RUBBY MEAW

RUBBY MEAW
Episode 20


"apa lagi yang harus saya lakukan" tanyaku pada jazon.


Dan jazon tidak meresponku, ya sudahlah. Baik lah mulai sekarang kita akan saling berdiaman.


Dan aku tidak menyukai saat-saat seperti ini.


Tring! Handphone ku berdering. Siapa ya, Jangan-jangan alan. Nah kan tebakanku benar. Si alan yang meneleponku. Ya iyalah siapa lagi kalo bukan dia, palingan ana atau si pria menyebalkan di sebelahku ini, tapi akhir-akhir ini yang paling sering meneleponku adalah alan meski dia hanya ingin mengucapkan selamat malam. Setidaknya aku tidak kesepian jika jazon tidak ada.


"ya ada apa" mulaiku menjawab telepon alan


"laperrr" ucap nya membuatku tersenyum


"dihh ya makan dong!" saranku


"tapi kamu temeni aku makan ya, mau kan" tawar alan. Pas sekali Perutku lapar.


"sekarang" tanyaku


"ya iyalah masa besok, aku jemput ya" kata alan


"gimana kalo kita ketemuan di rumah makan NP, di sana enak dan yang pasti harganya murah meriah" saranku pada alan.


"oke kamu yang traktir ya" suruhnya


"ehh kok aku! Kamulah, kamu kan yang ngajak" balikku


"iya sayang!" ucapnya menggelikan


"iyuh manggil sayang lagi gue blokir kontak lu" ancamku bercanda


"sadis! Aku otw ya, yakin mau ketemuan di sana, enggak mau di jemput" tanyanya


"yakin! Dah bye!" ucapku segera memutuskan panggilan.


"jazon berhenti, aku mau stop di sini aja" hmm perkataan ku tidak di respon lagi. "jazon STOP!" Teriaku di dekat telinga nya "JAZON STOP" dan teriakanku kali ini di dengarkannya, dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Saat aku mau keluar, tiba-tiba jazon menarik tanganku "ada apa?" tanyaku


"ayo kita pergi ke lestoran" ucap jazon dan tiba-tiba alan meneleponku. Akupun mengangkat teleponnya


"Aku sudah mau sampai, kamu di mana" tanya alan


"ohh aku juga sudah hampir sampai" jawabku langsung memutuskan panggilan.


"jazon bagaimana jika kamu ikut aku dan alan ke rumah makan NP" tawarku


"pergilah" ucap jazon yang berarti dia menolak tawaranku.


"tidak! Ayo kita makan di sana, kamu belum pernah kan ke sana. Aku dan ibu seringkali ke sana, meskipun tempatnya sederhana tapi rasanya sangat enak" jelasku


"kamu sengaja ya, bilang tempat itu sederhana! Kamu pikir aku orang macam apa! Berhentilah untuk menyinggung statusku. Setiap kali aku menawarkanmu! Kamu selalu saja menolak, tapi aku tadi mendengar jika kamu minta di bayari oleh pria itu!" omel jazon "jadi pergilah bersama pria itu!" perintah nya


"maaf" ucapku segera keluar dari mobil, dan jazon dengan cepat menjalankan mobilnya meninggalkanku.


Ahh rasanya aku ingin menangis! Perutku yang lapar tadi menjadi kenyang dan tidak nafsu. Bahkan kakiku tidak mau melangkah, tubuhku rasanya ingin pergi bersama pria yang baru saja meninggalkanku...


Tin! Suara klakson mobil, ternyata itu mobil alan.


"ayo masuk" suruh alan


Kami pun pergi ke rumah makan NP


"kok di acak-acak makanannya dari tadi, makan dong" tegur alan "ada apa? Ayo cerita"


"tidak ada apa-apa. Tiba-tiba saja perutku kenyang" ucapku


"maaf karena memaksamu untuk menemaniku" ucap alan


"ahh seharusnya aku yang meminta maaf, karena telah membuat suasana ini menjadi buruk" ucapku


"tidak buruk kok, kedatanganmu membuat nafsu makanku bertambah, bahkan aku akan menghabiskan makanan di piringmu" ucap alan


