My Fatamorgana Love

My Fatamorgana Love
Masa Lalu Lutz


Mendengar perkataan Lutz yang terakhir, Ester segera mengangkat wajahnya dan kembali menatap Lutz dengan pandangan sendu dan dalam, sampai akhirnya Ester bertanya "Apakah kamu sangat mencintai Clara?" tanya Ester dengan ragu,


"Dulu Iyah.." jawab Lutz singkat,


"Bagaimana dengan perasaanmu saat ini? apakah tidak ada sedikitpun rasa cibta untuknya lagi?" sambung Ester tanpa mau melepaskan tatapan matanya dengan begitu dalam, seolah ingin mencari kebenaran dari setiap kata yang akan keluar dari bibir Lutz.


Lutz Menghela nafasnya dalam "Sejujurnya... aku tidak tau apakah perasaanku untuk Clara saat ini masih bisa di sebut cinta, Bahkan sebelum dia menikahpun aku tidak tau apakah ini cinta atau hanya sebuah obsesi yang membuat aku kehilangan akal sehatku", Lutz mengusap kasar wajahnya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Ester, dan menatap deburan ombak yang saling bersaut - sautan menghantam keras batu karang di pinggiran pantai,


"Apakah kamu adalah pendengar yang baik?" kini Lutz kembali menatap Ester dengan memberikan senyuman lembut untuknya,


"Itu tidak menjawab pertanyaanku Lutz" sahut Ester sambil sedikit mencebikkan bibirnya,


Lutz tidak menjawab apa - apa, hanya menggendikkan bahunya sambil tersenyum, memahami maksud Lutz, Ester lantas menjawab "Iyah.. aku adalah pendengar yang baik"


"Duduklah" ajak Lutz sambil menarik lembut Ester untum duduk di sisinya,


Kembali Nafas itu terbuang dengan sedikit gusar dan raut wajah Lutz kini berubah menjadi sendu " Ester..., dari lahir aku sudah menjadi beban bagi wanita yang melahirkanku, bahkan ibuku tidak mampu dan tidak mau memikul beban itu, sampai dia tega membuangku di depan pintu asuhan dengan mewarisi sepucuk surat menyedihkan senagai tanda mata untuk para suster yang akan merawatku, dan ketika suster melihatku, resmilah aku sebagai beban baru para suster - suster, mereka membesarkan ku dengan penuh ketegasan serta kasih sayang yang tidak sepenuhnya dengan kelembutan seorang ibu, apakah kau tau rasanya di besarkan oleh para wanita yang bukanlah ibu kandungmu?" tanya Lutz tersenyum,


"Aku bahkan tidak pernah merasakan sentuhan seorang ibu, dari lahir hanya tangan kokoh papaku yang menopangku, apakah kamu lupa bila mamaku meninggal ketika melahirkan aku?" tanya Ester kepada Lutz,


"Maafkan aku.. aku benar - benar tidak mengingatnya" sahut Lutz dengan perasaan tidak enak,


"Tidak apa - apa..., kamu sangat beruntung mendapatkan kasih sayang dari para suster yang menjadi ibu pengganti Lutz" ucap Ester seolah membuat Lutz kembali tersadar untuk tidak lupa dengan yang namanya Bersyukur,


"Iyah.. kamu benar... seumur hidupku, hanya kuhabiskan dengan menyalahkan nasibku dan terutama menyalahkan Tuhan" ucapan itu terdengar tulus dari relung hati Lutz yang paling dalam,


"Iyah.. aku juga mendengar bila kalian dibesarkan bersama" ucap ester,


"Apakah Jacob yang memberitahumu?" tanya Lutz penasaran,


"Heemm... apakah kamu akan marah?" tanya Ester..,


"Tidak.." sahut Lutz, "Aku tidak marah," sahut Lutz, "Yang membedakan aku dengan Clara adalah Latar belakang kamk sampai di panti asuhan, aku adalah anak haram, anak dari seorang *******, sungguh berbeda dengan Clara, Ketika hampir semua teman - teman di panti asuhan di adopsi dan menekukan keluarga yang mereka dambakan, berbeda denganku, tidak ada satu pasang orang tua pun yang mau mengadopsi diriku, dengan alasan aku anak seorang *******, bukankah aku sungguh sial?"


Lutz tertawa kecut dan melanjutkan curahan hatinya,


*


*


*


*


*


bersambung