
DEG!!!!! DEGG!!!!!! Jantung Ester berdetak kencang, dengan apa yang baru saja Lutz lakukan, seakan wajah terasa memerah, dan rasa gerogi yang tidak wajar di rasakan oleh Ester, dan ketika Terdengar alunan Saxaphone yang dimainkan Oleh Lutz, membuat Ester seakan terbang melayang, kekaguman Ester tak terbendung, sungguh ini sesuatu yang sangat tidak biasa Ester rasakan.
"Apa yang terjadi dengan ku" guman Ester sambil menatap Lutz.....,
Ester berjalan memutari Panggung dan duduk di depan Bartender, dan menatap Lutz yang sedang perform dengan kekaguman yang tak tertahankan, "Bagaimana mungkin, dia mampu menjadi seperti ini tanpa figur kedua orang tuanya, mereka pasti sangat menyesal bila melihat kamu saat ini Lutz" guman Ester. Tak terasa 2 jam berlalu begitu cepat berlalu, gemuruh riuh dan suittan dari para penonton membuyarkan pikiran Ester yang melayang layang.
Setelah Grup Band Lutz dan Glenn selesai perfom, acara selanjutnya di lanjutkan oleh beberapa band band pengisi lainnya, tiba - tiba dari belakang seseorang memeluk Ester dan ternyata ...........,
"Gleenn!!! selamat yah Glenn kereenn banget tadi" puji Ester membuat Glenn tampak bahagia,
"Kamu juga keren Lutz" puji Ester, sambil tersenyum, tiba tiba Lutz memegang tangan Ester dan mencium punggung telapang tangannya "Thank you" kata Lutz, seketika itu Ester semakin merasakan getaran yang berbeda di hatinya.
"Mau langsung pulang atau jalan - jalan dulu?" tanya Lutz kepada Ester,
"Hmmm, sudah hampir jam 11 malam, minta tolong antar aku kepenginapanku yah.." pinta Ester,
"Baiklah, Glenn aku antar Ester pulang dulu yah.." pamit Lutz
"Hati - hati, Ester juga hati - hati pegangan yang kuat nanti di jalan yah" goda Glenn sambil bermain mata dengan Ester, "Iyah jelekk" jawab Ester sambil memeluk Glenn berpamitan.
Kali ini Lutz tidak membiarkan Ester berjalan sendiri seperti di hotel, tapi dengan sigap Lutz langsung menggandeng tangan Ester, sontak Ester melihat mata Lutz dan di sambut dengan senyuman manis dari bibir Lutz dengan tatapan yang ramah, di perjalanan Ester masih enggan memeluk Lutz, hanya sebatas memegang Jaket Lutz di bagian pinggang, tiba - tiba Lutz berhenti di pinggir jalan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan, terlihat ada stand Burger di samping trotoar,
"Kita belum makan apapun loh malam ini, kamu pasti sedikit lapar kan?" tanya Lutz tanpa menungu jawaban dari Ester langsung memesan 2 Beef Burger. Ester hanya menatapnya dan tersenyum kepada Lutz, selang beberapa menit Lutz kembali dengan 2 burger di tangannya dan memberikan satu Beef Burger untuk Ester, mereka duduk di samping trotoar sambil menikmati hamburger masing2,
"Ini minum Ter," Lutz segera membukaan botol air mineral untuk Ester,
"Terima Kasih yah.."