"jangan ah jorok! Udah di acak" sergahku


"di acak bidadari mah nggak jorok! Tapi enak" godanya


"ahh bisa aja, lagian aku emangnya pantes di samaain sama bidadari" gumam ku


"malahan ni kamu itu lebih cantik dari bidadari" pujinya berlebihan


"oke deh terserah kamu, ayuk makan, katanya laper" tegurku


"kamu si ngajak ngobrol, tuh makan juga pasti sudah laper kan, atau mau pesan yang baru aja"


"baiklah, tidak perlu. Ini kan di acak oleh bidadari rasanya pasti enak" canda ku


" hah bagi dong " minta alan


"nggak boleh!" tolakku


"nanti aku mau makan di sini lagi bareng kamu, kalo bisa setiap hari" ucap alan


"jangan setiap hari dong, ibuku kan masak


Kasian kalo masakannya nggak aku makan" gumamku.


"gimana kalo aku ikut makan di rumahmu, aku kan mau nyicipi masakan mertua" lantur alan


"dih sejak kapan ibuku jadi mertuamu" kataku


"sejak nanti, suatu hari nanti" ucap alan.


"alan, kamu benar-benar suka sama aku" tanyaku


"lebih dari suka, aku cinta kamu. Dan ingin melihatmu setiap hari" kata alan sambil menatapku dan membuat love dengan jarinya.



Aku bingung harus bicara apa lagi, di satu sisi hatiku ada jazon, dan satu sisi lagi hati alan ada aku. Aku pilih mencintai jazon atau di cintai alan. Memang si di cintai itu adalah pilihan terbaik. Tapi masalah hati tidak bisa di paksakan.


"rubby!" panggil alan yang menyadariku dari lamunan.


"hmm pulang yuk" kataku


"oke" setuju alan.


Di dalam mobil alan menyetel lagu romantis. Tapi lagu romantis ini malah membuatku ingin menangis.


"hey kenapa wajahmu terlihat bersedih" kata alan, yang menyadariku. Ternyata alan benar-benar pria yang peka.


"tidak kok! Aku hanya sedang mengantuk" dustaku.


"baiklah! Aku akan menambah kecepatan mobilku biar bidadari bisa tidur" kata alan. Yang ku balas dengan senyuman.


Di dalam perjalanan aku mencuri pandang melihat alan. Alan benar-benar pria yang manis tidak bosan jika melihatnya dan juga hatinya baik. Tapi kenapa aku tidak bisa mencintainya.



"hey aku tau loh dari tadi kamu ngeliati aku" tegur alan yang membuatku malu. Sialan aku ketahuan.


"enggak kok! Idih GR" serkahku


"udah deh jujur aja, aku tampan kan, apa kamu sudah mulai ada rasa" kata alan dengan sangat PD


"iya iya kamu tampan, tapi sayang aku belum ada rasa " jujurku.


" ahh susah sekali ya, untuk mencuri hatimu, tapi aku akan tetap menunggu" ucap alan.


Akhirnya kami sampai juga di depan rumah jezkdlyn. Karena aku memintanya untuk stop di sini.


"makasih ya untuk hari ini" ucap alan


"seharusnya aku yang bilang makasih" ucap balikku


"Aku terima ucapanmu" kata alan "aku pamit ya, dan..... "


"dan apa" sambungku


"dan jangan lupa salamkan pada ibumu" sambung alan.


"okay jika ingat ya" kataku


"harus ingat dong!" ambek alan


"iya-iya nanti aku salami" dustaku, mana mau aku menyalamkannya. Biso-bisa mama rempong...


"pamit ya bidadari" kata alan


" ihh jangan panggil bidadari, geli tau" kataku


" sayang nggak boleh! Bidadari nggak boleh, semuanya nggak boleh" omel alan


"udah pulang sono, ntar di cari emak" usirku


"oke dadah Ruby" pamit terakhir alan, dia segera melajukan mobilnya.


Ternyata dari tadi ada yg sedang memperhatikanku.


"siapa tu neng" tanya pak budi penasaran


"teman pak, jangan mikir macem-macem ahh" kataku pada pak budi


"yaudah neng, bapak cuman nanya doang" kata pak dodi sambil cengengesan kecil.


lagi lagi pak satpam sering menggodaku. Ahh rasanya aku ingin cepat-cepat membeli rumah.