RUBBY MEAW

RUBBY MEAW
Episode 11


Saat aku sampai di rumah. Aku segera memeluk ibu yang sedang menonton tv.


"ada apa?" tanya ibu kaget


"tidak apa" jawabku


"apa jazon membuatmu marah lagi" tebak ibu


Dari pada marah malah sebaliknya aku sedang patah hati. ini adalah rasa pertama patah hatiku dalam hidup ini. Pantas saja ada yang menangis karena patah hati ternyata rasanya sangat menyakitkan.


"kamu panas" ucap ibu penuh khawatir "kamu demam sayang"


"iya bu aku merasa tidak enak badan" jelasku dan hatiku yang paling sakit di antara anggota tubuh yang lain..


"ibu akan memberikanmu obat demam"...


"ahh tidak mau! Itu pait" tolakku


"tidak ada kata TIDAK! kamu harus minum obat" tuntut ibu


Setelah ibu memberiku obat. Mungkin karena efek obat membuatku mengantuk aku segera menutup mata dan tertidur aku harap setelah bangun nanti aku akan membaik...


*****


Hari senin.


Hari senin adalah hari yang paling aku benci. Aku sangat malas untuk upacara apalagi hari ini ada mata pelajaran matematika. Dan matematika juga memberi kesan patah hatiku. Karena inilah tiba-tiba jazon dan ana jadian dan aku baru mengetahui perasaanku pada jazon..


Jam istirahat tiba, di kantin aku melihat sepasang kekasih baru yang sedang bemesraan. Ahh jazon ana kalian benar-benar ya suka membuatku sedih. Bukan hanya aku saja, banyak penggemar wanita jazon sedang cemberut menatap mereka. Apa-apaan mereka makan sepiring berdua. Aku tidak menyangka sisi lain jazon yang kukenal dari kecil ternyata pelit. Eh bukan itu! bukan berarti pelit tapi mereka ingin lebih meningkatkan keromantisan. Panas! Panas!



Ayo siapa saja selamatkan aku yang menjadi obat nyamuk di sini.


Alan! Aku melihat alan sedang memesan makanan. Aku harap dia melihatku! dan benar saja alan melihatku.



Dia tersenyum padaku berjalan mendekatiku. Akhirnya aku bisa tersenyum tanpa berpura-pura di hadapan jazon dan ana.


"boleh gabung" izin alan


Aku ingin menjawab iya tapi jazon mendahuluiku


"tidak boleh!" tolak jazon "kau mengganggu pemandangan"


"hey! Ingat ana itu sepupuku. Jika aku tidak setuju maka hubungan kalian akan hancur mengerti!" omel alan


"cih! Hanya sepupu bukan orang tua. Tidak punya hak untuk ikut campur dalam hubungan kami!" hempas jazon dengan selengek an.


"iya lan, jangan bicara sembarangan. Meskipun kamu tidak setuju aku tidak peduli!" ucap ana


"kamu... "


" STOP!" teriaku karena ringam dengan debatan mereka bikin pusing saja.


"alan mereka sedang di mabuk cinta! Sebaiknya kita jangan menganggu oke! Ayo kita pindah tempat duduk saja" saranku


"tapi semuanya penuh" ucap alan.


Oh iya semua tempat sudah di penuhi orang dan tempat kami paling gaduh. Memalukan sekali DOR!



uhh mata yang terasa seperti mau menembakku. Ada wanita yang menatapku tajam jika tidak salah itu viona anak ipa 1 yang terkenal di sekolah, dia adalah anak kepala sekolah. Tapi kenapa dia menatapku seperti itu! Apa dia suka alan! Waduh aku tidak mau mencari masalah dengannya. Sebaiknya aku ke kelas saja.


"kalau begitu aku mau kekelas saja ya" izinku pada mereka bertiga


"tapi rubby makananmu belum habis" tegur ana


"oh aku sudah kenyang" ucapku ya memang aku kenyang, bukan kenyang sih lebih ke arah tidak nafsu.


Saat aku mau bergegas pergi alan menghentikanku dengan janjiku..


"rubby kamu berjanji ingin menraktirku, ingat kan" jelasnya


"oh iya baiklah aku akan membayar pesananmu" kataku dan pas sekali pesanan makanan alan datang.


"Aku tidak mau jika kamu tidak menemaniku" kata alan dengan wajah sedih


"dasar bertingkah" cetus jazon


"hey! Bro bukan urusanmu" cetus balik alan.


Aduh mereka mulai lagi sebaiknya aku tetap di sini untuk mengawasi mereka berdua. Lagian tatapan viona tidak lebih menakutkan daripada mereka berdua yang beradu mulut.


"uhuk!" alan batuk mendengarnya


Aku segera memukul pundak nya dan ****! Pentul bakso utuh keluar dari mulut alan karena alan dan jazon duduk berhadapan bakso itu terlempar masuk ke dalam mulut jazon.


"pihh" jazon melepehkan bakso "kurang ajar!" kata jazon dengan ber api-api sepertinya jazon benar-benar marah.


