RUBBY MEAW

RUBBY MEAW
Episode 4


πŸƒπŸƒπŸƒ


Setelah selesai meredahkan kesedihan, aku dan jazon menikmati pemandangan danau, danaunya sangat indah, di danau inilah awal mula kami dekat. Saat itu jazon berusia 8 tahun aku lebih muda 1 tahun darinya. Jazon kecil adalah anak yang benar-benar sangat nakal. Bahkan aku pernah di ejeknya gigi ompong karena memang pada saat itu gigi depanku ompong, dia sangat tega mengejekku hingga membuatku menangis T_T dan ayah hanya bisa menghiburku dia tidak bisa memarahi jazon karena ayahku adalah supir pribadinya, bisa-bisa jika memarahinya pekerjaan ayahku bisa dalam posisi bahaya. karena aku pulang sekolah jam 12 sedangkan sekolah jazon pulang jam 2,aku sering ikut ayah menjemputnya. Saat pulang sekolah jazon menyuruh ayahku untuk masuk ke dalam hutan dan berhenti di sebuah danau, ayahku sebenarnya tidak mau menuruti jazon, tapi mau bagaimana lagi jazon adalah tuan muda zekdlyn sedangkan ayahku hanya supir pribadinya.


Setiap kali ayah mau menemani jazon duduk di dekat danau, jazon tidak memperbolehkannya dan ayahku mengamati jazon dari dalam mobil, karena aku bosan duduk di mobil lalu keluar mendekati jazon.


"hey! Aku bosan ayo pulang" kataku yang masih polos tapi sudah bisa berkata kasar pada tuan muda sepertinya.


"masuk mobil" perintahnya "tinggalkan aku sendirian"


"tidak mau!" tolakku


"kenapa?!" tanyanya dengan nada kesal


"karena aku temanmu" jawabku


"sejak kapan kita berteman" tanya jazon


"mulai sekarang" jawabku


"baiklah jika kamu mau jadi temanku, berarti kamu mau tenggelam bersamaku disini"...


Aku yang masih kecil tidak mengerti apa yang di katakan jazon, mengiyakan saja ajakannya. Lalu jazon memegang tanganku, berjalan ke arah danau tinggal 3 langkah lagi.


🍁Satu langkah "siapa namamu" tanya jazon


🍁Dua langkah "namaku ruby" jawabku


🍁Tiga langkah "ruby meaw, kau tidak menyebutkan nama imutmu"


"jangan panggil aku begitu jika tidak aku akan berhenti! Menjadi temanmu" omelku


"maaf tapi! Kamu tidak bisa menghentikannya karena,..."


Jazon segera menarikku ke dalam danau "wah airnya terasa sejuk" kataku dengan senang


"kamu menyukainya" tanya jazon


"iya aku sangat menyukainya" jawabku dengan senang


"baiklah kalau begitu danau ini akan menjadi milik kita" kata jazon


Kami pun melanjutkan berjalan di dalam danau awalnya airnya tadi sedengkul tapi selangkah demi selangkah air danau menenggelamkan kami........


Aku yang masih setengah sadar memeluk jazon dengan erat di dalam air, aku ingin memeluknya agar tidak terpisah dengannya karena danau ini adalah milik kami seperti yang di katakannya.


Terlihat bayangan besar masuk ke dalam air, itu pasti ayah tebakku dan akhirnya aku kehilangan kesadaran seutuhnya.


Dan saat terbangun aku sudah berada di ranjang rumah sakit, dan di sebelah ranjangku adalah jazon kami saling menatap dan tersenyum :) setelahnya kami menjadi dekat



Dan akhirnya saat usiaku menginjak 12 tahun aku tau alasan dia ingin tenggelam dalam air karena dia ingin menghilang dari dunianya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang sibuk bekerja, hanya kakeknya seorang yang memberinya kasih sayang namun saat berusia 7 tahun kakeknya meninggal dunia. Karena itulah dia sangat sedih untunglah tuhan mempertemukan kami setidaknya saat bersamaku dia menjadi anak yang bahagia,, meski masih suka bersikap dingin dengan orang asing....


Tiba-tiba jazon mencubit pipiku


"sedang apa? Kenapa diam saja saat aku mengajakmu berbicara?" omelnya


"karena aku sedang mengingat masa itu, masa yang menyeramkan saat si jazon sedang ingin mengajak ruby tenggelam! Dasar kecil kecil psikopat!" umpatku.


