
Part ini tulis oleh Cloveriestars
Kedekatan Reza dan Mey semakin lengket layaknya perangko. Mereka sering bertukar pesan LINE, sekadar membicarakan perihal sekolah atau hal yang sebenarnya tidak penting.
Di hari Minggu, Meysa mendapatkan pesan dari Reza. Lelaki itu mengajaknya keluar jalan-jalan. Entah mengitari kota Bandung atau hanya singgah ke suatu tempat.
Meysa sangat antusias saat membaca pesan ajakan Reza. Dengan senang hati dia menerimanya, dan segera bersiap mengubah penampilannya yang awalnya memakai baju tidur corak kartun.
Tidak biasanya Mey kelimpungan saat mencari baju yang akan dikenakannya. Untuk kali ini, gadis itu sangat gelisah hanya memilih pakaian saja.
"Mamaaa!" panggil Mey.
"Apa, Sayang?" tanya mamanya saat masuk ke kamar Meysa yang berantakan, berceceran baju di atas alas tidurnya.
"Mey bingung mau pakai baju apa?" Mey merengut kesal karena entah berapa jam dirinya memandangi isi lemari.
"Baju kamukan banyak, Mey. Kok bingung?" tanyanya. Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya bingung seraya mengusap pucuk kepala putrinya.
"Aku tetap bingung, Ma. Merasa enggak punya pakaian," jawabnya, kedua tangannya masih sibuk memilah-milah pakaian.
Mamanya menggelengkan kepalanya pelan menyadari anak gadisnya yang sudah mulai pubertas. Tak mau ambil pusing, dia pun membantu memilih pakaian yang menurutnya pantas untuk dipakai sang putri hari ini.
"Pakai ini saja, Sayang. Bagus lho. Gih cepatan pakai. Nanti temen kamu keburu jemput," ucap mamanya mengingatkan sembari menyodorkan baju berwarna biru tua pada Mey.
Kedua mata Mey berbinar dan cepat menerima baju pilihan sang mama. Sebelum beranjak ke kamar mandi, terlebih dulu dia memeluk mamanya seraya mengucapkan terima kasih.
"Eh kamu mau berangkat sama siapa sih? Kak Ardian bukan?" tanyanya.
"Bu-bukan, Ma. Sama, Kak Reza. Diizinin, kan?" Mey menggaruk pelipisnya, pertanyaan sang mama membuatnya salah tingkah.
"Kirain Mama sama Ardian. Kalau Ardian'kan Mama udah kenal banget, dia pernah ke sini. Kalau Reza ...." Ucapannya menggantung membuat Mey menunggu. "Yaudah, deh Mama izinin.
"Makasih, Mamaaaa," ucap Mey, kedua tangannya direntangkan dan mendekap tubuh mamanya dengan erat.
"Yaudah gih sana siap-siap."
Peringatan mamanya pun membuat Mey tersadar jika Reza sebentar lagi akan datang menjemput. Secepat kilat gadis itu menyiapkan dirinya.
Benar saja, tak berselang lama Reza menjemputnya. Perasaan Mey tak keruan saat mendengar suara namanya dipanggil.
Dengan tergesa Mey menghampiri Reza. Celana jeans, dan baju berwarna navy pilihan mamanya menjadi penampilannya hari ini.
Rambutnya yang senantiasa diikat, kini dibiarkannya tergerai. Lengkungan bibirnya kini sengaja dibuatnya sedikit merona oleh usapan liptint berwarna peach.
Reza melihatnya dari atas pangkal kepala sampai ujung kaki Mey yang ditutup dengan sepatu sport warna hitam. Tak sadar, lelaki itu menyunggingkan bibirnya ke atas membentuk senyuman.
"Kita ke mana hari ini, Kak?" tanya Mey pada lelaki yang tengah terpana dengan pesonanya.
"Eh ... ke mol aja yuk!" ajaknya.
"Yuk!" jawab Mey semangat.
"Yaudah ayo cepatan naik!" Reza bergantian melirik belakang jok dan juga Mey.
Mey pun cepat naik ke atas motor. Jantungnya semakin berdetak dengan kencang seperti tak biasanya.
"Naik motornya pegangan, ya? Biar enggak gue sebut kayak nenek-nenek lagi," ledeknya. Mey menahan tawanya yang nyaris meledak. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
"Udah naik?"
"Udah naik kok, Kak," jawab Mey setelah memosisikan duduknya di atas motor dengan benar. Tangannya masih setia berpegangan pada besi di belakang jok, tapi Reza tidak lagi berkomentar.
