My Fatamorgana Love

My Fatamorgana Love
Engagement #2


"Jacob, apa yang kau ketahui tentang Lutz?" tanya Papa John,


"Banyak Mr. Smith, tapi saya tidak akan menjelekkan seseorang, apalagi saya menaruh perasaan kepada Putri anda, saya tidak ingin menghancurkan hanya dengan ucapan yang berupa teori saja" tegas Jacob,


"Mr. Smith, saya tidak akan sanggup menghadiri acara pertunangan Putri anda sore ini, sampaikan salam saya kepadanya, " pamit Jacob seraya menyalami Papa John yang memandangnya penuh dengan empati,


"Baiklah hati - hati nak Jacob" Lalu Papa John juga bergegas untuk menuju ke restaurant koleganya tempat mereka mengadakan acara pertunangan .


Di tengah Perjalanan terlihat ponsel Papa John berdering, dan Papa John sengaja meminggirkan mobil agar dapat berbicara dengan konsentrasi "Devara..?" Sahut Papa John,


"Maaf Tuan saya mengganggu anda, namun Info ini harus saya sampaikan, apakah kita bisa bertemu sebentar di kantor Tuan?" tanya Devara,


"Dev, saya sudah di tengah jalan menuju ke arah Kraton, bagaimana bila kita bertemu di seputaran Malioboro?, agar saya bisa dengan cepat berjalan ke tempat acara anak saya." pinta Papa John,


"Okay Tuan, saya akan menuju ke Malioboro sekarang." tutup Devara,


Di perjalanan Papa John merasa kawatir akan masa depan Ester, tapi Papa John tidak akan bermain kasar melainkan bermain cantik untuk menyelamatkan anak semata wayang, sesampainya di Malioboro, Papa John melihat Devara sudah menunggunya di salah satu warung lesehan pinggir jalan Malioboro, tanpa basa basi Papa John menghampirinya,


"Bagaimana Devara?" tanya Papa John,


"Tuan, barusan tadi saya membobol isi pesan text pada nomor Tuan Lutz, berikut adalah percakapan dengah seorang wanita bernama Clara, sepertinya wanita ini adalah mantan kekasihnya, Clara akan segera bertunangan dengan Louis Sweet yang tidak lain adalah anak dari kolega bisnis Tuan Hugos,"


Terang Devara mendetail lalu menunjukkan beberapa isi pesan singkat yang sudah di cetak berupa kertas,


"Apakah Hugos ini adalah Ryan Hugos? istrinya Bella Hugos???" tanya Papa John


"Benar Tuan, apakah anda mengenak mereka?" Devara kebingungan,


"Tentu saja saya tau dengan mereka, saya adalah pemilik 45% saham dalam perusahaan mereka, dan Bella adalah sahabat dari Mamanya Ester" guman Papa John,


"Apakah pertunangannya akan di adakan tanggal 14 Sepetember ini?" Papa John memastikan,


"Benar sekali Tuan" Jawab Devara, "Untuk sementara baru ini informasi yang bisa saya sampaikan, saya permisi dulu Tuan Smith" Pamit Devara,


"Hnn..., tolong temukan Ayah dari Lutz" pesan Papa John, "Apakah kamu sengaja menikahi anakku agar membuat Clara cemburu Lutz? ataukah misi mu lebih dari itu?" Papa John sungguh lihai untuk memahami lawan bicaranya, oleh sebab ketelitian dalam menilai karakter orang membuat Papa John selalu berhasil dalam bisnisnya, Papa John tidak lupa menelpon Pak Teddy untuk membuat adendum dalam surat wasiatnya,


"Pak Teddy, tambahkan satu point khusus untuk saham saya yang berada pada perusahaan Ryan Hugos, tidak dapat di tarik oleh siapapun, dan bila terjadi sidang pemungutan suara oleh dewan seluruh Direksi bila saya sakit atau meninggal maka Lutz tidak memiliki hak suara, dan Saham itu hanya bisa ditarik atas seijin anak saya Ester dengan persetujuan Tuan Ryan Hogus dengan jalan Musyawarah bersama," tutup Papa John, "Papa tau Ester, cinta tidak akan membutakan mata hatimu.." guman Papa John.


"Baik Mr. Smith, saya akan membuat tambahan adendum khusus untuk saham pada perusahaan Tuan Ryan Hugos" tutup Pak Teddy,


Kini Papa John berjalan cepat namun tidak terburu - buru ke arah restauran salah satu koleganya untuk menghadiri acara pertunangan anaknya,


______________


Para Tamu undangan telah memadati seisi ruangan, dan acara pertunangan telah dimulai, Lutz menyematkan cincin di jari manis sebelah kanannya Ester, seluruh tamu undangan pun bertepuk tangan merasakan romantisme yang membalut suasana ruangan tersebut, Hati Ester sangat bahagia, ini perjalanan cinta tersingkat bagi Ester, namun apa mau dikata, jika cinta sudah menghipnotis hati dan pikiranmu, maka kamu akan mengikuti alurnya tanpa di sadari.


