
"Jacob...., mengapa kau bersikap sungguh tak biasa? dan mengapa kau berada di jogja Jacob?"... Ester tetap berbicara dengan ramah kepada Jacob sekalipun melihat pertengkaran diantara Jacob dengan Lutz, "Apakah kau mau berbicara denganku di ruangan itu?" tanya Ester sambil menunjukkan pintu ruangan small meeting yang berada tepat di belakang Jacob,
Jacob menoleh kebelakang, dan mengangguk perlahan, melihat itu Ester tersenyum lalu mendahukui Jacob untuk membuka pintu ruangan meeting tersebut, terdapat Sofa dan meja, juga beberapa gelas air mineral dan berbagai macam camilan pada mejanya. Tanpa menunggu Ester memberikan air mineral yang sudah ditusuk sedotan kepada Jacob,
"Minumlah..." perintah Ester lembut,
"Terima kasih.." balas Jacob, "Hnn..." jawab Ester sambil menganggukkan kepala,
"Apakah aku boleh bertanya?" tanya Ester, Namun belum selesai Ester menanyakan kembali pertanyaannya, Jacob langsung memberikan jawaban dengan suara yang terdengar begitu sakit.
"Aku ke Jogja karena ada Project dengan Papa mu..., rencana Project ini bulan di mulai, tapi Mr. Smith memajukan jadwal pertemuan, kupikir ini sangat baik karena selain aku dapat memulai kerjasama dengan Mr. Smith, aku bisa selalu bertemu dengan mu.." Jacob melepaskan dasi yang terpasang rapi menjadi berantakan, seperti suasana hatinya yang kini berantakkan, "Apakah kau tau Ester?" Jacob menengadahkan wajahnya yang tertunduk untuk melihat Ester, dan Ester juga melihat Jacob, kita mereka beradu pandang satu sama lain, "Bila aku sangat mencintaimu...??"
"Ja...coob..." Lirih Ester,
"Bila engkau bahagia dengan Lutz, maka aku pun akan berbahagia untukmu.." lanjut Jacob,
"Aku tidak akan membiarkanmu menderita Ester..., mungkin saat ini kita berjodoh..., tapi aku akan tetap berada di sampingmu untuk menjagamu sebagai malaikat penjagamu.." Jacob mencurahkan isi hatinya, tak terasa satu tetes air mata terjatuh dari pelupuk mata Jacob,
"Ja...cob..., no words for this situation, I can't speak..." Ester beranjak dari kursi dan mendekati Jacob untuk mendekati Jacob yang berada tepat di hadapannya dan kini mereka duduk dalam kursi yang sama,
"Don't thinking anything, and Don't Speak..., Just Feel it..." Jacob mengambil telapak tangan Ester dan menaruh tepat di dada kirinya..., "You already stole My Heart Ester...," lirih Jacob, dan seketika air mata berderai di wajah Ester, karena sangat terharu melihat ketulusan Jacob padanya,
"Jacob, we will be a good brother and sister now..., okay?" Tutur Ester sambil meremas kuat tangan Jacob,
"Anything you want Ester.., Aku akan selalu ada untukmu, bila terjadi hal yang baik..., jangan lupakan aku untuk menjadi tempat berbagi dan sebaliknya, jika ada masalah yang menimpamu, carilah aku jika suamimu tidak dapat menolongmu..., okay?!" Jacob berusaha untuk tabah di hadapan Ester,
Lalu mereka saling berpelukkan, Jacob mengecup kepala Ester sepenuh hatinya..., begitu pula dengan Ester yang bersandar di dada bidang Jacob, sungguh sesuatu yang diluar dugaan seorang Jacob yang sombong dan angkuh, dapat meneteskan air mata dan berlapang dada karena cintanya kepada Ester,
"Hei..., aku akan kembali ke penginapanku, kamu kembalilah ke ruangan Mr. Smith, mungkin Lutz menunggumu di sana.." sambil mengembangkan senyuman ke wajah Ester, dan Ester melepaskan pelukannya,
"Hnn...., take care..., " pamit Ester, sambil berjalan meninggalkan Jacob yang masih memandangnya dari ujunh koridor ruangan.
______________
ceklleekk.....
"Pap..., where is Lutz?" tanya Ester kepada Papa John,
"Dia tadi sudah keluar, mungkin sedang mencari mu untuk mempersiapkan acara besok malam" jawab Papa John, namun raut wajah Papa John sungguh tidak biasa.., seperti menyembunyikan perasaan yang penuh dengab kekawatiran, "Ester..., "
"Yes Pap?"