Sesampainya di pusat perbelanjaan, Reza mengajaknya ke lantai atas tempat permainan. Karena niatnya memang ingin mengajak Mey bermain game bareng.
Reza membeli banyak koin untuk digunakannya. Tanpa diduga, lelaki itu menggenggam tangan Mey dan berjalan secara berdampingan.
Mey merasa nyaman berada di dekat Reza. Kenyamanan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bahkan jika bisa memilih takdir, dia hanya ingin ditakdirkan bersama lelaki berparas Chinese di sampingnya.
"Mau main apa?" tanya Reza menyadarkan Mey dari lamunannya.
Mey melirik ke kanan dan kiri, tepat saat itu kedua matanya menangkap kotak kecil dari kaca berisi beberapa macam boneka kecil. Cepat, dia menunjuknya.
"Kita main capit boneka aja gimana? Tuh liat deh bonekanya lucu-lucu," ucap Mey antusias.
"Yaudah, ayo dapatin boneka yang lo mau," jawab Reza membuat kedua mata Mey membulat.
Perlakuan Reza semakin hari bertambah lebih manis dan hangat. Lelaki itu berubah 180 derajat. Itu membuat Mey semakin nyaman.
Meysa menunjuk salah satu boneka kecil berwujud gurita berwarna merah muda. Dia menginginkannya pada saat pertama kali melihat. Tak mau membuat sang gadis kecewa, Reza bersikeras untuk mendapatkannya.
Entah sudah berapa koin yang masuk ke dalam kotak kaca itu, yang jelas koin sedari tadi terbilang banyak kini hanya satu yang tersisa.
"Mey ... koinnya tinggal satu. Kalau semisal enggak dapat, gue beli lagi koinnya, ya?" Reza mengacungkan uang mainan itu di hadapan Mey.
"Kalau enggak dapat yaudah enggak apa-apa, Kak. Lagipula aku enggak terlalu berharap kok," jawab Mey, menundukkan kepalanya dalam.
Reza menghela napas pelan. Sebelum mulai memasukkan koin itu, terlebih dahulu dia menggosokkan kedua tangannya dan meniup koin itu yang berada dalam genggamannya.
Meysa tertawa pelan melihat kelakuan Reza yang menurutnya lucu, dan dia merasa terhibur.
Dengan penuh harap Reza memencet tombol merah, memulai untuk memainkannya. Secara perlahan, dia mengarahkan gerak capit itu pada boneka yang diinginkan Mey. Dan ... untuk kali ini capitannya tepat pada sasaran.
"Yeayy ... menang!" teriak Mey senang. Beberapa pasang mata melihatnya heran. Gadis itu pun kembali bersikap biasa, sembari menundukkan kepalanya dalam karena malu.
"Nih ... jangan nangis, tuh dapet." Reza menyodorkan boneka gurita itu pada Mey yang cepat menyambarnya dengan senang hati.
🍀🍀🍀
Senyuman Mey tak pernah pudar dari lengkungan bibirnya. Dia sangat menikmati kebersamaan bersama Reza. Keduanya kembali turun ke lantai dasar.
"Mau es krim?" Reza melirik pada Mey yang tengah mengelus boneka gurita.
Gadis itu mengangguk. "Mau."
Reza pun membeli dua kap es krim rasa cokelat sesuai kesukaan Mey. Sembari menyusuri kawasan perbelanjaan keduanya juga menikmati es krim yang dibelinya.
Terlalu menikmati es krim sembari sesekali berbincang dengan Mey membuat Reza tidak fokus dengan langkahnya. Dia tak sengaja menabrak dua orang lelaki berwajah sama, bak pinang dibelah dua sampai keduanya hampir terjatuh. Es krim yang sedari tadi dipegang Reza pun mengotori baju salah satu lelaki kembar itu.
"Eh ... maaf," ucap Reza lirih.
"Iya. Enggak masalah," jawabnya seraya tersenyum.
"Makanya kalau jalan hati-hati dong!" sergah lelaki satunya lagi. Dia segera mengelap pakaian kembarannya dengan sehelai tisu.
Reza terdiam. Memperhatikan keduanya yang saling melindungi. Dua orang berwajah sama itu kira-kira seusia dengannya.
"Maaf ya, Kak." Mey menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Iya enggak apa-apa," jawab salah satu lelaki yang terkena korban ketidaksengajaan Reza. "Kalau gitu kita duluan, ya!"
