
"MEAW"
Panggil pria bersuara berat, yang panggilannya kudengar sedari kecil. Siapa lagi kalau bukan JAZON ZEKDLYN sahabat sekaligus tetanggaku.
Dia pria yang sempurna, memiliki tinggi badan sekitar 185 cm, berbahu lebar, memiliki roti sobek (abs) yang tersembunyi dalam pakaiannya. Berkulit putih, berwajah tampan, memiliki glabella (jarak di antara kedua alis mata) yang sempit, zona T nya benar-benar terbentuk. Bibirnya merona merah muda, jika dia tersenyum bisa membuat wanita klepek-klepek karena kesilauannya. Namun, sayang dia jarang tersenyum bahkan selalu memasang muka datar dan dingin.
Tapi, di mataku dia kelihatan seperti baby.
Dan iya kutarik kembali kata sempurnaku tentang dia. Karena, kekurangannya adalah dia si pria pemerintah yang menyebalkan!.
"Meaw" panggilnya sekali lagi, yang menyadarkanku dari lamunan tentangnya.
"Jazon! Kan sudah kubilang dari sekarang! Eh dari dulu, jangan panggil aku meaw! " tuntutku pada jaz " aku ini bukan kucing!". Yah aku benci dipanggil meaw yang identik dengan aungan kucing dan aku tidak suka kucing karena bulunya bisa membuatku tidak berhenti bersin. Untung saja ini jazon kalau bukan udah kucakar mukanya hingga baret.
"lah emang namamu kan miaw " jawabnya, yang kudengar dari dulu jika aku menyuruhnya berhenti memanggilku meaw. Aku cemberut mendengarnya lalu wajahku serasa panas saat jazon menambahkan " lagian nama meaw tu imut tau... ". Dan yang membuat jantungku berdebar adalah cubitan jarinya di pipiku.
"yaudah deh, terserah! Jazon zekdlyn! Capek debat yang ujungnya kamu tetap manggil aku meaw" serahku pada jazon sambil mempertahankan ekspresi marah, padahal jantung berdetak tidak beraturan karena wajahku yang di cubitnya, bahkan jarak kami terlalu dekat.
"nah kan gitu enak" kata jazon sambil tersenyum
"Lepasin!" pintaku pada jaz, agar dia melepaskan cubitannya pada wajahku yang panas ini karena ulahnya.
"lepasin apa" tanyanya pura-pura tidak tau, bukannya melepaskan cubitannya dari pipiku, dia malah mengelus-elus wajahku "kamu pakek ayeshadow ya, pipimu merah" lanjutnya yang membuatku mencubit tangannya agar aku tidak pingsan di tempat.
"aww!" jerit jaz kesakitan karena cubitanku yang super perih.
"mau di lepasin atau mau di cubit sampe berdarah" ancamku dengan gemas
Akhirnya Jazon melepaskan tangannya dari pipiku, dan aku melepaskan cubitanku dari tangannya.
"abisnya kamu nyebelin, di suruh lepasin malah ngelus wajah" cetusku.
"soalnya wajahmu kayak kucing" ejeknya "meaw, meaw, meaw". Panggilan meaw nya terdengar sangat menyebalkan di telingaku.
"kita musuhan" ancamku! yang membuat wajahnnya yang tadi bercanda menjadi serius.
"maaf" katanya sambil memegang telinga. Aku hanya mendiamkannya "nebeng ya" lanjutnya yang membuatku tidak percaya dengan yang dia katakan.
"Apa!? "....
"nebengya... "
"Apa nebeng! Kamu mau nebeng, maksudnya mau nebeng naik motor??" tanyaku dengan sangat kaget
"iya meaw" jelasnya sekali lagi
"aduh tuan muda zekdlyn. Enggak pantes naik motor kayak gini" tolakku secara alus, mendengar penolakanku jazon mengernyitkan alis, sepertinya dia tersinggung. Aku mau saja menerima permintaannya tapi takut di amuk masa oleh fansnya. Apalagi aku hanyala anak pelayan keluarga zekdlyn. Aku tinggal dibelakang rumah utama,
rumah yang di buat khusus untuk para pelayan zekdlyn bisa di bilang aku ini bukan tetangganya melainkan numpang tinggal di rumah zekdlyn.
Namun jaz dengan cepat merebutnya. Dia langsung menaiki dan menghidupkan motorku.
Aku menarik tangan jazon "jangan deh please!" mohonku dengan wajah semelas-melas T_T.