"Is He smart?? at His work place?" tanya Papa John,
"Yeaah...,, you can asking to Jacob, Jacob is his Boss" sahut Ester tanpa berpikir yang macam - macam,
tok,,tok.,tok,,
"Come..." sahut Papa John, dan Ternyata yang mengetuk pintu adalah Lutz,
"Maaf Om, saya mencari Ester kemana saja tapi tidak mendapatkannya dan pegawai Om di liar mengatakan Ester baru saja masuk ke sini..." Jelas Lutz,
"Yah..., duduklah..." sambut Papa John...,
"Kalian harus segera mempersiapkan acara besok malam dalam yang yang sangat singkat, Papa akan mengundang beberapa kolega - kolega papa yang berada di Yogya, dan Lutz, segera email surat pengunduran dirimu ke kantor lamamu, Om akan mempersiapkan berkas - berkas penting untukmu, kamu akan diangkat menjadi wakil direktur kedua pada perusahaan Om.."
"No! Papa sudah mengikuti keinginanmu, kali ini kamu harus nurut dengan Papa.." Tegas Papa John.
"Yah Ampun..., benar - benar ketiban bulan rejeki nomplok, tanpa bersusah payah aku akan segera di angkat menjadi wakil direktur di perusahaan Smith Property, sungguh kali ini kamu tepat mengambik keputusan Lutz Domzala" guman Lutz dalam hati.., keserakahan kini merasuki pikiran Lutz yang sudah liar kemana - mana.
"But..., Lutz?? apakah kamu mau diatur oleh Papaku dalam hal pekerjaan?" tanya Ester polos,
"Bila aku diminta oleh Om John untuk bekerja disini, maka bagaimana mungkin aku menolak dan membantah calon mertuaku Ester?" Lutz mengeluarkan kalimat manis untuk mengambil hati Ester dan Papa John, dan benar adanya, hati Ester berbunga - bunga di buatnya, namun tidak untuk Papa John.
"See???? itu baru calon menantuku" Puji Papa John, "Sekarang pergilah persiapkan semua acaramu sayang..."
Ester dan Lutz kompak menganggukkan kepalanya dan berpamitan dengan Papa John untuk mempersiapkan acara Pertunangan mereka besok malam.
Setelah melihat anak dan calon menantunya keluar dari kantornya, Papa John segera menelpon tim kuasa hukumnya,
"Halo Pak Teddy, bisakah Bapak beserta para team datang ke kantor saya secepatnya?"
"Halo Mr.Smith, baik kami akan segera merapat kesana satu jam lagi"
"Okay, thanks" tutup Papa John,
___________
1 jam kemudian,
"Selamat siang Mr. Smith, apa yang bisa kami bantu?" tanya Pak Teddy sambil bersalaman dan Papa John mempersilahkan Pak Teddy beserta team yang terdiri dari 4 orang lainnya untuk duduk bersama - sama,
"Pak Teddy, tolong selidiki anak ini namanya Lutz Domzala, dia adalah calon menantu saya. I have bad feeling tentang anak ini, tapi saya tidak mau menyakiti hati anak tunggal saya" seraya memberikan Foto Lutz yang di ambil dari camera CCTV dan sudah di print oleh Papa John.
"Baiklah pak, Anything else Sir?" tanya Pak Teddy sambil mengambil foto Lutz dan di over kepada salah satu anggota team kuasa hukum.
"Yah Pak Teddy....., Heeehhhhmmmm, Saya bertambah tua sekarang, saya takut bila saya meninggal anak ku Ester akan menderita, dan saya tidak mau itu terjadi, tolong buatkan wasiat permanent untuk saya, dan buat kan Wasiat Palsu untuk Lutz, apakah bisa seperti itu?" Tanya Papa John,
"Maaf Mr. Smith, bila kami membuat Wasiat Palsu, kita akan salah dimata hukum, mungkin kami bisa membuatkan Wasiat non permanent, kita akan buatkan syarat - syarat wasiat tersebut bisa di gunakan secara Sah, dan akan ada beberapa point yang bisa di gunakan untuk menggugurkan wasiat tersebut., bagaimana menurut anda?" tanya Pak Teddy,
"Tentang semua Legalitas hukum, anda lebih mengerti dari pada saya Pak Teddy, yes.., please buatkan wasiat tersebut"
"Okay, kami minta detail Isi Wasiat permanent dulu Mr, Smith," sambil mengeluarkan recorder rekaman suara Pak Teddy juga meminta Asistennya untuk mengambil point - point penting dalam setiap isi detail wasiat yang di buat oleh Papa John,
Selama hampir Tiga jam mereka menghabiskan waktu untuk mencari cela dalam membuat wasiat yang diminta oleh Papa John, dan akhirnya.."Okay Finish.," tutur Papa John,
"Okay Mr. Smith, silahkan di baca dulu semua ini dan kami akan kembali besok pagi untuk mengambil semua berkas yang sudah ada tanda tangan dan cap jempol dari Mr. Smith" Pamit Pak Teddy beserta seluruh team.
"Thank you." jawab Papa John. "Hemmmm...." Papa John berbaring pada sofa empuk yang berada di dalam kantornya,
"Tidak akan semudan itu Lutz...., but if you love my daughter, I will make all easy for you..." guman John Smith..
*
*
*
bersambung