Mey pun mengangguk. Reza tak menimpali ucapan dari dua anak kembar itu yang kini melangkah menjauh. Kedua matanya masih menatap mereka dengan saksama.
"Eh?" Reza terkejut mendapati Mey yang tengah menatapnya. "Apa, Mey?"
"Kakak kenapa?" tanya Mey lagi, sorotan matanya mengikuti arah yang dilihat Reza.
"Kita nonton aja gimana?" tanya Reza mengalihkan pembicaraan.
"Oke."
Mey celingukan, dia bingung dan penasaran apa yang dilihat Reza sampai dia tampak terlihat sedih.
☘☘☘
Nita mengajak Mey menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang sekolah. Tidak lupa, dua kap steropom berisi pisang cokelat yang selalu dijadikan jajanan setiap hari, dan es jus lemon pelengkap santapannya.
"Kemarin aku bahagiaaaaa banget, Nit," ucap Mey, ingatannya waktu kemarin kembali berputar dalam memorinya bagai sebuah video.
"Kenapa?" tanya Nita. Satu potong pisang cokelat masuk ke mulutnya yang sengaja dibuka lebar.
"Dia ngajakin aku jalan-jalan. Kita berdua main game bareng, nonton juga," ucap Mey sembari menusuk-nusuk pisang cokelat dengan garpu plastik yang masih utuh.
"Terus? Apa lagi?" tanya Nita, mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Iya ... dia juga berusaha ambil boneka yang aku mau dari game capit," ucap Mey lagi. Senyumnya merekah saat bayangan wajah Reza sekelebat membayang dalam pikirannya.
"Mungkin dia cuman pengin berterimakasih aja atas kebaikan kamu minggu lalu. Kamu juga kan sempat berjuang ngejalanin misi yang sebenarnya enggak mudah," timpal Nita, dia menjilat jari telunjuknya karena ada sedikit cokelat lumer yang mengenai jarinya.
"Masa sih?" tanya Meysa. "Sikap dia juga sekarang berubah, Nit. Dia hangat, sikapnya juga manis. Pokoknya aku enggak salah menduga, dia memang lelaki yang selalu hadir dalam mimpi aku," tambah Mey.
"Kalau emang gitu, berarti kamu enggak salah orang dong," ucap Nita menanggapi.
"Iya dong," jawabnya.
"Berarti Meysa-ku sekarang lagi kasmaran, ya?" tanya Nita, meneguk jus lemonnya sampai tinggal setengah.
"Ih Nitaaa apaan sih!" Mey melahap pisang cokelat dengan potongan yang lumayan besar.
Nita tertawa melihat sahabatnya jadi salah tingkah. Dia menggelitiki perut Mey membuat tawanya meledak.
"Ih Nitaaa jail banget, sih kamu." Mey memalingkan wajahnya dari Nita. Dia kesal.
"Ih gitu aja ngambek!" ledek Nita. "Benerin nih ngambek sama cewek yang paling imut seantero Adipura?"
Mey menahan tawanya. Jujur, dia tidak bisa marah lama-lama sama sahabatnya. Apalagi Nita, sosok perempuan yang selalu mengembalikan mood-nya.
"Mana cewek imut?" Mey kembali menatap sahabatnya yang kini tengah menunjukkan wajah imutnya. Kedua matanya menyipit, bibirnya senyum merekah, dan hidungnya sengaja dibuat kembang kempis.
Tawa Mey pun kembali meledak. Nita memang selalu berhasil merayu sahabatnya.
"Nit ... makasih, ya selalu bikin aku bahagia terus," ucap Mey lirih.
"Iya dong. Kan Meysa sahabatku." Nita memeluk Mey dengan erat.
"Aku bersyukur banget punya sahabat kayak kamu, Nit. Bahkan saat aku punya masalah pun kamu selalu support aku." Mey mengingat permasalahannya tempo hari saat dia dikucilkan oleh teman-temannya.
"Karena aku tahu kamu, Mey. Meysa-ku enggak bakalan ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Meysa-ku itu asli punya otak encer bukannya hasil kecurangan ambil soal jawaban. Emangnya si Mak Lampir Naila." Nita kembali tertawa saat mengingat kenyataan jika ratu Adipura ternyata punya kelakuan yang memalukan.
