
Tidak perlu waktu yang begitu lama untuk mengerjakan tugas. karena ada orang jenius seperti jazon dan alan yang membantu...
"pyuhhh... akhirnya selesai juga" katakku sambil memijat-mijat jari kananku yang kelelahan akibat menulis.
"mau aku bantu pijat " kata alan
" pruuuuu" cipratan air dari mulut jazon.
"uhuk!uhuk" batuknya. Aku ingin menepuk punggungnya tapi, ini kesempatan yang bagus untuk membiarkan ana modus.
Ana menepuk-nepuk punggung jazon
"udah baikan jaz" kata ana penuh dengan perhatian yang mendalam
"rub! Mau aku pijati tanganmu?" tawar alan sekali lagi
"yaudah deh silakan" setuju ku
Saat alan mau menyentuh tanganku
"RUBY!!!" jerit jazon 😈
"kenapa?" sahutku
"ini bajuku basah, boleh pinjam bajumu" uhh jazon dasar manja, tinggal panggil lembut aja napa. Untung aja ada orang di sini jika tidak aku akan mengomelinya. Sabar rubby! tahan emosi! dia ini tuan mudamu masa orang lihat kamu memarahinya ntar di kira apa...
"ambil bajumu saja kenapa?! " cetus alan, aduh si alan manjangi tali kelambu aja
" terserah gue!" cetus balik jazon
"udah jangan berantem udah gede, malu sama badan yang besar " kataku layaknya seperti mama yang sedang menasehati anaknya " kalo di nikahi udah bisa punya anak kalian"
Tiba-tiba wajah mereka berdua memerah. lucu sekali ini pasti karena kataku kalo di nikahi udah bisa punya anak hehe polos sekali...
"jazon ayok" ajakku masuk ke kamar mama
"inikan kamar mama mu"
"iya jazon, aku mau ambil pakaian almarhum ayahku, enggak mungkin kan kamu pakek baju aku, secara badan kamu lebih gede sama aku bisa-bisa ntar kamu kayak banci makek baju ketat hah " jelasku yang ujungnya lawak
Jazon mencubit pipiku " imutnya " katanya yang membuat jantungku berdegup Kenceng tidak beraturan
" lepas jaz sakit " dustaku padahal cubitannya sangat lembut
" ahh maaf meawku" ucapnya sambil melepas cubitannya
Uhh akhirnya aku bisa bernafas lega, mencari pakaian di lemari mama dan aku menemukan baju kaos hadiahku untuk ayah, saat ayah berulang tahun ke 40. Kaosnya berwarna merah, warna kesukaanku, warna merah yang kulambangkan sebagai cinta...
"rub kok ngelamun kamu kangen ya" tegur jazon yang membuatku tersadar
"nih pakek " kataku sambil menyodorkan baju ke tangan jazon.
" Aku keluar ya " pamitku keluar dari kamar
" rub, jazon mana?" tanya ana
"udah tau ganti baju pakek nanya" cetusku
"habisnya aku tadi fokus liati wajah pangeranku gila tamvan syekaleee" kata ana sambil memegang dadanya
"tak" pukulan lambat alan pada ana "dasar cwek lebay!"
"ihh sakit, jahat!" rengek ana
"boleh nyanyi" kata alan sambil memegang gitarnya
"boleh" jawabku
"Mau lagu apa?" tanya alan
"terserah" jawabku
"cieeee" suara ana yang mengganggu saja "uhuy apa aku pergi aja ya?" kompornya
Alan memasukan Pizza yang di bawa ana, kedalam mulut ana "tuh makan!" anapun mengunya pizza sambil memasang wajah yang mempunyai banyak arti.
Alan segera memainkan gitarnya sambil Bernyanyi I LIKE YOU IN THE WORLD AND NOW YOU KNOW. suaranya memang bagus karena dia anak band, dia bernyanyi tiada henti menatapku, akupun terbawa dalam suaranya yang sangat enak di denger. Dan akhirnya aku tersihir oleh matanya untuk tidak berhenti melihat....
"CTARR!" suara pecahan beling..
Oh my god tuan mudaku ini tidak henti membuat kekacauan. Jazon menjatuhkan cangkir entah itu di sengaja atau tidak.
"maaf! Tidak sengaja" ucap sang pelaku
Aku segera membersihkan pecahan beling, karena tidak berhati-hati membuat jari telunjuk tangan kananku tergores...