Lutz juga merasa bangga akan dirinya sendiri yang merasa selangkah lagi, dia akan mendapatkan seluruh harta Smith, Bahkan Lutz berniat jauh lebih buruk dari niatan sebelumnya, keserakahan kini telah merasuki hati dan pikirannya, "Jika tua bangka ini menghalangi rencanaku, maka maafkan, aku akan menyingkirkanmu" gumannya dalam hati sambil melihat calon mertuanya sedang menyalami para koleganya, karena Lutz fokus berjalan dengah memandang ke arah Papa John, tanpa di sadari Lutz menabrak kursi roda yang tepat berada di depannya, Lutz terkejut dan juga dengan Mr. Dom, seketika itu Mr. Dom membalikkan kursi rodanya untuk melihat siapa yang menabraknya,


"Outch!! Maaf kan saya Tuan, saya tidak melihat anda.." ujar Lutz,


"Hemmm...., berhati - hati lah,," sahut Tuan Dom,


"Iyah Tuan, maaf dengan Tuan siapa saya berbicara?" tanya Lutz sambil menyalami tangan Tuan Dom,


"Panggil saja saya Dom, siapa namamu?" tanya Guan Dom,


"Saya Lutz..., Lutz... Do.."


"Lutz... sini!!" panggil Ester memotong pembicaraan mereka,


"Hmm....." angguk Tuan Dom.


Beberapa saat kemudian, salah satu asisten tuan Dom datang memberikan segepok dokumen, lalu Tuan Dom memerintahkan asistennya untuk menyimpannya di mobil. Beberapa saat kemudian Papa John menghampiri sahabat lamanya yang juga kolega bisnis dari anaknya Ester, Namun Ester tidak mengetahui bila Tuan Dom adalah teman kampus Papa John. Seperti semula telah di sampaikan, bahwa Papa John memiliki andil yang sangat besar untuk mempromosikan karya Ester dan didukung oleh etos kerja yang tinggi dari Ester sendiri.


"Dom, apa yang kau pikirkan?" Tanya Papa John...,


"Aku memikirkan wanitaku John..." lirih Dom,


"Bersabarlah..., jalanilah hidupmu seolah wanitamu tidak pernah pergi meninggalkanmu, maka kamu akan bertahan Dom.." John berusaha menghibur sahabatnya,


"Pesta seperti ini yang sangat kuimpikan untuk membuatnya bahagia.." Dom memandang sekeliling dekorasi ruangan,


"Mereka tidak membutuhkan Pesta, tapi ketulusan dan kesetiaan cinta kita," seraya menupuk bahu sahabatnya John melanjutkan " Nasib kita hampir sama yah.., aku ditinggal istriku sejak anakku belum genap berusia empat puluh hari, dan kau kehilangan wanitamu sebelum bisa memilikinya.." kedua pria tua itu sama - sama meneteskan air mata,


"Kau lebih beruntung..., sedangkan aku,.." Dom sesenggukan menangisi nasibnya,


"Sudahlah, aku akan membantumu jika kamu dari dulu mau berterus terang kepadaku, dan tidak menyimpan semua masalahmu sendiri, " tutur Papa John,


"Yes..., Maybe Later John..., Later..., okay?, now bring me to your daughter.." Pinta Dom,


"Okay..., " Papa John mendorong kursi roda Tuan Dom ke arah Ester dan Lutz yang sedang berbincang - bincang dengan Glenn,


"Ester..." panggil Papa John,


"Pap...,? Hei Mr. Dom, thank you so much for coming" Ester mengecup jidat Tuan Dom, dan membuat Tuan Dom tertawa juga dengan Papa John, "Lutz, kenalkan ini Tuan Dom kolega project besarku tahun ini.."


"Aku sudah mengenalnya..., " jawab Lutz namun tetap menyalami Tuan Dom,


"Yah....tadi aku ditabrak sama calon suamimu" ujar Tuan Dom terkekeh..., dan disambut gelak tawa Papa John serta para sahabat Ester,


Tak terasa hari semakin larut, para tamu berpamitan untuk pulang, tak terkecuali Mr. Dom juga pamit untuk Pulang, lalu Lutz dan Ester pun bergegas kembali ke palagan tempat di mana Ester dan Papa John tinggal,


Di tengah perjalanan Lutz meminta ijin kepada Papa John,


"Om..."


"Mulai hari ini panggil saya Papa", potong Papa John, sontak membuat Ester tersenyum bahagia mendengar ucapan Papanya,


"Hehehe..,, Pap..., Lutz mau meminta ijin, apakah besok boleh Lutz mengajak Ester ke Bali?" tanya Lutz,


"Mengapa harus meminta ijin, kalian cukup berpamitan saja, bukankah kalian sudah dewasa?" tanya Papa John menggoda keduanya, namun ada makna tak tersirat dari setiap perkataan Papa John,


"Hm... baiklah, Lutz ingin berpamitan akan mengajak Ester ke Bali, ada acara pertunangan sahabat kecil Lutz di Bali Pap..." ijin Lutz,


"Baiklah..., pergilah...,dan jaga anak Papap baik - baik yah..." sahut Papa John,


"Baiklah, terima kasih Pap..." tutup Lutz sambil tersenyum puas,


Sedangkan Papa John akan memutar kembali otaknya agar strateginya tidak terbaca oleh calon menantunya, dan dada Papa John terasa ngilu mendengar Lutz meminta ijin, karena apa yang di katakan Devara semuanya benar, sedangkan Papa John berharap Lutz benar - benar tuluss mencintai Ester tanpa syarat.


*


*


*


bersambung