"bukannya siruby ya yang mau ikut, bahkan dia sangat terlihat senang waktu itu" baliknya


"ya itukan masih kecil aku sangat polos, bukan seperti kamu, yang sudah punya niat tenggelam, belajar dari mana sijazonku sayang" kata sayang agar kataku tidak terlalu menyakitkan


"belajar dari kamu" jawabnya


"ya belajar dari kamu arti kehidupan, lagian aku tidak mau mengingat masa itu" katanya yang terdengar sedikit menyedihkan sepertinya aku sudah membuka luka yang lama, jazon di sini hanya ingin mengingat kebahagiaan bukan kesedihan.


"jazon maaf! Jika perkataanku keterlaluan" kataku.


"hmm tidak apa aku sangat menyayangimu... tapi boong" pranknya


"tukang ngeprank padahal aku nggak baper tuh dasar cowok nyebelin!" omelku


"hmm iya deh aku terlalu garing jika berusaha ingin membuatmu baper, sungguh kamu wanita yang tidak berperasaan" keluhnya yang membuatku tertawa padahal hanya dengan tatapannya saja sudah bisa membuatku baper.


"oh iya jazon, saat kecil kok kamu bisa tau tempat seperti ini?" tanya ku yang penasaran


"oh tempat ini dulu adalah tempat kenangan saat kakek menghabiskan waktu bersama nenek mereka sangat menyukai alam, dan aku pernah di ajak kakek saat kakek sedang merindukan almarhum nenek" jelasnya


"kamu pasti sangat merindukan kakekmu ya" tanyaku


"Aku merindukannya tapi semenjak kehadiranmu rindu itu menghilang, dan setiap detik aku malah sangat merindukanmu" gurau jazon


"wah kasian sekali kakekmu, cucunya benar-benar sangat jahat" umpatku


"bukannya ini karenamu jadi yang jahat itu kamu" baliknya


"dasar kamu bocah nakal" cetusku


Jazon tidak membalas ejekanku dia malah tersenyum. lama lama aku bisa diabetes jika melihatnya.


"ayo pulang" kataku yang sembari berdiri


"bantu berdiri" suruhnya


"ogah!" tolakku


"yaudah! Kita nggak akan pulang" ancamnya


Aku terpaksa mengulurkan tanganku padanya, dia menyahut uluranku dan aku menariknya, karena tidak menjaga keseimbangan membuat aku akan terjatuh dengan posisi terjungkal ke belakang. Sudahlah pasti aku akan terjatuh


"GREP!" jazon menarik tanganku membuat aku tidak jadi jatuh di tanah, malahan terjatuh dalam pelukannya, wajah kami berdua sangat dekat DAG! DIG! DUG! Suara jantungku berdegup tidak beraturan.


"hati-hati" tegur jazon


"inikan karena kamu berat!" omelku jutek "udah tau badan gede"


"maaf deh!"


Aku segera menjauhkan tubuhku dari pelukan jazon.


"kamu kenapa si meaw, suka kayak cacing kepanasan jika terlalu dekat denganku" tanya jazon.


"ehh! Cacing kepanasan!, aku kan cuman menghindar, kalo cacing kepanasan itu ganjen sama kamu, dasar enak aja ngatain aku cacing!!!" omelku


"alasannya kenapa menghindar, kamu kayak aneh padahal dulu pas kita masih duduk di bangku sekolah dasar sering main dukung dukungan,makan sepiring berdua bahkan kita juga pernah tidur siang bersama" jelasnya. Dasar dia ini polos atau pura-pura polos udah tau itu masih kecil ya beda sekarang kan kita udah besar apalagi lawan jenis! Andai aku bisa bicara seperti ini.


"ya itukan masih kecil sekarang udah besar bukan muhrim dosa tau" jelasku secara halus


"hmm bukan muhrim emang kamu anggap aku sebagai lelaki ya bukan sebagai teman?! " katanya sungguh kurang ajar, aku tidak bisa menjawab lagi tapi aku harus jawab agar dia tidak ke PEDE an.


" nggak tuh! Kek banci! malahan uwek!" ejekku kesal dengan pertanyaannya yang menyebalkan. "emang kamu anggap aku kayak apa" lanjutku


"kayak kucing meaw! Meaw! Meaw!" jawabnya yang kutau itu pasti untuk balasan dari perkataanku.


Dan akhirnya kami OTW pulang