Alan melompat dari kursi hingga mendekatiku dia seperti ninja sangat gesit.
"kamu nggak papakan rub" katanya dengan penuh ketulusan
"iya nggak papa kok, hanya tergores sedikit" kataku agar alan tidak khawatir
Alan memegang jariku bibirnya mendekati jariku kurasa dia ingin mengecupnya.
"HEY! KAU INGIN MENGECUP JARI RUBBY! DASAR PRIA MESUM!" teriak jazon yang membuat alan mengurungi niatnya
"mesum dari mana, cuma mau ngecup biar darahnya berhenti keluar" jelas alan karena perkataan jazon yang kurang sopan, pasti alan merasa tidak enak
"alan bisa bantu aku bersihi ini" tawarku pada alan agar aku bisa membawa lari jazon kekamar untuk memarahinya.
"baiklah" setuju alan
Aku menarik jazon masuk ke kamarku, rasanya aku akan meledak. Saat aku ingin membuka mulut jazon menutup mulutku
"dilarang marah" perintahnya "kamu terluka karena aku, aku akan bertanggung jawab mengobatinya"
Dia menarikku dan menyuruhku duduk di kasur..
"di mana obat p3k mu" tanyanya
"di lemari pakaianku" jawabku, dia langsung mencarinya... Air mataku jatuh saat melihat punggung jazon dia terlihat mirip dengan ayahku di tambah pakaian ayah yang melekat pada tubuhnya. Kakiku berjalan ke arahnya..
Akupun berhasil mendekatinya..
Dia membalikan tubuhnya ke hadapanku, aku langsung memeluknya. Memcium aroma tubuhnya yang seperti bau ayahku. Mungkin karena ini pakaian ayah...
"ayah" kata yang keluar dari mulutku, kurasa jazon mengetahui jika aku sedang melihatnya sebagai ayahku dia langsung membalas pelukanku sambil menepuk-nepuk punggungku dengan lembut...
"RUBY!" suara panggilan ana membuatku tersadar aku segera mendorong tubuh jazon. Hingga tubuhnya terdorong menyentuh lemari pakaianku..
"maaf!" ucapku pada jazon sambil menyeka air mataku.
"rubby" panggil ana sekali lagi...
"iya ada apa?" sahutku dari dalam kamar
"alan mau pulang" jelas ana "dia ingin pamit"
Saat aku ingin berjalan jazon memegang tanganku, membuat langkahku terhenti.
"jangan pergi" katanya yang terdengar menyedihkan
"aku hanya keluar sebentar" kataku
"tanganmu masih belum di obati, biarkan dia pergi sendiri" kata jazon
"itu tidak sopan jazon" jelasku
"Aku tidak menyukaimu dekat dengan pria lain, hanya aku yang boleh! Jangan berteman dengannya!" tuntut jazon sambil menatapku marah
"jangan seperti anak kecil!" cetusku. Aku langsung menghempaskan tangannya. Dan pergi meninggalkannya menuju ruang tamu.
"Aku sudah membersihkan pecahan belingnya, tidak ada yang tersisa sedikitpun" jelas alan
"terimah kasih aku akan mentraktirmu jika kamu punya waktu" tawarku
"Aku selalu mempunyai waktu" katanya yang berarti menyetujui tawaranku.
"uhuuuu! kalian anggap aku ini bukan manusia" omel ana "beraninya bermesraan di depanku"
"mesraan apa si ana orang kami biasa aja" cetusku
"dari tatapan kalian yang luar biasa dalamnya" alan segera menutup mulut ana, hingga dia bungkam tidak bisa berbicara.
"Aku pulang ya rubby, soalnya tiba-tiba anak bandku mau latihan untuk persiapan lomba" ucap alan
"oke alan, tapi bawa princess ini juga ya pulang" princess yang ku maksud itu adalah ana.
"tidak mau! Princess belum puas bertemu mypangeran" tolak ana
"pulang sono lan" usir ana
"maaf ya rub aku nggak bisa bawa nenek lampir eh salah maksudku princess ini pulang. Karena dia tidak mau!" goda alan pada ana "titip dia ya jangan lupa di iket takut ganggu tetangga sebelah" Aku hanya tertawa mendengar goda alan pada ana.
Aku dan ana mengantar alan ke luar rumah. Mobilnya di parkir di depan. Dia berjalan sendirian menghampiri mobilnya.