Aku menarik tangan alan untuk mengajaknya meninggalkan tempat ini. aku tidak ingin mereka akan main tangan, apalagi jika anak lelaki berkelahi, tidak main! mereka akan saling baku hantam hingga salah satu dari mereka benar-benar K O.


Aku melewati tempat yang diduduki viona bersama temannya dia menatapku dengan sangat mematikan, rasanya aku ingin melepaskan pegangan tanganku pada alan...


Tapi sudahlah sama-sama makan nasi untuk apa takut lagian belum tentu dia menatap ku seperti itu karena benci. Mungkin saja matanya sejak lahir seperti itu...


***


Saat di tengah jalan aku mengingat sesuatu.


"alan aku lupa membayar makananmu dan juga makananku" jelasku pada alan


"apa sekarang kita sedang di cari menjadi buronan" sambung alan


"apa kita balik lagi!" saranku


"tidak perlu" kata alan


"kenapa?" tanyaku


"Aku yakin antara ana dan jazon yang akan membayarnya, karena mereka kan teman semeja kita" jelas alan


"ahh! Tapi aku merasa tidak enak" ucapku


"kamu bisa membayarnya nanti!" saran alan


"oh iya! Ternyata kamu pintar juga ya" pujiku


Alan menatap ke arah tanganku yang masih menggenggam tangannya.


"ahh maaf" ucapku malu


"tidak apa! aku malah sangat menyukainya" ucap alan yang membuatku tambah malu


"ahh jangan bilang begitu! Kau membuatku malu" cetusku


"ahah maaf tapi wajah Malumu sangat imut" ucap alan


Sebaiknya aku dan dia pisah saja dari pada aku mati karena ********..


"alan aku ke kelas ya" izinku


"Aku ikut" kata alan, aduh padahal aku ingin menghindarinya dasar ya di dunia ini tidak ada lelaki yang peka!


"aduh alan keknya sebentar lagi jam istirahat mau selesai, kan kelasmu dan kelasku cukup jauh" alasanku agar dia tidak ikut


"tidak apa kok, Aku nggak sama sekali. Lagian ruang band ku malah lebih jauh dari kelasmu" jelas alan. Aduh pembaca bagaimana ya caranya menghilangkan alan T_T....


Dan akhirnya alan mengikutiku ke kelas. Dan entah kenapa kelasku kosong. Pemandangan apa ini pembaca! Tolong aku suruh salah satu murid memasuki kelas. Apalagi alan menatapku tanpa berkedip bagaimana jika ada *** belek di mataku. Uhuu aku malu.. Selain jazon hanya alan yang bisa membuatku malu dalam hidup ini. Dia sangat tampan dan manis. Kenapa? Baru sekarang aku normal padahal dulu mau lihat orang setampan apapun hatiku kuat.


"Aku punya sesuatu" kata alan


"apa itu" tanyaku


Dia mengeluarkan sesuatu di kantongnya ternyata sesuatu yang dia maksud adalah coklat. Ini pertama kalinya aku di beri coklat oleh pria. Jazon si pernah sering lagi tapi dia tidak ku hitung karena dia teman! Tanamkan itu rubby! Jangan pernah mengakui bahwa kamu menyukai jazon! Kamu itu hanya patah hati! Patah hati belum tentu cinta lalu apa rubby bodoh! Aduh kenapa aku malah memikirkan jazon. Fokus alan rubby!


"ahh makasih lan" ucapku sambil mengambil coklat dari tangan alan.


"kok di liatin aja coklatnya, makan rub" suruh alan


Aku segera membuka coklat tidak lupa menawari alan dan dia tidak mau. Rasanya coklat ini tidak bisa tertelan karena alan memperhatikan aku.


"lan jangan di tatap begitu, aku sampe malu" ucapku terang-terangan


Alan malah tertawa mendengarnya dia pikir aku sedang ngelawak.


"hah bagus dong. Siapa tau malu itu bisa berubah jadi deg deg an" goda alan


"kenapa kamu suka aku, aku kan cuma wanita biasa?" tanyaku penasaran


"entahlah kenapa? Setiap kali melihatmu rasanya aku tidak ingin mengalihkan pandanganku padamu. Sepertinya aku sudah kecanduan denganmu rubby" jelas alan "lagian siapa bilang kamu wanita biasa. Di mataku kamu wanita yang sangat cantik, wajahmu itu sangat natural dan apa adanya bahkan siapapun yang melihatmu bisa tau jika hatimu itu baik. Kamu sangat menenangkan rubby sangat enak di pandang"..


Wajahku memerah mendengar alasan dan pujian alan tentangku rasanya aku tidak berani menatapnya.


Dia mencubit daguku sehingga wajahku menyungak ke hadapannya.


"mau jadi pacarku?" pernyataan cinta alan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri karena jazon jika alan menyatakan cintanya aku akan menerimanya. Tapi entah kenapa aku ingin melihat ke arah pintu. Dan aku melihat jazon dan ana yang berdiri di depan pintu. Ana terlihat tersenyum sedangkan jazon terlihat tidak suka. Dan seketika janjiku pada diriku sendiri untuk menerima alan sirna karena hatiku memilih pergi ke arah jazon. Seorang pria yang sudah memiliki pacar. Segel itu yang membuatku sakit🥀🥀🥀