian gerbang yang merupakan penyangga, sedangkan kedua tangannya berpegang erat pada tiang di atas gerbang. Kakinya menggantung karena pertahanannya tak terlalu kuat, tapi dengan cepat Mey mengembalikan keseimbangan seperti sebelumnya. Sesaat kemudian tubuhnya terpelanting ke bawah lapang. Mey berhasil.


Senyum di bibirnya tidak pernah pudar karena tantangan itu akan segera diselesaikan. Dia tinggal mengitari kawasan sekolah untuk menuju perpustakaan, yang ada di ujung barisan ruang eskul bersebelahan dengan ruang UKS.


Sebisa mungkin langkahnya dipercepat.


Kawasan sekolah tidak terlalu gelap karena ada beberapa lampu yang meneranginya, bahkan tiap ruangan pun diberikan penerangan lampu.


Dahi Mey mengernyit melihat sekitar ruang eskul yang begitu gelap, tak ada cahaya sedikit pun. Namun gadis itu tetap melanjutkan langkahnya, tanpa ada rasa takut mempercepat langkahnya.


Tepat di dekat ruang UKS, bahunya bergidik ngeri, merasa ada sesuatu yang janggal di ruangan itu. Langkahnya dihentikan, kedua matanya menilik sekitar. Meski ragu menoleh ke arah belakang, dia tetap melakukannya.


Tidak ada siapa pun.


Saat dia kembali ke depan untuk mengarah ke ruangan perpustakaan, dia mendapati penampakan bayangan hitam yang membuatnya terkejut.


"Aaahhh ...."


Mey berteriak sekencang mungkin.


To be continue