"Aku enggak nyangka sih ternyata Naila pelakunya. Aku jadi kepikiran lagi deh siapa yang udah ngebongkar sifat asli Naila, ya?" tanya Mey, kedua tangannya bertopang di dagunya sembari berpikir.
"Iya juga, ya. Sampai sekarang aku juga kepikiran siapa orang yang udah berani ngebongkar kelakuannya." Nita memosisikan diri sama seperti Mey, bertopang dagu dengan kedua tangannya.
Tak berselang lama, Bu Patmi menghampiri kedua muridnya yang tengah terdiam di kursi panjang dekat pohon kersen.
"Nita? Mey? Kalian sedang apa? Kok melamun?" tanya Bu Patmi, kehadirannya membuat dua gadis itu terkejut.
"Eh, Bu?" kata Mey dan Nita bersamaan.
"Kenapa kok melamun?" tanya Bu Patmi lagi. "Bukannya masalah kamu sudah terjawab, Mey?"
"Belum, Bu," celetuk Nita.
"Belum? Kan kalian udah tahu pelakunya itu Naila." Bu Patmi mengerutkan dahinya bingung.
"Iya sih, Bu, tapi kami belum tahu siapa pelaku yang udah ngebongkar kelakuan Naila, Bu." Mey pun jujur dengan keresahannya selama ini.
"Eh? Belum tahu? Masa, sih belum tahu? Yang melaporkan masalah ini juga kan teman dekat kalian."
Jawaban Bu Patmi membuat Nita dan Mey saling pandang, lalu keduanya serempak menggeleng lemah.
"Teman dekat kami? Siapa, Bu?" tanya Mey penasaran.
"Iya. Bukannya Reza itu teman dekat kalian, ya? Seharusnya kalian tahu dong," jawab Bu Patmi.
"Kak Reza?" tanya Nita memastikan.
Bu Patmi mengangguk membenarkan tebakan Nita. "Iya."
Dari kejauhan, Naila memperhatikan mereka di balik pohon. Mendengarkan pembicaraan Bu Patmi dengan saksama.
"Jadi maksud Ibu yang membongkar kelakuan Naila itu, Kak Reza?" tanya Mey merasa belum yakin dengan pernyataan dari sang guru.
"Iya, Meysa. Bahkan dia juga yang kasih bukti suara Naila pada ibu. Dia menyatakan kalau kamu tidak salah."
Tak terasa bendungan air mata yang sedari tadi Naila tahan kini meluruh begitu saja. Membasahi kedua pipinya, rasanya sesak mendengar pernyataan Bu Patmi jika sosok lelaki yang selalu disanjung dan dicintanya menjatuhkannya terperosok pada lubang yang dibuatnya sendiri.
Tak sengaja pandangan Mey menangkap keberadaan Naila yang tengah mematung.
"Naila?" ucap Mey lirih.
Cepat, Naila mengusap air matanya dengan kasar. Setelahnya, dia menghampiri Bu Patmi yang menatapnya tak suka.
"Enggak mungkin! Enggak mungkin, Kak Reza! Ibu bohong!" ucap Naila mengelak.
"Untuk apa saya berbohong soal permasalahan kamu, Naila? Enggak ada untungnya untuk saya bahkan enggak ada gunanya juga," sergah Bu Patmi ketus.
Nita dan Mey tidak ikut campur dalam permasalahan keduanya. Mereka memilih diam. Keberuntungan pun masih memihak pada Naila karena di taman belakang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang menyaksikan insiden adu mulut putri dari kepala sekolah.
"Kak Reza enggak mungkin ngelakuin itu!" ucap Naila tegas.
"Enggak mungkin? Emang kamu siapanya Reza? Kalau memang kamu enggak percaya, sana tanya sama orangnya sendiri!"
Naila langsung bungkam. Wajahnya memerah karena malu sendiri. Dia baru sadar jika Reza memang bukanlah siapa-siapa. Gadis itu menutup wajahnya, menahan isak tangis yang mendesak keluar.
Nita ingin sekali menertawakan gadis sombong itu, tapi niatnya diurungkan karena keberadaan Bu Patmi bisa memperkeruh suasana dan bisa saja jadi masalah baru. Nita pengin jadi murid baik yang tidak punya masalah selama di sekolah.
"Ibu tegaskan sekali lagi, yang melaporkan kelakuan Naila adalah Reza."
Naila menatap wajah sang guru dengan nanar. Kedua matanya memerah, amarahnya tengah berada di puncak bagai kobaran api yang menyala. Karena malu, dia berlali begitu saja.