"Sama - sama"
"Apa kau tau Ester? Bahwa sejujurnya aku tidak tau bagaimana bersikap di hadapan wanita yang kusukai.., karena aku tidak pernah memiliki sosok seorang Ayah yang menunjukkan contoh bagaimana memperlakukan wanita yang dicintai, dan aku tidak tau harus berkata apapun kepada wanita yang kusukai karna tidak ada seorang ibu yang mengajarkanku untuk memuji dan menghargai wanita yang kusukai," Lutz berkata tanpa melihat Ester sedikitpun, hanya memainkan kertas sampah burger yang masih di pegangnya,
"Semua norma kebaikan, tata krama dan yang lainnya, kudapatkan dari Asrama yang keras mendidikku menjadi orang yang lebih berguna" cerita Lutz yang sebenarnya sepintas sudah diketahui Ester, namun tetap saja membuat Ester sangat berempati kepada Lutz, apalagi kali ini Ester mendengar semua kisah hidup Lutz langsung dari Lutz sendiri,
"Pada pandangan pertama aku sebenarnya sudah menaruh hati padamu Ester, tapi aku cukup tau diri, hehehee...., siapalah aku ini, anak yang tidak jelas asal usulnya, tidak mungkin menyukai seorang seniman sukses seperti dirimu, ditambah lagi kamu adalah seorang anak pengusaha yang luar biasa suksesnya, Aku sangat tidak layak dan tidak pantas untuk menaruh hati kepadamu" ungkap Lutz panjang lebar,
Ester menarik nafas panjang dan memandang Lutz "Maaf Lutz, aku mungkin tidak tau apa yang kamu alami dulu, namun aku pun tumbuh tanpa adanya sosok seorang ibu, namun aku masih sedikit beruntung karena memiliki papa, dan dengan latar belakangmu aku sangat berempati Lutz. Aku berharap kamu tidak boleh sedikit pun merasa minder, kalau bukan dirimu yang menghargai diri sendiri lalu bagaimana orang akan menghargai kamu Lutz" seraya memegang tangan Lutz.. Ester memandang tepat di mata Lutz "Lutz, aku pun merasakan sesuatu yang berbeda kepadamu, yang belum pernah ku alami selama ini, aku tidak tau ini apa, namun aku tidak mau terburu buru menyimpulkan perasaanku kepada kamu, dan kuharap jangan pernah berbicara tentang status sosial dihadapanku, karena keberadaanku saat ini hanya merupakan suatu keberuntungan yang Tuhan berikan untukku, aku yakin kamu juga memiliki keberuntungan lain Lutz" semua kata kata yang keluar dari bibir Ester berasal dari hati dan tulus kepada Lutz,
Berbeda dengan apa yang Lutz katakan dan rasakan "Jelas saja aku memiliki keberuntungan yang menantiku, semua jawaban dari ambisiku adalah kamu Ester" guman Lutz dalam hati.
"Terima kasih" jawab Ester
Sesampainya di Lobi Hotel, Lutz meminta untuk mengantar Ester sampai di depan kamarnya dan diijinkan oleh Ester,
"Ini kamarku Lutz, terima kasih sudah mengantarku, kurasa lebih baik kamu pulang yah.., besok kita akan komunikasi lagi" Tiba tiba Lutz mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ester dan berbisik "Rasanya aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama melihatmu Ester" Lutz mengecup lembut kening Ester, dan Ester tidak menolak sedikitpun karena getaran cinta mulai merasuki Hati Ester, tangan Ester membuka pintu kamar dengan key card dan pintu terbuka, Lutz membuka pintu tersebut dan pelan pelan Ester mundur masuk ke dalam kamar , diikuti oleh Lutz sambil memegang pinggang Ester, Lutz mulai mencium lembut leher jenjang Ester, beranjak ke dagu, membuat Ester kerasukan oleh Rasa yang membuat tubuhnya bergejolak sedikit desahan keluar dari bibir Ester, seakan mangsa telah masuk kedalam perangkap yang telah di siapkan oleh pemburu, Ester terhipnotis dengan perasaannya kepada Lutz,
"Aku sangat menginginkanmu Ester" kata Lutz sambil mencumbu bibir Ester, ciuman lembut itu mendapatkan balasan dari Ester,
"Lutz..., ini terlalu cepat.." Ester berusaha menolak namun tak kuasa untuk menghentikan cumbuan Lutz yang membuatnya terlena,
"Baiklah..., aku akan bersabar hingga kamu siap" sahut Lutz sambil menghentikan cumbuannya, Nafasnya terdengar sedikit tersenggal senggal begitu pula dengan Ester,
"Bila kamu sudah memikirkan tentang perasaanku, aku sangat menantikan jawaban darimu Ester, maukan kamu mengenalku lebih jauh dan mengijinkanku untuk lebih mengenalmu Ester?" Tanya Lutz sambil memeluk pinggang Ester dan memandang lembut wajah Ester yang merah merona,
"Jangan di jawab sekarang, pikirkanlah dahulu..., pikirkanlah latar belakangku juga, dan segala aspek tingkat sosialku, aku menginginkanmu, namun aku tidak mau jika karena diriku..., harga diri dan derajat keluargamu ternodai sayang..," Dengan Lihai Lutz mempermainkan perasaan Empati yang Ester rasakan,
"Baiklah aku akan memikirkannya" jawab Ester singkat,
"Maafkan aku yang telah melampaui batas, Selamat malam Sayang..." pamit Lutz sambil mengecup lembut bibir Ester.
" Terima kasih untuk malam ini Lutz...., selamat malam" jawab Ester sambil menutup pintu kamarnya
*
*
*
Hi readers jangan lupa kritik dan sarannya yah,
ketik Like dan favoritkan Novelku, kalian akan mendapatkan notifikasi tiap novel ini di update,
juga follow IGku @ovie.el
terima kasih semuanya 😘