"ogah!" jawabnya singkat tanpa dosa
"aku mohon jaz! Gimana kalo ada yang lihat" kataku berusaha membujuknya, tapi percuma, sampai mulutku berbusapun dia tidak akan mendengarkanku.
"kenapa?,,, Kamu nggak suka, jika aku nebeng" katanya dengan wajah tidak senang.
"bukan! Bukan gitu jazon zekdlyn! Aku cuma nggak mau terganggu oleh fansmu" jelasku untuk menyakinkannya "aku tau mereka nggak akan bisa menyentuhku hanya akan mencibirku tapi aku benci tatapan mereka yang seakan ingin membunuhku".
"Ingat ya meaw" kata jazon sambil menatapku dengan lembut hingga aku masuk kedalamnya "mau aku naik mobil, motor ataupun sepeda. Jika bersamamu bisa membut apapun yang aku naiki menjadi sempurna".... Kata-katanya membuat perasaan sukaku yang ingin kulupakan kemarin, rasanya saat ini juga, perasaan itu terasa kembali lagi.
" dan bukannya seharusnya kamu senang bisa membuat para wanita menatapmu dengan iri karena dekat denganku" yah penyakit narsisnya, membuatku benar-benar ingin melupakan rasa sukaku padanya.
" kamu naik mobilmu aja ya" mohonku yang terakhir. Tapi jazon tetap ngotot mau naik motorku. Yaudah deh mau gimana lagi jazon yang kukenal dari dulu memang sangat egois.
Akupun menaiki motor duduk di belakang jazon.
"peluk aku" perintah jazon yang membuat aku terkejut.
"ogah!" tolakku dengan cepat.
"mau ngebut, takutnya badanmu yang tipis itu melayang" ejeknya yang ngeselin
"emang gue setipis kertas ya?" tanyaku dengan kesal
"kenapa si ruby! Kamu susah di atur!" panggilan ruby ketika jazon sedang kesal padaku.
"lagian kamu enggak usah ngebut, masih banyak kok waktu yang tersisa, jadi.... Jazon! Kamu pelan-pelan aja ya ngendarai motornya" kataku panjang lebar yang hanya di diamkannya.
Kupikir dia menyetujuinya namun, tiba-tiba dia melajukan motor dengan cepat. Aku yang tidak menyiapkan diri membuat tubuhku melayang mengikuti angin ke belakang, bahkan diriku sudah pasrah!, pikiranku sudah tertuju pada rumah sakit! atau kuburan! Untung saja hayalan menyeramkanku terselamatkan oleh jazon sang pelaku yang hampir membuatku jatuh, jazon mengerem mendadak. Membuat posisi tubuhku melayang ke depan hingga wajahku menabrak punggung kerasnya. Sakit sekali rasanya hingga air mataku terjatuh. Aku benar-benar ketakutan kedua tanganku pun melingkari pinggangnya dengan erat.
"kamu tidak apa-apa meaw" tanyanya yang membuat aku mengeluarkan air mataku dengan deras. Namun, suaraku tidak ingin keluar sama sekali.
Dari depan jazon menyodorkan helm pink kepadaku dengan tangan kanannya "nih pakai" tawarnya yang langsung ku jawab "kamu saja yang pakai".
Percuma juga dia menawarkanku helm wajahku sudah baku hantam dengan punggungnya. Tapi dia tidak merasa kesakitan. Sungguh pria yang tidak perasa sama sekali T_T.
"ogah warnanya pink" tolaknya yang tidak mau kejantanannya ternodai oleh helm merah jambuku yang lucu.
"yaudah, adilnya tidak ada yang pakai helm" saranku. Sebenarnya aku mau saja memakai helm tapi tanganku tidak mau melepaskan pelukanku pada jazon karena shok yang masih belum hilang, takut dia ngegas tiba-tiba lagi T_T.
Jazon melajukan motor dengan kecepatan normal. Saat mau keluar dari gerbang rumah zekdlyn. Pak budi dan pak dodi yang bekerja sebagai satpam keluarga zekdlyn, melihat ke arah pelukanku yang melingkari pinggang jazon! Mereka memasang ekspresi tersenyum yang penuh dengan arti yang mendalam. Aduh! pelukan ini pasti membuat mereka salah faham T_T
Dan akhirnya kami keluar dari istanah zekdlyn. Aku sebut istanah karena rumahnya sangat mewah.
******